
Nina kembali ke rumah setelah mengunjungi pabrik hari ini. Ia merasa hatinya berdetak setelah berbicara dengan Fabio. Ada perasaan aneh yang seharusnya tidak datang menghampirinya.
*
"*Percaya yang seperti apa maksudmu?" tanya Nina tidak mengerti.
"Maksudku, apa kamu mempercayakan semua ceritamu dulu padaku?" tanya Fabio.
Nina mengangguk. Ia tidak tahu bagaimana harus merespon ucapan Fabio.
"Kamu baik. Dan selalu mau mendengar keluh kesahku. Aku merasakan kepercayaan padamu. Sebagai teman." jawab Nina.
Fabio tersenyum dan mengangguk mengerti.
"Benar. Sebagai teman aku bisa dipercaya. Begitu pula dengan Nino yang mempercayaiku. Jadi, jika suatu hari kamu membutuhkan bantuanku, kamu bisa menghubungiku, Nina." kata Fabio.
"Ya, pasti. Terima kasih atas perhatianmu, Fabio."
"Ayo kita pulang. Ini kunjungan pertamamu ke pabrik. Pasti melelahkan*."
*
"Sudah sampai, Bu." kata supir memberitahu Nina.
Nina segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Setibanya di rumah, Ayah telah menunggunya di ruang tamu.
"Bagaimana pekerjaan hari ini?" tanya Ayah.
"Berjalan cukup baik, Ayah." jawab Nina.
"Nino bilang pada Ayah kalau kamu cukup cekatan."
Nina tersenyum mendengar perkataan Ayahnya.
"Terima kasih, Nina. Ayah tidak akan meragukanmu lagi." Ayah pun tersenyum dan merasa bangga dengan putrinya.
"Aku permisi ke dalam, Ayah."
"Baiklah."
Nina ingin mengabiskan waktunya dengan Namira. Walau sibuk, Nina tidak pernah melupakan waktunya bersama Namira. Dan Bh Mir, pengasuh Namira, senang sekali melihat keadaan Nina yang sekarang. Penuh tawa dan tidak ada lagi air mata.
"Saya senang, Mbak, melihat Mbak Nina yang sekarang." ucap Bu Mir.
"Bu Mir bisa aja.."
"Iya, Mbak. Saya senang melihat Mbak Nina bisa tertawa dengan bebas. Seperti sudah melepas beban sedikit demi sedikit."
"Bu Mir tahu sendiri. Selama ini saya diperlakukan bagaimana oleh suami saya sendiri. Bahkan terkadang saya seperti mayat hidup yang sebenarnya tahu suami saya pergi kemana tapi saya mencoba pura-pura tidak tahu. Kemudian saya melamun sepanjang malam memikirkan apa yang dia lakukan kepada saya." Nina mengungkapkan perasaannya.
"Wajar, Mbak. Itu manusiawi. Ketika orang merasakan sakit hati, pasti akan begitu." ucap Bu Mir.
"Terima kasih, ya, Bu. Sudah membantu saya menjaga Namira selama ini. Saya bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik Ibu." kata Nina tersenyum.
"Justru saya yang berterima kasih, Mbak. Bekerja sama Mbak saya nggak punya banyak tuntutan. Tapi saya berusaha semaksimal mungkin menjaga Namira." kata Bu Mir merasa senang.
"Sama-sama, Bu."
Nina meminta Bu Mir beristirahat. Karena Nina sudah tiba di rumah dan akan bermain dengan Namira.
*****
"Kamu terlihat murung." kata Sinta begitu melihat Doni tiba di rumah.
"Aku capek " jawab Doni pendek.
Sinta berusaha tersenyum walau respon Doni terasa datar.
"Mandilah. Aku udah siapin air hangat." kata Sinta.
Doni mengangguk. Tatapannya terlihat kosong bagi Sinta. Tapia ia tidak menanyakannya.
Doni merasakan hati yang bergetar ketika melihat Nina di kantornya tadi. Ia merasa penyesalan itu akan selalu ada dan menghantui dirinya. Jujur, Doni kini tidak dapat melepas bayangan Nina begitu saja.
"Kenapa, Mas?" tanya Sinta memperhatikan Doni yang tidak terlalu berselera makan.
"Aku kurang nafsu makan." kata Doni.
"Mas." panggil Sinta sembari menyentuh tangan Doni.
