Restless

Restless
Kindness Heart



Terkadang, Nina merasa tidak enak hati dengan kebaikan Fabio selama ini. Tapi Nina juga bingung dengan perasaannya sendiri. Setelah bercerai dengan Doni, Nina tidak punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri karena pekerjaannya sangat menyita waktunya. Pulang kerja saja ia lamgsung mandi dan merebahkan diri.


Hanya sesekali melihat Namira tertidur pulas. Dan pengasuhnya bangun untuk pindah tempat tidur. Walau terkadang Nina membiarkan pengasuhnya tidur bersama, tapi tetap saja, wanita paruh baya itu selalu merasa tidak enak hati terutama dengan kebaikan Nina kepadanya.


Mulai malam ini, Nina sempat berpikir sebentar tentang bagaimana hatinya. Ia sudah gagal sekali dalam pernikahannya. Ia tidak ingin, jika ia menikah lagi, ia menikah dengan orang yang salah. Tapi Nina juga tidak tahu harus dekat dengan siapa. Selama ini pria yang dekat dengannya hanyalah Nino dan Fabio. Tentu saja sekretaris kantor yang paling ulet dan rajin, Pak Sam. Tidak ada lagi selain itu.


Tapi jika harus dengan Fabio... Apakah mungkin?


Ponsel Nina berbunyi. Ada pesan masuk tepat pukul sepuluh malam. Nina akan mengecek ponaelnya sebentar, kemudian ia akan tidur. Tapi, tunggu dulu. Ternyata pesan yang Nina dapat bukanlah pesan tentang kerjaan atau dokumen untuk besok pagi. Tapi ini adalah Sinta.


[Sinta: Sudah tidur, Kak?]


Walau Nina pernah disakiti oleh Sinta, lantas apa yang menimpa pada Sinta saat ini, tidak membuat Nina menjauh darinya. Sekuat mungkin Nina berdamai dengan masa lalu. Mungkin itu yang membuat hatinya tenang hingga saat ini menghadapi Doni dan Sinta.


[Nina: Belum. Kenapa, Sin?]


Nina hanya menjawab pendek tanpa basa-basi apapun. Tidak lama, Sinta membalasnya lagi.


[Sinta: Besok hari Minggu. Kak Nina punya waktu luang? Kalau iya, aku mau ketemu.]


Nina mengerutkan dahinya. Sinta ingin bertemu? Ada apa?


[Nina: Besok aku jalan-jalan dengan Namira. Kita bisa bertemu saat aku bersama Namira.]


[Sinta: Benarkah? Oke, Kak. Besok sekitar jam 11 siang kita ketemu di Cheesecake ya.]


Nina bisa menebak dari pesan yang dikirim oleh Sinta. Pasti dia senang sekali bisa bicara santai dengan Nina saat ini.


[Nina: Sendiri kan? Pastikan ini bukan jebakan. Dan Doni tidak terlibat dalam pertemuan kita.]


[Sinta: Pasti, Kak. Aku jamin. Makasih ya, Kak.]


[Nina: Sama-sama.]


Nina sedikit penasaran apa yang akan Sinta katakan padanya. Entah mengapa pikiran Nina terbagi-bagi. Antara pekerjaan, Fabio dan juga Sinta. Entah yang mana yang harus ia pikirkan terlebih dahulu sambil menunggu kantuk dan tidur dengan lelap.


*****


Esoknya, Sinta datang dengan perut yang semakin membesar. Kehamilan Sinta sudah termasuk hamil tua. Mungkin sebentar lagi ia akan melahirkan anaknya.


Sinta berjalan perlahan karena perutnya sudah terasa berat. Nina hanya tersenyum melihat Sinta yang berjalan dengan penuh hati-hati.


"Sudah semakin besar kandunganmu." kata Nina melihat perut Sinta.


"Iya, Kak. Sudah minggu ke tiga puluh dua. Bulan depan aku akan melahirkan, Kak." jawab Sinta seadanya.


"Duduklah." Nina menarik kursi agar Sinta dapat duduk dengan santai.


"Makasih, Kak." jawab Sinta.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Nina terlebih dulu.


"Baik, Kak. Namira dimana? Katanya ajak Namira?" tanya Sinta mencari dimana sosok mungil Namira.


