
Sebelum menikah dengan Doni, Nino pernah menjodohkan Nina dengan salah satu sahabatnya. Tapi Nina tidak pernah memberi respon yang positif terhadap sahabatnya Nino. Bahkan Nina tidak pernah tahu namanya sampai saat ini.
"Sudahlah, Kak. Tidak perlu lagi mengenalkanku dengan siapapun. Aku mau pilih sendiri siapa yang akan menikah denganku." kata Nina ketika Nino berusaha membujuk dirinya bertemu dengan sahabatnya.
"Kakak jamin, dia orangnya baik dan rendah hati. Dia juga nggak pernah menyia-nyiakan sesuatu. Kakak juga yakin dia bisa menjadi orang yang layak buat kamu." kata Nino. Tapi Nina tetap dengan pendiriannya yang kala itu sedang putus nyambung dengan Doni.
"Entahlah, Kak. Bagaimana aku harus menata hatiku kembali dengan orang baru." ucap Nina. Nino mengelus rambut Nina yang halus dan terurai.
"Tidak perlu buru-buru. Dia yang akan datang padamu dan dengan sabar melewati semua ini." kata Nino tersenyum. Nina juga ikut tersenyum.
Tapi Nina tetap tidak yakin dengan hatinya. Akankah ia menyetujui permintaan kakaknya atau tetap berada dalam pilihan hatinya. Pasalnya, terkadang hati lebih egois memilih daripada logika. Hingga akhirnya Nina dengan halus menolak pilihan kakaknya dan tetap berjalan bersama Doni.
*****
Nina melamun mengingat masa lalu dengan Kakaknya. Apa yang terjadi jika memang ia menerima pilihan Kakaknya saat itu? Mungkinkah apa yang dijalani akan berbeda dari saat ini?
Seperti biasa, Nina sedang menunggu di lobby. Ia melihat jam sesekali dan melihat apakah ojek online yang ia pesan sudah datang atau belum.
"Masih belum datang ya ojeknya?" tanya Fabio yang sudah berdiri di sampingnya. Terkadang Nina sedikit terkejut melihat kedatangan Fabio yang secara tiba-tiba.
"Iya, mungkin sebentar lagi datang."
Fabio tersenyum dan menemani Nina disebelahnya.
"Namira pasti senang mempunyai ibu seperti kamu. Selalu pulang cepat dan tidak pernah kemana-mana buat ketemu sama anaknya." ucap Fabio memandang ke arah lain.
Nina mengulas senyum diwajahnya ketika Fabio bicara seperti itu.
"Aku khawatir kalau dia berlama-lama sama pengasuhnya. Aku masih belum tahu benar kan seperti apa pengasuhku. Tapi sejauh ini pengasuhku cukup baik dan telaten pada Namira." sahut Nina.
Tidak lama ojek online pesanan Nina datang dan Nina pamit pulang duluan pada Fabio. Fabio hanya menghela napasnya ketika Nina pulang pergi menggunakan ojek online. Tidak sekalipun ia melihat suaminya mengantarnya pergi atau pulang kerja.
Fabio jadi semakin penasaran seperti apa suami Nina? Kenapa tidak sedikitpun perhatian pada istrinya? Ketika hamilpun, Nina juga selalu sendiri. Hanya ditemani oleh sahabatnya. Fabio sedikit merasa iba dengan keadaan Nina yang serba mandiri itu.
*****
Sesampainya di rumah, ia tersenyum melihat Namira yang sedang menyusu dibotolnya. Asi perah yang rutin diberikan pengasuh sesuai jadwal membuat Namira terlihat montok.
"Bu, saya mandi dulu ya. Setelah itu ibu boleh pulang nanti." kata Nina dengan senyum diwajahnya.
Setelah selesai merapikan dirinya ia mempersilakan pengasuhnya untuk pulang. Ia juga berbicara dengan Namira. Detik demi detik berlalu. Doni belum juga pulang ke rumah.
Semakin lama Nina merasa lelah dengan pernikahannya. Selama ini ia selalu berusaha untuk mempertahankan Doni meski itu harus bertentangan dengan keluarganya. Orang tua dan Kakaknya jelas-jelas melarang hubungannya dengan Doni. Tapi Nina memaksakannya.
