
"Berapa lama lagi kamu akan menetap di perusahaan itu?" tanya Ayah pada Nina. Nina sudah mengerti maksud Ayah. Ayah ingin sekali Nina mengambil posisi di perusahaannya sendiri.
"Seminggu lagi, Ayah."
"Apa mereke belum mendapatkan karyawan baru? Buat apa capek-capek kerja di perusahaan orang lain?" Ayah mulai kesal dengan Nina yang tidak bisa meninggalkan perusahaan yang sekarang ia datangi.
Nino menggenggam tangan Nina. Agar diam saja tidak perlu banyak bicara. Saat ini Ayah pasti sedang kesal karena Nina tidak segera keluar dari perusahaan itu.
"Beri waktu sedikit lagi, Ayah. Nina pasti akan segera keluar dari perusahaan itu." kata Nino tersenyum.
Tapi Ayah berdecak kesal.
"Keluar secepatnya dari perusahaan itu. Kamu mengerti?" kata Ayah pada Nina. Nina hanya diam mendengar perkataan Ayahnya.
Nina masuk ke dalam mobil Nino. Hari ini Nino akan mengantar Nina ke tempat kerjanya.
"Benar waktumu hanya tinggal seminggu lagi?" tanya Nino.
"Ya."
"Kenapa kamu tidak langsung keluar saja? Kamu sudah cukup lama berada disana semenjak menyerahkan surat pengunduran diri." kata Nino.
"Aku nggak enak, Kak. Karena mereka memintaku waktu paling lama tiga minggu sampai ada yang baru." kata Nina.
"Haruskah aku yang bicara?" tanya Nino. Nina sudah tahu akan menjadi seperti ini.
"Baiklah. Terserah padamu."
Nino turun dari mobilnya dan mengikuti Nina untuk datang ke ruang HRD. Nino harus menyelesaikan segera apa yang tidak bisa diselesaikan dengan adiknya sendiri.
Ketika masuk ke ruang HRD, Nino sangat terkejut ada Fabio disana.
"Fabio?" tanya Nino terkejut.
"Nino?" Fabio juga sama terkejutnya dengan Nino.
Kemudian Nino tersenyum dan memeluk Fabio.
"Sudah lama sekali. Apa yang kamu lakukan disini? kamu bekerja disini?" tanya Nino tidak percaya.
Fabio juga membalas memeluk Nino. Fabio dan Nino adalah sahabat sejak masih sekolah.
"Kalian saling kenal?" tanya Nina bingung.
"Ini Fabio, sahabatku sejak sekolah. Mungkin kamu tidak pernah melihatnya. Karena dia memang tidak pernah mau kalau diajak ke rumah." kata Nino.
"Aku tidak tahu kalau kamu adik Nino." sahut Fabio.
Nina mulai tersenyum dengan kebetulan yang terjadi hari ini.
"Jadi, apa yang membawamu kemari?" tanya Fabio.
"Begini, Nina sudah mengajukan surat pengunduran diri dan diminta tetap bekerja selama tiga minggu lagi. Tapi seperti yang kamu tahu bahwa perusahaanku juga membutuhkan Nina." jelas Nino.
"Aku tidak tahu mengenai itu karena yang biasanya mengurus data karyawan bukan aku. Tapi kalau memang itu masalahnya, kenapa kamu tida cerita padaku Nina? Aku bisa membantumu." kata Fabio.
"Ehm.." Nina tidak bicara banyak. Ia hanya tersenyum melihat Fabio.
"Bisakah kamu membantuku, Fabio?" tanya Nino.
"Baiklah. Aku akan bicara setelah dia datang nanti." kata Fabio.
"Aku mohon bantuanmu ya. Aku harus segera berangkat lagi." kata Nino.
Fabio mengangguk. Nina sendiri ikut pamit keluar dari ruangan Fabio.
Sebelum Nina jauh dari ruang kerjanya, Fabio memanggil Nina.
"Nina." panggil Fabio.
"Ya?"
"Bisakah nanti siang kita makan bersama?" tanya Fabio dengan mengulas senyum diwajahnya.
"Baiklah." jawab Nina.
*****
Saat jam makan siang, Nina mendapat telpon dari orang tua Doni di luar kota. Ya. Doni adalah anak rantau yang bekerja di Jakarta. Entah orang tuanya mengetahui hal ini atau tidak.
Nina mencoba mengangkat telpon dari ibu mertuanya.
