
Nina berjalan dengan percaya diri melewati kerumunan orang yang berada di aula utama. Hari ini adalah acara peresmian Nina sebagai CEO yang akan memegang beberapa cabang Sujin Grup.
Tentu kedatangan Nina mengundang banyak perhatian dan media berdatangan tidak sabar ingin mengambil foto Nina. Nino memperingatkan agar Nina bicara seperlunya saja. Karena ia akan menjadi sorotan di aula utama ini.
Media yang datang adalah media undangan yang meliput berita peresmian Nina sebagai pewaris perusahaan. Nino mendampinginya dan Nina memotong pita di acara peresmian itu.
"Kamu harus percaya diri. Ingat. Kamu disini siapa." bisik Nino. Nina hanya tersenyum mendengar apa yang Nino bicarakan.
Setelah acara pers, Nino mengantar Nina ke ruang kerja pribadinya. Nina sedikit merasa takjub dengan apa yang Ayahnya bangun selama ini. Dulu, ia tidak pernah mau tahu apa yang Ayah lakukan. Karena ia pikir selama ini Ayahnya hanya akan mewariskannya pada Nino.
Tapi kini, Nina melihatnya dengan kacamata yang berbeda. Ia tidak lagi melihat bahwa semua itu akan diberikan pada Nino. Tapi juga pada dirinya. Nina melihat-lihat isi ruang kerjanya yang besar itu. Tidak lama kemudian, Nino datang dengan seseorang yang berada disampingnya. Sekretaris yang Nino bicarakan tadi.
"Nina. Ini sekretaris baru yang akan mencatat jadwal dan keperluan kamu. Namanya Pak Sam." kata Nino memperkenalkan Pak Sam pada Nina. Nina hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya pada sekretarisnya itu.
"Pak Sam, tolong bantu Nina dalam segala pekerjaannya. Berikan info sedetil mungkin padanya yang Bapak ketahui." kata Nino memberikan sedikit arahan pada Pak Sam.
"Baik, Pak."
"Meja kerja Bapak tepat di depan ruangan Ibu Nina. Kalau ada apa-apa, Ibu Nina akan memanggil Bapak melalui telpon." lanjut Nino.
"Baik, Pak." jawab Pak Sam mengangguk.
"Sekarang, Bapak bisa ke meja Bapak dan mengerjakan yang sudah saya berikan tadi." kata Nino. Kemudian Pak Sam pamit meninggalkan ruangan dan tinggallah Nino bersama Nina.
"Mulai sekarang, kamu adalah atasan Pak Sam. Kamu bisa memberi perintah padanya."
"Aku merasa sedikit canggung." kata Nina.
"Itu hanya awalnya saja. Lama-lama kamu akan terbiasa."
Nina mengangguk.
"Lalu, apa yang harus aku kerjakan disini?"
Nino mempersilakan Nina duduk di meja kerjanya.
"Ayo, aku beritahu beberapa hal yang harus kamu kerjakan."
Nino mengetik beberapa password di komputer Nina dan menjelaskan beberapa rincian pekerjaannya.
*****
Ibu Sinta mematikan televisinya. Ia terlihat sedikit shock melihat Nina berada dalam berita televisi. Sinta masuk ke dalam rumah orang tuanya dan menyandarkan diri di sofa ruang tamu.
"Kamu pernah tahu siapa Nina itu?" tanya Ibu Sinta dengan wajah yang sedikit serius.
"Kenapa? Dia kan mantan istrinya Doni." Sinta terdengar tidak acuh dengan apa yang ibunya bicarakan.
"Maksud Ibu, kamu pernah tahu tidak Nina itu siapa dan bagaimana latar belakangnya?"
"Tidak tahu. Aku juga nggak pernah tanya."
Ibu Sinta merasa jengkel dengan anaknya sendiri. Ia memukul lengan Sinta agar Sinta bangun dan mendengar apa yang ia ucapkan.
"Dasar anak bodoh! Seharusnya kamu tahu siapa dia! Kalau kamu bisa dekat dengannya dan minta pekerjaan dengannya, hidupmu bisa sukses dan nggak akan kesulitan begini! Ini kamu malah merebut suaminya! Entah dimana pikiranmu!" omel Ibu Sinta.
