
Sinta merasakan hatinya hancur ketika Doni mulai membandingkan dirinya dengan Nina. Sinta tahu, dirinya tidak akan pernah layak dibandingkan dengan Nina. Siapalah Nina dibanding dengan dirinya?
Sinta hanyalah penjaga toko. Dengan kerja sift siang dan malam. Sedangkan Nina adalah putri dari konglomerat yang sudah tidak perlu diragukan lagi kekayaannya. Dengan kenyataan itu saja membuat Sinta tidak berani berkaca. Dirinya merasa rapuh dan tidak percaya diri.
Terkadang ia merasakan penyesalan. Mengapa ia selalu bernasib tidak baik? Awalnya ia menyukai Doni karena Doni terlihat mapan dan kehidupannya layak dengan menjadi karyawan tetap di perusahaan terkenal. Sinta mengejarnya. Walau Nina selalu menatapnya dengan tatapan sinis, Sinta tidak peduli. Ia pura-pura tidak mengenal Nina.
Betapa jahatnya Sinta pada Nina. Padahal sedikitpun Nina tidak pernah menyakiti dirinya. Tamparan keras Nina pada dirinya adalah ketika Nina mengatakan bahwa uang yang diberikan tidak ada apa-apa baginya.
Ibu Sinta memasuki kamar Sinta. Sinta sebentar lagi akan berangkat bekerja. Setelah melihat Nina di layar televisi, membuat Ibu Sinta tersadar bahwa yang dilakukan Sinta benar-benar telah menyakiti hati wanita lain. Kini, Sinta lebih banyak diam dan tidak banyak bicara terlebih setelah ia tahu siapa Nina sebenarnya.
"Kamu sudah mau berangkat?" tanya Ibu pada Sinta.
"Iya, sebentar lagi, Bu."
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ibu merasa khawatir pada Sinta.
"Maksud Ibu?" Sinta sedikit tidak mengerti dengan kekhawatiran Ibunya.
"Kamu harus menjadi wanita yang baik mulai saat ini." Ibu menepuk bahu Sinta.
Sinta terdiam mendengar apa yang Ibunya katakan.
"Dulu mungkin kamu terlalu meremehkan Nina. Kamu berani menatap Nina dengan rasa tidak peduli. Tapi sekarang, secara tidak langsung Nina telah menunjukkan siapa dirinya. Bagaimanapun kamu sekarang, tidak ada yang menang dan kalah dalam sebuah cinta. Yang ada hanyalah hati yang tulus. Kamu sudah memulai api dengan Doni dan membuat hati Nina terluka. Kamu harus menunjukkan bahwa hatimu tulus dalam rumah tangga ini." ucap Ibu membuat Sinta tertegun dengan apa yang dikatakannya.
"Aku..."
"Ibu tahu. Walau kamu tidak ucapkan. Ibu mengerti perasaanmu. Sekarang kita tidak bisa memutarbalikkan waktu. Kita hanya bisa menghadapi masa depan."
Kata-kata Ibu membuat hati Sinta hancur. Ia telah salah melakukan ini semua sejak awal. Ibu mungkin juga merasa sedih dengan kondisi anaknya. Tidak mungkin Ibu tidak sedih. Hanya saja Ibu tidak menunjukkannya.
Sinta menitikkan air matanya. Ia tidak sanggup menahan beban ini seorang diri. Bagaimana Nina sanggup menghadapi Doni yang berselingkuh dengannya?
Sudah pasti Nina merasakan sakit yang lebih dalam dari Sinta. Bagaimana bisa Sinta mengabaikan perasaan Nina saat itu? Seharusnya Sinta tidak hanya mengucap kata maaf pada Nina. Tapi ia harus berlutut bahkan mungkin bersujud agar mendapat maaf yang tulus dari Nina.
*****
Meri mengejar Doni. Ia ingin sekali memverifikasi berita yang ada di televisi. Kemarin Meri melihat berita bahwa Nina akan mewarisi Grup Sujin. Tapi entah mengapa hal ini terasa janggal bagi Meri. Meri pikir Nina hanyalah wanita biasa. Tapi kenapa tiba-tiba ia melihat headline berita tentang pewaris Grup Sujin?
"Doni! Doni!" panggil Meri.
Doni menoleh ke arah Meri. Di lobby, Meri sedikit berteriak memanggil Doni karena suasana lobby sedikit ramai karena karyawan akan pergi makan siang.
"Ya, Meri?"
