
Fabio baru saja menerima pesan teks dari Nina. Nina mengirimkan pesan yang tidak pernah ia terima.
Yaitu pesan tentang keberadaannya. Dan tidak menyinggung pekerjaan. Fabio sedikit bingung karena tidak biasanya Nina mengirim pesan seperti ini. Karena rasa penasaran, Fabio segera menelpon Nino untuk memastikannya.
"Halo?" jawab Nino di seberang telpon.
"Nino, apa Nina masuk kerja hari ini?" tanya Fabio langsung pada intinya.
"Hari ini Nina ijin. Senin besok baru masuk. Aku berikan ijin karena selama ini dia sudah bekerja cukup keras."
"Sekarang Nina ada dimana?"
"Wow. Nggak sabar ya? Nina cuma pergi ke villa yang ada di puncak aja kok. Kamu mau nyusul dia emang? Kalau iya, aku kirim alamatnya."
"Aku tunggu alamatnya ya. Sekarang."
Setelah telpon dimatikan, Fabio merasa sedikit lega di dalam hatinya. Jika seorang wanita sedang cuti, dan ia memintanya untuk menyusul, pertanda apakah ini? Apa boleh sekarang Fabio berharap lebih pada Nina?
Setelah mendapat alamat dari Nino, Fabio langsung membalas pesan dari Nino secepat kilat.
Thanks. Aku juga ijin ya! Senin besok baru masuk. Bye.
Tanpa pikir panjang lagi, Fabio langsung membereskan beberapa pekerjaannya dan memanggil asistennya di pabrik. Setelah menitipkan beberapa pesan, ia segera mengunci ruang kerjanya.
*****
Hari sudah mulai sore. Nina sudah mengirim pesan singkat pada Fabio. Tapi tidak ada balasan darinya. Nina mengabaikan ponselnya sesaat. Jika memang Fabio sungguh-sungguh ingin mendengar jawaban perihal cintanya, ia pasti akan datang menyusul ke villa hari ini juga.
Nina berjalan menuju dapur. Melihat Ibu penjaga villa yang sedang merapikan beberapa sayuran untuk di petik nanti menjelang malam.
"Sayur apa ini, Bu?" tanya Nina. Jujur saja. Karena warna daunnya sama, Nina suka sedikit bingung membedakan bayam dan juga kangkung.
"Ini bayam, Non. Non suka bayam?"
"Apa aja saya suka, Bu. Karena tinggal makan." jawab Nina tersenyum.
"Panggil saya Bu Asih aja Non. Biar Non nggak bingung." jawab Ibu penjaga villa yang menyebut dirinya Bu Asih.
"Saya daritadi mau tanya tapi nggak enak, Bu."
"Lho, nggak enak ya kasih kucing saja, Non." canda Bu Asih.
Tidak lama kemudian, datang seorang gadis kira-kira berusia lima belas tahun membawa beberapa jagung ke dapur villa.
"Ini Bu, jagungnya." kata gadis manis itu.
"Makasih, ya, Neng. Ini Neng, Non yang punya villa. Namanya Non Nina." kata Bu Asih memperkenalkan anaknya kepada Nina.
"Punten, Teh. Saya Hani. Anaknya Bu Asih." sapa Hani dengan sopan sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Nina." jawab Nina tersenyum.
Bu Asih menyenggol Hani dengan tatapan yang mendelik.
"Kok Teteh? Non. Nona Nina, Neng."
"Eh iya, maaf Non. Saya salah."
"Nggak apa-apa, Bu. Mau panggil apa aja juga gapapa kok. Panggil teteh juga gapapa."
"Ya, Non. Nggak enak. Non kan pemilik villa ini. Masa dipanggil teteh." kata Bu Asih masih tetap menjaga status diantara mereka.
"Bu, saya nggak membeda-bedakan antara Bu Asih, Neng Hani ataupun saya. Bagi saya, Bu Asih dan Neng Hani keluarga saya disini. Jadi jangan merasa sungkan lagi ya, Bu, gapapa kok kalau Neng mau panggil saya Teteh. Sok atuh." jelas Nina ramah.
"Iya, Non. Saya hanya takut nanti dikira lancang sama Non."
"Selama nggak melewati batas, Bu, masalah panggilan saya nggak terlalu masalah kok. Santai saja ya, Bu."
"Syukurlah, Teh. Saya jadi lega. Saya mau bantu Ibu dulu buat siapin makan malam, Teh."
Nina mengangguk.
"Non suka tanaman? Disana ada tanaman yang Hani tanam dan rawat sendiri. Kalau Non mau lihat, Non bisa ke teras depan. Cantik-cantik bunganya, Non."
"Baik, Bu. Kalau gitu saya ke depan teras dulu ya."
Nina berjalan melewati ruang tamu dan menuju teras depan. Benar apa kata Bu Asih. Bunga-bunganya cantik dan warna - warni. Nina jadi semakin kagum melihat tanaman-tanaman segar ini.
Selama ini, Nina hanya melihat tanaman replika di kantornya. Nina mengambil semprotan di dekat karung pupuk. Ia menyemprot sedikit demi sedikit hingga semuanya merata.
