
Suatu pagi saat sedang makan bersama, Nina ikut sarapan bersama keluarganya. Pertama kali setelah dua tahun lebih ia meninggalkan rumah itu, akhirnya ia kembali dan menikmati sarapan pagi tanpa harus memasaknya terlebih dulu.
"Bagaimana? Kamu suka kembali ke rumahmu?" tanya Ibu mengambilkan beberapa lauk ke piring Nina.
"Iya, Ibu." jawab Nina tersenyum.
"Bagaimanapun, akan lebih nyaman tinggal di rumah sendiru daripada harus tinggal di rumah kecil seperti itu." kata Ibu.
Nina tidak menjawab. Sebaliknya, Ayah langsung melontarkan pertanyaan, kapan Nina akan keluar dari pekerjaannya sekarang.
"Berapa lama lagi kamu kerja di perusahaan itu?" tanya Ayah.
"Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri, Ayah. Mungkin sekitar dua atau tiga minggu, aku akan keluar dari sana." jawab Nina.
"Kenapa lama sekali? Tidak bisa lebih cepat? Kamu harus segera mempelajari perusahaan Ayah. Kepada siapa lagi Ayah akan mewariskannya kalau bukan pada anak-anak Ayah." kata Ayah. Nina melirik Nino yang diam saja sejak tadi.
"Masih ada Kak Nino, Ayah. Aku yakin, Kak Nino cukup kompeten dalam pekerjaannya. Sekarang tolong biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku, Ayah." jawab Nina.
Nino menatap Nina yang memujinya seperti itu.
"Bahkan kalau kamu bilang kamu punya perusahaan sendiri...." ucap Ayah. Tapi Nina langsung memotong apa yang Ayahnya bicarakan.
"Tolong, Ayah. Itu adalah perusahaan dimana aku melamar sendiri dan lolos seleksi tanpa bantuan siapapun. Aku harap Ayah bisa mengerti situasiku." kata Nina.
Ayah tidak menyahutnya lagi. Ia hanya berdehem pelan dan melanjutkan sarapan paginya.
*****
Nina tidak terlalu bersemangat datang ke kantor. Ia hanya menghabiskan waktunya disana sambil menenangkan dirinya. Ia butuh waktu memahami kondisi dirinya sendiri setelah melayangkan surat perceraian kepada Doni.
Nina tidak perlu repot-repot datang ke pengadilan. Karena sudah ada pengacara yang mengurus segala sesuatunya. Ia juga sudah memberika kompensasi kepada Doni karena memutuskan bercerai secara sepihak. Walaupun Doni belum memberinya talak, jika Nina menyewa pengacara, semua urusan sudah selesai.
Begitulah keluarga Nina. Nina sendiri sebenarnya bukan orang yang seperti itu. Tapi, karena sikap Donilah, yang membuat Nina harus berbuat sejauh ini.
"Kak Nina." panggil seseorang dari belakang. Nina menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya.
"Sinta?"
Sinta menatap Nina dengan rasa bersalah. Tapi Nina mencoba bersikap biasa seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Nina mengajaknya bicara dengan duduk di kafe lobi kantornya. Mereka duduk berhadapan dan Nina membelikan dua gelas kopi.
"Kenapa kamu datang ke kantorku?" tanya Nina setelah menunggu cukup lama agar Sinta bertanya. Tapi tidak satupun pertanyaan yang keluar dari mulut Sinta.
"Maafkan aku, Kak." kata Sinta pelan. Nina sedikit terkejut bahwa perebut suaminya mengucapkan maaf kepadanya.
"Lupakan saja. Aku lebih baik sekarang." kata Nina.
"Aku pikir, Kakak akan memakiku di depan orang tuaku kemarin. Ternyata tidak. Kakak menahan diri menyumpahiku." kata Sinta.
Nina tersenyum sinis mendengar apa yang Sinta katakan.
"Mungkin kalian pikir aku bodoh, polos yang bisa menerima perselingkuhan kalian di belakangku? Tidak. Justru aku hanya menunggu waktu yang tepat ketika kebusukan kalian terbongkar suatu hari nanti." kata Nina.
Sinta merasa sedikit gemetar. Ia tidak tahun berkata apa pada Nina. Nina meneguk kopinya sedikit demi sedikit.
"Pernikahan kalian lancar?" tanya Nina ketika melihat Sinta yang terdiam lagi.
"Iya, Kak." jawab Sinta pelan. Ia tidak dapat meninggikan suaranya di depan Nina lagi.
"Aku yakin pengacaraku sudah memberikan kompensasi kepada kalian karena aku memutuskan bercerai secara sepihak." kata Nina. Sinta berkeringat dingin. Ia menggenggam jemarinya.
"Aku harus mengatakan apa pada kalian? Ah. Selamat?" tanya Nina menyindir halus pada Sinta. Ia tahu betul bahwa harga dirinya sedang terluka akibat perselingkuhan Doni. Tapi melihat Sinta, ia juga sedikit iba karena dalam usia yang begitu muda harus berurusan dengan Doni.
