
Nina menapaki kakinya di gedung kantornya. Rutinitas seperti biasa yang ia jalani hari ini tidak seperti biasanya. Hatinya gusar. Setelah pembicaraannya dengan suaminya semalam, ia semakin gelisah. Apa yang harus ia lakukan? Jika ia menuduh Doni sembarangan, Doni bisa marah. Nina harus menemukan bukti bahwa apa yang dipikirkannya selama ini memang benar.
"Perhatikan langkahmu." ucap seseorang membuat lamunan Nina pudar.
"Fabio? Kamu mengagetkanku saja."
"Aku tadi beli roti dan susu. Tapi kelebihan. Kamu mau?" tanya Fabio sambil mengiringi langkah Nina.
Sebenarnya, Nina mengakui kebaikan Fabio. Tapi ini salah. Ia tidak bisa menerima kebaikan hati Fabio terus menerus. Nina menghentikan langkahnya.
"Fabio. Aku berterima kasih kamu baik sama aku. Tapi, aku akan lebih baik kalau kamu tidak bersikap seperti ini." kata Nina.
"Apa aku melakukan hal yang salah?" tanya Fabio sedikit tidak mengerti.
"Bukan. Aku hanya berpikir bahwa aku yang salah. Karena aku sudah bersuami tapi masih mau dekat dengan orang luar. Terlebih kamu laki-laki." jawab Nina sedikit tegas membuat Fabio sedikit tidak percaya diri.
Fabio tersenyum. Ia tidak membalas perkataan Nina. Ia hanya memberikan kantung plastik berisi roti dan susu pada Nina.
"Baiklah. Bawalah ini. Kalau suatu hari kamu butuh sesuatu, kamu bisa hubungi aku." kata Fabio. Ia melangkahkan kakinya lebih dulu dari Nina.
Nina ingin memprotes apa yang baru saja Fabio katakan. Tapi Fabio sudah menjauh darinya. Ia hanya melihat sekantung plastik berisi roti dan susu cukup sampai makan siang nanti.
*****
Doni bekerja seperti biasa di kantor. Terkadang Meri lewat di depan meja kerjanya. Tapi kali ini Meri tidak menggubris sedikit pun sikap Doni. Doni juga mengacuhkannya.
Doni sedang asyik berkirim pesan dengan Sinta. Ia menanyakan hal-hal tidak penting sampai membahas beberapa gosip di komplek perumahannya.
"Memo buat keuangan sudah siap, Don?" tanya salah seorang rekan kerjanya yang sudah mulai jengah melihat Doni hanya bermain ponsel.
"Oh, iya. Sebentar lagi selesai kok."
"Tumben kamu nggak ngapain-ngapain. Biasanya kamu kerja paling cepat." jawab salah seorang rekan kerjanya lagi.
"Iya, ada hal mendesak di rumah."
Mendengar keributan dari meja Doni, Meri sedikit menoleh. Tapi ia tidak penasaran sedikitpun dengan apa yang terjadi. Ia hanya berusaha fokus dengan pekerjaannya.
*****
"Kerja yang benar. Biar dapat duit banyak." kata Ibu Sinta. Sinta sedang memakai blus warna ungu muda. Ia menggerai rambutnya.
"Kenapa harus dandan cantik-cantik? Kalau kamu disana cuma buat packing baramg dan hitung stok." kata Ibunya membuat Sinta gemas.
"Ya nggak apa-apa dong, Bu. Kan kata Ibu kalau kerja itu harus rapi. Ya walau cuma bagian gudang, aku juga harus tetap cantik kan?" jawab Sinta ingin menimbulkan kepercayaan diri dihatinya.
"Kalau kerja di bagian gudang tidak perlu rapi-rapi. Kecuali kalau kamu mau mengincar seseorang dan lagi berusaha ngedapetin hatinya." sahut Ibu terdengar tidak mendukung Sinta.
"Ya, bisa kan, Bu, aku nyari laki-laki dengan gaya seperti ini? Dandan sedikit, cantik dan yang penting ada laki-laki yang melirik." Sinta mulai berbicara dengan nada sedikit percaya diri.
"Oh ya? Benarkah? Kalau begitu kamu tidak boleh dapat laki-laki yang sembarangan. Harus sudah kerja, mapan dan juga tampan." lanjut Ibu.
