Restless

Restless
In Your Smile I Feel The Tears



Nina menutup telpon dari Doni. Entah mengapa hatinya selalu merasa kesal ketika berbicara dengannya. Nina jadi bertanya-tanya apakah Doni menghubunginya karena telah melihat beritanya di media? Atau karena ingin merujuk dengan dirinya?


Pintu ruangan Nina terbuka. Karina datang dengan ceria dan menyelamati pekerjaan barunya saat ini.


"Ninaaa. Ya ampun Nina, maaf aku nggak datang lebih awal. Aku harus keluar kota kemarin dengan urusan pekerjaanku." kata Karina. Karina langsung menghambur ke pelukan Nina dan tersenyum bahagia.


Nina yang sudah lama tidak bertemu dengan Karina pun merasa bahagia akhirnya bisa bertemu lagi dengannya.


"Aku tahu kamu sudah jadi wanita karir. Tapi kamu datang seperti ini aku yakin kamu pasti khawatir." kata Nina.


"Tentu saja aku terkejut dengan kabar perceraianmu. Aku tidak menyangka kamu akhirnya minta tolong Nino menyelamatkanmu." kata Karina kelepasan bicara.


"Jadi selama ini kamu selalu kontak dengan Nino kan? Aku tahu. Kamu tidak perlu berpura-pura lagi." kata Nina tersenyum mendengar ucapan Karina.


"Aku minta maaf. Aku hanya diminta Nino. Karena dia sangat khawatir denganmu. Dan kekhawatirannya terbukti ketika kamu menelponnya." jawab Karina.


"Sudahlah. Nggak apa-apa. Aku juga nggak merasa keberatan. Justru aku merasa beruntung dikelilingi oleh orang-orang baik yang memperhatikanku." jawab Nina.


"Lalu bagaimana? Namira ikut bersamamu?"


"Iya. Namira bersamaku. Aku masih memberinya ASI. Dan hak asuh Namira otomatis jatuh ke tanganku. Kalau Doni mau macam-macam, aku tinggal panggil pengacaraku." jawab Nina.


"Aku turut bahagia. Kamu kembali ke kehidupanmu yang normal. Jujur saja, kamu kemarin tinggal di rumah sekecil itu membuatku berpikir apakah kamu bisa tidur atau tidak. Syukurlah. Kamu masih hidup keluar dari sana." sahut Karina. Nina hanya menyeringai kecil.


"Sepertinya beberapa orang merasa bersyukur aku bercerai dengannya."


"Mau bagaimana lagi. Doni tidak pantas hidup dengan wanita yang hatinya suci sepertimu." canda Karina.


Nina tertawa mendengar apa yang Karina katakan.


"Aku harap istri barunya tidak merasakan penderitaan seperti aku."


"Buat apa kamu memikirkannya?" tanya Karina tidak mengerti.


"Hubungan mereka hanya diawali dengan nafsu sesaat. Entah cinta seperti itu akan bertahan seperti apa nantinya." jawab Nina.


"Tapi aku yakin, Doni akan selalu membandingkanmu dengan wanita itu. Lihat saja. Doni telah membuang berlian dan memungut sampah di jalanan. Seharusnya dia berterima kasih mempunyai istri sepertimu. Bukannya macam-macam dengan berselingkuh." kata Karina kesal membayangkan Doni yang tidak setia pada Nina.


"Aku harap kamu tidak menangis untuk pria seperti dia lagi."


"Tidak akan. Karena aku akan sibuk dengan pekerjaanku dan membersarkan Namira." Nina tersenyum. Ia sudah merasakan kepercayaan dirinya kembali. Ia berjanji pada dirinya tidak akan terluka atay sedih lagi karena Doni.


"Kamu bisa panggil aku kapanpun kamu mau." kata Karina merangkul bahu Nina.


"Walau tengah malam?" Nina tidak percaya dengan apa yang Karina ucapkan.


"Hm. Kamu bisa panggil aku walau sekedar makan roti tawar dan susu. Aku pasti menemanimu."


*****


Berbeda dengan Nina. Doni merasakan kelam dalam hari-harinya. Ia tidak lagi merasakan bahagia yang ia inginkan atau sesuatu yang membuatnya berdebar setiap harinya.


