Revina

Revina
Senyum Revina



Revina tak menyangka bahwa pangeran yang selama ini dia kagumi adalah seorangu dhio, yang selama ini ada didekatnya


"Sejak kapan kakak tau kalo gadis kecil itu adalah aku?" Tanya revina


"Sejak Kita bertemu di lapangan sepak bola waktu itu kamu sedang menunggu reza bersama temanmu" jawab dhio


"Kenapa nggak langsung bicara waktu itu kak?" Tanya revina


"Kakak nggak punya keberanian vin. Kamu saja


lupa arsama kakak" tukas dhio


"Aku mungkin melupakan wajah kakak, tapi aku nggak pernah melupakan saat aku tersesat itu kak" ungkap revina


"Ohya?"


"Iya. Jujur aku ga pernah lupa kejadian singkat itu, dan aku sering kerumah eyang dan mengunjungi hutan itu walaupun sampai gapuranya saja, aku selalu berharap bisa betemu kakak lagi, namun nasip berkata lain, aku mendapatkan beasiswa dan harus sekolah di luar negeri, aku menerimanya karena itu cita-citaku" akuh revina sendu


"Ohya kamu sampai sering kesana?" Tanya dhio


"Iya hanya saja kakak tak kunjung datang. Dan bodohnya aku tak menanyakan siapa nama kakak" ucap revina


"Hahaha,, kita bahkan ga sempet kenalan waktu itu. Kakak hanya pendatang revina, kakak kesana karena temen-temen ngajak ngekemp di hutan itu" ucap dhio


"Makanya kakak ga pernah ada disana hmm" ucap revina kecewa


"Benarkah kamu mencari kakak hmm?" Tanya dhio menatap mata revina, yang membuat revina sangat gugup


"Kakak ah kenapa menatap aku seperti itu?" Tanya revina


"Kamu cantik si" ungkap dhio


"Kakak ihh" ucap revina malu. Wajah revina merona dibuat dhio


"Kenapa pipi kamu merah seperti kepiting rebus vin?" Tanya dhio tersenyum


"Ih kakak apa-apaan sii" ucap revina menangkup pipinya dengan kedua pipinya


"Haha kamu lucu sekali revina" ungkap dhio


"Apakah setelah bertemu kakak di masa depan, kamu masih ingin menagih janjimu vina?" Tanya dhio tersenyum


"Kakak apaan sii" ungkap revina merasa sangat malu dan mencoba bangkit meninggalkan dhio


"Hemm (tersenyum) mau kemana?" Tanya dhio menahan dan menarik revina agar duduk kembali


"Kakak si buat revina malu saja" ungkap revina


"Kenapa harus malu" ucap dhio


"Au ah" revina merajuk


"Ciyeee ngambek" ujar dhio menggoda


"Aku pergi ni ya kalo masih ngeledekin" ancam revina


"Jangan dong, kakak masih mau disini sama kamu" ungkap dhio


"Modus" ketus revina


"Ga percaya ya udah" ucap dhio


Mereka banyak mengobrol prihal masalalu, saling sharing pengalaman masing-masing


"Lalu bagaimana dengan kaki kamu?" Tanya dhio


"Kakak tau kan apa itu anterior cruciate ligament, walaupun vina bisa berjalan seperti orang normal revina tetap tidak bisa berlari sesuka revina lagi kak" jawab revina sendu


"Hmm... kakak tau vin, maafin kakak yang ga bisa lindungi kamu waktu itu, kakak sangat menyesal" ungkap dhio sendu


Dhio terlihat kagum dengan pemikiran revina, dhio menghapus air mata revina dan memeluknya


"Kakak berjanji akan menjaga kamu vina" peluk dhio erat membuat revina terkejut dan berdebar-debat jantungnya.


