Restless

Restless
Too Close



Nina sebentar lagi akan mulai masuk bekerja. Ia menanyakan kepada beberapa tetangganya tentang seseorang yang bisa bekerja dengannya untung menjaga Namira. Sinta yang baru pulang bekerja, melihat Nina sedang ngobrol dengan beberapa tetangga. Itu adalah sesuatu yang jarang Nina lakukan di sore hari. Setelah melihat Sinta pulang, Nina langsung menyapanya.


“Sinta, kamu sudah mulai bekerja lagi ya?” tanya Nina dengan tersenyum. Sinta membalas senyuman Nina dengan wajah yang lelah.


“Iya, Kak. Aku baru mulai bekerja semingguan ini. Tumben, Kak, sore-sore ngobrol sama tetangga.” ujar Sinta tersenyum melihat Nina.


“Iya, aku lagi cari orang buat bantu momong Namira. Tapi aku belum dapat. Kira-kira, ada nggak ya yang lagi nyari kerja buat bantu-bantu di rumah? Soalnya aku pasti bakalan repot banget.” kata Nina.


Sinta terlihat berpikir dengan apa yang Nina katakan.


“Nanti coba aku tanya ibuku, Kak. Siapa tahu ada.” jawab Sinta sambil berpikir sedikit.


“Bener? Nanti kalau sudah ada tolong kabari aku, ya, Sinta. Aku butuh banget soalnya.”


“Iya, Kak, pasti nanti aku kabari, kok. Memang sudah mulai kerja kapan, Kak?” tanya Sinta. Kini hubungan mereka semakin dekat dan akrab. Nina


mulai membuka dirinya sedikit demi sedikit pada Sinta.


“Sekitar tiga minggu lagi. Maka dari itu aku butuh banget.” jawab Nina sambil menyeringai.


“Kamu sendiri kerja dimana, Sin? Kok aku lihat pulangnya tidak menentu?” tanya Nina menyadari


kalau Sinta terkadang pulang sore, terkadang juga pulang malam.


“Di toko baju, Kak. Iya, soalnya kerjanya ada jam


sift-siftan gitu, Kak.”


“Hm, gitu, pantas saja kadang aku melihatmu sore hari, terkadang juga tidak.” kata Nina.


“Yasudah, Kak. Aku mandi dulu, ya. Aku cape banget.” kata Sinta pada akhirnya.


“Iya, tolong ya, Sin.”


“Siap, Kak.” jawab Sinta kemudian masuk ke dalam rumahnya.


Tidak lama Sinta masuk ke dalam rumah, Doni pulang dan memarkirkan motor di garasi rumah kecilnya.


“Pulang telat lagi, Mas?” tanya Nina melihat jam tangannya.


Ia merasa akhir-akhir ini Doni suka pulang telat.


“Iya, tadi pas pulang, aku kehabisan bensin, pas mau beli bensin, antrinya panjang banget. Mau cari pom bensin lain, nggak mungkin, karena itu tadi motornya sudah hampir mati.” jelas Doni, ia tidak ingin membuat Nina berpikir macam-macam ketika ia pulang telat.


“Yasudah, kamu mandi dulu.” kata Nina. Kemudian mereka masuk ke dalam rumah.


“Tadi aku lihat, kamu ngobrol sama tetangga itu.” kata Doni yang merasa bingung. Sejak kapan Nina mulai bersosialisasi di daerah ini?


Sebelumnya ia hanya diam di rumah dan focus mengurus Namira.


“Aku tadi lagi tanya-tanya sama tetangga sini, kira-kira ada orang nggak buat yang bisa bantu aku kerja di rumah? Karena aku kan bulan depan


sudah mulai kerja lagi, jadi mau nggak


mau aku cari orang. Dan kebetulan aku tanya dia tadi. Sekalian ngobrol sebentar biar nggak dikira sombong sama orang-orang sini.” kata Nina sambil meletakkan


Namira di Kasur.


Doni terlihat berpikir sebentar mengenai keputusan Nina yang ingin mencari orang untuk bekerja dengannya.


“Nanti gajinya, dihitung-hitung, biar nggak habis buat bayar orang.” sahut Doni.


“Iya, masa nggak aku hitung, pastilah aku hitung.” Nina tersenyum melihat lelah suaminya sore ini. Ia merasa akhir-akhir ini pernikahannya baik-baik saja. Tidak seperti awal pernikahan kemarin yang penuh


dengan air mata.