"Tenang aja, Bu. Sinta juga nggak mau cari yang kaleng-kaleng kok. Sinta juga mau hidup enak. Nggak susah terus."
Sinta merapikan blusnya sekali lagi. Menatap cermin yang besar dan tersenyum.
*****
Nina sedikit gelisah. Apakah ia harus coba mengecek lagi tempat yang kemarin? Dan kalau ia kesana, apakah ia harus menghampirinya? Atau tetap membiarkannya dengan segala tuduhan yang sudah pasti Doni sangkal? Ah, tidak. Itu terlalu enak buat Doni.
Hari ini Nina akan coba mendatangi lagi tempat yang kemarin. Dan melihat apakah itu Doni atau bukan.
Ojek online yang Nina pesan sudah datang. Nina segera menaikinya dan menuju apotek yang kemarin ia datangi. Hatinya gemetar. Ia merasa sedikit kegelisahan.
Apakah yakin ia melakukan hal ini? Tapi jika tidak, bagaimana bisa ia hidup dan tidur dengan tenang? Ia sudah tahu bagaimana Doni sejak masih jaman pacaran. Bukan. Bukan karena ingin Doni tetap berada disisinya. Melainkan, jika Doni sudah tidak ingin bersamanya lagi, ia lebih baik berpisah. Nina tidak ingin dikecewakan terus menerus oleh Doni seperti ini.
*****
"Kamu terlihat cantik hari ini. Kamu dandan ya?" tanya Doni sedikit bergurau melihat Sinta yang mengurai rambutnya.
"Bisa aja, Mas. Aku cuma lagi coba produk baru, jadi aku gerai rambutnya." jawab Sinta sedikit tertawa.
"Oh ya? Produk apa?"
"Vitamin rambut. Wangi deh." kata Sinta senang menciumi rambutnya sendiri. Doni jadi ikut penasaran seperti apa wangi vitamin rambut itu. Ketika Doni hendak mencium rambut Sinta, sudah ada Nina di depan toko mie ayam, menendang kursi yang ada disana.
"Oh, jadi disini tempat makan nasi gorengnya? Disini tempat isi bensinnya? Disini lemburan kantornya?" tanya Nina dengan wajah yang merah karena amarah. Ia pun mendelik tajam ke arah Doni dan juga Sinta.
"Nina, kenapa kamu bisa disini?" tanya Doni sedikit panik.
"Kenapa? Kamu ngapain disini? Berdua-duaan sama tetangga?" Nina tidak bisa mengontrol emosinya. Tatapannya semakin tajam.
Enci penjaga tokopun tidak berani menampakkan wajahnya. Ia hanya duduk terdiam dan menatap kesal ke arah Sinta.
"Aku disini mampir makan dan kebetulan aku ketemu sama Sinta."
"Jadi, kamu tahu namanya juga? Aku pikir cuma aku yang tahu namanya karena sering ngobrol. Aku nggak tahu kalau kalian suka ketemu ditempat ini."
"Nina, ayo kita pulang." ajak Doni sudah merasa tidak ada yang beres dengan ucapan Nina. Doni merasa sedikit malu dibentak didepan orang lain seperti itu.
"Sinta."
Sinta yang sejak tadi hanya diam, ia menatap Nina dengan rasa takut.
"Kamu suka sama suamiku?" tanya Nina dengan terang-terangan. Kentara sekali dari pakaian Sinta hari ini. Terlihat berbeda dengan Sinta yang selalu mengikat rambutnya.
"Nggak, Kak. Nggak. Bukan begitu."
"Kamu bukan wanita, Sinta." kata Nina menunjuk Sinta. Tapi Doni langsung menariknya agar cepat keluar dari toko mie ayam itu.
"Ayo kita naik, Nina. Ayo kita pulang." kata Doni tidak menatap wajah Nina.
Setelah Doni dan Nina pergi, Enci pemilik toko kembali memukul lengan Sinta.
"Aduh! Enci! Sakit tahu!"
"Sudah ku bilang! Jangan menyulut api! Tapi kamu masih berani. Sekarang apa yang mau kamu lakukan? Pergi dari sini!" kata Enci yang marah kepada Sinta. Sinta pergi dari toko mie ayam itu dan masuk ke tempat kerjanya.