
Setelah melalui banyak hal, Nina mencoba menghirup udara segar di pegunungan. Ia merasa dirinya sedikit santai dari kegiatan sehari-hari.
Nina mengambil cuti di akhir pekan. Ia ingin menjernihkan pikiran dan hatinya. Namira sengaja ia titip ke pengasuh. Karena ia benar-benar ingin memutuskan sesuatu dengan benar kali ini.
Iya. ini adalah tentang pengakuan cinta Fabio. Sudah cukup lama ia menutup pintu hatinya untuk orang lain. Tapi hatinya merasa gemetar ketika Fabio menyatakan cintanya pada dirinya.
Sebelum datang ke villa di pegunungan, Nina sempat meminta izin cuti pada Nino.
"Cuti? Berapa hari?"
"Dua hari saja cukup untukku."
"Baiklah. Lagipula kamu sudah bekerja keras selama ini. Aku akan minta Pak Kim untuk mengatur ulang jadwal rapatmu hari ini."
"Terima kasih ya, Kak."
Nina mengambil kunci mobil yang ada di laci ruang tamu.
"Sebenarnya ada apa? Aku tahu kamu ingin menenangkan pikiran. Tapi apa tidak masalah lain selain masalah kantor?" tanya Nino merasa cemas.
"Nggak ada, Kak."
"Sebelum kamu pergi, aku ingin memberitahumu sesuatu." kata Nino dengan serius.
"Kenapa Kakak serius sekali?" Nina tertawa renyah mengabaikan wajah serius Nino.
"Aku tahu kamu pernah terluka di masa lalu. Dan sekarang Doni sudah tiada. Bisakah kamu berdamai dengan hatimu dimasa lalu?"
Nina terdiam mendengar pertanyaan yang Nino tanyakan.
"Fabio menyukaimu. Dia tidak berharap kamu bisa membuka hatimu dengan cepat. Karena dia tidak mau memaksamu. Tapi aku juga tidak akan menghalangi kamu untuk mendapatkan kebahagiaanmu sendiri. Disamping itu aku juga mengenal Fabio dengan baik."
Nina tersenyum mendengar ucapan Nino yang mencemaskan dirinya.
"Baiklah. Aku akan memikirkannya selama cuti ini."
Nino bernapas lega dengan jawaban Nina. Ia bersyukur perlahan Nina mulai membuka kembali hatinya.
"Nikmatilah hari liburmu dengan santai."
"Aku titip Namira ya, Kak."
"Tentu. Kamu bisa mengandalkan kami."
*****
Nina memejamkan matanya. Udara dingin dipagi hari membuatnya sangat segar. Sebentar lagi akan menjelang siang. Penjaga villa sudah membuatkan makan siang untuk majikannya.
Nina akan makan apapun yang disediakan oleh penjaga villa. Ia tidak meminta macam-macam.
"Sudah siap, Non, makan siangnya." kata penjaga rumah memberitahu.
Nina mengulas senyum yang manis dan bangun dari rebahannya yang sangat nikmat.
"Baiklah. Ibu disini saja makan denganku."
"Jangan, atuh, Non. Masa saya makan sama Non."
Nina tertawa kecil.
"Memang kenapa? Saya nggak punya teman makan."
"Apa boleh, Non?"
"Iya, Bu. Sudah, saya tidak mau membeda-bedakan antara Ibu dan saya. Kita duduk bareng dan makan bersama ya, Bu."
"Baik, Non."
Nina mulai menyendok nasi yang disusul oleh Ibu penjaga villa.
"Saya nggak tahu, Non, apa makanan ini cocok sama Non atau nggak. Saya mencoba masakan terbaik saya. Sayur asam, ayam goreng, sambal, ikan asin, tahu dan tempe."
"Saya justru sangat jarang makan ini, Bu. Saya senang sekali bisa makan ini lagi."
Nina dan Ibu penjaga mulai mengobrol seperti biasa. Tidak ada jarak dan batasan antara Nina dan pekerjanya.
"Iya, Bu. Makanya saya mau libur kerja dulu. Saya pusing dan mau istirahat sebentar disini."
"Iya, Non, disini sejuk. Udaranya juga dingin. Nggak ramai kendaraan lewat. Jadi Non bisa istirahat dengan tenang."
"Iya, Bu. Betul. Makanya saya lebih pilih datang kesini daripada saya harus liburan di pantai." Nina tersenyum lagi.
