Restless

Restless
Beating Heart



Nina mengadakan kunjungan ke pabrik. Jadwal rutin yang memang sudah dilakukan Nina setiap minggunya membuat sedikit lelah di tubuhnya. Terkadang ia meregangkan ototnya karena seharian bekerja dengan keras. Ia juga memijat sedikit bahu dan lehernya yang terasa pegal.


"Saya tahu salon yang bagus untuk pijat, Bu." kata Pak Sam ketika melihat Nina yang memijat bahunya.


"Oh ya? Dimana itu, Pak?" tanya Nina penasaran.


"Namanya Beauty Salon. Mungkin Ibu pernah dengar."


"Saya tidak pernah dengar sih. Tapi coba saya cek sebentar."


Nina mengeluarkan ponselnya dan memulai pencarian nama salon yang tadi disebut oleh Pak Kim. Nina melihat gambar salon wanita dengan interior yang cantik dan elegan. Bahkan beberapa testimonial dari para artis ternama.


"Banyak artis yang kesini, Pak?" tanya Nina.


"Iya, Bu. Harganya juga menengah keatas. Pelayanannya oke, Bu. Dari yang saya tahu begitu." kata Pak Sam.


"Boleh juga. Kalau mau kesana harus telpon dulu?"


"Yang saya tahu mereka waiting list, Bu."


"Coba cari tahu, Pak Kim. Saya mau coba ke salon ini." kata Nina.


"Baik, Bu. Nanti saya akan coba telpon."


Sebentar lagi akan sampai di pabrik. Setelah sampai dan turun dari mobil, Fabio sudah menunggu dan siap menyambut kedatangan Nina.


Nina sedikit terkejut dengan Fabio yang menunggu kehadirannya di pabrik.


"Perjalanan yang melelahkan bukan?" tanya Fabio dengan senyum manisnya.


"Iya, lumayan." jawab Nina sedikit tersipu malu. Pak Kim berjalan di belakang Nina dan juga Fabio.


"Bagaimana produksi hari ini?" tanya Nina.


"Kita mendapat pesanan seratus lusin kaos sablon motif terbaru dan dikirim ke Singapura. Ada pengusaha disana yang menghubungi saya. Setelah saya berikan beberapa sampel, ia tertarik dan akan memberikan sebagai seragam karyawannya disana."


jelas Fabio.


"Perkiraan selesai berapa lama?" Nina bertanga sambil berjalan.


"Besok setelah packing kita sudah siap kirim pakai pesawat."


"Pastikan lancar semuanya." kata Nina.


"Baik, Bu." jawab Fabio kembali tersenyum. Nina menghentikan langkahnya dan melihat wajah Fabio yang sangat berseri.


"Kenapa? Apa ada sesuatu diwajahku?" tanya Nina merasa kesal dengan senyum Fabio hari ini.


"Tidak." Fabio menutup rapat kembali mulutnya. Hingga tidak ada gigi yang terlihat oleh Nina.


"Lalu kenapa tersenyum seperti itu?"


Fabio melihat ketegangan di wajah Nina. Wajah cantik yang lelah karena terlalu bekerja keras.


"Kamu suka mocca? Lebih baik kita bicarakan masalah pekerjaan sambil duduk dengan santai sedikit." kata Fabio.


"Boleh. Setelah aku keliling pabrik baru kita akan bicara lagi." jawab Nina.


Fabio merasa Nina kali ini terlalu keras berusaha. Biasanya Nina akan tersenyum ketika datang ke pabrik. Entah mengapa kali ini tidak ada senyuman terulas diwajahnya.


Karena penasaran, Fabio mencoba bertanya pada Pak Kim.


"Hanya ada sedikit masalah di kantor saja, Pak. Nanti Bapak bisa bicarakan dengan Ibu Nina kalah sudah selesai keliling pabrik." jawab Pak Kim seadanya. Ia tidak ingin ikut campur terlalu jauh dengan masalah pribadi Nina.


Pak Kim hanya sedikit merasa kasihan pada Nina karena sejak pertemuannya dengan Doni beberapa minggu yang lalu, Nina melampiaskan emosinya kepada beberapa pekerjaan dan juga karyawannya.


*****


"Bekerja di perusahaan Nina?" tanya Sinta. Ia baru saja mendengar Doni mengatakan bahwa Nina menyuruh Sinta bekerja dengan Nina.


"Iya." jawab Doni.


"Kenapa Nina memberikan aku pekerjaan disana? Maksudku, apa kamu yakin? Atau tidak ada sesuatu kalau aku bekerja disana nanti?" Sinta memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan apa yang Doni katakan.