"Ya, Bu." sapa Nina.
"Nina, bagaimana kabarmu? Kamu sudah jarang telpon. Apa kalian baik-baik saja?" tanya ibu mertua.
Dari pertanyaan yang diajukan, sepertinya ibu mertuanya tidak mengetahui kalau mereka kini resmi bercerai.
"Baik-baik saja, Bu. Bagaimana kabar Ibu?" tanya Nina mencoba bersikap seperti biasa.
"Ibu juga sehat. Gimana Doni? Kerjaannya lancar?"
Seperti biasa. Ibu hanya akan menanyakan anaknya saja.
"Iya, Bu, Mas Doni lancar kok kerjaannya." jawab Nina.
"Ibu masih belum datang ke Jakarta melihat anakmu. Nanti kalau Ibu sempat kesana, Ibu kesana ya." kata Ibu.
"Iya, Bu. Ibu sudah telpon Mas Doni? Karena aku lagi kerja juga sekarang." kata Nina.
"Oh, kamu kerja? Ibu pikir kamu di rumah mengurusi si kecil." kata Ibu sedikit kaget mendengar Nina bekerja.
"Si kecil sudah ada pengasuhnya, Bu. Jadi bisa kutinggal bekerja." jawab Nina tersenyum.
"Apa kamu yakin dengan pengasuhnya? Bagaimana kalau si kecil kenapa-kenapa? Dan kalau suamimu pulang, apa kamu juga sudah sampai di rumah?"
Banyak sekali pertanyaan yang diajukan. Nina menjadi kesal dan ingin meledak rasanya.
"Memang kenapa, Bu? Ibu tidak percaya sama saya?" tanya Nina.
"Lho, Ibu hanya bertanya. Bagaimana suamimu kalau kamu bekerja?"
"Ibu mau tahu?"
"Lho, ya Ibu ini kan ibumu. Kalau ada apa-apa masa Ibu nggak boleh tahu?" tanya Ibu Mertua. Jujur saja. Pertanyaan Ibu Mertuanya membuatnya tidak merasa nyaman.
"Kalau aku nggak kerja, Mas Doni nggak cukup memberikan aku uang, Bu. Jadi mau nggak mau aku juga harus kerja." jawab Nina.
"Ibu tahu. Tapi sejatinya, wanita itu kan berada di rumah. Menunggu suami pulang kerja. Mengurus anak dan rumah. Buat apa membayar orang mahal-mahal kalau suamimu nggak terurus?" kata Ibu Mertua membuat hati Nina benar-benar jengkel.
"Lalu, kalau uang Mas Doni kurang dan akhir bulan nggak ada uang, kita mau makan pakai apa, Bu? Nggak mungkin kan, Bu, kita makan cinta dan angin, minum rasa kasih sayang?" nada bicara Nina sudah mulai sedikit meninggi. Ibu Mertua terdengar kesal dengan jawaban Nina.
"Kenapa kamu seperti ini, Nina? Ibu hanya memberi saran."
"Itu bukan saran, Bu. Kalau Ibu diam di rumah dan menunggu suami pulang, biar itu Ibu saja. Jangan membuatku harus diam di rumah menunggu Mas Doni pulang. Lagipula aku dan Mas Doni sekarang sudah resmi bercerai. Mas Doni juga sudah menikah dengan wanita yang selama ini ia selingkuhi di belakangku. Seharusnya Ibu bertanya bagaimana keadaan rumah tanggaku. Bukan menghakimi apa yang harus aku lakukan." kata Nina kesal.
"Apa? Kalian bercerai dan Doni sudah menikah lagi?" tanya Ibu Mertuanya tidak percaya.
"Ibu bisa tanya sendiri ke Mas Doni apa yang sudah dia lakukan sama saya selama ini, Bu. Jadi tolong jangan katakan apa yang harus saya lakukan pada Mas Doni. Mas Doni bukan suami saya lagi." kata Nina.
"Tapi, Nina..."
"Saya mau kerja, Bu."
Nina mematikan telponnya. Ia tidak ingin bicara dengan Ibu Mertua seperti itu. Apa? Diam di rumah mengurus rumah dan anak, menunggu suami pulang? Hah! Teori macam apa di jaman modern seperti ini? Tidak berlaku! Nina bukan wanita jaman dulu yang hanya diam jika diinjak oleh suaminya. Ia pasti akan bertindak. Apapun itu.