
"Perasaanmu lebih baik?" tanya Nino ketika dalam perjalanan menuju rumahnya bersama Nina.
Namira tidur bersama pengasuhnya di kursi belakang. Sedangkan Nina, hanya menyandarkan kepalanya di kursi penumpang.
Sesuai apa yang Karina katakan. Bahwa pengasuh Namira sangat baik dan bisa dipercaya. Nino tidak salah memilih Karina sebagai orang yang ia percaya selama Nina berada di luar rumah.
"Entahlah. Aku masih merasa muak dengan keadaan yang ada. Aku terlalu lelah membicarakannya." jawab Nina.
Nino tidak tahu harus bagaimana menghibur Nina. Jujur ia merasa canggung karena sudah lama tidak mendengar kabar Nina. Dan tiba-tiba Nina menelpon meminta bantuannya.
"Istirahatlah. Kalau nanti kamu sudah mau memberitahu dan menceritakannya, aku akan mendengar kapanpun." kata Nino.
Nina menatap langit yang berada di luar jendela mobilnya. Rasanya ia tidak percaya akan melalui ini semua.
*****
Akhirnya, Nina sampai di rumahnya. Rumah megah yang selama ini ia tinggalkan demi menikah dengan Doni. Nino mengantar Nina dan juga pengasuhnya masuk ke dalam rumah. Nina sedikit takut masuk ke dalam rumahnya sendiri.
"Aku merasa takut..." kata Nina. Nino tersenyum.
"Tidak apa-apa. Ibu sudah menunggumu. Ayah juga." jawab Nino.
"Aku antar pengasuhmu ke kamarmu dulu, biar istirahat. Kamu temui saja Ibu dan Ayah." kata Nino.
Nina mengangguk. Ia menuruti apa yang Nino katakan.
Nina melewati ruang tamu dengan kaca aestetic dan guci yang besar. Rumah yang ia tinggalkan hampir dua tahun lalu masih terlihat sama. Masih belum banyak yang berubah dari rumah ini.
Nina menuju ruang tengah yang juga merupakan ruang keluarganya. Ibu sedang duduk membaca buku di samping Ayah.
"Ibu..." panggil Nina pelan. Ibu sangat terkejut dengan kedatangan Nina. Ibu bangung dari duduknya dan menatap Nina dengan bahagia.
"Nina, kamu kah itu?" tanya Ibu tidak percaya. Ibu menghampiri Nina dan memegangi pipinya.
"Astaga, benar, ini Nina. Ayah, Nina pulang, Yah." kata Ibu bahagia.
Ibu mengajak Nina duduk di sofa bersama dengan Ayahnya. Ayah tersenyum melihat kedatangan Nina.
"Akhirnya kamu datang." kata Ayah.
"Bagaimana akhirnya kamu bisa datang? Sebelumnya kamu selalu bilang kamu sibuk dan terlalu lelah." kata Ibu. Tidak ada sedikitpun nada kecewa yang Nina dengar dari Ibu. Ibu masih tetap Ibu yang dulu. Ibu yang sayang padanya dan selalu khawatir dengan keadaan dirinya.
Tidak lama, Nino datang menghampiri. Ikut bergabung dengan Nina, Ayah dan juga Ibu.
"Nina tadi menelponku, Ibu. Setelah sekian lama, Nina tidak bisa bertemu dengan kita, akhirnya sekarang dia bisa datang ke rumah." kata Nino.
"Apa ada masalah, Nina?" tanya Ayah.
Nina bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Ayahnya. Ia tidak berpikir harus mengatakan bahwa ia akan bercerai dengan Doni.
Tidak mendapat jawaban dari Nina, akhirnya Ayah bertanya pada Nino. Ayah memang selalu tidak sabar untuk segera mengetahui apa yang terjadi pada anaknya.
"Nino, ada masalah apa?" tanya Ayah.
"Benarkah? Kenapa? Bahkan kalian baru saja punya anak. Bagaimana bisa kalian berpikir bercerai?" tanya Ibu khawatir.
"Aku salah, Ibu, Ayah." kata Nina.
Ayah dan Ibu sedikit bingung dengan apa yang Nina katakan.
"Seharusnya, aku mendengar nasihat Ayah dan Ibu agar aku lebih berhati-hati lagi memilih pasangan hidup. Dan selama ini orang yang aku anggap baik, ternyata salah besar." kata Nina.
