Restless

Restless
Day One



Nina merapikan dirinya di depan kaca. Setelan blus barunya dipadupadankan dengan rok selutut membuatnya tampak anggun. Kamar Nina cukup luas. Nina membuat ruang yang hanya dipisahkan dinding untuk pengasuhnya sedang Namira tidur di kasur bersama Nina. Nina tidak memperbolehkan Namira jauh darinya, setidaknya ketika tidur, Namira tetap berada disisinya.


Kamar pembantu juga letaknya cukup jauh dari kamar Nina. Khawatir jika Namira menangis, pengasuhnya tidak bisa mendengar suara tangisnya. Maka, Nina membuat tempat istirahat bagi pengasuhnya satu ruangan dengan Nina dan disekat oleh dinding berwallpaper bunga.


Walau sudah pindah ke rumah orang tuanya, Nina tidak pernah bersikap tidak acuh pada pengasuhnya. Justru Nina memperhatikan sekali apa yang pengasuhnya butuhkan. Nina sekarang memanggilnya dengan sebutan nama pengasuhnya.


"Cantik sekali, Mbak." kata pengasuhnya, yang sekarang dipanggil Ibu Mirna.


"Terima kasih, Bu Mir. Saya harap penampilan saya kali ini tidak terlalu buruk. Saya akan menghadiri sambutan kedatangan saya di perusahaan Ayah. Apa yang kurang ya?" Nina sangat antusias dengan penampilannya pagi ini. Ia tidak ingin terlihat kekurangan apapun pada penampilannya.


"Menurut saya, Mbak Nina sudah cantik. Tanpa riasan wajahpun juga sudah cantik." ujar Bu Mirna dengan senyum.


"Oh, ya, Bu Mir. Nanti habis makan, ajak Namira main di taman aja. Nanti ada Ibu saya mungkin disana. Biar nanti Ibu saya yang main-main sama Namira. Bu Mir bisa mandi atau makan dulu. Pokoknya Bu Mir disini tenang aja. Kalau sudah waktunya tidur, Namira bisa tidur di box seperti biasa. Bu Mir juga bisa nonton tv kalau mau di kamar." kata Nina menjelaskan sedikit apa yang harus Bu Mirna lakukan.


"Jujur, saya masih canggung, Mbak." kata Bu Mirna sedikit malu.


"Kenapa?"


"Saya masih beradaptasi, Mbak. Saya juga takut ninggalin Namira sendiri. Kamar Mbak besar sekali kadang saya segan Mbak bolak balik dan tidur satu kamar sama Mbak walau ada pembatas dinding." kata Bu Mirna. Suaranya pelan. Bicaranya juga sedikit menunduk.


"Nggak apa-apa, Bu Mir. Kalau Bu Mir mau makan, ajak Namira keluar kamar sesekali nggak apa-apa. Kalau butuh apa-apa, Bu Mir bisa tanya pembantu disini. Saya udah kasih tahu mereka kok. Selama Bu Mir di kamar saya, saya nggak jadi masalah. Saya udah tahu persis bagaimana Bu Mir rapinya minta ampun. Saya pokoknya nggak khawatir deh kalau sama Bu Mir. Saya juga tetap awasin pakai CCTV kok. Jadi saya juga bisa pantau keadaan kamar ini." jelas Nina.


"Iya, Mbak. Saya juga takut sama satu hal. Karena saya tidur di kamar Mbak, kalau suatu hari Mbak kehilangan barang, saya takut Mbak nggak percaya lagi sama saya." kata Bu Mirna lagi masih sedikit khawatir.


Nina tersenyum.


"Iya, Bu Mir. Saya ngerti. Bu Mir lihat kan ada kamera disana dan disana? Saya bisa lihat apa yang Bu Mir lakukan di kamar ini. Walau begitu, Bu Mir tenang dan santai saja ya."


"Tolong, Mbak. Perhiasan dan barang berharga, Mbak simpan seaman-amannya. Saya takut kalau nanti ada barang yang hilang." kata Bu Mirna lagi masih dengan kekhawatirannya.


Nina mengerti dan mengangguk. Walau ia sudah memercayai Bu Mirna, tetap saja, Bu Mirna masih takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Baik, Bu. Perhiasan saya dan barang berharga saya yang lain saya simpan di suatu tempat yang Bu Mir nggak tahu. Saya juga pakai kode sandi. Oke?"