"Main di playground sama pengasuhnya." jawab Nina menunjuk Namira yang sedang main susun balok dengan pengasuhnya.


"Kak. Aku dengar dari Mas Doni. Katanya setelah aku lahiran aku bisa kerja di tempat Kakak. Benar begitu, Kak?" tanya Sinta langsung pada intinya.


Nina tersenyum. Sinta masih sama seperti dulu yang tidak terlalu suka basa - basi.


"Iya. Kalau kamu nyaman. Kerja di toko kecil seperti itu apa cukup untuk kehidupanmu sehari-hari? Ditambah lagi kamu punya anak. Kebutuhan akan semakin banyak." kata Nina.


"Sebenarnya, masih cukup dari Mas Doni, Kak." dusta Sinta. Sudah jelas Doni masih harus bayar kontrakan. Memberi uang bulanan. Dan bekerja di toko kecil yang gajinya dibawah UMR membuat hidupnya tercekik. Kalau Nina saat itu tidak memberikan uang kompensasi sepuluh juta, tidak mungkin ia bertahan sampai detik ini.


"Kamu yakin?"


"Ada yang ingin aku tanyakan, Kak." kata Sinta sebelum menjawab pertanyaan Nina.


"Apa itu?" Nina sedikit penasaran.


"Kenapa Kakak mau bantu aku sampai sebegitunya, Kak? Maaf bukan aku mau menolak. Tapi aku sangat tahu diri dulu aku pernah menjadi parasit dalam rumah tangga Kak Nina dan Mas Doni." kata Sinta. Inilah inti pembicaraan yang sebenarnya ingin Sinta sampaikan sejak kemarin.


Nina sedikit bingung bagaimana harus menjawab Sinta. Tapi ia memang sudah menemukan alasan berbuat baik pada Sinta selama ini.


"Awalnya aku memang kesal. Bukan hanya kesal. Aku sangat membencimu. Karena kamu rumah tanggaku hancur. Tapi disamping itu, orang tuaku memang sejak dulu tidak pernah mengizinkan aku menikah dengan Doni. Jadi, aku mencoba menerima kenyataan tentang apa yang terjadi pada rumah tanggaku." jawab Nina. Matanya terlihat kosong. Dan tatapannya lurus ke depan.


"Aku mencoba berdamai dengan hatiku. Aku berdamai dengan masa laluku. Aku mencoba membunuh segala pikiran negatif yang ada di dalam kepalaku. Hingga akhirnya aku berhasil dan dengan lapang dada menerima kehadiranmu."


Lagi-lagi, Sinta dibuat kagum oleh Nina. Entah sihir apa yang Nina gunakan. Tapi wanita di depannya ini benar-benar sosok wanita yang kuat dan tegar.


"Kemudian aku berpikir untuk memberimu pekerjaan di perusahaanku. Karena aku tahu bagaimana kondisimu setelah melahirkan. Kamu akan butuh banyak biaya dan aku bisa memberikanmu itu dengan cara kamu bekerja denganku." kata Nina pada akhirnya.


"Aku sangat berterima kasih, Kak. Entah bagaimana aku harus berterima kasih. Dan aku sangat bersyukur karena Kakak sudah bisa memaafkan kami."


Nina memotong cheescake yang ada di meja dan menyuapnya. Ia memesan satu potong cheesecake lagi agar Sinta dapat mencicipi kue yang enak di sini.


"Nggak usah berterima kasih begitu. Aku yakin kamu bisa bekerja dengan baik di kantorku."


"Iya, Kak."


Nina tersenyum. Ia benar-benar merasa bahagia sudah bisa berdamai dengan masa lalu. Hanya saja masih ada serpihan hati yang sakit. Tapi itu masih bisa dibersihkan agar serpihan hati itu tidak melukai perasaan Nina.


"Lalu bagaimana, Kak, yang kata Kakak dia menunggu Kakak datang ke kantor?" tanya Sinta sedikit penasaran.


Nina menggenggam tangan Sinta.


"Tidak apa- apa. Dia hanya ingin mengetahui dimana aku bekerja setelah pisah dengannya." jawab Nina jujur. Tidak ada yang ingin ia tutupi tentang Doni.