Restless

Restless
The Neighborhood



"Sudah bangun Namira? Sini aku jemur dia. Kamu siapin aja yang buat mandi." kata Doni. Baru saja Nina akan menjemur Namira. Tapi Doni sudah buka suara untuk membantunya.


"Memang kamu nggak telat ke kantor nanti?" tanya Nina.


"Sesekali telat nggak apa-apa kan? Aku juga mau jemur anakku." jawab Doni. Terkadang, Doni memang tidak bisa di prediksi. Kadang ia malas membantu Nina. Kadang pula ia sangat telaten membantunya.


"Oke. Aku siapkan peralatan mandi Namira dulu ya. Sebentar." jawab Nina. Kemudian Nina masuk ke dalam rumah.


Doni menggendong Namira dan memandanginya. Mengajak ngobrol dan mengayunkannya.


"Anaknya, Mas?" tanya seorang gadis belia sembari lewat di depan Doni. Doni yang tidak terlalu mengenalnya, hanya menjawab serama mungkin seperti biasanya.


"Eh. Iya."


"Hm. Saya udah lama ngontrak disini. Itu kontrakan saya." kata gadis belia itu. Doni hanya mengangguk kebingungan. Karena tiba-tiba gadis itu menunjuk rumah kontrakannya.


Tidak lama, Nina keluar dan melihat gadis itu menyapa Doni. Melihat Nina keluar dari rumah kontrakannya, gadis itu tersenyum dan langsung berlalu dari hadapan Doni.


"Ngapain dia?" tanya Nina pelan.


"Nggak tahu. Cuma nyapa aja." jawab Doni.


Nina menengok ke arah gadis itu. Ia sedang merapikan jemurannya.


"Yaudah, masuk. Kamu berangkat kerja." kata Nina. Doni tidak berkata banyak. Ia menuruti apa yang Nina katakan.


Selagi mengantar Doni berangkat kerja, Nina mencuri pandang melihat tetangganya yang melirik ke rumah kontrakannya. Ia merasa sedikit risih. Kenapa pula ia harus punya tetangga seperti wanita itu? pikir Nina.


Tapi Nina tidak mau terlalu pusing dengan sikap tetangganya yang aneh. Ia masuk dan fokus pada Namira. Sedikit banyak, Nina harus tetap waspada. Karena ia telah mengalami hal buruk sebelumnya. Nina juga ragu dan tidak bisa menjamin. Apakah Doni benar hanya fokus pada dirinya dan Namira? Bagaimana kalau ada wanita lain di luar sana yang masih berusaha menarik perhatiannya seperti Meri?


*****


Doni bekerja seperti biasa. Walau terkadang ia mendengar beberapa gosip tentang dirinya. Tidak nyaman. Tapi ia harus menebalkan telinganya agar tidak terpengaruh gosip di kantor.


"Mas Doni. Ini berkas yang harus di tanda tangan sama Pak Mikel. Tapi Pak Mikel belum dateng, Pak. Saya hold dulu apa gimana ya? Ini tentang iklan berbayar sih, Mas." kata salah satu junior Doni yang memang masih dalam pengawasan Doni.


"Oh iya, boleh, kamu taruh disini saja. Nanti saya juga mau ke ruangan Pak Mikel kok." jawab Doni. Doni hanya fokus dengan pekerjaannya. Tapi ia lupa bahwa sekretaris Mikel adalah Meri.


Doni meremas rambutnya. Ia merasa kesal karena lagi-lagi harus bertemu dengan Meri. Ia berpikir jika nanti ia harus bertemu dengan Meri. Apa yang akan dikatakannya lagi?


*****


Hari semakin siang. Nina merasa lelah dan mengantuk. Melihat Namira yang tertidur pulas, membuatnya juga ingin beristirahat. Padahal ia baru saja menyalakan televisi dan ingin merebahkan tubuhnya sebentar. Tapi entah mengapa, matanya tidak kuat lagi menahan kantuk.


Nina memegang tangan Doni. Ia menggenggam erat jemari Doni. Tapi Doni berbicara dengan nada yang tidak jelas. Dari raut wajah Doni, kelihatan sekali wajah penyesalan Doni yang tidak pernah Nina lihat sebelumnya.


"Aku mohon, mengertilah." pinta Doni. Nina menangis. Hatinya sesak. Ia tidak bisa lagi menahan emosinya. Air matanya tumpah. Ia bersimpuh dihadapan Doni.


"Jangan lakukan ini, Doni. Semua yang kita lewati, semua yang kita lalui dengan suka dan duka, akan menjadi sesuatu yang sia-sia." kata Nina.


