Restless

Restless
Courage



Nina menyusui Namira seperti biasa. Dan sudah melewati waktu magrib, Doni masih belum pulang juga. Nina mengecek ponselnya. Tidak ada kabar dari Doni. Nina juga mencoba menghubunginya tapi tidak diangkat. Nina mulai merasakan hal yang aneh. Benarkah setiap hari Doni lembur?


Walaupun Nina tidak ingin mencurigai suaminya sendiri, tapi ia akan menanyakan kemana Doni hari ini.


Setelah Namira tertidur, Nina mendengar suara motor Doni yang baru saja sampai. Nina sudah memandang curiga. Kenapa Doni tiba sampai semalam ini?


"Kamu dari mana aja, Mas?" tanya Nina. Tidak ada sedikitpun senyum dari Nina. Doni merasa sedikit bersalah.


"Maaf, Nina. Tadi aku ketemu temen SMP aku. Aku tadi ngobrol dulu." jawab Doni.


"Aku telpon nggak kamu angkat, kamu juga nggak ngabarin aku." Nina masih berusaha mendapat alasan yang jelaa dari Doni.


"Iya aku keasyikan ngobrol sama temanku." jawab Doni terdengar santai walau ia tahu dari nada bicara Nina ia cukup khawatir.


"Tenang aja, Nina. Aku nggak apa-apa, kok." kata Doni lagi.


Nina membiarkan Doni mandi terlebih dulu. Karena ia tahu pasti lelah berada diluar rumah seharian. Barulah nanti setelah Doni makan dan mandi, Nina bicara lagi.


*****


"Mas, sudah magrib. Kamu pulang dulu, nanti Kak Nina nyariin kamu." kata Sinta.


"Nggak apa-apa. Aku udah siapin alasan kok biar Nina nggak curiga nanti." sahut Doni tidak mengindahkan perkataan Sinta.


"Kamu kenapa, Mas? Setiap pulang kerja selalu saja datang kesini. Apa kamu nggak mau pulang lebih cepat dan ketemu sama Namira?" tanya Sinta. Sebenarnya Sinta merasa senang jika ada Doni yang datang seperti ini. Tapi ia juga tidak enak jika suatu hari ada orang komplek yang tahu Doni suka main ke tempat kerja Sinta.


"Aku harus bilang apa ya? Jenuh, mungkin? Semenjak Nina melahirkan dia sibuk sama Namira. Aku jarang punya waktu lagi sama Nina. Setelah Namira tidur, Nina juga ikut tidur." jawab Doni. Sinta sedikit terkejut dengan apa yang Doni katakan.


"Mas, dia itu istrimu. Namira juga anak kamu." kata Sinta mengingatkan agar Doni tidak berbicara yang buruk tentang Nina.


"Iya, aku tahu kok. Aku juga pasti pulang ke rumah. Aku kesini cuma buat menghilangkan stress karena pekerjaan aja. Nggak ada salahnya kan?" kata Doni terdengar santai. Sekali lagi Sinta merasa heran dengan Doni yang seperti ini.


"Sebenarnya aku masih merasa nggak enak sih sama Kak Nina. Tapi aku anggap Mas Doni kesini cuma karena mau makan aja. Nggak ada yang lain." Sinta akhirnya mengalah pada Doni. Ia tidak bisa mendebat Doni terlalu banyak. Tapi kacaunya, hal itu telah meruntuhkan benteng di hati Sinta. Perlahan, Sinta mulai menyukai Doni dan berharap kedatangan Doni setiap hari.


"Kalau gitu aku pulang dulu ya sekarang. Nanti kemaleman pulangnya." Doni akhirnya berdiri dan mulai bersiap pulang.


"Iya, Mas, hati-hati." Sinta mengangguk dan ikut berdiri. Setelah Doni pergi dengan motornya, tangan Sinta dipukul oleh pemilik toko mie ayam tersebut.


"Aduh! Enci! Sakit tahu." Sinta meringis setelah dipukul oleh pemilik toko mie ayam itu.


"Anak nakal! Dia sudah punya istri! Masih saja kamu meladeni." ujar wanita paruh baya pada Sinta.