"Kenapa kamu bicara begitu? Seolah-olah Nina jahat padamu." Doni menyahut dengan kesal pertanyaan Sinta yang seperti itu.


"Nggak, Mas. Maksudku, apa kamu yakin? Kondisiku seperti ini. Aku sedang hamil. Lagipula, Nina seharusnya membenciku bukan karena aku telah memberikan sesuatu yang buruk." kata Sinta. Ia merasa percaya dirinya turun jika sudah berbicara tentang Nina.


"Nggak kayak gitu. Nina hanya kasihan dengan kondisi keuangan kita. Lagipula kerja di toko seperti itu kamu nggak capek?" Doni terdengar hangat bagi Sinta kali ini. Walau tidak menunjukkannya secara langsung, tapi dengan pertanyaan seperti itu saja Sinta menyadari bahwa Doni juga memperhatikan dirinya.


"Lalu bagaimana? Aku datang langsung atau bagaimana?" tanya Sinta. Ia mulai mengulas senyum diwajahnya.


"Nanti saja setelah lahiran. Kalau sekarang, kamu akan repot bolak balik kerja dengan kondisi hamil besar seperti itu."


"Baiklah. Terima kasih ya, Mas."


Sinta masih tidak terlalu yakin dengan apa yang Doni katakan. Sinta akan menanyakannya pada Nina suatu waktu jika ia punya kesempatan.


*****


Fabio sudah duduk di teras kafe yang ada di dekat pabrik. Nina juga sudah beristirahat dengan nyaman. Ia lelah mengelilingi pabrik. Kakinya terasa mau copot karena heels yang ia gunakan.


"Kamu terlihat lelah." kata Fabio melihat wajah Nina yang tidak bersinar seperti biasa.


"Kata siapa? Nggak." Wajah Nina sedikit merona. Ia malu dengan perhatian Fabio seperti ini. Bagaimana ia ingin menjelaskan bahwa jantungnya berdebar lebih cepat ketika ia harus duduk berdua dengan Fabio seperti ini.


"Jangan terlalu lelah. Kalau kamu sakit, kamu tidak bisa menjalankan perusahaanmu." kata Fabio.


"Aku hanya kesal." kata Nina. Ia mulai ingin menumpahkan perasaan dihatinya. Dan entah mengapa ia paling cepat bercerita sesuatu pada Fabio.


"Kenapa?"


"Mantan suamiku ternyata suka mengikutiku. Aku pernah sekali sengaja memanggil dia datang ke kantorku agar ia bisa melihat bahwa aku bisa bangkit mengalahkan dia." kata Nina.


"Lalu bagaimana ketika dia bertemu denganmu?" Kini, wajah Fabio yang sedikit menegang karena harus mengendalikan senyum di wajahnya. Karena jika Nina bercerita tentang Doni, apapun itu, hati Fabio terasa sedikit sesak.


"Dia terkejut dengan pekerjaan baruku. Dan aku senang bahwa ia hidup tidak lebih baik daripada aku."


"Aku harap kamu nggak dendam lagi pada mantan suamimu. Karena kalau kamu seperti itu kamu akan selalu teringat tentang dia. Dan pekerjaanmu akan menjadi masalah."


"Iya. Nino juga sudah menegurku. Akhirnya aku bekerja sampai malam melampiaskan kekesalanku ketika terakhir kali bertemu dengan Doni." sahut Nina.


Ia tidak menyangkal bahwa penyebab kelelahan yang ada diwajahnya disebabkan oleh mantan suaminya sendiri.


"Bagaimana kalau begini saja. Setiap kali kamu datang kesini, anggap saja sebagai hari santaimu. Kamu tidak perlu berhadapan dengan kertas-kertas dimeja dan menandatangani berkas." kata Fabio mengalihkan pembicaraan tentang Doni. Nina belum menyadari ekspresi wajah Fabio ketika Nina membicarakan tentang Doni.


"Maksud kamu?" Nina sedikit tidak mengerti dengan yang Fabio ucapkan.


"Maksudku, amggap saja kamu berlibur dan melepaskan lelahmu disini. Dan aku akan siap mendengar semua keluh kesahmu."


Nina tidak tahu bagaimana harus menanggapi ucapan Fabio. Di satu sisi ia merasa senang, Fabio bisa menghiburnya. Tapi disisi lain, Nina takut jika hatinya lama-lama akan jatuh cinta pada pria dihadapannya ini.