Restless

Restless
New Marriage For Nina.



Satu tahun kemudian...


"Hennggghhhh...."


"Iya, Bu, terus, Bu..."


"Henhgghhhh"


Peluh Nina berkeringat semuanya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengedan. Nina melahirkan anak keduanya bersama Fabio. Nina berjuang keras melahirkan anak yang dinantikan oleh keluarganya. Yaitu seorang anak lakk-laki.


Fabio menunggunya dengan cemas di depan ruang bersalin.


"Dad..." panggil Namira. Sudah setahun ini lelaki itu menjadi ayahnya. Fabio sangat lembut dan memperhatikan Namira dengan baik.


"Iya, Namira?"


"Dedenya belum lahir juga?"


"Kita doain Mama sama-sama yuk, biar dedenya cepat nangis di dalam sana."


Namira mengangguk mengerti. Namira anak yang pintar dan penurut. Fabio sangat senang jika harus mengasuh Namira sesekali jika Nina sedang ada lembur di kantor. Namira juga jarang merengek pada Fabio dan selalu mendengarkan apa yang Fabio katakan.


"Oeee...Oee..."


Namira memandangi Fabio dengan mata yang bersinar.


"Dad... Dedenya sudah lahir!"


Fabio memeluk Namira dengan perasaan lega.


"Namira punya adik ya sekarang."


Namira mengangguk dengan riang gembira.


"Kapan bisa liat dedenya?"


"Sabar ya, Nam. Dibersihkan dulu dedenya. Sekarang kita lihat Mama dulu yuk."


"Okay, Dad..."


Pintu ruang bersalin dibuka. Ranjang Nina yang masih terlihat sedikit darah mengarah ke ruang inap. Nina harus segera memakai pembalut. Karena darahnya masih ada yang mengalir. Ari-ari juga langsung dikeluarkan.


Nina menatap Fabio dengan senyum yang lemah. Fabio dan Namira mengikuti ranjang Nina yang di dorong suster ke ruang rawat inap.


Sesampainya di ruang rawat inap, Fabio masih harus menunggu karena Nina akan segera dibersihkan sebentar dan dipakaikan pembalut. Suster juga memberi alas pada tempat tidur Nina.


Setelah Nina bersih dari darah melahirkannya, Fabio membuka tirai dengan perlahan dan tersenyum pada Nina.


"Namira dimana?" tanya Nina lemah. Fabio memanggil Namira dan Namira menghampiri Nina.


"Ma..."


"Nam... Sekarang Namira punya dede."


"Iya, Ma. Tadi Namira denger suara nangisnya."


Nina mengelus rambut Namira dengan lembut.


"Ini udah malam, Nam...Kamu pulang ya? Bobo sama kakek nenek." pinta Nina.


"Mama tidur dimana?"


"Disini. Mama masih cape. Belum bisa bangun. Badan Mama juga sakit. Nanti kalau sudah sembuh, Mama pulang ya."


Namira mengangguk. Namira mencium pipi Nina dengan penuh kasih.


"Namira pulang ya, Ma."


Nina mengangguk dan tersenyum pada gadis kecil yang semakin lama semakin tumbuh besar itu. Fabio menghampiri Nina dan mengelus wajahnya dengan pelan.


"Makasih, Sayang. Kamu sudah berjuang melahirkan anak kita." ucap Fabio dengan tatapannya yang penuh kasih pada Nina.


Nina mengangguk tersenyum dan meraih pipi Fabio.


"Kalian tidur di rumah malam ini. Aku disini ada suster kok. Besok pagi bawakan aku baju dan pembalut ya. Malam ini aku capek. Mau tidur." kata Nina.


Fabio mengangguk.


"Kalau begitu aku pulang dulu sama Namira ya."


Fabio mencium kening Nina sebelum benar-benar pergi dari ruang rawat inap yang Nina tempati. Fabio juga meletakkan air minum dan beberapa kue di meja sebelah tempat tidur Nina.


Nina hanya tersenyum melihat Fabio yang menyodorkan banyak camilan padahal ia sangat mengantuk.


"Kalau kamu mau makan, ini sudah dekat sama kamu."


"Aku lemas, Fab..."


"Istirahat ya, Sayang."


Nina mengangguk dan ingin memeluk Fabio sekali lagi. Fabio selalu menuruti apa yang istrinya minta. Fabio menyodorkan tubuhnya agar Nina bisa memeluknya dengan nyaman.


"Besok kesini pagi-pagi ya." pinta Nina.


"Oke. Aku kesini subuh-subuh."


Nina tertawa dan kembali menyuruh mereka pulang.