Revina hanya terdiam. Ia tak menyangka cinta monyetnya dulu adalah dhio, lelaki tampan, tinggi, sopan dan sangat baik hati. Jantung revina berdegub kencang. Dhio sadar dan melepaskan pelukannya dari revina


"Maafkan kakak, kakak terbawa perasaan, ayo kakak antar kamu ke reza" ucap dhio dengan raut wajah merona. Revina tersenyum melihat perubahan raut wajah dhio yang malu-malu


"Iya ayoo. Udah santai aja kak, kenapa merah gitu pipinya hihi" ucap revina tersenyum dan di balas oleh senyuman manis dhio


"Manis sekali senyumnya. Yaallah dia adalah cinta monyetku dulu ternyata. Oh jantung berhentilah berdetak. Untuk pertama kalinya aku di peluk orang lain selain keluargaku" gumam revina


"Cantik sekali kamu revina, aku benar-benar semakin mengagumimu. Aku berjanji akan selalu menjagamu, dan membuatmu tersenyum seperti ini" gumam dhio berjanji


Mereka telah sampai di lokasi liburan keluarga revina. Reza yang khawatir memikirkan adiknya yang tak tau kemana langsung berlari ke arah sang adik


"Yaallah revina kamu kemana aja si dek" peluk reza erat


"Kakak lepasin aku ga bisa nafa" ucap revina memukul punggung sang kakak


Reza melepaskan pelukannya "kamu dari mana aja. Kakak khawatir" ujar reza "dan kok bisa sama dhio?" Tanya reza


"Kakakku yang posesif, adikmu yang cantik ini sedang hanya mencari angin segar, dan tak sengaja bertemu kak dhio" ucap revina


"Haii bro lama kita gak ketemu" sapa dhio


"Lo ngapain disini?" Tanya reza


"Gue ikut nyokap yang lagi berencana ngedekor vilanya yang disebelah sana" ucap dhio menunjuk vilanya


"Waah kebetulan sekali ya, ini vila keluarga kami bro" ungkap reza " ayo gabung nyokap gue udah masak banyak di dalam" ajak reza


"Ayo kak gabung" ajak revina


Dhiopun akhirnya bergabung dengan keluarga revina, dan ternyata pas dhio mau masuk bunda dhio menyusul dan di sapa ramah oleh mama revina yang langsung meminta bergabung juga, mereka makan bersama. Dhio berpamitan kepada keluarga revina. Revina mengantar dhio sampai kedepan


"Kakak minta kontak kamu boleh?" Tanya dhio


"Nanti vina chat kak reza ada no kakak kan" ucap revina


"Oke kakak tunggu chatnya ya" ucap dhio "inget, suatu saat kakak yang akan nagih janji itu ke kamu" bisik dhio membuat pipi revina merona. Revina tersenyum dan hanya terdiam. Mobil dhio telah melaju. Dan keluarga revina juga memutuskan untuk kembali ke kotanya.


Diperjalanan pulang


"Kak hp kakak mana?" Tanya revina


"Ada. Kenapa emang?" Tanya reza


"Pinjem dong" ucap revina


"Buat apa?" Tanya reza


"Minta no kak dhio" ucap revina enteng


"Ini, tau kan pola hp kakak?" Tanya reza ya menyenderkan kepalanya di bahu sang adik


"Kakak berat ihh" ucap revina


"Ih pelit banget, kakakkan capek" ucap reza ngambek


"Kakak tu sekarang gendutan yang seharusnya nyender tu vina bukan kakak, udah ah sana berat tau" tukas revina yang tersenyum


"Kalian ini berantem mulu perasaan" tegur dewi tersenyum. "Kamu juga reza udah gede masih saja manja sama adiknya" timpah dewi. Ammar tersenyum melihat keadaan sang putri berangsur membaik setelah 2 bulan menghadapi putrinya yang hilang semangat karena tragedi waktu itu.


"Semoga kamu selalu tersenyum seperti ini sayang, papa akan berusaha melakukan yang terbaik agar kaki kami bisa sembuh secepatnya" gumam ammar