Restless

Restless
The Best Revenge



Doni mengikuti langkah kaki Nina menuju ruang kantornya. Cara Nina berjalan sangat anggun. Membuat Doni terpana melihat kemolekan tubuhnya dalam balutan kemeja kerjanya. Setiap melewati karyawan, Nina tersenyum dan menyapanya satu per satu. Sungguh, dengan ini saja, Doni bisa tahu mengapa ia tidak bisa melepas wanita di masa lalunya ini.


Nina mempersilakan Doni duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya dengan isyarat tangan yang sopan. Nina juga meminta sekretarisnya menyiapkan dua cangkir teh.


"Santai saja. Jangan malu-malu." kata Nina melihat ekspresi wajah Doni yang sejak tadi menunduk.


Doni duduk di tempat yang dipersilakan Nina. Sofa empuk yang bagus dan tidak pernah bisa ia belikan untuk Nina. Setelah sekretarisnya meletakkan dua cangkir teh di meja, langsung pamit meninggalkan Nina dengan Doni.


"Apa kabar, Mas? Aku lihat di CCTV kamu suka datang ke kantorku pagi-pagi. Setelah aku datang, kamu langsung pergi. Aku kira ada yang mau kamu bicarakan." kata Nina.


"Tidak ada." jawab Doni pendek. Jelas. Ia sangat malu ketahuan menunggu Nina di depan kantornya.


"Bagaimana pernikahanmu? Bahagia?" tanya Nina terdengar santai. Tidak ada nada kesedihan atau penyesalan Nina di dalamnya.


Doni hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Nina.


"Aku tadi hanya ingin menyapa. Tapi entah mengapa hatiku terlalu takut melihatmu." kata Doni mengalihkan pembicaraan Nina.


"Sapalah. Kita pernah mengenal satu sama lain di masa lalu. Dan permasalahan kita sudah selesai bukan? Aku rasa tidak ada yang perlu merasa canggung lagi diantara kita." sahut Nina.


"Bagaimana bisa?" tanya Doni cepat.


Nina mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti apa yang Doni maksud.


"Maksud, Mas, apa?"


"Waktu kamu meninggalkanku, semua rasa sakit yang kamu alami berpindah padaku."


"Kenapa bisa menyimpulkan seperti itu?" Nina semakin tidak mengerti.


"Aku ingin minta maaf, Nina. Selama ini aku meremehkan perasaan hatimu padaku. Aku tidak tahu bahwa ketika aku pulang larut malam atau tidak mempedulikam kegiatanmu seharian, telah membuat hatimu terluka. Aku tahu aku terlambat mengatakan ini, tapi, itulah yang sebenarnya." kata Doni.


"Aku rasa kamu menyesal sekarang." Nina memandangi Doni dengan tajam. Ya. Benar. Kamu tidak tahu betapa sakitnya hatiku mengetahui suamiku sendiri menghabiskan waktunya bersama kekasih gelapnya!


"Aku minta maaf, Nina."


Saat inipun hatiku sangatlah perih, kamu tahu?


Nina tersenyum. Ia tidak bisa mengendalikan wajahnya. Ia sedikit berpaling ke arah jendela besar di ruang kerjanya.


"Banyak yang harus aku lalui agar bisa sampai dititik ini. Aku harap kamu tidak akan menghancurkannya lagi."


"Tidak, Nina. Mana mungkin aku seperti itu?" Doni menyangkal perkataan Nina.


"Bagaimana mungkin? Kamu berusaha memisahkan aku dari keluargaku dengan tinggal di tempat yang cukup jauh dari rumah orang tuaku. Aku bekerja mulai dari wawancara kerja dan aku mengganti nomor rekeningku sehingga orang tuaku tidak bisa mengirim uang kepadaku. Apa itu semua? Jangan membodohi aku dengan segala ucapanmu, Mas. Kali ini kalau kamu berani bertingkah sedikit di depanku, kamu yang menyesal." kata Nina.


Nina hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Doni.


"Sekarang aku sudah mengerti kenapa kamu terus datang ke kantorku. Kamu hanya tidak merasa bahagia dengan Sinta. Dan kamu menyesali perbuatanmu." kata Nina.


