
Nina berkeringat dingin dan menggenggam tangannya. Pikirannya tidak bisa berpikir dengan jernih. Matanya menatap ke setiap kepala yang melihatnya. Tatapan mereka pun beragam. Ada yang kasihan pada Nina, ada pula yang mengatai jika Nina tidak bisa menjaga suaminya dengan baik. Nina masih meminta pengasuhnya agar tetap menjaga Namira di rumah. Nina ingin menyelesaikan masalah suaminya dengan keluarga Sinta.
Teringat dengan jelas di kepala Nina apa yang ia bicarakan dengan Doni sebelum datang ke rumah Sinta.
*****
Nina menghapus air matanya dan bersiap menghadapi Doni. Entah apa yang harus ia katakan, ia harus segera menyelesaikan masalah ini. Ia tidak ingin berlarut dalam pernikahan yang salah. Pernikahan yang seharusnya menjadi kunci kebahagiaan, justru malah membawa malapetaka dalam kehidupannya.
"Ayo, kita hadapi keluarga Sinta." ujar Nina. Ia tidak menatap Doni. Ia menatap ke arah rumah Sinta yang terdengar gaduh dari dalam.
"Tunggu, kamu mau bicara apa disana?" Doni menarik lengan Nina dan menatap Nina. Doni berharap ada harapan dari dalam diri Nina yang bisa membantunya menyelesaikan masalah ini perlahan.
"Apalagi? Bilang kalau kamu yang menghamilinya dan kamu akan bertanggung jawab!" jawab Nina dengan tegas.
"Kenapa harus... Maksudku, apakah harus langsung to the point seperti itu?"
"Lalu?" Nina menatap tidak percaya pada Doni. Dia yang membuat masalah dan melibatkan Nina dalam masalah ini. Kenapa Nina juga yang harus direpotkan?
"Maksudku, aku minta kamu nanti bisa mengendalikan emosi kamu..."
"Mengendalikan? Kamu gila? Setelah masalah yang kamu buat selama ini, kamu masih berani bilang aku harus mengendalikan emosiku?"
Doni terdiam. Ia tidak bisa berkata banyak karena posisinya yang memang salah.
"Dengar, kamu setuju ataupun tidak, aku akan tetap bercerai denganmu. Kamu menikah dengan Sinta atau tidak aku tidak peduli. Jadi aku tidak mau masuk ke dalam kehidupanmu yang penuh dengan hawa nafsu dan tolong, jangan libatkan aku terlalu jauh!" tegas Nina pada Doni.
Ia tidak mampu memandang mata Doni yang menatapnya karena kebenciannya dengan Doni semakin dalam. Hatinya ingin meledak karena amarah yang sedang memuncak.
"Baiklah." ucap Doni pada akhirnya.
Nina bersiap mengunjungi rumah Sinta. Ia memakai kardigan yang baru saja ia lepas tadi.
"Nina." Doni menahan lengan Nina sekali lagi.
"Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf." kata Doni. Nina hanya melihat mata Doni tanpa menjawab permintaan maaf Doni. Hatinya tidak bisa memaafkan suaminya yang seperti ini.
*****
"Jadi, Mbak Nina. Apa yang mau dibicarakan?" tanya Ibu Sinta dengan wajah yang sedikit tidak enak.
Ia sedang ada masalah dengan anaknya. Tiba-tiba, Nina datang bertamu ke rumahnya. Tetangga yang tadinya berkumpul sedikit demi sedikit mulai membubarkan diri.
"Saya minta maaf kalau saya datang kemari di waktu yang kurang tepat, Bu." kata Nina dengan senyum di wajahnya.
Sesekali Nina melihat wajah Sinta yang berkeringat dingin dan menunduk. Ia tidak bisa menatap wajah Nina seperti dulu.
"Iya, sebenarnya saya sedikit ada masalah." kata Ibu Sinta berhati-hati.