"Saya jadi tenang sedikit, Mbak."


"Kalau gitu saya berangkat dulu. Tolong jaga Namira ya, Bu Mir."


"Baik, Mbak. Hati-hati ya."


*****


Di dalam mobil, Nino memberikan sedikit arahan untuk Nina agar Nina memahami sedikit struktur perusahaannya.


"Kamu nggak usah canggung. Kamu bersikap biasa saja. Tegakkan tubuhmu, angkat kepalamu. Dan jangan bersikap terlalu lembut pada karyawanmu. Kamu harus bersikap ramah tetapi tegas. Mengerti?" kata Nino.


"Aku rasa aku tidak bisa bersikap seperti itu." jawab Nina.


"Ayolah, kamu pasti bisa. Kamu atasan mereka. Beda dengan perusahaanmu yang kemarin." kata Nino.


"Apakah aku pantas berada diposisi ini, Kak?" tanya Nina pada Kakaknya.


"Tentu saja. Kenapa kamu berpikir begitu?" tanya Nino. Perjalanan mereka menuju kantor perusahaannya sebentar lagi sampai.


"Entahlah. Mungkin karena baru pertama kali."


"Kamu ikuti saja arahanku. Dan nanti aku akan mengenalkan kamu pada sekretaris baru." kata Nino.


"Sekretaris?"


"Setiap jadwal kamu akan dicatat oleh sekretarismu. Janji temu, jadwal meeting atau sekedar kunjungan pabrik." jawab Nino.


Nina mempersiapkan dirinya sebaik mungkin. Walau sedikit merasa canggung.


"Apakah sesibuk itu bekerja di perusahaan?"


"Awalnya kamu merasa bingung. Lama-lama, juga terbiasa. Jalani saja dulu ya. Tidak perlu grogi." kata Nino menenangkan Nina.


"Oh, ya. Kemarin istri baru Doni bilang kalau dia menerima uang kompensasi. Dia tidak menyebutkan jumlahnya dan ingin mengembalikannya padaku." kata Nina mengingat pertemuannya dengan Sinta kemarin.


"Tentu saja. Uang segitu sangat besar untuknya. Tapi siapa yang tahu kamu sebenarnya? Uang segitu tidak ada apa-apanya dibandingkan perbuatannya dia kepadamu. Baguslah saat itu kamu menelponku. Kalau tidak, kamu akan diperdaya lagi oleh Doni." kata Nino.


"Aku sudah lama ingin menghubungimu. Tapi aku menunggu waktu yang tepat." sahut Nina kemudian.


"Suatu hari nanti, Doni akan menyesal kehilangan berlian sepertimu. Tapi tidak perlu khawatir, selama ada aku, tidak ada yang berani menyentuhmu." kata Nino berusaha melindungi adiknya.


"Aku tidak tahu kamu seperhatian ini padaku." kata Nina tersenyum.


"Bagaimana kalau lain kali kita buat janji temu dengan Karina?" usul Nino membuat Nina sedikit terkejut.


"Karina? Kenapa tiba-tiba..."


"Dia telah menjagamu selama kamu berada di daerah pelosok itu. Sudah seharusnya kita mengajaknya makan malam mengucapkan terima kasih." jawab Nino ikut tersenyum.


"Jadi, selama ini Karina diminta Kakak buat jagain aku?"


"Hm. Kenapa?"


Nina hanya menatap Nino dengan sedikit gemas. Dibelakangnya, selama ini, Nino tidak pernah benar-benar melepasnya. Nina merasa beruntung mempunyai Kakak yang perhatian seperti Nino.


"Terima kasih, Kak." kata Nina.


"Hah?" Nino sedikit salah tingkah ketika adiknya mengucapkan terima kasih kepadanya.


"Berkat Kakak, aku masih bisa merasakan sedikit kebahagiaan walau hatiku merasa sedih. Karina selalu menghiburku."


Nina benar-benar berterima kasih pada Karina. Selama ini, ia rela menjadi telinga bagi Nina. Walau diminta Nino menjaga Nina, Nina tidak pernah merasa kesal. Ia benar-benar merasa berterima kasih atas semua yang terjadi pada dirinya selama jauh dari keluarganya.