
Nina mengutuki Doni dalam hatinya. Ia tahu ia tidak boleh mengutuki suaminya seperti itu. Tapi bagaimanapun juga sikap Doni sudah lebih dari terlalu. Dan siapapun Nina yakin tidak akan ada yang tahan dengan lelaki macam Doni.
"Kamu serius, Nina? Itu yang Doni lakukan?" tanya Karina tidak percaya. Ia benar-benar tidak memercayai apa yang Nina ceritakan. Bisa-bisanya ada lelaki macam ini di dunia.
Nina mengangguk lemah. Ia tidak mengerti lagi bagaimana harus menanggapi Karina.
"Kamu yakin nggak akan memberitahu keluargamu mengenai ini semua?" tanya Karina hati-hati. Nina terkejut dengan pertanyaan Karina dan langsung memandanginya.
"Bagaimana reaksi orang tuaku kalau tahu Doni yang aku nikahi seperti itu? Bahkan aku menolak jabatan tinggi yang Ayahku berikan. Kamu tahu itu kan?" sergah Nina sebelum Karina bicara lebih lanjut.
"Tapi ini nggak benar, Nina. Harus berhenti sampai disini. Mau sampai kapan kamu diperlakukan Doni seperti itu?" Karina merasa khawatir dengan keadaan Nina yang semakin memprihatinkan.
"Doni merasa aku selalu bisa memaafkannya. Tapi dia lupa harta yang berharga yang harus ia jaga seutuhnya." ucap Nina.
"Apa itu?" Karina tidak mengerti dengan apa yang Nina maksud.
"Namira."
*****
Ponsel Sinta berbunyi. Ia menyimpan nomor itu dengan nama yang familiar di dengar belakangan ini.
"Mas?" sapa Sinta dengan senyum.
"Maaf, Sinta. Kemarin terjadi keributan. Aku jadi nggak enak." kata Doni di seberang telpon.
"Kak Nina pasti marah banget ya, Mas. Pasti dia udah nggak mau ngomong lagi sama aku." kata Sinta.
"Aku akan pastikan kalau kita hanya berteman sehingga tidak ada kesalahpahaman lagi antara Nina dan juga kita." ucap Doni.
"Oh. Cuma teman ya kita, Mas." kata Sinta sedikit kecewa dengan apa yang Doni katakan.
"Kenapa? Kok begitu suaranya?" tanya Doni.
"Nggak apa-apa sih, Mas. Rasanya aku memang harus tahu diri kalau kamu itu memang sudah ada yang punya." kata Sinta pelan.
"Maksudnya apa, Sinta?"
"Ya, maksudku, kamu terlalu memberiku perhatian yang lebih walaupun kamu sudah menikah. Nggak seharusnya kamu perhatian seperti itu ke wanita lain. Tapi ya, aku harus bagaimana? Aku memang cuma teman kamu. Walaupun aku mau berharap lebih sama kamu, aku juga harus tahu batasannya." jelas Sinta. Doni sedikit terdiam dengan apa yang Sinta katakan.
"Jadi maksud kamu..."
"Iya, Mas. Perhatian kamu kayak gini bikin aku suka sama kamu dan aku juga sempat berangan-angan kalau aku bisa punya pacar seperti kamu. Tapi sekali lagi aku tahu diri lho ya." kata Sinta.
Di seberang telpon, Doni hanya tersenyum mendengar apa yang Sinta katakan.
"Baiklah. Nggak apa-apa. Aku senang kok dengarnya." kata Doni.
"Hah?"
"Nggak apa-apa. Sementara kita pakai telpon saja dulu ya. Karena kalau ketemu nanti Nina marah-marah lagi." kata Doni.
Sinta pun tersenyum mendengar apa yang Doni bicarakan.
"Iya, Mas. Nggak apa-apa kok."
Sinta pun menutup telponnya. Ia merasa bahagia mendapat respon yang positif dari seorang pujaan hatinya yang juga merupakan suami orang lain, Doni.
*****
Di meja kerjanya, Nina selalu terbayang dengan apa yang ia katakan pada Doni semalam. Nina mulai merasa membenci dirinya sendiri ketika terus menerus memaafkan manusia seperti Doni. Salahkah Nina kalau ia ingin dihargai juga sebagai seorang istri?
"Baiklah. Aku akan mengerti. Aku masih ingin memberimu kesempatan menjadi orang yang lebih baik. Tapi kamu harus tahu, batasan dimana aku akan lelah denganmu."
Nina tidak banyak berkata lagi setelah itu hingga ia berangkat bekerja. Ia hanya bicara dengan pengasuh Namira dan menyapa Namira saja.
Nina berpikir bagaimana dan apa yang harus ia lakukan ke depannya. Jika orang tuanya sampai tahu, akan menjadi masalah besar. Dan jika ia tetap berhubungan dengan Sinta, Nina akan merasa sangat emosi. Tapi bagaimana dengan Doni? Doni sendiri tidak pernah mempunyai keinginan untuk merubah dirinya.
Sebuah susu kotak diletakkan di atas meja Nina, membuat Nina tersadar dari lamunannya.
"Ini amunisi untuk ibu menyusui."
