Restless

Restless
Uneasy



Nina menyandarkan kepalanya di kursi mobil bagian belakang. Nina menghela napasnya dengan berat.


"Kamu nggak apa-apa?" tanya Nino.


"Nggak, Kak. Cuma agak nggak enak badan aja." dusta Nina.


"Haruskah kita ke rumah sakit?" tanya Nino khawatir.


"Enggak. Aku cuma butuh istirahat aja kok. Nggak harus ke rumah sakit."


"Kamu harus menjaga kesehatan kamu." kata Nino.


"Iya, Kak. Aku paham."


"Jadwal kamu akhir pekan ke pabrik. Aku nggak bisa nemenin kamu ya. Tapi nanti disana ada Fabio." kata Nino memberitahu. Mobil mulai melaju pelan atas instruksi Nino.


"Fabio? Dia ada disana?" tanya Nina. Hatinya merasa sedikit gugup ketika Nino menyebut nama Fabio.


"Ya, dia memang ingin ditugaskan di bagian produksi. Aku juga merasa tenang kalau ada Fabio disana. Selama belasan tahun, Fabio bisa aku andalkan." jelas Nino.


Nina hanya mengangguk perlahan mengerti dengan apa yang Nino katakan. Berarti selama Nina berkunjung ke pabrik, ia akan terus bertemu dengan Fabio.


*****


Sinta kembali ke toko tempat kerjanya dan meletakkan barang belanjaannya. Ia mengingat waktu pertemuannya dengan Nina. Terutama ketika Nina memberitahu bahwa Doni belakangan ini setiap pagi menunggu Nina datang ke kantor.


Hal-hal itu mengganggu pikiran Sinta. Ingin sekali ia menanyakan apa maksud Doni seperti itu. Tapi ia takut jawaban Doni hanya membuat dirinya menjadi sakit hati.


"Habis diminta belanja?" tanya Enci toko sebelah yang memang sejak awal sudah sangat perhatian pada Sinta.


"Eh, iya, Nci. Beli punyanya bos. Biasa, minta beli baju pesenan customernya." jawab Sinta tersenyum. Walau Sinta mencoba tersenyum, tapi Sinta tidak menyiratkan kebahagiaan dimatanya. Dan Enci sangat tahu persis apa yang Sinta rasakan.


"Ada masalah apa?" tanya Enci.


"Masalah apa? Nggak ada masalah apa-apa kok, Nci. Emang kenapa?" Sinta terus berusaha tersenyum.


"Kalau punya masalah, jangan dipendam sendiri. Akhirnya malah bikin kamu stress dan nggak baik buat perkembangan bayi kamu." kata Enci.


Sinta hanya tersenyum mendengar saran dari Enci. Walau Enci berumur lebih tua dari Sinta, Sinta merasa nyaman dengan perhatian yang Enci berikan. Walau sampai saat ini Sinta tidak tahu siapa nama aslinya Enci. Orang-orang sekitar sini hanya memanggilnya 'Enci'. Sinta menghela napas panjang.


"Ternyata kehidupan pernikahan itu sangat berat ya Nci. Apalagi kalau jadi yang kedua." kata Sinta mulai membuka ceritanya.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Enci.


"Beberapa kali aku ketemu mantan istri Mas Doni. Awalnya aku mengira dia hanya wanita biasa yang diam ketika suaminya selingkuh. Tapi dibalik itu semua, mantan istri Mas Doni sebenarnya adalah orang yang sangat hebat, Nci." cerita Sinta.


"Kenapa kamu bilang begitu?" Enci merasa belum terlalu mengerti dengan cerita Sinta.


"Dulu, aku meremehkan istri Mas Doni. Karena dia selalu diam ketika tahu Mas Doni pulang larut malam. Tidak ada komentar. Tidak ada teriak-teriak marahnya istri pada suami yang berselingkuh." lanjut Sinta.


"Inilah yang bikin aku cukup terkejut. Ternyata, Kak Nina itu pewaris salah satu perusahaan Sujin. Yang perusahaannya selalu di liput berita. Kemarin juga ada berita tentang Kak Nina yang datang dan mulai ikut andil dalam perusahaannya." jawab Sinta.