"Besok hari Minggu. Gimana kalau kita jalan-jalan?" tanya Sinta.
"Entahlah. Kalau harus belanja banyak mungkin uangku nggak cukup." jawab Doni.
"Aku dapat masalah di kantor. Aku harus mengganti uang kantor." lanjut Doni.
"Kenapa kamu harus mengganti uang kantor?" tanya Sinta penasaran.
"Ada kesalahan kecil dari laporan yang aku buat dan itu berhubungan dengan uang. Selama dua bulan ini aku harus menyicil dan mengganti kerugian." jelas Doni.
Sinta mengangguk mengerti.
"Nggak apa-apa, Mas. Nanti kita bisa jalan-jalan kalau kamu sudah selesai mengganti uang perusahaan." kata Sinta mengerti maksud Doni.
Doni mengangguk tersenyum. Tapi tatapannya tetap terlihat hampa bagi Sinta. Kali ini Sinta mengerti. Mungkin karena pekerjaannya yang menjadi beban pikiran Sinta. Sinta menahan dirinya agar tidak merengek manja seperti yang ia lakukan dulu.
*****
"Kak." panggil Nina melihat Nino yang sedang berada di kursi taman.
"Ya?"
"Hari ini hari Minggu. Biasanya kerjaan libur kan?" tanya Nina mengambil duduk di sebelah Nino.
"Ya, libur. Terkadang masuk kalau ada hal mendesak saja." jawab Nino.
"Kalau begitu, aku mau memakai waktu liburku buat main bersama Namira."
"Kenapa tidak main di taman saja? Ada omnya disini." jawab Nino terlihat senang mendengar tentang keponakannya.
"Baiklah. Akan ku ajak Namira kesini." jawab Nina senang dan segera mengajak Namira main di taman rumahnya.
Namira terlihat senang berlari kesana dan kemari dengan tawa kecilnya. Walau sesekali terjatuh saat berlari, membuat Nina senang. Nino mengajaknya bermain bola. Nina juga membiarkan pengasuhnya istirahat selagi Nina bermain dengan Namira.
Bu Mir benar. Selama ini Nina jarang terlihat bisa tertawa lepas karena beban yang selama ini dihatinya. Tapi semenjak pindah ke rumah orang tuanya, beban Nina terasa berkurang sedikit demi sedikit. Lebih tepatnya ketika perceraian dengan Doni sudah selesai, Nina bisa bernapas lega.
Hari keluarga memang menyenangkan bagi Nina. Ia bisa menghabiskan waktunya bersama keluarganya. Nina berjanji tidak akan menyia-nyiakan waktunya lagi dengan pilihannya yang salah. Ia tidak akan mengecewakan keluarganya lagi.
*****
Nina baru saja datang ke kantornya diantar oleh supir. Tidak sengaja Nina melihat Doni berada di pinggir gerbang gedung kantornya. Apa yang Pak Sam katakan benar. Bahwa Doni berada di pintu gerbang dan melihat Nina. Nina mencoba mengabaikannya. Ia keluar dari mobilnya dan melihat ke arah tempat Doni berdiri. Doni langsung menyembunyikan dirinya ketika Nina melihatnya.
Untuk apa Doni datang kesini? pikir Nina.
Setibanya di kantor ruangannya, Nina memanggil Pak Sam. Pak Sam dengan cepat datang ke ruangan Nina.
"Ya, Bu?"
"Pak, apa yang Bapak bilang mengenai mantan suami saya yang datang ke kantor, benar. Menurut Bapak, apa yang dia lakukan disana?" tanya Nina.
"Saya tidak yakin, Bu. Tapi menurut rekaman CCTV yang saya cek, mantan suami Ibu langsung pergi meninggalkan kantor setelah kemarin kita pergi ke pabrik." jawab Pak Sam.
"Bapak sudah mengecek CCTV?" tanya Nina.
"Sudah, Bu."
"Coba tolong cek rekaman CCTV pagi ini. Tadi dia menunggu saya lagi. Bawa rekaman itu pada saya." perintah Nina pada Pak Sam.
"Baik, Bu."
"Terima kasih, Pak."
Nina merasakan keanehan pada Doni.
Apa yang dia lakukan di tempat kerjaku? pikir Nina. Nina akan mencari tahu mengapa Doni mendatangi kantornya.