Perasaan Nina pun semakin melemah pada Doni. Kepercayaannya sedikit demi sedikit hancur. Dan cintanya sedikit demi sedikit juga menghilang. Sudah beberapa hari ini Doni tidak mengabari kalau mau pulang telat atau apapun. Nina juga tidak pernah bertanya balik. Ia hanya diam dan tidak ingin berkomentar. Mungkin disaat itu, Doni sudah mulai merasa hubungannya dengan Sinta aman. Karena Nina tidak pernah merecokinya lagi.
"Namira, baju ini bagus ya? Tadi Mama baru dapet paket dari online shop. Mama mau menghabiskan uang Mama buat beli baju dan sepatu kamu. Kamu harus pakai baju cantik-cantik ya, Namira." kata Nina memandangi Namira yang hanya merespon seadanya. Ia ingin menghibur dirinya dengan berbicara bersama Namira. Ia tidak ingin mengingat luka batinnya bersama Doni yang selama ini telah melukainya.
*****
"Kamu langsung pulang, Mas?" tanya Sinta begitu melihat Doni terbangun. Ia terburu-buru memakai sepatunya.
"Iya, kenapa kamu nggak bangunin aku? Ini udah mau jam sepuluh malam. Aku harus bilang apa sama Nina?" kata Doni mulai sedikit panik. Ia ketiduran di salah satu kos-kosan sewaan bersama Sinta.
"Kalau kamu bingung harus cari alasan kenapa kamu takut begitu, Mas? Toh Nina selama ini tidak pernah berkomentar apapun lagi tentang kita. Jadi bukannya kita selama ini udah aman, Mas?" tanya Sinta.
"Justru kalau dia nggak pernah ngomel, itu udah tanda bahaya buat aku." kata Doni.
"Buat kamu? Lho, kenapa, Mas? Selama ini kita oke oke aja kok berlama-lama di kosan. Kenapa kamu jadi panik begini sekarang? Kamu kan bisa alasan lembur atau ketemu temen kamu gitu, Mas?" Sinta mulai tidak bisa menerima kepanikan Doni yang secara tiba-tiba ini.
"Jangan mikirin diri kamu sendiri, Sinta. Aku udah ada Nina."
"Lalu kenapa, Mas? Kalo Mas merasa sudah ada Nina, kenapa Mas datang sama aku dan bermain-main sama aku di kosan ini?" Sinta mulai merasa marah dengan apa yang Doni katakan. Bisa-bisanya sekarang Doni mengucap nama Nina didepannya.
"Aku kasihan sama dia. Selama ini aku berbohong sama dia dan aku kesini sama kamu. Aku juga harus perhatikan perasaan dia. Itu maksud aku." kata Doni memberikan penjelasan yang sedikit masuk di akal.
"Tapi, Mas, kita masih bisa kesini lagi kan? Kita masih bisa bertemu lagi kan? Kita kan udah nggak bisa ketemu di tempat kerjaku. Nci pemilik mie ayam bakalan marah banget sama aku. Satu-satunya tempat kita bisa bertemu cuma disini aja." kata Sinta. Ia sedikit memohon pada Doni agar ia bisa bertemu lagi. Tatapan mata Sinta menyiratkan banyak makna. Doni melihat itu.
Ada harapan besar dari tatapan Sinta pada dirinya. Entah bagaimana Doni harus menyimpulkannya.
Sinta ingin sekali meluapkan amarahnya. Tapi ia tidak sanggup. Ia sadar posisinya. Ia tidak bisa menahan Doni terlalu lama. Ia bukan siapa-siapanya Doni yang sah. Beda dengan Nina. Nina adalah istri sahnya. Bagaimanapun, Doni tetap menjadi hak Nina secara utuh.
"Aku pulang dulu, Sinta."
Sinta hanya bisa menatap kepergian Doni. Hatinya meronta. Ia kesal dan ingin berteriak. Ia tidak tahan dengan posisi yang seperti ini. Memiliki tapi tidak memiliki. Ia hanya bisa menggigit bibirnya. Menahan air mata yang ingin tumpah ke pipinya.