Sedangkan Fabio, bertanya-tanya dengan beberapa orang yang baru saja selesai memetik daun teh arah jalan menuju villa yang di maksud.
Setelah bertanya dan menemukan villa besar dengan gaya minimalis, Fabio langsung memasukkan mobilnya dan memarkir mobil di garasi di sebelah villa.
Nina sedikit terkejut dengan kedatangan Fabio. Namun juga merasa bahagia akhirnya pria itu datang menghampirinya. Nina tersenyum dan meletakkan semprotan bunga di meja teras.
"Kamu nggak bilang kalau mau cuti." kata Fabio menghampiri Nina.
"Aku sudah mengirimmu pesan."
"Ya, akhirnya aku tanya ke Nino kamu kemana. Dan aku pun juga segera ambil cuti dadakan." kata Fabio sambil mengambil posisi duduknya di teras.
Nina tersenyum melihat Fabio yang kelelahan datang kemari.
"Kenapa kamu datang hari ini? Aku kan sudah bilang besok pagi."
"Untuk apa aku menunggu besok kalau aku bisa datang kesini sekarang?" jawab Fabio merapikan rambut Nina yang sedikit terlihat berantakan.
Nina pun mengambil posisi yang nyaman duduk disamping Fabio.
"Jadi, kenapa kamu memutuskan cuti? Sebelumnya kamu tidak pernah cuti." tanya Fabio penasaran.
"Tidak ada alasan. Aku hanya merasa lelah dengan kegiatanku sehari-hari. Jadi aku datang dan ingin bebas sebentar dari beberapa kewajibanku." jawab Nina.
"Termasuk Namira?"
"Aku sudah menitipkannya pada Nino."
"Aku yakin dia paman yang baik."
"Entahlah. Apa Nino suka anak kecil atau tidak. Aku tidak pernah melihatnya mengajak Namira bercanda."
Fabio meraih tangan Nina dan menggenggamnya. Genggaman tangan Fabio hangat. Dan ia merasa aliran darah di tubuhnya mengalir sangat cepat dan terasa panas.
"Aku masih belum mendapat ijinmu. Tapi aku akan melakukannya hanya jika kamu mengijinkanku." kata Fabio terdengar sedikit serius.
"Apa itu?"
"Aku ingin sekali menjagamu dan Namira."
Nina terdiam dan menunduk. Hatinya berdebar kencang dan ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Sejujurnya, aku sangat takut punya komitmen lagi."
Fabio tidak menanggapinya. Ia hanya diam dan mendengarkan apa yang selama ini tidak pernah didengar dari Nina tentang perasaan hatinya.
"Aku sangat terluka diperlakukan tidak adil oleh Doni. Bahkan aku harus bangkit melawan rasa sakit hatiku dengan kesuksesanku. Dan kamu tahu pasti apa yang sedang aku jalani sekarang. Kalau kamu meminta aku bersamamu dan aku harus menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, maaf, sepertinya aku tidak bisa." kata Nina.
"Untuk apa aku memintamu begitu?" tanya Fabio.
"Aku hanya merasa takut kalau suatu saat nanti kamu memintaku begitu. Aku harus menjauhi hal-hal yang aku suka. Seperti bekerja."
"Untuk apa aku memintamu berhenti bekerja? Aku tahu kamu hebat dalam hal itu. Jangan jadikan momen bersamaku dan Namira menjadi penghalangmu untuk bekerja."
"Jadi maksudmu..."
"Tidak terpikir sedikitpun keegoisanku ketika aku mencintai kamu, Nina. Aku ditolong oleh Nino sehingga aku bisa dipercaya menjadi penanggung jawab di pabrik. Itu berkat perusahaanmu. Sekarang kamu berusaha meneruskan perusahaanmu agar tidak jatuh dan kamu bekerja siang dan malam. Aku tidak memintamu berhenti dari semua itu, Nina. Aku menghormati setiap keputusanmu. Apapun itu." jelas Fabio dengan lembut.
"Bagi sebagian pria, wanita itu hanya dirumah dan menjaga anak bukan?"
"Itu berlaku ketika kamu bersama Doni. Tidak denganku. Selama kamu bisa bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan, lakukanlah Nina. Selama Namira ada pengasuh yang bisa dipercaya, kamu bisa mempunyai waktu untuk dirimu sendiri. Kenapa tidak? Kenapa pula harus kaku dengan aturan jaman dulu jika wanita harus diam di rumah dan menjaga anak saja? Aku hanya ingin bersamamu dan Namira. Aku ingin menjadi pasangan hidupmu dan tidak mengekang apapun yang kamu dan Namira sukai."
Nina merasa sedikit lega dengan penjelasan Fabio sore ini. Ia merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan jika Fabio berkata seperti itu. Sudah menjelang malam. Matahari pun sudah mulai terbenam. Aroma masakan sudah mulai tercium dari dalam villa.
Nina membalas genggaman tangan Fabio dan mengatakan sesuatu dengan pelan.
"Aku harap aku tidak salah telah membuka hatiku padamu, Fabio..."
Fabio tersenyum dan meraih dagu Nina. Dengan perlahan Fabio memagut bibir Nina yang lembut. Nina pun membalas ciuman yang telah Fabio berikan pada dirinya.