"Kenapa Ibu mukul aku sih? Aku mana tahu Nina itu siapa!"
"Nina itu pewaris perusahaan! Dia itu orang kaya raya! Dia punya pabrik dan usaha dimana-mana. Ibu barusan lihat tv dan Nina resmi jadi pemimpin perusahaan dibeberapa pabriknya. Kamu memang benar-benar bodoh! Tidak bisa melihat kesempatan emas!" jelas Ibu membuat mata Sinta terbuka.
Ibu Sinta hanya menghela napas. Menerima sebisa mungkin kebodohan yang telah Sinta lakukan selama ini.
Kini Sinta selalu dibandingkan dengan Nina. Walaupun tidak seberapa, tapi Sinta yakin bahwa Nina memang jauh lebih baik dari dirinya.
*****
Nina sedang mempelajari beberapa file tentang perusahaannya. Nino memintanya agar bisa lebih mendalami dahulu tentang masalah internal agar Nina tidak terkejut dengan masalah eksternal. Nina meminta waktu pada sekretarisnya agar memepelajari semua yang ada di perusahaan. Pak Sam juga bolak balik memberika data yang Nina minta.
Ponsel Nina berdering. Ada telpon masuk dari Doni. Disaat seperti ini, apa yang ingin Doni bicarakan? Nina tidak mengerti lagi.
"Ya?"
"Nina? Apa kabar? Aku kira kamu tidak akan mengangkat telponku." kata Doni terdengar sedikit ceria di seberang telpon.
"Ada apa?" Nina tidak menjawab sedikitpun pertanyaan Doni. Baginya, tidak ada waktu bernostalgia dengan mantan suaminya.
"Aku menelpon karena ingin tahu kabarmu. Apa kamu baik-baik saja?"
"Baik."
"Bagaimana Namira?"
"Sangat baik."
"Begini, kalau kamu punya waktu kosong, apakah kita bisa bertemu..."
"Nggak bisa."
Nina terdengar sangat ketus. Doni memahaminya. Memang terdengar sulit. Tapi itulah yang memang seharusnya terjadi. Luka hati tidak mungkin cepat sembuh begitu saja walau sudah ada surat cerai diantara mereka.
"Oh, begitu ya..." kata Doni terdengar sedikit putus asa.
"Sebenarnya ada apa kamu telpon?"
"Aku cuma mau tau kabar kamu..."
"Bukan karena sudah lihat aku di berita?" potong Nina cepat. Doni sedikit bingung bagaimana harus menjawabnya.
"Yah.. sebenarnya aku memang baru saja melihatmu di berita."
"Tidak usah heran. Berkatmu, aku bisa mencapai posisi ini dengan baik." jawab Nina masih sama ketusnya.
"Nina, aku harap kamu bisa memaafkanku."
"Sudahlah. Tidak ada gunanya membicarakan itu. Justru aku mendoakan kebahagiaanmu dengan Sinta. Aku pikir memang itu yang terbaik untukmu. Dan aku bisa kembali ke tempatku."
"Aku harap kamu bisa bahagia..."
"Saat ini aku jauh lebih bahagia. Tidak ada tekanan ataupun perlakuan kasar yang bisa menyakitiku."
Lagi-lagi, Doni hanya terdiam mendengar perkataan Nina. Memang sedikit sakit mendengar Nina, wanita yang dulu mencintainya bisa bicara sekasar itu padanya. Padahal dulu, Nina terdengar sangat lembut bahkan menuruti semua perkataannya.
"Baiklah."
Nina menutup telponnya tanpa persetujuan darinya. Ya. Mungkin memang sudah seharusnya begitu. Siapa Doni yang berani meminta ini dan itu lagi pada Nina? Doni bahkan sudah bukan siapa-siapa lagi dan ia tidak pantas banyak meminta pada Nina.
Doni sadar dengan dirinya. Dan seharusnya ia berterima kasih pada Nina karena mau bersamanya selama ini. Dengan kesabaran hatinya dan juga keteguhan jiwanya, Nina bisa bertahan dengan Doni yang egois walau sebenarnya Nina tidak pantas menerima perlakuan buruk dari Doni seperti itu.