Restless

Restless
Baby Namira



Hari demi hari berlalu. Kehamilan Nina pun semakin besar. Ia juga sedikit kesulitan beraktivitas karena perutnya sudah membesar. Tapi Doni senantiasa berada disisinya. Ia membantu apa yang Nina butuhkan dan apa yang Nina inginkan. Sebentar lagi Nina juga akan cuti hamil. Ia akan mengasuh bayinya sendiri dan ia sebenarnya juga sudah berencana untuk mencari seorang yang akan membantu merawat anaknya.


"Semua persiapan sudah siap. Aku hanya tinggal menunggu hari perkiraan lahir dan cuti." ujar Nina pada Doni.


"Iya. Pokoknya kamu tenang aja. Aku akan selalu ada disetiap kamu butuh aku." kata Doni yang sudah siap menjadi suami siaga. Nina merasa bangga dengan Doni. Ia harap perubahan Doni akan seterusnya seperti ini. Suami penyayang dan calon ayah yang akan selalu mengutamakan keluarga.


"So sweet. Aku jadi mau terbang dengar kamu bicara begitu." kata Nina tersenyum sambil mencubit paha Doni.


"Lho, aku serius. Aku mau jadi suami siaga buat kamu." kata Doni. Tapi Nina masig tersipu malu.


"Iya, iya, aku percaya. Semoga seterusnya seperti itu ya..." jawab Nina.


Doni tersenyum dan memeluk Nina.


"Semoga tidak ada lagi rintangan yang menghadang. Dan semuanya berjalan lancar."


Nina hanya mengamini ucapan Doni. Semoga memang benar begitu adanya. Nina berharap apa yang Doni katakan tidak hanya sekedar ucapan belaka. Mengingat ia pernah menyakiti hatinya sedemikian rupa.


Nina pun hanya ingin rumah tangganya berjalan dengan baik-baik saja. Tanpa adanya kehadiran orang ketiga diantara mereka.


Untuk saat ini, Nina hanya berharap sebagai manusia biasa agar apa yang direncanakan dan diucapkan bisa berjalan seperti apa yang seharusnya. Tapi, Nina tidak pernah tahu bahwa suatu saat takdir akan berbicara lain. Begitu pula dengan Doni.


*****


Nina mengejan sekuat tenaga. Memegangi pagar tempat tidur dan keringat bercucuran di peluhnya. Nina tidak boleh merasakan kepanikan dan harus tetap tenang. Perawat meminta agar Nina tetap fokus untuk mengejan dengan kekuatan penuh.


"Kepalanya sudan kelihatan, Bu! Ayo sebentar lagi, Bu!" ujar salah satu perawat. Tadinya Nina sudah merasa lelah, tapi ketika salah satu perawat mengatakan itu, ia menjadi semangat lagi.


Doni was-was menunggu Nina yang sedang berusaha dengan tenaga sepenuhnya untuk melahirkan buah hatinya. Hatinya merasa gelisah. Bagaimana Nina menghadapi semua ini? Apakah Nina bisa? Bagaimanakah kondisinya?


Tidak lama kemudian, suara tangisan bayi terdengar dan hati Doni merasa lega. Dibukanya pintu persalinan dan Doni dipersilakan masuk untuk melihat kondisi Nina. Sedangkan perawat lain membawa bayi mereka untuk segera dibersihkan.


Doni menghampiri Nina. Nina terlihat lelah dan tidak berdaya. Doni mengelus rambut Nina dan memandang mata Nina.


"Kamu berhasil, Nina. Anak kita perempuan." kata Doni.


Nina tersenyum dan memejamkan matanya.


"Aku lelah, Doni." kata Nina.


"Iya, istirahatlah. Aku akan ambilkan baju sebentar dan kamu bisa tidur pakai baju bersih." kata Doni.


Badan Nina merasa remuk. Badannya seperti berlari berjam-jam di lapangan banteng. Kaki dan tangannya sangat lemas. Matanya sangat mengantuk. Dan ia juga haus.


"Aku mau minum, Doni." kata Nina. Dengan sigap, Doni mengambilkan minum untuk Nina.


"Makasih, Nina. Kamu sudah berjuang." kata Doni.


"Jangan lupa adzanin anak kita, ya." ucap Nina. Nina bisa melihat Doni tersenyum. Tapi kini matanya benar-benar merasa lelah. Ia akhirnya tertidur. Nina sudah tidak bisa menahan kantuknya lagi.