"Dia dateng kesini karena suka mie ayam Enci. Nggak apa-apa dong, Nci? Saya juga cuma temani dia ngobrol aja kok. Nggak ada sayang-sayangan juga." jawab Sinta menolak apa yang sudah dipikirkan Enci.


"Anak jaman sekarang lebih suka menyulut api. Hati-hati kamu kalau kamu buat masalah sama rumah tangga orang." kata Enci menasihati sambil marah.


"Iya, Nci. Enggak kok." kata Sinta kemudian pergi dari tempat makan mie ayam itu.


*****


"Makan, Mas." kata Nina menyiapkan makan malam untuk Doni.


"Makan apa tadi?" tanya Nina yang juga ikut duduk di bangku.


"Makan nasi goreng pinggir jalan. Biasa. Yang ada aja apa."


"Akhir-akhir ini kamu sering banget lho pulang telat." kata Nina.


"Ya aku kan sudah kasih tahu alasannya." Doni mencoba membela dirinya.


"Iya. Entah sampai kapan kamu akan terus membohongi aku seperti ini." sahut Nina. Nina sudah tahu. Ada yang tidak beres dengan Doni. Doni berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.


"Maksud kamu apa?" Doni terlihat seperti orang bodoh yang tidak mengerti arah pembicaraan Nina.


Nina menatap Doni dengan kesal. Berpura-pura tidak mengerti dengan semua ini.


"Kurangku apa sih, Mas? Sampai-sampai kamu tega nyakitin aku terus?" Nina mulai bertanya dengan terus terang pada Doni.


Doni sedikit gugup. Entah bagaimana ia harus menjawab Nina.


"Aku nggak merasa seperti itu Nina. Kamu salah paham aja. Aku nggak merasa gimana-gimana kok sama kamu." jawab Doni sedikit merasa salah tingkah.


"Dulu kamu bohong soal Meri. Kemudian Dian. Sekarang siapa, Mas? Aku kenal kamu nggak cuma sehari dua hari lho." Nina masih bersikeras dengan pemikirannya pada Doni.


Doni mendekati Nina dan memeluk bahunya.


"Nina, kamu berpikir apa? Aku benar nggak gimana-gimana. Dan mana mungkin aku nyakitin kamu terus? Kamu Ibunya Namira. Namira anakku. Aku harus menjaga itu semua kan? Sudah ya, nggak usah berpikiran macam-macam." jelas Doni membuat Nina sedikit luluh.


Mungkin ada benarnya juga. Tidak bisa langsung menuduh seseorang tanpa bukti seperti ini. Tapi Nina sudah punya feeling ada yang salah dengan Doni karena lemburnya tidak menentu dan hampir setiap hari dia pulang telat. Apakah itu masuk akal? Atau mungkin yang Nina lihat tadi sore itu salah? Tapi jelas banget kok itu motor Doni. Dan tadi Doni bilang makan nasi goreng pinggir jalan. Tapi apa yang Nina lihat berbeda. Doni makan mie ayam.


*****


"Pak, mampir sebentar ke apotik daerah sini ada dimana ya?" tanya Nina pada driver ojek online.


"Masuk perumahan ini ada apotik, Bu." jawab driver itu.


"Yaudah sebentar, Pak, mampir."


"Baik, Bu." akhirnya driver membelokkan arah ke salah satu perumahan. Dari jauh ia melihat motor Doni.


Lho, Mas Doni sudah pulang? Tapi kenapa nggak pulang? Kenapa kesini? batin Nina.


Tapi Nina tidak ingin langsung menghampiri Doni. Ia ingin tahu apa alasan Doni jika Nina bertanya nanti. Apakah sesuai dengan yang Nina lihat atau tidak.


"Ayo, Pak. Saya sudah selesai." kata Nina langsung naik motor ojek online tadi.


"Baik, Bu."


Sebenarnya Nina ingin memastikan. Apakah Doni benar-benar lembur selama ini dengan berbagai alasan lain. Atau ada alasan lain lagi? Entah bagaimana Nina harus mempercayai Doni. Nina menyembunyikan perasaannya yang kesal setengah mati.