Doni terdiam. Keningnya mulai merasakan keringat dingin.


"Lupakan masa lalu yang tidak pernah bahagia itu, Mas. Aku dan kamu sudah menjalani hidup masing-masing. Sekarang fokuslah kamu membahagiakan Sinta dan anakmu. Jangan khawatir tentang Namira. Dia sudah bahagia bersamaku. Jangan pernah merusak pernikahanmu lagi dengan hal-hal bodoh yang tidak berguna." kata Nina.


"Aku, aku, aku hanya tidak tahu harus apa. Aku merasa aku kehilangan arah." kata Doni.


"Kamu laki-laki, Mas. Kamu harus kuat dan kamu harus bisa bangkit dari masa lalumu. Aku sudah merelakanmu dengan Sinta. Kamu juga harus merelakanku pergi. Itulah konsekuensi dari setiap perbuatan. Kamu berani berbuat berarti kamh harus berani mengambil resiko." lanjut Nina dengan nada yang lebih tenang sekarang.


Wajah penyesalan Doni semakin mendalam. Mendengar Nina bicara membuat hatinya semakin sesak. Ia tidak menyangka Nina akan kuat dan tegar seperti saat ini.


"Maafkan aku, Nina. Selama menjadi suamimu, aku tidak pernah bersikap baik padamu. Aku hanya membuatmu hidup dalam kesulitan." ucap Doni sedih.


"Kamu hanya tidak perlu melakukan itu semua pada Sinta, Mas. Ingat. Dia juga pilihanmu ketika kamu bermain api denganku. Seharusnya kamu juga bisa bertanggung jawab atas yang kamu lakukan pada Sinta."


Melihat wajah Doni yang lusuh, mengingatkan Nina betapa sulitnya hidup Doni dulu.


"Kalau Sinta sudah melahirkan, dia bisa datang kepadaku dan bekerja denganku. Pikirkanlah keuangan kalian. Aku bisa memberikan gaji yang layak pada Sinta agar kalian tidak hidup dalam kesulitan lagi." ucap Nina. Doni sedikit terkejut dengan apa yang baru saja Nina katakan.


"Maksudmu? Sinta bekerja disini?"


Nina mengangguk.


"Jagalah sikapmu, Mas. Sekarang aku punya apa yang tidak aku punya dulu. Dan jangan coba-coba membuat masalah denganku. Aku bisa melakukan apapun jika kamu tidak bisa menjaga sikapmu sebagai mantan suamiku." Nina memperingati Doni sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Aku berterima kasih jika kamu memberikan Sinta kesempatan itu. Setelah kami menyakitimu, entah mengapa kamu masih tetap sangat baik padaku dan juga Sinta. Aku sangat bersyukur mengenalmu, Nina. Aku janji nggak akan membuat masalah apapun padamu." jawab Doni dengan wajah berseri.


Nina tersenyum mendengar perkataan Doni yang menurutnya lucu. Apa? Masih tetap baik? Bercanda?


"Mas, kamu pernah dengar ada yang bilang begini? Kalau balas dendam terbaik dalam hidup adalah menunjukkam siapa dirimu, sesukses apa dirimu, barulah mereka bisa membungkam mulutnya rapat-rapat dari menghinamu menjadi memujamu. Aku rasa kamu pernah mendengar perkataan itu." kata Nina.


Seketika, jantung Doni serasa dihujam oleh pisau belati yang tajam. Sejenak ia tidak bisa bernapas mendengar apa yang Nina katakan.


Apa yang Doni lakukan selama ini, Nina tidak pernah membalasnya dengan perbuatan yang serupa. Tapi, ia membalasnya dengan menjadi wanita anggun yang berpendidikan tinggi dan juga sukses di pekerjaannya.


Iya. Benar. Dengan melihat Nina seperti ini saja sebenarnya sudah membuat nyali Doni menciut. Percaya dirinya menurun dan ia tidak bisa menatap mata Nina secara langsung karena tatapan Nina penuh percaya diri dan wibawa. Sedangkan Doni? Sangat jauh dari Nina.


Tapi Doni bersyukur. Nina masih mah bicara dengannya walau sudah pasti masa lalu tidak bisa ia dapatkan kembali.