
Sinta bersiap mengenakan kemeja ungu muda dengan rok rampel sampai lutut. Ia sudah terlalu lama di dalam rumah dan ingin mulai mencari
pekerjaan. Entah mengapa ia merasa takjub tiap kali melihat Nina berpakaian rapi ke kantor mengenakan blus yang indah dipadu dengan celana bahan. Sinta
jadi berpikir bahwa ia juga ingin hidup dari hasil uang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya.
Sinta hanya lulusan sekolah menengah atas. Ia merasa tidak percaya diri kalau ia melamar ke perusahaan yang memiliki standar lulusan
sarjana.
Sinta baru saja melamar pekerjaan di sebuah took baju. Ia duduk di sebuah warung mie ayam dan memesan satu mangkok.
Ternyata, cari kerja cukup sulit. Walau hanya dapat kerja dia mengenakan baju ini, nggak apa-apa deh. Yang penting aku ada pekerjaan, batin Sinta.
Walau sebenarnya ia masih mendambakan bekerja di perkantoran.
“Loh, kamu tetangga yang kemarin itu kan?” sapa seorang lelaki yang merasa kenal dengannya. Sinta menengok dan mengenali siapa yang
menyapanya.
“Mas Doni ya?” tanya Sinta yang tampak familiar dengan wajahnya.
“Iya. Mau makan mie ayam juga ya?” tanya Doni yang mengambil tempat duduk tidak jauh dengan tempat duduk Sinta.
“Iya, Mas, saya habis cari kerja. Sampai sore begini. Saya laper jadi makan dulu.” jawab Sinta.
“Oh gitu, terus akhirnya udah dapet kerja?” Doni mulai mengakrabkan dirinya dan berbicara santai dengan Sinta.
“Sudah, Mas, di toko baju.” jawab Sinta pelan. Ia merasa kepercayaan dirinya sedikit turun ketika menjawab pertanyaan Doni.
“Ya, nggak apa-apa. Namanya kerja, bisa dimana aja, asal jelas jam kerjanya dan gajinya.” jawab Doni yang menyadari ketidak percayaan diri dari Sinta.
Mendengar Doni mengatakan hal itu, Sinta kembali bersemangat.
“Iya, Mas, aku pikir juga begitu. Daripada aku nganggur di rumah.” Sinta tersenyum, ternyata masih ada yang bisa menyemangatinya.
Pesanan mie ayam mereka datang dan mereka mulai memakan mie ayamnya.
“Oh, ya, Mas, kalo istrinya Mas itu lagi cuti ya?” tanya Sinta. Ia juga berusaha mengakrabkan dirinya dengan Doni. Berusaha bersikap ramah sebagaimana mestinya.
“Iya. Bulan depan sudah selesai masa cutinya.” jawab Doni sambil terus menyantap mie ayamnya.
“Kak Nina cantik ya, Mas, walau udah punya anak, Kak Nina kayaknya pintar merawat diri.” kata SInta memuji Nina dengan kagum.
“Iya, waktu pertama kali ketemu juga dia juga sudah cantik, setelah ada Namira, semakin kelihatan keibuannya.” sahut Doni merasa bangga
dengan Nina.
“Iya, anak Mas juga cantik, kemarin kita sempat ngobrol.” Sinta juga masih sibuk dengan mie ayamnya.
“Dia agak pendiam. Nggak terlalu suka gosip, jadi kalau lihat dia ga tertarik soal orang lain, kamu jangan heran. Itu yang aku suka dari dia.” ucap Doni lagi.
“Kalau Kak Nina kerja dimana, Mas?” tanya Sinta semakin penasaran dengan Nina.
“Kamu bertanya soal Nina terus. Ada apa?” tanya Doni akhirnya menyadari kalau sejak tadi yang ia bahas adalah Nina.
“Nggak apa-apa. Menurutku, Kak Nina itu selain cantik, baik, dia juga menarik perhatianku. Menurutku apa ya, Kak Nina pintar dan juga punya karisma.”
jawab Sinta tersenyum.
Doni ikut tersenyum mendengar tentang Nina menurut pandangan orang lain.
“Kayaknya, aku beruntung banget ya bisa jadi suaminya.” ujar Doni tertawa kecil.
“Iya, Mas, beruntung dapetinnya. Anaknya juga cantik.”
