Restless

Restless
Talk to Talk



Nina mendapat jatah liburnya dan fokus dengan memberikan ASI pada Namira. Ia sangat bahagia sekali dengan kehadiran Namira. Ia berharap dengan hadirnya Namira bisa menjadi penghapus kesedihan dihatinya.


Meri mendekati meja kerja Doni dan datang dengan wajah sedikit masam.


"Hai, sudah jadi Ayah ya sekarang." ucap Meri dengan nada sinisnya. Lagi-lagi Doni merasa sedikit terganggu dengan kehadiran Meri.


"Iya. Alhamdulillah sekarang udah jadi Ayah." jawab Doni dengan penuh percaya diri.


"Wah bagus deh. Berarti aku nggak bisa nyalip sekarang dong ya. Kira-kira kapan ya aku bisa masuk diam-diam lagi? Secara setelah istrimu lahiran kan, kamu masih dalam masa bahagia-bahagianya." kata Meri. Jujur saja, hatinya sedikit kesal dan dongkol karena mendengar kabar bahwa Doni tengah berbahagia karena istrinya baru saja melahirkan.


"Cukup ya, Meri." ujar Doni memotong pembicaraan Meri. Ia pun sudah jengah dengan sikap Meri. Terkadang ia juga malu dengan rekan kerja yang lain karena Meri sering sekali mengungkapkan rasa cintanya pada Doni. Padahal semua juga sudah tahu bahwa Doni telah memiliki istri.


"Aku tidak pernah berpikir akan menerima hatimu. Aku juga tidak pernah punya pikiran untuk menyakiti hati istriku. Apalagi aku sudah punya Namira. Aku tidak akan menyakiti anakku dengam cara seperti ini." ucap Doni tegas. Meri merasa nyalinya sedikit mengecil setelah mendengar apa yang Doni katakan.


"Baiklah. Semoga suatu hari nanti kamu tidak termakan oleh ucapanmu sendiri." kata Meri mengalihkan pandangannya. Ia merasa sedikit malu karena Doni berbicara tegas seperti itu.


"Tidak. Aku sudah berkomitmen. Dan aku pasti bisa menjaga itu." sambung Doni.


Tidak sedikit mata yang melihat ke arah mereka. Doni sedikit malu karena harus mengatakan itu semua dan banyak telinga yang mendengar.


Meri tersadar dan pergi dari hadapan Doni. Doni pun kembali duduk meremas rambut dengan jemarinya. Entah kenapa Meri selalu merasa dirinya lebih baik dari Nina. Walaupun sudah ditolak berkali-kali, tapi Meri masih tetap mempunyai rasa percaya diri masih bisa mendapatkan Doni dengan cara menjatuhkan Nina.


Setelah seharian melalui segala macam penat di kantor, akhirnya Doni pulang. Ia gembira sekali melihat Nina dan Namira berada di atas tempat tidur. Nina bangun perlahan agar tidak membangunkan Namira.


"Sudah pulang? Aku siapin makan dulu atau mau mandi dulu?" tanya Nina.


Doni tersenyum melihat wajah Nina yang natural tanpa make up.


"Aku mau makan dulu. Laper." jawab Doni. Tapi Nina seolah tidak setuju. Karena Doni langsung mengambil posisi duduk di sebelah Namira.


"Mas, kamu mandi abis itu aku siapin makanan ya. Nanti kamu deket Namira sudah wangi." ujar Nina dengan senyum cantik diwajahnya.


Doni setuju walaupun sedikit lelah.


"Baiklah, istriku..." Doni bangkit dari duduknya dan mengambil handuk.


Nina menghangatkan sayur gulai nangka yang tadi siang ia masak dengan ikan goreng.


Setelah menyiapkan makan malam untuk Doni, Nina tersadar dalam hati dengan keadaan Doni yang seperti ini, ia harus ikhlas menerimanya. Apapun itu. Walau masih belum punya rumah sendiri, ia hanya perlu bersyukur, Doni masih tetap bersama dengannya dan juga mau bergantian menjaga Nina.


*****


"Ada apa, Sayang? Kenapa kesal begitu?" tanya salah seorang teman perempuannya, yang merupakan teman curhat Meri.


"Aku cuma heran aja. Menurut kamu, apa aku ini nggak terlihat cantik?" tanya Meri pada temannya.