"Aku kemarin lihat berita tentang Nina. Aku nggak nyangka kalau ternyata dia pewaris dari Grup Sujin. Kamu hebat bisa punya istri seperti Nina." kata Meri tersenyum dan menatap Doni.
Tapi wajah Doni tidak menggambarkan kebahagiaan seperti apa yang Meri harapkan. Doni hanya tersenyum kecut mendengar celotehan Meri di lobby.
"Apa? Kenapa bisa? Bukankah Nina wanita baik? Kenapa kalian bisa bercerai?" tanya Meri tidak percaya.
"Iya. Nina memang wanita yang baik karena itu aku menikahinya." jawab Doni.
"Seharusnya kamu pertahankan pernikahanmu."
"Seharusnya begitu. Tapi dulu aku memang bodoh. Karena Nina terlalu baik hampir setiap hari dia tidak pernah membuat keributan denganku. Walau aku ketahuan jalan dengan wanita lain, dia tetap diam. Itu yang membuatku tertantang agar berselingkuh dari Nina." cerita Doni dengan penyesalannya.
"Harusnya kamu tidak bertindak bodoh begitu, Doni. Kamu tidak ingat Namira? Kamu tidak mencintai Namira sebagai putrimu?" tanya Meri sedih melihat kenyataan bahwa Doni bukanlah Doni yang ia kenal dulu.
"Kenapa kamu bicara begitu? Tentu saja aku mencintai anakku." Doni menolak pemikiran Meri bahwa ia tidak mencintai Namira.
"Kalau kamu mencintainya, kamu seharusnya memikirkan Namira. Bagaimana Namira dengan kehidupannya tanpa Ayahnya? Tapi kamu tidak cukup jauh berpikir. Kamu hanya memikirkan kesenangan pribadimu saja." Meri sangat marah dengan apa yang terjadi pada Nina. Ia tidak menyangka bahwa Doni akan menyakiti Nina dengan cara dan alasan konyol seperti itu.
"Aku harus bagaimana? Sekarang aku hanya bisa menyesali perbuatanku." kata Doni.
"Itu sudah seharusnya. Itu adalah harga yang harus kamu bayar ketika berselingkuh. Jadi nggak perlu menyesali." kata Meri.
"Kenapa bilang begitu? Aku sungguh-sungguh. Aku benar-benar menyesal." kata Doni meyakinkan Meri.
"Buat apa penyesalanmu sekarang? Penyesalanmu juga tidak akan bisa mengembalikan Nina dan Namira ke pelukanmu. Sekarang kamu lihat, Nina bisa hidup tanpamu. Tanpa nafkah darimu dia sangat sangat bisa bertahan. Apa arti membesarkan Namira sekarang? Tanpa kamu, Nina bisa." kata Meri menatap Doni dengan kesal.
"Ya, dia terlihat cantik saat di acara peresmian. Sampai sekarang aku juga nggak percaya kalau dia itu pernah jadi istriku." kata Doni.
"Lalu bagaimana dengan istrimu yang sekarang?"
"Dia sedang hamil."
"Aku yakin kamu pasti selalu membandingkan Nina dan istrimu yang sekarang." kata Meri dengan yakin.
"Ya, secara nggak sadar aku mengatakan itu pada Sinta. Aku bilang kalau dia harus bisa belajar masak seperti Nina."
"Sudah pasti dia tersinggung." kata Meri tersenyum kecut.
Doni hanya diam dengar ucapan Meri.
"Kamu benar-benar harus berubah, Doni. Tidak semua wanita bisa kamu permainkan hatinya seperti itu. Jujur saja. Nina pantas mendapatkan kebahagiaan yang lebih. Nina wanita baik. Seharusnya ia mendapat kehidupan yang baik juga. Tentunya tanpa kamu." ucap Meri.
Doni mencoba merenungkan kesalahannya dan ucapan Meri ada benarnya.
"Lebih baik kamu coba mengikhlaskan Nina. Jangan bandingkan dia dengan Sinta. Itu hanya akan membuat keadaanmu lebih sulit." kata Meri.
"Aku pikir juga begitu."
"Ingatlah. Sinta itu pilihanmu. Tidak mungkin sampai jadi seperti ini keadaannya kalau kamu tidak memulai perselingkuhan dengannya." Meri memberikan petuah terbaiknya. Walau ia lelah melihat Doni, ia berusaha memberikan nasihat terbaiknya sebagai sahabat.