"Saya dengar Non sudah menikah. Anaknya nggak dibawa, Non?" tanya Ibu penjaga.
"Saya sengaja nggak bawa anak saya dulu, Bu. Karena tujuan saya mau menenangkan diri. Saya ingin mengambil sebuah keputusan, Bu. Jadi kalau anak saya ikut, saya tidak bisa berpikir dengan baik karena dia pasti ngajak main saya terus. Mungkin selanjutnya saya akan ajak anak saya kemari, Bu." jawab Nina.
"Apa ada yang mengganggu pikiran, Non?"
"Entahlah saya bisa cerita ini atau tidak sama Ibu. Tapi saya memang ada yang sedang mengganggu pikiran saya."
"Kalau masalah pekerjaan saya nggak bisa bantu, Non. Saya nggak tahu kerjaan di Jakarta itu seperti apa." sahut Ibu penjaga dengan tawa yang renyah.
"Bukan, Bu. Baru-baru ini mantan suami saya meninggal. Saya sudah lama pisah sama dia karena dia menghamili wanita lain. Masalahnya bukan disitu, Bu. Masalahnya adalah saya masih belum yakin membuka hati saya untuk pria lain. Padahal sudah ada seorang pria dengan tulus mengungkapkan cintanya pada saya, Bu."
"Oh, masalah cinta ya, Non."
Nina tersenyum.
"Dulu pernah ada yang bilang pada saat Ibu muda. Lebih baik bersama orang yang mencintai kita daripada yang kita cintai. Karena kita selalu merasa bahagia ketika dicintai bukan? Dia bisa melakukan apapun agar kita menjadi orang yang paling bahagia di dunia. Dan perlahan hati kita akan melunak dan terbuka. Dia tidak akan mau melakukan hal yang membuat kita kecewa. Walau dia akan menghabiskan energi agar kita bisa mencintainya, itu tidak akan membuatnya menyerah."
Nina terdiam mendengar dengan baik apa yang Ibu penjaga katakan. Nina mengangguk dan tersenyum.
"Itu ada yang bilang pada Ibu waktu muda. Tapi menurut Ibu benar juga, Non."
"Iya, Bu. Betul juga apa yang Ibu bilang. Saya cuma takut saya akan tersakiti lagi seperti dulu."
"Kalau begitu, buatlah perjanjian sebelum berkomitmen, Non. Supaya sama-sama enak."
Nina kembali tersenyum mendengar ucapan Ibu.
"Ibu lebih berpengalama dari saya ya, Bu. Saya dulu gegabah dan sembrono buru-buru menikah. Walau akhirnya saya menyesal."
"Nggak apa-apa, Non, menyesal itu wajar. Tinggal bagaimana memperbaiki penyesalan itu agar tidak menjadi sesuatu hal yang sia-sia." nasihat Ibu penjaga lagi.
"Iya, Bu. Terima kasih ya, Bu."
"Sama-sama, Non. Saya berdoa Non bisa menemukan kebahagiaan yang tepat, Non."
"Amiiin."
Nina menaruh piring kosongnya dan segera bangkit ingin membersihkan lauk yang masih tersisa.
"Saya saja, Non. Non istirahat saja. Pokoknya kalau ada saya semua rapi, Non."
"Makasih ya, Bu. Nanti malam temanu saya cari makan di luar ya, Bu."
"Baik, Non."
"Saya ke kamar ya, Bu."
Nina segera menuju ke kamar dan mengingat apa yang Ibu penjaga katakan. Kata-katanya sedikit mengubah hati Nina yang awalnya ragu menjadi sebuah keyakinan.
Rencana awal, Nina hanya ingin sendiri malam ini di villa. Tapi entah mengapa ia butuh seseorang berada disampingnya. Hatinya meluap dengan rasa rindu yang semakin dalam. Ia segera mengambil ponselnya dan mengetik beberapa kata di ponselnya.
Hari ini dan besok aku mengambil cuti.
Saat ini aku berada di Villa Flamboyan di puncak.
Kalau kamu bisa menyusulku kesini, aku akan tunggu besok pagi.
Tanpa berpikir panjang lagi, Nina segera mengirimkan pesan itu kepada Fabio.
Ia tidak ingin menyesal dengan sia-sia karena mengabaikan Fabio yang mencintainya dengan tulus.