Ibunya Sinta semakin gelisah. Ia juga berkeringat dingin. Ia sangat malu jika aib anaknya harus terdengar sampai ke tetangga seperti ini.
"Itu benar, Mbak Nina. Sinta hamil. Tapi saya masih belum memastikan siapa yang menghamilinya. Saya hanya tahu selama ini Sinta bekerja. Terkadang mengambil waktu lembur. Jadi yang saya tahu, Sinta pulang telat karena bekerja. Saya tidak tahu kalau dia tiba-tiba ketahuan hamil sama saya dengan testpack ini." Ibu Sinta memberikan testpack yang dibuang oleh Sinta di tempat sampah.
Testpack itu diletakkan di meja sehingga Nina bisa melihat dengan jelas dua garis yang ada di lembar tipis kecil itu. Nina tetap berada di posisi duduknya. Ia tidak penasaran ataupun ingin melihat hasil testpack itu.
Nina melihat Doni hanya terdiam dan menunduk. Ia tidak banyak bicara seperti sebelumnya.
"Saya ingin memberikan solusi untuk Sinta, Bu." ucap Nina dengan lembut.
Doni dan Sinta terperanjat. Mereka tidak mengerti apa yang Nina bicarakan.
"Solusi? Solusi apa, Mbak Nina? Saya masih belum tahu siapa yang menghamili anak saya. Saya ingin bertemu dan kenapa dia menghamili anak saya." Ibu Sinta terdengar senang sekaligus khawatir dengan solusi yang Nina tawarkan.
"Maka dari itu saya ingin memberikan jawaban. Semoga Ibu bisa menerima solusi yang saya berikan." kata Nina. Nina terlihat tenang untuk ukuran orang yang sedang tersakiti dan terlibat masalah. Tidak sedikitpun ia terlihat emosi dalam setiap perkataan yang ia ucapkan.
"Apa itu, Mbak Nina?"
"Saya akan membiarkan suami saya bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat kepada Sinta." kata Nina masih dengan wajah tenangnya.
"Maksudnya apa, Mbak Nina?" tanya Ibu Sinta tidak percaya. Sinta menatap Nina begitu pula Doni. Mereka semua tidak memercayai apa yang didengar dari Nina.
"Sudah jelas, kan, Bu? Suami saya yang menghamili anak Ibu." kata Nina. Ibu Sinta menatap Sinta dengan tajam. Ayah Sinta yang diam saja sejak tadi pun mulai bersuara.
"Apa Mbak Nina yakin kalau yang menghamili Sinta itu suami Mbak Nina?" tanya Ayah Sinta.
"Iya, Pak. Saya yakin. Dan saya mempersilakan suami saya dan Sinta menyelesaikan masalahnya." kata Nina.
"Apa kamu yakin bicara seperti itu, Nina?" tanya Doni yang semakin tidak percaya dengan ucapan Nina.
"Kenapa? Aku sudah bilang kan, kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu?" kata Nina dengan sorot mata yang tajam.
"Lalu bagaimana dengan kamu? Apa yang kamu rencanakan selanjutnya dengan keadaan seperti ini, Nina?" tanya Doni lagi.
"Sebentar, sebentar, Mbak Nina. Jadi maksud Mbak Nina, anak saya, Sinta ini, hamil sama suaminya Mbak Nina?" tanya Ayah Sinta memperjelas apa yang Nina dan Doni bicarakan.
"Iya, betul." jawab Nina.
"Kamu bermain dengan suami orang, Sinta?" tanya Ayah Doni tidak percaya.
Sinta hanya diam dan menunduk.
"Awalnya saya sudah memperingati mereka, tapi saya tidak tahu kalau setelah saya peringati, suami saya dan Sinta semakin sering bertemu, entah apa yang mereka lakukan di belakang saya."
Nina membeberkan apa yang selama ini ia pendam di hatinya. Ia merasakan sedikit beban yang selama ini ia pikul sendiri, perlahan-lahan terangkat dan hatinya menjadi lebih ringan.