
Malam semakin larut namun gian tak bisa memejamkan matanya karena memikirkan revina, senyum revina, tangis revina dan pelukannya saat ia menemukan revina ketika tersesat di hutan itu
"Ada apa aku ini. Yatuhan, kenapa wajah revina selalu terlintas dipikiranku" ucap gian lirih "udah jam 2 ini mata kenapa juga ga mau bersahabat"
"Gi lo ga tidur, ini udah mau pagi loh" ucap abi sambil terpejam
"Iya bentar lagi, gue keluar dulu deh cari angin, lo lanjut aja tidur lo" dibalas deheman oleh abi. Gianpun keluar tendanya menuju dapur umum, dia terjejut karena melihat revina di dapur umum sedang mengambil minumnya
"Vin, kenapa belum tidur?" Tanya gian tiba-tiba membuat revina terkejut
"yaallah. Kak gian kebiasaan deh ngagetin mulu" ucap revina terkejut
"Haha sory sory, aku kira kamu sadar akan kedatanganku"
"Serius deh kak, kedua kalinya ini kakak ngagetin vina"
"Iya sory hehe. Kenapa belum tidur vin?"
"Vina ga bisa tidur, terus haus jadinya kesini ambil minum" jawab revina tersenyum "kakak kenapa belum tidur?"
"Enggak tau ini mata gamau mejem, udah di paksain masih aja melek"
"Kenapa bisa gitu? Kakak minum kopi kali ya tadi"
"Enggak kok, pas nganter kamu aku langsung masuk me tendaku, tapi sampe sekarang masih belum tidur juga" ucap gian "sini deh ikut aku sebentar" timpah gian sambil menarik tangan revina lembut
"Udah diem ikut aku saja, kamu belum ngantuk kan, ada satu tempat yang mau aku tunjukin sama kamu"
"Kemana si kak"
"Revina bawel juga ya ternyata" senyum gian merekah
"Ih kakak mah gitu" revina merengut "pelan-pelan kak kaki revina sakit"
Gian menghentikan langkahnya "naik kepunggungku"
"Apa?"
"Kaki kamu sakit kan, naiklah kepunggungku vina"
"Haha enggak usah kak, vina masih bisa jalan kok"
"Udah ah naik aja kita naik ke tebing loh" ucap gian. "Naiklah"
"Kakak yakin?"
"Hemmm"
"Its okey, ini ke tiga kalinya di gendong pangeran kampus hari ini, keberuntunganku kali ya haha"
"Kamu bisa aja, udah ayo naik"
Revina naik kepunggung gian, gian berjalan menggendong revina ketempat yang dia maksud. Revina merasakan nyaman sekali di gendongan gian, biasanya ga ada yang gendong dia selain kakaknya reza.
"Kamu tau, kamu dan reza menjadi bahan bicaraan orang-orang kampus?" Ucap gian
"Mereka membicarakan bahwa aku adalah pacar kak rezakan. Hahah itu udah biasa kak"
"waktu itu kalo aku tidak tau bahwa reza adalah kakak kandungmu mungkin aku juga akan berpikiran seperti itu"
"Kenapa gitu?"
"Karena reza sangat memanjakanmu"
"Maksud kamu ?"
"Kakak tau kan kerusakan pada kakiku, itu ulah dari orang yang tergila-gila kepada kakakku, ia merencanakan hal gila buat ngerjain aku karena mikirnya aku adalah kekasih kak reza, aku sangat takut di dalam hutan, karena kejadian itu terjadi di tengah hutan, seandainya tidak ada sahabat kakakku waktu itu, mungkin aku sudah di lecehkan sekarang" tangis revina pecah mengingat kenangan buruk tersebut, gian menurunkan revina dari gendongannya lalu memutar badan menghadap revina, gian merengkuh tubuh revina kedalam pelukannya "seandainya hari itu vina dengar omongan kak reza untuk tidak keluar rumah semua ini tidak akan terjadi kak, kak reza selalu menangis ditengah malam memeluk fotoku karena rasa bersalahnya terhadapku" isak revina
Gian mengelus kepala revina dalam pelukannya "Aku menjadi tidak berguna karena kakiku yang kehilangan tenaganya" tangis revina dalam pelukan gian. Gian mengendorkan pelukannya dan menunduk menyeimbangkan tinggi revina
"Revina dengar, sayang reza terhadapmu itu tulus bukan karena rasa bersalah, dia sangat tulus menyayangimu sampai tak ingin ada yang menyakitimu lagi, kamu harus berdiri tegap, walaupun kamu harus kehilangan cita-citamu tentang basket tapi kamu bisa melanjutkan usaha papamu, kamu masih bisa melakukan banyak hal revina, percaya itu" ucap gian sambil menghapus air mata revina "Sekarang coba lihat di atas kepalamu" pinta gian
Revina mengangkat kepalanya dan melihat ke atas langit.