Sinta memuji keluarga Doni habis-habisan. Ia sekarang merasa bangga dengan keluarga kecilnya. Ia memang menyadari, dibalik sikap Nina yang
*****
Sebelum menikah….
“Kita udahan aja, Mas.” kata Nina melalui sambungan telpon.
“Aku sayang sama kamu, Nina. Aku nggak bisa putus kayak gini.” jawab Doni sedikit memelankan suaranya.
“Nggak bisa, Mas. Kamu nggak bisa ngejalanin hubungan dengan dua wanita sekaligus kayak gini. Kalau kamu ragu sama aku, aku nggak apa-apa.
Aku masih muda, aku masih punya jalan yang panjang. Aku juga nggak terlalu terdesak buat nikah kok.” kata Nina dengan dada yang sesak.
“Tapi aku nggak bisa, Nina, kalau aku harus melepaskan, aku akan melepaskan Meri dan aku menikah sama kamu.” kata Doni.
“Meri suka sama kamu, Mas. Sudah lama kalian ngelewatin semua
bareng-bareng. Nggak mungkin Meri nggak suka sama kamu.” kata Nina mencoba melihat realita.
“Aku sama Meri nggak ada apa-apa. Aku jalan bareng, ngerjain tugas bareng, kemana-mana bareng itu karena temen aja kok.” Doni berusaha
meyakinkan Nina.
“Tetap aja ini salah, Doni.” ucap Nina.
Doni terdiam. Mencoba mencari jawaban agar Nina tidak meminta putus dengannya.
“Oke, Nina, kamu jangan terburu-buru memutuskan. Aku coba cari jalan keluar dan bicara dengan Meri.” kata Doni.
“Bagaimana kamu bisa bicara dengannya? Itu akan menyakiti hatinya. Terlebih lagi kita tidak pernah memberi tahu dia tentang hubungan kita.
Kalau aku boleh tanya, apa maksudmu agar Meri tidak boleh tahu tentang kita? Kalau dia memang sahabatmu, dia akan mendukungmu.” kata Nina sudah mulai kesal dengan ucapan Doni.
“Nina, aku nggak pacaran atau mengkhianati Meri, jadi tidak perlu bicara begitu.” sergah Doni.
“Kalau begitu, kenalkan aku dengan Meri, wanita yang kamu bilang sahabatmu. Kamu pasti bisa kan? kecuali kalau Meri itu hantu. Dan juga,
foto social media kamu penuh foto sama Meri. Sedangkan aku kamu anggap apa?”
Nina tidak bisa menahan emosinya. Ia membahas permasalahan jadi kemana-mana.
“Oke, Nina, tolong kasih aku waktu, ya, please. Jangan begini.” kata Doni.
Entah apa yang harus Nina katakan. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan cara Doni bertindak. Nina merasa dirinya seperti perusak hubungan orang lain.
“Telpon aku kalau kamu sudah mau kenalin aku sama Meri!” ujar Nina kesal dan langsung menutup telponnya dengan Doni.
Ia memasukkan ponsel ke dalam tasnya. Tidak perduli jika ada chat atau telpon masuk lagi. Ia hanya ingin segera pulang. Ia naik metromini yang
tidak terlalu penuh menuju stasiun kereta. Perkantorannya dengan rumahnya cukup
jauh. Ia menempuh dengan naik kereta listrik.
Nina memandangi jalan Jakarta yang cukup ramai karena beberapa sudah pulang kerja. Ia memandangi dengan tatapan kosong. Pikirannya kacau
karena Doni. Mungkinkah ia bisa menyesali keputusannya saat ini? Mama sudah
memberi tahu agar tidak mempunyai hubungan dengan Doni. Seharusnya sejak awal, Nina
mendengarkan apa yang Mama bicarakan.
Tidak tersadar, air mata jatuh di pipi Nina. Hatinya sakit dan hancur. Doni yang mengatakan bahwa ia ingin berhubungan serius dengan Nina
dan ingin menikahinya. Awalnya, Nina berharap banyak pada Doni. Tapi sedikit demi sedikit, Doni sering membohonginya karena Meri. Doni tidak mau menyakiti hati Meri. Kenapa? Kalau Doni mengaku Meri adalah sahabatnya, memperkenalkan
dirinya seharusnya tidak sulit.