"Benarkah? Grup Sujin yang produksi baju dan kaos itu? Wah, itu baju merknya lumayan terkenal dan tokonya ada dimana-mana. Pewarisnya aku pikir hanya seorang anak laki-laki. Tapi ternyata, mantan istri suamimu juga pewarisnya. Suamimu pasti benar-benar merasakan penyesalan." Enci terdengar sangat kagum bahwa orang biasa itu ternyata adalah pewaris grup yang terkenal di negrinya.


"Iya. Setelah bercerai, Kak Nina kasih kita uang sepuluh juta. Aku ingin mengembalikannya. Tapi kata Kak Nina, uang itu bisa dia dapatkan hanya dalam satu malam." Sinta merasa lemas ketika harus membayangkan dirinya ingin mengembalikan uang itu pada Nina.


"Tentu saja. Dia pemilik perusahaan, pastilah uang itu hanya remahan rempeyek baginya. Dan sangat besar bagi kalian berdua."


"Apa aku sudah salah jalan? Aku ingin memperbaiki kesalahanku semuanya." kata Sinta merasakan sedikit penyesalannya.


"Kamu sudah memulai. Dan apa yang kamu mulai adalah ketika kamu berani menginjak ranjau itu. Seharusnya kamu tahu pada akhirnya kamu hanya merasakan penderitaan." kata Enci.


"Jadi, bagaimana aku harus memperbaikinya? Beberapa bulan lagi anak ini lahir. Dan pernikahan kami terasa sangat hampa. Kami bersemangat ketika pada awalnya saja." Sinta merasakan sedikit keputusasaan dalam nada bicaranya.


"Setidaknya, kamu harus kuat menjalani semua demi anakmu. Apapun yang kamu lakukan, akan selalu kembali pada dirimu sendiri. Jadi, mulai sekarang berhati-hatilah dalam bertindak." jawab Enci semampunya.


"Jangan khawatir. Aku akan membantumu. Paling tidak, anakmu harus melihat ibunya bahagia."


Sinta tersenyum mendengar nasihat dari Enci. Enci benar. Masalah yang dipendamnya sendiri hanya membuat stress dan tidak baik bagi kesehatan janinnya.


Sinta memutuskan akan memercayai Enci. Karena sudah sejak awal Enci menolak perselingkuhannya dengan Doni. Enci hanya tidak ingin masa depan Sinta hancur karena menjadi simpanan suami orang.


Tapi Sinta begitu berambisi pada Doni. Ia tidak bisa dilarang. Dan pada akhirnya, Sinta tetap merasakan penderitaan. Ia harus menerima apa yang ia perbuat pada Nina dahulu.


*****


Doni menunggu Nina lagi. Pagi-pagi sekali Doni sudah datang dan menunggu Nina di depan gerbang. Sudah beberapa hari ini dan Nina menganggap ini tidak wajar. Nina juga datang pagi itu dan memergoki Doni yang selalu saja datang setiap pagi.


Mobil Nina berhenti tepat di depan Doni. Nina membuka kaca jendelanya melihat Doni yang pucat karena Nina menghentikan mobil tepat dihadapannya.


"Mau sampai kapan kamu berdiri disana? Kalau kamu mau bertemu dengan seseorang, kamu harus masuk dan menemui resepsionis." kata Nina.


Doni tidak menjawab perkataan Nina. Doni menunduk dan membalikkan badannya hendak pergi dari sana. Wajah Doni memerah. Ia juga gugup karena ketahuan telah menunggunya di depan gerbang gedungnya.


Dengan cepat Nina meminta supirnya agar ia turun di depan dan membuka pintu mobilnya.


Nina sedikit menghampiri Doni.


"Apa ada yang mau kamu bicarakan?" tanya Nina setengah berteriak.


Doni menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup sangat cepat. Ia tidak memikirkan hal ini akan terjadi. Ia pun tidak siap untuk ini. Apa yang ingin Doni bicarakan pada Nina?


"Datanglah ke kantorku kalau kamu memang ingin bicara." kata Nina.


Doni mulai berkeringat dingin.


Apa yang ingin ia bicarakan? Ia tidak tahu. Apa iya Doni harus mengatakan bahwa selama ini ia merindukan Nina? Merindukan mantan istrinya yang sekarang sudah jadi janda kaya di negri ini?