"Waaaahhh... ini sangat indah, langit begitu dekat dengan kita, ada banyak bintang di atas sana, kunang2 juga ada dimana-mana" ungkap revina kagum dengan keindahan langit "bagaimana kakak bisa menemukan tempat ini?" Tanya revina ke gian
"Aku adalah pecinta alam vin, aku sering ke lokasi ini, hanya saja tempat ini begitu menyejukan hatiku, makanya aku mengajakmu kesini karena kamu tidak bisa tidur kan"
"Ini sangat sangat indah kak" mata revina melihat kagum di area sekitar sini
Mereka duduk sambil menatap langit cukup lama, mereka mengobrol bahkan gian sering melontarkan candaannya membuat revina tertawa, gian menatap dalam wajah revina, membuat merona dipipi revina
"Janntungku bersahabatlah, kenapa begitu kencang berdegubnya" gumam revina dalam hati
"Yatuhan, apakah aku telah jatuh cinta kepada wanita dihadapanku ini" gumam gian
Revina memecahkan lamunan gian dengan berdehem
"Kak udah jam 4 ayo kita turun, nanti semua orang mencari kita lagi" ajak revina gugup
"Eh... iya ayoo. Eh tunggu dulu"
"Ada apa kak"
"Itu pipi kenapa merah banget, kamu kedinginan ya" melepaskan jaketnya memberi ke revina sambil mengusap dan memberi hawa hangat ke jemari revina dan menangkup pipi revina yang semakin memerah
"Yaampun hentikan kak, aku tidak kedinginan, tatapan dan perhatian kak gianlah membuat pipiku memerah" gumam revina semakin gugup
"Are you okey?" Tanya gian masih mengusap tangan revina
"Iam okey" jawab revina tersenyum. "Ayo turun" ajak revina menarik tangan gian yang membuat gian tersontak kaget. Revina tersandung gian yang cekatan langsung menarik revina, dan mereka terjatuh, revina jatuh di atas gian. Mereka bertatapan lama, jantung keduanya berpacuh begitu cepat. Kedua pipi mereka merekah merona, revina bangkit dari pelukan gian agar tidak terlihat gugup dihadapan gian
"Kamu ga terlukakan?" Tanya gian yang bangkit dan khawatir
"Eh enggak kok kak, hehe terimakasih udah menyelamatkan revina lagi"
"Bener ya kata reza, kamu sangat ceroboh"
"Ih kakak"
"Hahah yaudah ayo turun, sini tanganmu"
"Tanganku. Untuk apa?"
"Menggandengmu, apa kamu mau tersandung lagi, atau kamu mau aku gendong saja"
"Emang aku bayi di gendong terus, yaudah ayo turun" ucap revina sambil menggandeng gian
Mereka turun dari tebing dengan bergandengan tangan, gian sangat menjaga revina agar tidak terjatuh lagi. Revina tersenyum melihat jemarinya yang sedang di genggam gian
"Kenapa aku merasa aman dan nyaman begini ya saat digenggam kak gian, pelukannya juga mampu menenangkan aku" gumam revina dalam hati
Senyum gianpun merekah, perihalnya ia sedang berjalan menuruni tening dengan menggenggam tangan revina. Entah rasa apa yang ada dihatinya yang jelas gian akan bersedih ketika melihat air mata revina tumpah dan ikut tersenyum ketika revina tertawa bahagia
"Aku taktau skenariomu tuhan, yang jelas aku ingin melindungi dan melihat gadis ini tersenyum seperti ini" gumam gian dalam hati