*****


Keesokan harinya setelah Nina melahirkan, Nina sudah merasa kondisi tubuhnya lebih baik. Nina diminta ke ruang bayi untuk menyusui bayinya. Doni menuntunnya dengan perlahan agar Nina bisa sampai di ruang menyusui.


Doni dan Nina melihat bayi mereka di ruang menyusui.


"Iya, Sus." jawab Nina.


Doni mulai gemas melihat bayi perempuan dengan jemari yang mungil. Hatinya sangat tersentuh melihat bayi mungil ini ketika membuka mulutnya.


"Kamu mau kasih nama apa?" tanya Nina.


"Aku belum tahu, mungkin kamu ada saran nama yang bagus?" tanya Doni.


"Aku semalam kepikiran nama Namira. Bagaimana menurutmu nama itu?" tanya Nina ingin tahu pendapat Doni.


"Bagus. Terdengar anggun." kata Doni.


"Namira Hermawan." sambung Nina. Doni tersenyum dan mengecup dahi Nina. Kemudian menatap gemas dan mengajak bicara bayi mungil yang lucu itu.


Nina kembali merasa bersyukur karena hingga saat ini Doni masih menjadi suami yang siaga untuknya. Ia menunggui semalaman dan saat Nina tertidur pun, Doni yang menjaga dan menggendong Namira.


Tidak lama kemudian, Ibu Nina datang menengok Nina. Dan juga dengan cepat ingin menggendong Namira. Doni menyambut kedatangan mertuanya dengan ramah dan penuh senyuman.


"Oh, Nina. Bagaimana keadaanmu sekarang? Ibu bawakan beberapa makanan biar kamu bisa terus makan dan ASInya juga cepat keluar banyak. Sekarang gimana ASInya?" tanya Ibu duduk di pinggir ranjang pasien.


" Baik, Bu. ASInya sekarang sudah mulai keluar sedikit sedikit. Tapi nanti mau dibantu pakai pompa. Kata Mas Doni kalau aku ketiduran, Mas Doni yang kasih ASInya, Bu." jawab Nina.


"Bagus itu. Kamu terus bekerja sama mengurus anak sama suamimu. Biar gantian. Kamu bisa kan Doni bantu Nina mengurus anak? Kasihan Nina, capek lho." kata Ibu yang terdengar sedikit tidak enak di telinga Doni.


"Iya, Bu. Pasti bisa dong." jawab Doni dengan senyum. Nina memandangi Doni. Ia merasa tidak nyaman dengan kedatangan Ibu seperti ini.


"Bisa, Bu. Mas Doni pasti bisa kok." sambung Nina. Tidak ingin melihat Doni merasa tidak nyaman lagi, Nina membuat alasan bahwa ia menginginkan istirahat yang lebih lama.


Kemudian Nina kembali mencoba menyusui Namira dan makan makanan yang ada di meja rumah sakit itu.


Doni juga dengan sigap membantu Nina mengurus Namira. Nina merasa tubuhnya sedikit demi sedikit kembali pulih. Ia merasa kembali sehat dan bisa minta pulang dari rumah sakit.


"Akhirnya sampai juga di rumah. Ayo, Sayang, Namira. Ayah bersihkan dulu tempat tidurnya ya.. Mama jaga dulu ya Namiranya, biar Ayah bersihkan dulu." kata Doni.


Nina tersenyum melihat Doni yang mau membersihkan tempat tidur dan menyapu lantai. Yang biasanya hal itu Nina lakukam, sekarang Doni melakukannya.


Nina menggendong Namira dan keluar rumah kontrakannya sebentar. Karena Doni sedang membersihkan sebentar.


Tetangga kontrakkan pun menyapa Nina dan melihat bayi yang digendongnya.


"Wah sudah lahiran ya, Nina?" tanya salah seorang tetangga.


"Iya, Bu. Alhamdulillah sudah." jawab Nina dengan ramah.


"Selamat ya. Semoga menjadi anak yang solehah. Siapa namanya?" tanya Ibu tetangga yang sedang mengobrol dengan Nina.


"Namanya Namira, Bu." jawab Nina. Tidak lama, Ibu tetangganya dipanggil oleh anak remaja gadis yang ternyata adalah anaknya.


"Ibu. Sini, Bu."


Nina merasa risih dan menyadari bahwa anaknya sedikit tidak menyukai dirinya. Tapi Nina tidak mau ambil pusing. Karena kehidupan bertetangga, tidak selalu menyenangkan, pikir Nina.