Restless

Restless
Mom's Calling



Doni sedikit pusing di kantor. Beberapa hari ini hatinya merasa tidak tenang. Hatinya berkali-kali mengatakan penyesalan telah melakukan ini semua pada Nina. Ponsel Doni berbunyi. Ada telpon masuk dari Ibunya. Doni keluar dari ruang kerjanya dan mengangkat telpon Ibunya.


"Halo, Bu." sapa Doni di seberang telpon.


"Doni, apa yang terjadi sama kamu dan Nina? Nina bilang kalian sudah bercerai. Itu bohong kan? Itu hanya omong kosong Nina saja kan? Ibu sudah yakin, dia pasti membual tentang itu. Apa yang terjadi sama kalian?" Ibu tidak berhenti bicara pada Doni. Kepala Doni semakin terasa sakit mendengar ocehan dari Ibunya.


"Ibu telpon Nina?" tanya Doni. Perasaannya semakin tidak karuan.


"Iya, dia tidak terima Ibu nasehati. Katanya kamu sudah bukan suaminya lagi. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa dia bicara begitu?"


Nada bicara Ibu semakin meninggi. Doni paham, Ibunya pasti emosi dengan menantu yang menentangnya.


"Doni sama Nina sudah berpisah, Bu. Jadi Ibu tidak perlu bicara ini dan itu lagi pada Nina." jawab Doni.


"Gimana bisa? Kalian nggak ada masalah apa-apa tapi bercerai? Kalau begitu, Ibu mau ke Jakarta saja sekarang! Masalah kalian tidak jelas. Akan Ibu datangi Nina dan menasehatinya juga!"


"Dua hari yang lalu, kami sudah resmi bercerai. Nina bukan menantu Ibu lagi. Ibu tidak perlu melakukan hal yang tidak perlu." kata Doni.


"Ya, tapi kenapa? Kenapa bisa sampai seperti ini? Ada masalah apa?" Ibu mulai gemas dengan Doni. Sampai detik ini ia belum mendapat jawaban mengapa Doni dan Nina berpisah.


"Doni menikah lagi, Bu. Itu sebabnya Nina meminta bercerai."


"Menikah lagi? Bukankan sudah biasa laki-laki itu menikah lagi? Kenapa Nina bersikap seperti itu?"


"Ibu, tidak perlu membelaku. Aku melakukan kesalahan. Tidak perlu menyalahi Nina." kata Doni.


"Tapi, Doni... Tidak seharusnya Nina meninggalkan kamu seperti itu, Doni." Ibu semakin terdengan frustasi dengan keadaan anaknya sekarang ini.


"Ibu, tidak perlu bersikap seperti ini."


"Astaga, Doni... Kenapa kamu melakukan ini?"


Ibu tidak dapat berkata banyak lagi. Ia menangis dan Doni hanya mendengarkannya melalui telpon. Pastilah hati Ibu sangat sakit mendengar perpisahan dari anaknya. Terlebih ia tidak tahu menahu dengan perpisahan anaknya yang dirasa secara tiba-tiba. Ibu pasti merasa sedih dan juga kecewa.


*****


"Akhirnya, kamu harus pergi juga dari perusahaan ini." kata Fabio di sebuah makan siang bersama Nina.


Ia tersenyum dengan lembut menatap Nina.


"Ya. Aku tidak menyangka kalau akan keluar dari perusahaan ini. Terlebih lagi aku tidak tahu kalau kamu adalah sahabat Nino. Tentu kamu tidak bisa menolak permintaannya." jawab Nina yang juga mengulas senyum di wajahnya.


"Iya, benar. Aku dan Nino sudah bersahabat sejak di bangku sekolah. Kami sudah lama tidak bertemu." kata Fabio.


"Aku harap suatu hari nanti kalau kita bertemu kita bisa saling menyapa." Nina meminum air di gelasnya. Ia merasakan sedikit canggung ketika berbicara dengan Fabio. Ia mencoba menghilangkan rasa canggung dihatinya dengan meminum sedikit air.


"Iya, Nina. Ku harap juga begitu."