Dulu, ia seringkali membohongi Nina demi bisa bertemu dengan Sinta. Walau Doni tahu itu salah, ia tetap melakukannya.


Dulu Doni melakukannya karena merasa jenuh dengan Nina yang mengutamakan Namira dan ia pikir Nina tidak bisa melayaninya sebaik Sinta.


Walau servis Sinta terasa memuaskan bagi Doni, tapi tidak dengan keadaannya saat ini. Ia merasakan kerinduan dalam hatinya hidup bersama dengan Nina. Walau sudah bercerai, satu titik sudut dalam hatinya telah merasa bersalah melakukan ini semua pada Nina. Bodohnya, Doni terlambat menyadarinya. Ia baru benar-benar menyadarinya ketika Nina sudah bukan istrinya lagi.


"Mas. Mau makan? Aku tadi dikirimi Ibu soto ayam." kata Sinta. Doni menghela napas dan menatap Sinta.


"Masakan Ibu lagi?" tanya Doni.


"Iya. Kenapa?" tanya Sinta dengan datar.


"Nggak bisa ya kalau kamu masak sesekali?" tanya Doni.


"Aku kan kerja, Mas. Aku juga lagi hamil. Aku gampang capek. Aku udah nyuci. Beberes rumah. Aku harus masak lagi? Nggak keburu, Mas. Belum lagi aku kerja." jawab Sinta.


"Tapi Nina bisa melakukan itu semua. Walau masakannya kadang aku nggak makan, dia tetap masak buatku. Apa kamu nggak bisa kayak Nina?" tanya Doni merasa sesak di dalam dadanya. Ia merasakan sakit karena harus mengingat Nina di depan Sinta.


"Mas, kamu bandingin aku sama Kak Nina?" Sinta merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Aku nggak bandingin. Aku cuma mau kamu bisa belajar masak." Doni membela dirinya sendiri agar ia tidak terlihat menyakiti Sinta.


"Aku tidak pernah meminta memulai ini semua, Mas. Sejak awal kamu yang memintaku menemani kamu. Sekarang seolah-olah kamu menyesal menikahi aku." sahut Sinta.


"Sinta, kamu tahu bukan itu maksud aku..."


"Kamu tahu? Aku bertemu Nina sebelum Nina muncul di televisi. Aku minta maaf padanya. Dan aku ingin mengembalikan uang sepuluh juta yang dia berikan!" kata Sinta sudah mulai emosi ketika dirinya harus dibandingkan dengan Nina.


"Kenapa kamu melakukan hal itu?" tanya Doni tidak percaya dengan apa yang Sinta lakukan.


"Aku pikir sepuluh juta itu besar dan dia bisa pakai buat keperluan Namira, Mas!"


"Nggak perlu, Sinta! Kamu hanya akan menjatuhkan harga dirimu sendiri. Kamu sudah lihat di tv? Siapa Nina sebenarnya? Bahkan dia punya pabrik! Sepuluh juta nggak ada artinya apa-apa bagi dia. Seharusnya kamu tanya padaku!" Doni merasa kesal dengan sikap Sinta apalagi setelah tahu bahwa ia ingin mengembalikan uang yang diberikan Nina.


"Lalu, apa dia menerimanya? Tentu saja tidak." lanjut Doni.


Sinta terdiam dengan apa yang Doni katakan. Benar. Doni benar. Nina bukan orang biasa yang mempermasalahkan uang senilai sepuluh juta. Bahkan sepuluh juta bisa membeli tas branded yang Nina asal tunjuk di etalase toko.


"Berhenti mempermalukan dirimu di depan Nina. Sejak aku masih menikah dengannya, uang bukanlah masalah besar. Masalahnya hanya ada padaku. Aku yang merasa terlalu hebat dari Nina. Karena aku laki-laki. Tapi aku sangat kekurangan memenuhi kebutuhannya." Doni menyudahi pembicaraannya dengan Sinta. Ia tidak bisa melanjutkannya lagi karena akan membuat hati Sinta lebih sakit lagi.


Sinta hanya duduk terdiam di ruang tamu. Menahan air mata yang selama ini ia tahan. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihan di hatinya karena ucapan Doni.