
Sinta kini lebih banyak diam. Ia memikirkan perasaan Nina saat itu. Perasaan yang tidak mungkin bisa memaafkan Sinta secepat ini. Rasanya ingin sekali mengulang waktu. Meminta maaf walau ia harus ditendang keluar oleh Nina.
Sinta memakan sedikit demi sedikit mi ayam yang ia pesan di bakmie Enci. Enci menatapnya dengan nanar. Merasa sangat kasihan dengan keadaan Sinta sekarang.
"Minumlah." kata Enci memberikan segelas air pada Sinta.
Sinta melihat Enci dengan lemas. Sejujurnya ia tidak memiliki selera makan yang baik.
Enci menarik bangku dan duduk di sebelah Sinta.
"Makanlah walau sedikit. Hari ini kamu bisa makan gratis." kata Enci.
"Kenapa?" tanya Sinta heran.
"Kamu terlihat menyedihkan. Seharusnya kamu bisa hidup bahagia dengan dia. Tapi alih-alih bahagia kamu malah terlihat seperti ingin bangkrut dari pekerjaanmu." jawab Enci terdengar pedas.
"Bukan begitu, Nci." sangkal Sinta.
"Lalu apa? Setelah menikah apalagi menikah dengan orang yang kamu cintai harusnya kamu merasa bahagia." kata Enci tidak percaya dengan sangkalan yang Sinta ucapkan.
"Aku hanya baru tahu kalau menikah ternyata tidak semudah yang dibayangkan." jawab Sinta.
"Kau merasakannya sekarang."
"Iya. Dan aku merasa bersalah dengan istri Mas Doni. Kalau saja aku tahu bagaimana rasa sakit yang dia alami, mungkin aku tidak akan sekejam itu padanya." sahut Sinta.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Aku bertanya-tanya bagaimana kehidupannya saat ini." Enci terdengar seperti berbicara sendiri. Tapi tidak. Sinta menanggapi apa yang pemilik toko itu katakan.
"Dia jauh lebih baik dari kemarin." jawab Sinta tersenyum.
"Aku harap begitu. Sejujurnya aku kasihan melihatnya. Karena suaminya harus menghabiskan waktu bersamamu." jawab Enci.
"Aku ingin meminta maaf yang tulus padanya. Tapi dia menolakku." kata Sinta.
"Kalau kamu sudah merubah dirimu, aku yakin, wanita itu juga akan mengubah hatinya lebih baik. Dia pasti juga tidak akan menutup mata dengan usahamu." Enci mencoba menasehati Sinta. Sinta tidak menolaknya. Kini ia hanya bisa pasrah dan menerima keadaan serta kesalahannya.
"Iya, aku berusaha untuk itu." Sinta mengangguk.
"Aku berusaha meminta maaf. Walau aku ditolak aku akan mencobanya esok hari." kata Sinta.
"Sinta yang malang. Seharusnya dulu kamu mendengar kata-kataku. Sekarang makanlah. Ingatlah anakmu." kata Enci meninggalkan Sinta sendiri dan menghabiskan makanannya.
Lagi-lagi, Sinta hanya tersenyum mendengar apa yang Enci katakan.
Ada benarnya. Harusnya sejak dulu Sinta mendengarkan apa yang Enci katakan. Tidak ada salahnya.
*****
Nina mulai disibukkan dengan pekerjaannya di bagian pemasaran. Ia akan memulai kunjungan ke pabrik yang berada di kawasan industri. Produksi kaos polos lusinan yang biasanya dijual dengan harga pabrik sedang meroket. Karena saat ini sedang musim panas, permintaan kaos polos dengan warna yang berbeda menjadi pilihan yang pas di kalangan masyarakat.
Nina selalu ditemani sekretarisnya, Pak Sam. Mulai dari jadwal pagi hingga malam, jadwal Nina sangat padat.
Nina terlihat berbeda dengan orang-orang yang berdiri mengelilinginya. Semua memakai jas. Semua memakan setelan jas yang mahal. Apalah Doni yang hanya memakai seragam dari kantornya.
Angin sepoi-sepoi menyapu rambut Nina hingga rambut Nina terlihat sedikit menutupi wajahnya. Doni memandangi Nina dengan kagum. Betapa cantik dan berbedanya Nina ketika masih menjadi istrinya dan sekarang telah bekerja di perusahaannya sendiri. Lagi-lagi, dalam lubuk hati Doni, ia merasakan lagi penyesalan yang dalam.
Nina memasuki mobilnya. Nina sama sekali tidak tahu jika Doni datang ke kantornya dan melihat dirinya. Mobil Nina melewati Doni yang sedang berdiri menatapnya.
"Kamu telat?" tanya Meri begitu melihat Doni yang baru datang.
"Ah, iya."
"Hari ini sudah kesekian kalinya kamu telat. Jangan sampai telat lagi. Kalau absenmu telat terus, kamu bisa dapat surat peringatan." kata Meri memperingati.
Doni hanya tersenyum mendengar Meri.
Meri melihat Doni agak berbeda hari ini. Tapi Meri tidak mengambil pusing karena masih jam kantor, Meri tidak ingin membicarakan hal pribadi pada Doni.
Doni hanya terdiam lemas di meja kerjanya. Baru kali ini Doni merasa tidak bersemangat dalam pekerjaannya.
*****
Nina sedang berada dalam perjalanannya. Ia bersama Pak Sam dan juga seorang supir.
"Maaf, Bu. Saya ingin menyampaikan sesuatu." ucap Pak Sam.
"Iya, Pak, ada apa?"
"Saya kemarin sempat dengar kabar mengenai Ibu dan mantan suami Ibu."
"Lalu?"
"Saya tadi melihat mantan suami Ibu di depan gerbang kantor. Saya takut suatu hari terjadi apa-apa. Apa perlu saya ketatkan keamanan di sekitar Ibu?" tanya Pak Sam berhati-hati.
"Saat ini tidak perlu. Biarkan saja dulu." jawab Nina tersenyum..
"Apa Ibu yakin?"
"Saya yakin dia bukan tipe penguntit." kata Nina.
"Tapi, Bu..."
"Biarkan saja. Kita lihat saja sampai mana dia akan mencari saya setelah perceraian." kata Nina memotong perkataan Pak Sam..
"Jika Ibu butuh bantuan saya, Ibu jangan ragu menghubungi saya. Dalam keadaan apapun, Ibu bisa hubungi saya." Pak Sam terdengar khawatir.
Mendengar kekhawatiran yang ada pada Pak Sam terhadap dirinya membuat dirinya senang. Nino tidak asal mempekerjakan seseorang. Yang ia pekerjakan adalah orang-orang yang sangat mampu dalam bidangnya. Terutama Pak Sam.
"Baiklah, Pak." jawab Nina membuat hati Pak Sam sedikit tenang.
Nina melanjutkan membaca dokumen yang ia pegang. Walau sesekali khawatir dengan apa yang Doni lakukan di depan gedung kantornya.