"Begitu? Kamu sudah yakin dan benar-benar sadar bahwa apa yang kamu pilih selama ini salah?" tanya Ayah menatap Nina. Ia sudah yakin ada sesuatu yang terjadi pada pernikahan Nina.
"Apa alasannya? Kenapa kamu minta bercerai?" tanya Ibu.
"Tidak perlu bertanya apa alasannya. Kirimkan saja pengacara dan selesaikan semua masalahnya." kata Ayah tidak ingin mendengar lebih lanjut apa yang terjadi pada Nina.
"Setidaknya kita harus tahu, apa masalahnya." Ibu masih bersikeras ingin tahu apa yang terjadi pada Nina.
"Dia menghamili perempuan lain, Bu." kata Nina gemetar. Hatinya terasa sesak ketika harus mengatakan hal yang memalukan seperti ini pada keluarganya.
"Tidak heran kenapa dia selingkuh. Setelah mendapatkan kamu, menjauhkan kamu dari keluarganya, dia merasa bebas bisa tebar pesona kemana-mana. Merasa dirinya sudah hebat sebagai suami. Tidak usah panjang-panjang. Nino, segera kirim pengacara dan selesaikan semua urusan dengannya." kata Ayah merasa kesal dengan apa yang Nina katakan.
Tentu saja. Ayah mana yang dapat menerima ketika putrinya diperlakukan seperti itu. Alih-alih bertanggung jawab, Doni malah asyik bersenang-senang dengan wanita lain. Ayah semakin jengkel mendengar semua cerita itu.
"Baik, Ayah." Nino tidak berkata banyak lagi. Setelah bertemu dengan keluarganya, Nino kembali bekerja dan menelpon pengacara perceraian untuk Nina.
*****
Masih ada lagi masalah yang harus Doni selesaikan. Ia masih harus ke rumah Sinta memberikan kepastian. Doni terasa pusing setelah membaca surat permohonan cerai yang diajukan oleh Nina.
Doni lupa bahwa Nina berasal dari keluarga yang berada. Tentunya dapat melakukan apa saja dalam waktu singkat. Mungkin saja perceraiannya akan berlangsung dalam beberapa hari saja.
Doni merasa menyesal telah mengabaikan perasaan Nina yang tulus padanya. Mengapa ia harus menghampiri debu di jalan kalau ia sudah mempunyai berlian di genggaman tangannya?
Ia tidak punya pilihan dan tidak punya kuasa melawan keluarga Nina. Waktu Nina memilih menikah dengannya, seharusnya Doni bersyukur, karena Nina telah mengorbankan banyak hal. Sebagai putri pewaris Grup Sujin dan juga wanita cerdas yang kaya mau hidup sulit bersamanya.
Mengapa Doni terlambat menyadari itu semua? Mengapa Doni baru menyadari bahwa apa yang ia miliki begitu berharga? Ditambah lagi Nina sangat mandiri dan tidak pernah menyulitkannya.
Dengan langkah gontai, Doni berjalan menuju rumah Sinta. Ia kembali bertemu dengan keluarga Sinta dan siap bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat selama ini.
"Bagaimana, Mas Doni? Apa yang selanjutnya akan kamu lakukan pada anak saya?" tanya Ayah Sinta begitu Doni duduk di kursi ruang tamu.
Doni menatap Sinta dengan wajah yang sembab. Doni tidak punya pilihan lain selain bertanggung jawab pada Sinta.
"Saya akan bertanggung jawab, Pak. Saya akan menikahi Sinta." jawab Doni pelan.
"Lalu, bagaimana dengan Mbak Nina?" tanya Ayah Sinta memastikan kondisi Nina.
"Nina telah dijemput keluarganya. Dan kami sepakat berpisah." jawab Doni. Ia pasrah pada keadaan. Ia tidak sanggup lagi menerima kenyataan harus berpisah dengan Nina demi Sinta.
"Baiklah. Kalau begitu, kita tentukan kapan kalian bisa menikah. Dan soal biaya, saya harap kamu juga bisa ikut menanggungnya. Karena seperti yang kamu tahu, kita mengadakan pernikahan ini untuk menutupi kehamilam anak saya." kata Ayah Sinta.
Doni tidak mempunyai pilihan lain. Ia menyetujui apa yang Ayah Sinta katakan.