"Kamu cantik, kok. Kata siapa enggak?"


"Tapi aku heran, ada satu orang laki-laki nolak aku mentah-mentah. Ya, dia udah punya istri sih." kata Meri dengan lemas. Temannya, yang akrab dipanggil Sarah, ternyata tidak terlalu serius mendengar keluh kesah Meri.


"Lagipula, orang kayak gitu kamu nggak perlu repot-repot pikirin. Kamu tinggal goda aja imannya dengan wanita lain. Namanya laki-laki. Akan selalu mencari yang lebih baik dan yang lebih baik." kata Sarah. Meri pun terlihat mempertimbangkan apa yang Sarah katakan.


"Maksud kamu? Aku udah goda dia lho. Aku udah cari cara supaya bisa liat dan menarik perhatian dia. Tapi dia sama sekali nggak terpengaruh." kata Meri.


"Ya ampun, Beb. Dia mungkin bosan dan udah paham banget kamu goda. Kamu goda di kantor sih. Coba kalau kamu goda ditempat lain atau dimana gitu. Mungkin lebih bisa kena deh ke dianya. Menurut aku begitu." ucap Sarah sambil meneguk minumannya. Ia menyandarkan punggungnya yang lelah karena seharian bekerja.


"Jadi maksud kamu gimana nih? Aku harus goda dia sepulang kerja? Atau aku butuh orang lain buat mancing dia biar kegoda sama aku?" tanya Meri penasaran dengan maksud Sarah.


"Keduanya." jawab Sarah sambil memainkan gelas minumannya.


"Apa? Nggak salah? Kalau seumpamanya aku butuh orang buat mancing dia, entar malah orang itu yang suka sama Doni. Enggak deh. Enggak. Aku nggak mau. Nanti usaha aku malah jadi sia-sia." ujar Meri dengan jelas menolak saran dari Sarah.


"Emang kenapa sih, Beb, kamu itu ngejar dia banget? Sedangkan dia udah punya istri. Emang nggak ada laki-laki singel yang bisa kamu jadikan pilihan selain dia? Aku jadi penasaran, secakap apa sih dia?" Sarah mulai merasa resah dengan Meri kali ini.


"Aku udah suka dia sejak masih sekolah, Beb. Kita deket. Kita jalan. Makan. Nonton. Ya selayaknya orang lagi pendekatan. Pada saat aku minta kejelasan sama dia tentang hubungan kita yang udah lama banget berjalan tanpa status, ternyata dia udah ada pilihan dan dia akan menikahi wanita itu yang sekarang jadi istrinya." cerita Meri dengan jelas pada Sarah.


"Kok bisa tiba-tiba udah mau nikah aja? Kamu kayak lagi jagain jodoh orang dong kalau kaya gitu." kata Sarah sedikit meledek Meri.


"Makanya, sampai sekarang aku nggak terima. Kenapa bisa-bisanya dia malah nikah sama orang lain padahal deketnya sama aku. Setiap aku minta penjelasan, dia cuma menghindar dan nolak aku mentah-mentah." sambung Meri merasa sedikit kesal mengingat cerita masa lalunya.


"Ya, wajar sih. Kamu nggak terima. Tapi kamu harus tahu posisi kalau dia itu udah punya istri. Kecuali satu hal." kata Sarah berbicara dengan sedikit serius.


"Apa?" Meri sedikit bingung dengan perkataan Sarah yang belum selesai.


"Kalau kamu mau merebut Doni dan rela dijadikan istri kedua." sambung Sarah.


Meri terdiam mencerna perkataan Sarah. Sebenarnya Meri tidak pernah punya maksud apapun. Tapi ketika malam ini ia berbicara dengan Sarah, terbersit pikiran dalam kepala Meri tentang menjadi istri kedua.


Mungkinkah Meri mau dan menyetujui apa yang Sarah katakan? Bagaimana nanti jika ia memang benar-benar menjadi istri kedua Doni?


Meri tidak bisa membayangkan. Awalnya, ia hanya pikir Doni tidak mencintai Nina. Tapi akhirnya setelah ada Namira, Doni bahkan menolak Meri mentah-mentah di depan karyawan lain. Apakah mungkin Meri bisa menjalankan apa yang Sarah sarankan?