"Aku tidak bisa berkata banyak, Kak. Aku hanya ingin minta maaf." kata Sinta lagi. Ia tidak menyangka bahwa keberaniannya mengerucut menghadapi Nina seperti ini.
"Baiklah. Akan kucoba memaafkan kalian. Semoga hidup kalian baik-baik saja." kata Nina tersenyum.
"Sepertinya, Mas Doni menyesal telah melakukan perselingkuhan denganku." kata Sinta. Ia tidak tahu harus merespon apa ucapan Sinta. Dan entah mengapa ia menceritakan Doni kepada Nina.
"Benarkah?" tanya Nina terdengar tidak perduli.
"Dulu kami berpikir untuk hidup bersama. Kami mengusahakan yang terbaik agar bisa bersama. Tapi setelah kami hidup bersama, Mas Doni sama sekali tidak bisa nelupakan Kakak." kata Sinta.
Nina tertawa mendengar apa yang Sinta katakan.
"Aku sudah membantu kalian agar bisa hidup bersama. Aku harap kalian bisa memimpikan hidup yang lebih baik."
Nina bersiap akan pergi meninggalkan Sinta. Sekali lagi, Sinta sangat kagum melihat Nina dengan setelan blus baju kerjanya yang sangat cantik.
"Dulu aku mati-matian mengeluarkan air mata untuk kalian. Aku meminta agar kalian berpisah sampai Doni menamparku. Sekarang bagaimana?" tanya Nina pada Sinta.
Sinta hanya diam menatap mata Nina. Riasan make up tipis yang menyatu dengan wajahnya terlihat sangat manis dan cantik.
"Bukankah sekarang giliran kamu yang akan menangis?" tanya Nina tersenyum. Ia senang sekali melihat ekspresi Sinta yang ketakutan seperti ini.
"Mengenai kompensasi yang Kakak berikan..."
"Gunakan saja. Siapa tahu akan lebih berguna jika kamu yang memakai." kata Nina. Ia sudah merasa puas melihat Sinta yang dulu merasa kuat dibandingkan dengan dirinya kini sama sekali kehilangan kekuatannya.
"Maksudku, apakah jumlahnya tidak terlalu besar? Kakak bisa gunakan uang itu untuk Namira." kata Sinta.
Nina tersenyum sinis lagi pada Sinta. Jujur saja, di dalam hatinya ia sangat kesal pada Sinta. Tapi ia juga tidak memungkiri ia sangat kasihan dengan hidupnya. Di usia muda harus mengalami hal yang memalukan seperti ini.
Nina yang tadinya sudah bersiap akan meninggalkan Sinta, kini kembali ke posisi duduknya.
"Sinta. Seperti apa aku dimatamu?" tanya Nina.
Sinta menatap Nina dengan bingung maksud dari pertanyaan Nina.
"Kak Nina baik. Sabar. Dan bisa mandiri." jawab Sinta.
"Hanya itu?"
Sinta mengangguk.
"Kamu tahu kenapa aku tidak merengek atau memohon agar Doni tetap tinggal bersamaku dan menjauhimu? Justru sebaliknya. Aku membiarkan Doni bersama dirimu. Tidakkah kamu bertanya-tanya tentang itu semua?"
Nina mengajukan pertanyaan yang selama ini Sinta ingin tahu kebenarannya. Tapi ia tidak punya keberanian untuk menanyakannya langsung kepada Nina.
"Sejujurnya, aku juga penasaran dengan alasannya."
"Sinta. Aku bukan orang yang mudah. Aku memberikan Doni begitu banyak kesempatan dalam setahun terakhir tapi ia tidak merubah keputusannya kembali padaku. Ia tetap bersama dirimu. Sejujurnya, aku tidak takut kehilangan pria seperti Doni. Karena aku menghidupi diriku dan anakku dari hasil kerja kerasku." jelas Nina. Nina berkata dengan santai. Ia tidak lagi mempedulikan kebenciannya pada Sinta.
Sinta merasakan kepercayaan dirinya sedikit demi sedikit pudar di hadapan Nina.
"Aku pun yakin, alasannya pasti itu. Maka dari itu, Kakak membiarkan kami." kata Sinta pelan.
"Dan uang kompensasi. Kakakku yang memberikan uang itu. Aku tidak tahu berapa jumlahnya. Tapi kalau benar dugaanku sekitar sepuluh juta, itu nominal yang wajar Kakakku berikan. Dan seharusnya Doni dan kamu berterima kasih dengan hal itu."
"Jadi, yang kirim uang itu bukan Kak Nina?"
"Sudah jelas kan? Ada nama pengirimnya di amplop itu?" tanya Nina.
"Entahlah. Aku tidak yakin. Tapi hanya ada cap dari Sujin Grup di amplop itu." kata Sinta.
"Kamu bisa cari apa itu Sujin Grup di internet." kata Nina mengakhiri pembicaraannya dengan Sinta.
Kali ini, Nina benar-benar meninggalkan Sinta. Ia harus kembali bekerja sebelum pergi dari perusahaannya sekarang.