Revina

Revina
Mengikhlaskan



Hampir 2 bulan setelah insiden terlukanya revina yang membuat revina harus meninggalkan cita-citanya menjadi pemain basket profesional dan akibat insiden itu membuat seorang revina yang periang berubah menjadi seorang revina yang pendiam, susah tersenyum dan hilang semangat dalam hidupnya. Sore itu keluarga melihat lagi senyum tulus nan cantik dari revina membuat semua bahagia, terutama reza


"Kakak selalu berdoa agar kamu selalu tersenyum seperti ini adik kesayanganku" gumam reza


"Senyum cantik itu kembali lagi, semoga kamu selalu tersenyum seperti ini putri kecilku" gumam dewi


Revina mengirim pesan kepada dhio


(Assalamualaikum. Semoga selamat sampai tujuan. \~Revina)


Dhio yang telah sampai dirumahnya membaca pesan dari revina sambil tersenyum


(Waalaikumsalam. Alhamdulillah baru juga sampai. Kamu dan keluarga sudah jalan pulang?"\~Dhio)


(Alhamdulillah kalo sudah sampai kak. Iya ini sedang di jalan dan akan berhenti di masjid menunggu magrib. \~Revina)


(Baiklah hati-hati. Kakak bersihkan diri dulu mau magrib juga ya vin. \~Dhio)


(Iya kak.\~Revina )


Magrib telah berlalu revina di panggil sang mama untuk makam malam. Revina tak lepas dari handphone ny, hubungan revina dan dhio semakin membaik. Dhio bahkan menyelipkan becandaan di sela chat mereka yang membuat revina tersenyum. Dan itu perhatikan oleh reza, dewi dan ammar yang membuat mereka juga bahagia


"Senyum terus, pesan dari siapa itu" tanya reza sambil melirik handphone revina


"Ih kakak kepo ih" mematikan layar handphone nya


"Oh gitu sama kakaknya sekarang rahasiaan"


"Apa si kak, udah makan ayoo"


"Semua udah mulai adikku, kamu aja tu yang ga fokus makan" sambil mencubit pipi revina


"Sakit kak. Iyaiya cerewet ini makan"


"Tersenyumlah terus seperti ini adikku sayang, entah siapa yang bisa membuatmu kembali tersenyum seperti ini. Kakak bahagia" gumam reza dalam hati


"Udah ah ribut mulu anak-anak mama ini. Ayoo lanjutkan makannya, vina handphonenya simpan dulu sayang, udah makan baru di lanjutkan lagi" ucap dewi tersenyum


"Kakak tu mah yang mulai"


"Kok kakak"


"Udah-udah ayo lanjutkan makannya" ucap amar tersenyum


"Iya pa" ucap keduanya


Revina telah kembali ke kamarnya, reza yang ingin melihat dan mengrol bersama adiknya akhirnya pergi ke kamar revina. Reza jarang sekali keluar rumah kalau tidak ke kantor dan ke kampus, untuk keperluan lain dia lebih memilih untuk dirumah menemani adiknya yang sedang dalam proses kesembuhan kakinya.


"Boleh kak silakan" jawab revina


Reza duduk di samping ranjang revina yang sedang memainkan ponselny


"Gimana keadaan kamu sekarang vin? Udah mendingan?" Tanya reza


Revina mengernyitkan alisnya "kok tumben kakak nanya seperti itu?"


"Kakak hanya ingin tau"


"Seperti yang kakak lihat kak, vina baik-baik saja" revina mengubah posisinya menjadi duduk disebelah sang kakak.


