
Sinta sudah resmi bekerja di perusahaan Nina. Perusahaan tekstil terbesar yang pernah ada. Sinta merasa takjub dengan kekayaan yang Nina miliki. Dia benar-benar wanita kaya raya. Sangat rugi sekali Doni menduakan dengan dirinya. Tidak. Sinta tidak cemburu. Hanya sayang saja. Wanita sempurna seperti Nina disia-siakan oleh Doni. Dimanapun, Nina selalu menjadi sorotan publik. Nina pun juga wanita sibuk tetapi juga ramah pada karyawannya.
"Sebenarnya, apa hubunganmu dengan Bu Nina? Kenapa kamu di interview langsung sama Bu Nina?" tanya Jeannie merasa penasaran.
"Hanya teman saja, kok, Bu." jawab Sinta pendek. Sinta teringat pesan Nina agar tidak perlu banyak bicara tentang dirinya. Sinta hanya boleh banyak bicara jika itu mengenai pekerjaannya.
"Tapi, asal kamu tahu saja. Bu Nina sangat selektif loh. Kalau ada karyawan yang tidak sesuai denga kriterianya, dia bisa saja memecatnya saat itu juga. Jadi aku harap kamu berhati-hati dalam bekerja." ujar Jeannie sedikit malas harus berbasa-basi dengan staff barunya.
"Baik, Bu. Akan saya perhatikan."
Sinta merasa Jeannie sedikit ketus. Tapi, bagaimana juga, Jeannie adalah atasannya langsung. Ia harus menahan diri agar bisa bekerja lama di perusahaan yang bagus ini. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatannya.
*****
"Yang ini juga, Bu." kata Pak Sam menyerahkan lagi sebuah dokumen dan dibaca kembali dengan teliti oleh Nina.
"Bagaimana dengan Mall Grand Mouri kemarin? Apakah tokonya mengalami defisit?" tanya Nina.
"Sejauh ini, toko yang ada di Grand Mouri masih berjalan sekitar tiga bulan. Penjualannya pun masih dalam tahap baik-baik saja, Bu. Belum ada masalah." jawab Pak Sam dengan tegas dan meyakinkan.
"Kalau ada masalah di Grand Mouri, segera hubungi saya. Karena itu salah satu mall di kawasan elit. Mohon diperhatikan ya, Pak."
"Baik, Bu."
Sesekali Nina mengecek ponselnya. Ini bukanlah kebiasaan Nina. Biasanya ia hanya melihat ponselnya jika ada telpon masuk. Karena Nina selalu disibukkan dengan telponnya. Tapi kali ini berbeda. Entahlah. Nina juga bingung bagaimana harus mengatakannya. Mungkin menunggu telpon dari Fabio. Eh tidak. Tidak juga. Dia pasti sangat sibuk di pabrik.
Terkadang Nina tersenyum mengingat bagaimana Fabio datang ke rumahnya dan bagaimana ia salah tingkah di depan Nino.
Tiba-tiba layar ponsel Nina menyala. Ada telpon masuk. Entah dari siapa.
"Selamat siang." sapa Nina.
"Selamat siang. Benar dengan Ibu Nina?"
"Iya, benar. Saya." Nina merasa bingung dengan suara di seberang telpon yang terdengar tegas itu."
"Kami dari kepolisian bagian Selatan. Ingin mengkonfirmasi, apakah benar Ibu Nina kenal dengan Bapak Doni?"
"Iya, Pak. Saya kenal."
"Bisa tolong datang ke Rumah Sakit Polri sekarang, Bu? Keadaan Pak Doni tidak cukup baik."
"Maksud Bapak, apa, Pak? Kenapa Pak Doni kondisinya kurang baik?" tanya Nina penasaran.
"Pagi ini, Pak Doni mengalami kecelakaan. Beliau menyalip truk dan ternyata di depannya juga ada truk dari arah yang berlawanan. Kondisi Pak Doni benar-benar kritis."
"Tunggu, Pak, sebelumnya. Kenapa Bapak menghubungi saya?"
"Karena nomor Ibu ada di panggilan terakhir di ponsel Bapak Doni."
Nina merasa tercengang. Apakah ini sungguh kenyataan? Mengapa disaat terakhirnya, Doni masih ingin menghubungiku? Apakah ia tidak bisa melupakan aku? Tidak. Dia punya Sinta. Jika dia memang benar mencintai aku, dia tidak akan pernah menduakan aku dengan Sinta. Tidak.