Doni tidak tega melihat Nina yang bersimpuh dengan kepala menunduk. Isak tangis Nina terdengar jelas di telinga Doni.


Doni memberi penjelasan dengan perlahan. Berharap Nina akan mengerti dan memakluminya. Tapi ternyata Doni salah. Nina marah besar. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Lelaki sampah! Lelaki macam apa yang tidak bisa setia pada satu wanita! Aku kurang apa dimatamu? Aku berkorban, aku berusaha agar kita tidak kekurangan, tapi apa yang kamu lakukan? Sebuah pengkhianatan?" Nina mencerca Doni tiada hentinya. Nina memukuli badan Doni. Tidak ada yang bisa Doni lakukan selain menerima apa yang Nina lakukan.


Wanita itu akhirnya datang. Wanita yang selama ini berusaha merebut posisi Nina. Wanita yang selama ini ingin menggantikan Nina di posisi Doni. Ia tersenyum bahagia. Hingga lupa bagaimana cara mengasihani orang lain. Tapi wajahnya masih sedikit samar dimata Nina*.


"Kamu bisa lihat dirimu nggak? Setelah melahirkan badanmu melar. Coba bandingkan dengan aku yang masih mempunyai tubuh langsing." ucap wanita itu semakin membuat amarah Nina berada di puncaknya.


"Lelaki busuk kamu, Doni!"


Nina melempar sesuatu ke arah Doni dan mengenai wajah Doni.


BUUUK!!!


Nina terbangun dari mimpinya. Dari tidur siangnya yang tidak pernah ia rencanakan. Ia mendengar suara ketukan pintu yang diketuk dengan kencang.


Nina melihat Namira yang masih tertidur pulas dan bangkit dari tempat tidur, melihat siapa yang mengetuk sekencang ini.


Nina membuka pintunya. Wajah masam telah berdiri di depan pintu ketika Nina membukanya.


"Kamu? Ada apa?" tanya Nina pada seorang gadis tadi pagi yang menatapnya hingga membuat Nina risih.


"Tadi ibuku masak. Ini mau bagi sedikit buat kamu." kata gadis itu hampir tidak mengenal sopan santun berbicara dengan Nina.


"Oh, kamu anaknya Ibu itu?" tanya Nina pura-pura tidak tahu.


"Iya." jawab gadis itu masih memegangi mangkuknya. Sedangkan Nina masih belum menerima makanannya.


"Siapa nama kamu?" tanya Nina.


"Sinta." jawabnya pendek.


Nina menatap dengan tidak suka gadis muda bernama Sinta ini. Tapi ia menutupinya dengan nada yang Nina buat.


"Oke. Bilang Ibumu terima kasih ya." jawab Nina langsung menutup pintunya.


Sinta yang memang sejak awal sudah kesal melihat Nina, tidak terlalu mempedulikan sikap Nina. Tapi, Sinta memang berbeda dari kebanyakan gadis lain.


"Sudah kamu kasih makanannya?" tanya Ibu Sinta yang memang merupakan tetangga kontrakan Nina.


"Sudah. Lain kali aku nggak mau ngasih makanan ke dia lagi ya." kata Sinta.


"Biar kamu tahu, bagaimana orang yang sukses. Bekerja. Dan punya penghasilan cukup baik. Kamu harus belajar dari mereka. Kalau perlu kamu minta kerjaan sama mereka. Daripada kamu diam dirumah, bikin repot saja!" ujar Ibu Sinta yang membuat Sinta berpikiran lain.


"Kalau orang sukses, nggak akan ngontrak, Bu. Pasti dia sudah beli rumah di perumahan elit." jawab Sinta sedikit cuek.


"Mereka itu sedang berusaha dari nol. Besok kalau cari pacar, cari yang sudah mapan, kerja, karyawan tetap. Jangan pacaran sama orang yang kerja serabutan." lanjut Ibu menasehati Sinta. Tapi apa yang Ibu ucapkan, ternyata penafsiran Sinta berbeda.


Sinta masih muda. Mempunyai tubuh yang bagus dan otak lumayan pintar. Hanya saja nasib berkata lain. Ia tidak seberuntung Nina. Mempunyai suami yang baik dan perhatian. Walau masih mengontrak, Nina terlihat akur dengan suaminya. Berbeda dengan orang tuanya yang selalu cekcok dengan hal kecil. Sekarang, Sinta menjadi penasaran. Bagaimana kalau suatu hari nanti ia punya pacar yang sudah bekerja kantoran seperti suami Nina?