"Kakak bahagia melihat senyum kamu hari ini vin"


"Emangnya vina ga pernah tersenyum selama ini kak?" Tanya revina


"Kamu tersenyum tapi tidak setulus dan seceria hari ini" jawab reza. "Kakak tau, revina yang selama dua bulan ini bukan revina yang asli. Revina yang asli adalah revina yang hari ini"


"Kok kakak bilangnya seperti itu?" Tanya revina


"Itu kenyataannya adikku. dua bulan lalu entah siapa yang menyamar menjadi adiknya kakak? Dia menjadi pendiam, menangis di tengah malam, tersenyum terpaksa di saat siang, terluka di setiap saat di wajahnya" ucap reza sendu "maafkan kakak revina, seandainya hari itu kakak ada dirumah ini ga akan mungkin terjadi" ucap reza yang mulai menangis


"Kakak" ucap revina yang matanya mulai berkaca-kaca


"Maafin kakak yang tidak bisa menjaga kamu hari itu, kakak lalai. Kakak ga berguna, sebagai seorang kakak, kakak malah ga bisa jagain adiknya" ungkap reza menangis. Tangis revina pecah dan revina menundukan kepalanya. "Seandainya kakak tetap bersamamu hari itu seandainya kakak tidak meninggalkanmu dirumah dan membuatmu jenuh mungkin sekarang kamu sudah berada di paris dan berlatih untuk pertandingan nasional yang sudah kamu tunggu-tunggu itu. Maafkan kakak revina. Maafkan kakak. Maafkan kakakmu ini" ucap reza menangis menempelkan tangan adiknya di kepala


"Kakak jangan seperti ini, ini bukan salah kakak, revina memang sangat sedih. Apa yang terjadi membuat revina kehilangan impian vina, saat kak martin bilang vina cidera ACL saat itu dunia vina rasa runtuh kak, vina ga bisa menerima kenyataan yang ada bahkan sampai saat ini, vina hancur, vina terluka, vina selalu menangis disaat vina sedang sendirian di malam hari, hati vina hancur kak, revina selalu mengutuki apa yant telah terjadi kak, setiap melihat berita olahraga yang menayangkan club vina, revina rasa lebih memilih mengakhiri hidup ini kak" ungkap revina terisak


"Revina jangan bicara seperti itu" ucap reza memeluk adiknya


"Revina belum menyerah dengan basket kak, revina ga mau nyerah, revina akan bangkit walaupun itu ga mungkin" ungkap revina menangis sesegukan. "Revina akan berusaha lakukan yang terbaik kak, basket adalah pilihan revina sejak revina kecil, setiap hari revina memegang bola basket, basket adalah dunia vina, hanya saja revina sadar untuk sekarang dan seterusnya basket menjadi dunia yang ga akan mungkin lagi buat vina" ungkap revina menangis


"Kamu jangan bilang begitu, lihat kakak, kamu ingat apa yang kamu sampaikan sama kakak saat almira ninggalin kakak selamanya, kamu bilang ke kakak bahwa dunia akan kembali baik ketika kakak belajar mengikhlaskan. Karena kamu disisi kakak waktu itu kakak menjadi bisa mengikhlaskan almira vin, dan sekarang kakak mohon belajarlah mengikhlaskan Allah akan berikan hal yang paling baik didunia ini jika kamu ikhlas vin" ungkap reza menguatkan


"Ajarkan revina ikhlas kak, revina akan bangkit dari rasa sakit ini, jangan pernah tinggalin revina, tetaplah disisi revina, tetaplah menjadi kakak terbaik buat revina kak" ungkap revina


"Kamu tau, sejak kehadiran kamu di dunia ini hari itu menjadi hari kebahagiaannya kakak, dunia kakak menjadi bewarna sejak kamu lahir, kakak ga akan pernah ninggalin kamu, kakak akan selalu ada untuk kamu dan kakak akan menjaga kamu sebisa kakak, kakak berjanji" peluk hangat reza


"Revina sangat menyayangi kakak, revina berjanji akan belajar mengikhlaskan apa yang semestinya revina ikhlaskan kak, maafkan revina yang telah membuat mama, papa dan kakak bersedih. Maafkan revina kak"


"Enggak sayang enggak vina ga salah, kakak wajarkan semuanya vin" reza memeluk sangat erat sang adik


Dewi dan ammar melihat yang kedua anak mereka. Mereka mendengar pembicaraan kedua kakk beradik itu, dewi menangis memeluk sang suami dan ammar pun menetes air mata mendengar pernyataan hancurnya hati sang putri tercinta.