Nina segera meraih tas dan kunci mobilnya. Ia keluar ruangan dan mengatakan pada Pak Sam bahwa ada hal penting yang harus ia kerjakan.
Saat menyetir mobil, Nina merasa tidak yakin. Benarkah itu Doni, mantan suaminya? Kenapa disaat terakhirnya ia tidak menghubungi Sinta?
Doni, kasihan sekali nasibmu. Mengapa kamu harus mengalami semua kejadian nahas ini. Mengapa kamu tidak lebih hati-hati dalam kehidupanmu?
Saat sampai di Rumah Sakit Polri, Nina segera menuju ruangan yang ditunjukkan oleh petugas polisi. Betapa terkejutnya Nina bahwa ia harus masuk ke ruang jenazah.
"Di... Disini, Pak?" tanya Nina tidak merasa yakin.
Nina melangkahkan kakinya dengan perlahan. Memasuki ruangan itu dengan sedikit menahan napasnya. Melihat kain yang menutupi tubuh Doni. Ia ragu untuk membukanya. Tapi bagaimana ia bisa memberi kabar pada keluarganya Doni dan juga Sinta jika melihatnya untuk meyakinkan itu benar Doni atau tidak saja, Nina merasa takut.
"Biar saya bantu, Bu." kata Petugas Polisi yang melihat keraguan dari tangan Nina.
Nina mengangguk. Setelah polisi membuka kain itu, terlihat jelas sudah bahwa itu benar Doni. Doni yang selama ini telah mengisi kehidupan pernikahannya.
Nina bingung harus bagaimana. Ia tidak sanggup lagi melihat wajah Doni yang kaku.
Ia segera keluar dari ruangan dan bicara beberapa patah kata pada petugas polisi itu.
Setelah mengobrol singkat dengan polisi itu, Nina mengangguk dan mengeluarkan ponselnya.
Ia sedikit menekan-nekan ponselnya dan langsung menelpon Sinta.
"Sinta..." kata Nina lemas. Ia tidak tahu harus mulai darimana untuk menjelaskan keadaan ini.
"Sinta. Kamu masih belum sibuk kan? Berikan telpon kamu pada Jeannie. Aku mau bicara dengannya sebentar."
Tanpa banyak bicara, Sinta langsung memberikan ponselnya pada Jeannie.
"Ya, Bu."
"Jeannie, aku minta tolong berikan Sinta waktu beberapa hari tidak masuk kerja."
"Tapi, Bu..." Jeannie terdengar ingin menyangkal ucapan Nina.
"Tidak, Jean. Ini harus. Suaminya baru saja kecelakaan dan meninggal. Aku minta berikan waktu untuk Sinta. Aku ada di rumah sakit Polri."
"Baik, Bu..."
Walau Jeannie merasa bingung, tapi Jeannie tetap menyampaikan apa yang Nina perintahkan untuknya.
"Sinta. Kamu cuti dulu beberapa hari. Bu Nina memberi kabar pada saya kalau suamimu meninggal. Sekarang kamu diminta ke rumah sakit Polri di bagian selatan. Bu Nina menunggu kamu." kata Jeannie.
Sinta merasa terkejut dengan apa yang Jeannie katakan.
"Suami saya meninggal?" tanya Nina tidak percaya.
"Ya. Kamu izin saja dulu. Masalah pekerjaan masih bisa ditangani yang lain dulu."
"Baik, Bu. Maafkan saya, Bu Jean."
Jeannie mengangguk tersenyum.
"Pergilah sekarang."
Jeannie menghela napas setelah kepergian Sinta.
Beginilah nggak enaknya punya staff yang masih ada kaitannya dengan Bu Nina. keluh Jeannie di dalam hatinya. Ia kembali bekerja.
Sedangkan Sinta, terburu-buru untuk memberhentikan taksi dan naik ke dalam taksi.
"Siang, Bu."
"Ke Rumah Sakit Polri di Selatan. Bisa mengemudi dengan cepat?"
"Baik Bu."
Sinta merasa tidak tenang. Bagaimana kondisi suaminya sekarang? Mengapa hari ini Sinta merasakan hatinya terasa tidak nyaman. Setelah mendapat penjelasan dari Jeannie.