Nina tersenyum dan Fabio memberi beberapa kotak lagi.
"Terima kasih." kata Nina.
"Sekarang jam tiga sore. Jam jamnya sudah mulai lelah. Kamu harus tetap menjaga supaya kamu bisa tetap menyusui anak kamu." kata Fabio.
"Terima kasih, ya, Fabio. Kamu benar-benar tahu apa yang ibu menyusui butuhkan. Booster." Nina tersenyum
"Anytime, Nina. Nggak perlu sungkan sama aku." kata Fabio kemudian meninggalkan meja Nina.
Nina memandangi kotak susu yang rutin Fabio berikan padanya. Ia berandai-andai dalam hati.
Kalau saja Doni bisa sedikit lebih perhatian dengan dirinya, mungkin Nina tidak akan merasa sesakit ini. Dan andai saja jika Doni tidak selalu ingin diperhatikan, mungkin Nina tidak akan lelah seperti ini.
*****
Karina menunggu kliennya di kedai kopi Vintage yang biasa ia datangi. Kedai kopi bergaya tahun delapan puluhan membuatnya nyaman dengan diputarnya lagu-lagu lawas. Karina merasa dirinya kembali berada di tahun itu. Ya, walapun ia baru lahir tapi paling tidak yang ia hadapi saat itu tidak rumit seperti sekarang ini.
"Karina. Sudah lama menunggu?" sapa seorang lelaki bertubuh tegap dengan kemeja rapi yang dikenakannya.
Karina berdiri menyambut kedatangan lelaki itu.
"Hai, Nino." sapa Karina dengan senyum yang lembut.
Nino adalah kakak Nina satu-satunya. Sejak menikah, ia tidak tahu bagaimana kabar Nina karena ia langsung memilih mengontrak entah dimana.
Nina menyadari pilihannya tidak disetujui oleh keluarganya. Maka dari itu sebisa mungkin Nina menutupi keadaannya yang hidup bersama Doni dari keluarganya terutama kakaknya.
"Aku baru pesan latte.Dengar-dengar latte disini terkenal." kata Nino yang disambut hangat oleh Karina. Ketampanan Nino selalu bisa menghipnotis Karina.
"Iya, cakenya juga enak kok."
Tidak lama kemudian, latte pesanan Nino datang. Pemilik kafe Vintage juga masih muda. Tidak heran, yang datang kemari kebanyakan wanita.
"Lalu bagaimana kabar Nina? Kamu mendengar info terbaru?" tanya Nino tanpa banyak basa basi. Karena bertemu di jam kerja, waktu yang mereka gunakan untuk mengobrol tidaklah banyak.
"Aku rasa penilaian kamu mengenai Doni itu benar. Doni tidak sepenuhnya baik dan bertanggung jawab. Mungkin pada awalnya saja ia terpikat oleh kecantikan Nina. Meski begitu Nina masih berbaik hati mau memaafkan kesalahan Doni." cerita Karina.
"Tidak sedikitpun Nina menceritakan keadaannya setelah menikah pada kami. Jujur saja, Ayah menjadi khawatir. Aku hanya bisa bilang bahwa Nina pasti baik-baik saja." kata Nino.
"Aku sebenarnya tidak boleh bilang ini. Tapi aku tidak bisa mengharapkan orang lain selain kamu, Nino." Karina terdengar sedikit putus asa.
"Apa itu, Karina?"
"Doni lagi-lagi main perempuan. Dan Nina juga masih tetap tegar menghadapi semuanya. Nina membiarkan asal bukan Namira yang menjadi ancaman." kata Karina.
"Apa?" Nino tidak mempercayai apa yang Karina katakan.
"Laki-laki yang tidak kompeten dan membawa kesengsaraan dalam hidup Nina bisa-bisanya berselingkuh? Hah." Nino berkata sinis. Ia menertawai Doni yang dulu memohon untuk menikah dengan Nina.
"Iya, itu yang aku tahu." jawab Karina.
"Lalu bagaimana Namira? Namira aman?"
"Aku sudah memberikan pengasuh sesuai yang kamu katakan karena Nina cerita tidak mudah mendapatkan pengasuh. Cuma ya itu. Nina tidak bisa membayar besar pengasuh itu. Jadi aku memberikan bulanan juga pada pengasuh itu sesuai yang kamu katakan." jelas Karina.
"Aku hanya bisa minta tolong sama kamu, Karina. Kalau sewaktu-waktu Nina sudah tidak sanggup lagi menghadapi Doni, suruhlah Nina telpon aku. Aku kakaknya. Mungkin aku akan memarahinya tapi aku tidak pernah membenci Nina. Aku akan berusaha menjaga adikku dan keponakanku satu-satunya. Aku minta bantuanmu, Karina." ucap Nino kepada Nina.
Selama ini Nino berusaha menjaga Nina melalui Karina. Apapun yang Nina butuhkan, Karina selalu membantunya. Tentu semua itu adalah permintaan Nino.
Nino adalah orang pertama yang tidak akan rela jika Nina disakiti oleh pria macam Doni. Nino orang berpengaruh dan mempunyai kekuasaan. Apa yang tidak bisa Nino lakukan? Maka dari itu, Doni menjauhi Nina dari keluarganya.