*****


Esoknya, Sinta kerja sift dua. Berangkat di siang hari dan pulang di malam hari. Toko ini tidak terlalu ramai. Tapi selalu saja ada pembelinya. Selagi menunggu pesanan dari bosnya untuk mengirimkan orderan melalui ekspedisi, Sinta duduk di depan toko dan memainkan hapenya.


Tidak lama, Doni datang dan memarkirkan motornya di depan toko Sinta.


“Nggak kerja, Sin?” tanya Doni begitu membuka helmya.


Sinta melihat bingung dengan Doni yang hampir setiap hari datang ke sekitar tokonya.


“Kamu sudah makan?” tanya Doni.


“Mas Doni kesini makan mi ayam terus, apa nggak apa-apa, Mas?” tanya Sinta.


“Kenapa? Enak kok, mi ayamnya. Yuk, makan bareng.” kata Doni mengajak Sinta untuk makan bersama.


“Aku sudah makan, lho, Mas.” jawab Sinta.


“Yasudah temani saja. Aku nggak ada teman nih.” kata Doni tetap mengajak Sinta. Sinta mau tidak mau akhirnya mengikuti Doni ke tempat mi ayam.


“Kemarin aku lihat kamu ngobrol sama Nina. Nina lagi cari orang buat bantu-bantu di rumah.” kata Doni.


“Iya, Mas, kemarin Kak Nina nanya aku. Dia lagi nyari orang buat bantu jaga Namira. Tapi aku juga belum dapat sih, orang buat dia.” jawab


Sinta.


“Kalau aku sering makan disini dan ngobrol sama kamu, kamu nggak usah cerita sama siapa-siapa.” kata Doni. Sinta mulai sedikit aneh dengan pembicaraan Doni kali ini.


“Emang kenapa, Mas? Kita kan temenan doang.” jawab Sinta.


“Iya, biarpun begitu. Karena nanti bisa-bisa Nina menganggap kamu macam-macam. Kamu kan sudah dekat dengan Nina, kamu jaga saja hubungan


kamu sama Nina, nggak perlu cerita kalau kita juga dekat.” kata Doni.


“Kok aneh ya, Mas. Kok sepertinya aku kayak lagi jadi


simpanan seseorang ya.” jawab Sinta.


“Lho ya nggak simpanan dong. Kamu kan temen aku. Cuma ya nggak usah cerita aja kalau kita suka ketemu begini.” lanjut Doni, kemudian ia


menyuap mi ayamnya.


Sinta merasa bahwa Doni bisa mempunyai teman wanita di luar dan tidak diketahui oleh Nina. Sebenarnya tidak buruk juga. Sinta melihat Doni


cukup manis dan dengan pekerjaannya saat ini, pasti sudah punya gaji yang cukup. Walaupun belum bisa rumah sendiri, tapi motor Doni adalah motor keluaran


terbaru, jadi Sinta tidak terlalu meragukannya.


Sedikit banyak ia merasa bangga bisa kenal dengan orang baik dan perhatian seperti Doni.


Sinta melihat hapenya berbunyi. Ada pesan masuk. Ketika menerima pesan itu wajah Sinta sedikit murung dan ia menghela napasnya.


“Kenapa? Kok kayak habis dapat kabar buruk?” tanya Doni.


“Iya, sebenarmya aku kemarin baru beli hape dan aku minta cicilan tiga kali bayar. Tapi belum juga seminggu, dia sudah menagih pembayaranku.


Aku kan belum gajian, jadi aku bingung, dapat uang dari mana ya buat bayar uang


mukanya?” cerita Sinta sedikit kebingungan.


“Memang dia minta uang muka berapa?” tanya Doni.


”Lima ratus ribu.” jawab Sinta.


“Bilang ke dia. Nanti aku bayar.” ucap Doni. Lagi-lagi Sinta merasa sedikit bingung dengan apa yang Doni katakana.


“Maksud Mas apa?”


“Nanti habis makan, aku ambil uang di ATM, kamu bayar deh biar nggak dikejar-kejar terus.”


Sinta terkejut dengan apa yang Doni katakan. Ia tidak


percaya bahwa Doni akan membantunya membayar hutangnya.


“Benar, Mas?” tanya Sinta.


“Iya.”


Sinta tersenyum.


Sepertinya enak ya kalau punya pacar yang sudah mapan seperti Mas Doni, batin Sinta.