"Sudah pulang. Aku capek."


"Baiklah. Aku pulang ya."


Nina mengangguk dan melambaikan tangan pada Fabio dan Namira. Setelah pintu ditutup, Nina segera memejamkan matanya. Ia sudah tidak bisa lagi menahan kantuknya. Melahirkan adalah sesuatu yang ajaib bagi wanita. Bertaruh nyawanya untuk seorang anak yang selama ini dinantikannya. Nina sudah melewati itu. Sekarang ia ingin memulihkan tenaganya untuk bertemu lelaki kecilnya esok hari.


Sudah setahun ini Fabio menikahi Nina. Apa yang Fabio katakan pada saat sebelum menikah benar adanya. Fabio tidak menuntut Nina apapun. Fabio hanya menginginkan Nina berada disampingnya. Nina tetap seperti biasa. Sibuk dengan pekerjaannya. Tapi tetap bisa meluangkan waktu bersama Fabio dan Nina. Fabio juga masih bertanggung jawab di pabrik. Hanya saja, dua atau tiga hari, Fabio pasti pulang ke rumah.


Awalnya, Fabio menginginkan rumah sendiri. Tapi Nina mengatakan bahwa rumahnya terlalu besar kalau hanya ditinggali oleh orang tuanya dan Nino saja. Fabio kembali setuju. Toh, orang tua Nina tidak keberatan soal Fabio yang tinggal bersamanya. Selain itu, akan butuh biaya tambahan untuk menjaga anak-anak jika mempunyai rumah lagi.


Nina masih dipenuhi gairah cintanya pada Fabio. Perlakuan manis Fabio selalu membuatnya bahagia setiap hari.


Fabio menjemur Nadhif pagi ini di halaman belakang. Nadhif bermandikan sinar matahari ditemani oleh Fabio.


"Kamu nggak siap-siap berangkat kerja, Sayang?" tanya Nina melihat Fabio yang sedang asyik mengajak Nadhif bicara.


"Sebentar lagi, Sayang. Namira dimana?"


"Lagi siap-siap mau berangkat ke sekolah. Nanti kalau Ibu Mir sudah selesai mengurus Namira, biar Nadhif dimandikan oleh Bu Mir. Kamu sekarang mandi dulu, aku udah tinggal berangkat nih." kata Nina.


"Malam ini aku di pabrik ya?"


Nina tersenyum memeluk Fabio dengan rasa rindu yang membuncah.


"Akhir minggu ini, kita ke villa lagi yuk. Kalau kamu lelah dengan urusan pabrik, kita bisa kesana lagi." kata Nina.


"Bagaimana Namira dan Nadhif?"


"Kita ajak saja. Aku sudah menyiapkan beberapa mainan anak disana."


Fabio mengangguk tersenyum. Ia mengecup kening Nina dengan penuh kasih.


"Aku akan siapkan bajuku untuk malam ini di pabrik."


kata Fabio.


"Sudah aku siapkan. Kamu tinggal membawanya saja."


Nina mendorong stroller Nadhif. Pagi ini Nadhif sudah cukup bermandikan matahari. Saatnya dimandikan dengan air hangat oleh pengasuhnya.


"Mamaaa.. Daddyy... Namira sudah siaaap..."


"Gadis kecil Daddy sudah siap ya." Fabio menyambut Namira dengan pelukan yang hangat.


"Sudah. Tinggal sarapan."


"Kalau begitu, Namira sarapan, Daddy mau mandi dulu ya. Nanti Daddy antar ke sekolah Namira."


"Okay, Dad."


Namira segera menuju ruang makan dan sarapan bersama kakek dan neneknya.


Fabio bergegas mandi, Nina menyerahkan Nadhif kepada pengasuhnya.


Akhirnya Nina menemukan kebahagiaannya dalam pernikahan. Ia tidak salah menambatkan hati pada Fabio. Mungkin dulu ia pernah terluka karena terlalu terburu-buru mengambil keputusan menikah dengan Doni yang berakhir tidak bahagia. Tapi tidak dengan Fabio. Fabio sangat baik dan pengertian. Buktinya, Fabio berusaha memenuhi semua keinginan Nina.


Fabio jarang sekali melarang Nina melakukan hal yang ia suka. Fabio hanya ingin Nina berada disisinya. Itu sudah cukup. Masalah Namira dan Nadhif, Fabio tidak mempermasalahkan jika ada pengasuh yang mengurusnya.


Karena bagi Fabio, mengerti keadaan dan meminimalisir konflik dengan pasangan jauh lebih baik daripada harus menuntut segalam macam hal yang akhirnya tidak sesuai dengan ekspetasi.