Ini adalah hari terakhir Nina berada di perusahaan yang sama dengan Fabio. Selama ini kedekatan yang dirasakan cukup memiliki arti bagi Nina. Entah ini hanyalah perasaan sementara atau bukan. Ia tetap menikmati kebersamaannya dengan Fabio. Fabio ramah, baik dan juga perhatian.


Siapa yang tidak luluh dengan orang seperti Fabio. Bahkan jika Nina memang benar luluh dengan Fabio, ia harus menahan dirinya. Ia harus bisa menyadarkan dirinya jika statusnya bisa saja merugikan Fabio.


Nina mengulurkan tangannya pada Fabio.


"Aku berterima kasih selama ini kamu sudah membantuku."


Fabio terlihat bingung. Bagaimana ia harus menanggapi Nina. Di satu sisi, ia merasa bahagia karena Nina akhirnya bisa mendapatkan pekerjaan lebih baik dari yang sekarang. Di satu sisi, ia juga sedih karena harus berpisah dengan Nina secepat ini.


Fabio tersenyum kemudian menjabat tangan Nina.


*****


Doni menelpon Nina. Ia yakin ada yang harus dibicarakan dengannya mengenai telpon Ibunya. Agar tidak ada salah paham, Doni pun belum mengabari keluarganya di kampung. Jadi ia sedikit khawatir dengan hal itu.


"Halo?" sapa Nina di seberang telpon.


"Bisa kita bertemu, Nina?" tanya Doni dengan perlahan. Ia takut jika salah bicara dengan Nina.


"Ada apa?" tanya Nina tanpa menjawab pertanyaan Doni.


"Aku ingin bertanya tentang Ibu menelpon." kata Doni. Tanpa menjawab iya atau tidak, Nina menanyakan pertanyaan lain.


"Oh, kenapa?"


"Apakah kamu memberi tahu pada Ibu alasan kita bercerai?"


"Tidak."


"Ibu pasti mengganggumu dengan nasihatnya. Mohon kamu bisa memakluminya." kata Doni mencoba tersenyum walau hatinya tidak ingin tersenyum.


"Ya."


"Sepertinya akan sulit kalau sekarang aku meminta bertemu denganmu." kata Doni lagi. Ia berpura-pura putus asa agar Nina sedikit mengiyakan permintaannya untuk bertemu.


"Katakan pada Ibumu, jangan mengangguku dengan nasihat-nasihatnya. Yang benar saja. Dia menyuruhku diam di rumah mengurus anak dan suami. Sedangkan suamiku ada main dengan perempuan lain. Apa aku sedang bermain sinetron yang hanya akan menangis dan bersabar melihat tingkah laku suamiku?" kata Nina pedas. Doni hanya diam dan tidak menjawab apa yang Nina katakan.


"Maafkan Ibuku, Nina."


"Sudah ya. Aku harus pergi." kata Nina terburu-buru kemudian menutup telponnya.


Doni menelan kepahitan kembali. Nina yang sekarang ia telpon, bukan lagi Nina yang ia kenal dulu. Nina yang sekarang adalah Nina yang hanya akan peduli dengan dirinya dan juga karirnya. Ia tidak peduli lagi dengan apa yang Doni katakan.


Karena baginya, Doni bukanlah bagian dari dalam hidupnya yang begitu penting. Doni berusaha tersenyum dan mengendalikan dirinya dan juga emosinya.


Pulang dari bekerja, Doni terlihat murung. Ia tidak seperti biasanya. Sinta yang melihatpun sedikit bingung dengan emosi Doni yang berubah-ubah belakangan ini.


"Mas? Kenapa?" tanya Sinta.


"Ibuku menelpon. Menanyakan keadaanku dengan Nina." jawab Doni.


"Lalu?"


"Aku harus bilang apa? Aku bilang aku bercerai dengannya karena aku menikah lagi."


"Kamu memperkenalkan aku dengan Ibumu?" Sinta mulai terdengar sumringah karena yang dibicarakan adalah orang tua Doni.


"Bagaimana aku bisa mengatakannya dan bahagia atas hal itu? Aku saja tidak berpikir bagaimana perasaan Ibuku saat ini." jawab Doni sedikit kesal.


"Ya, pelan-pelan saja. Nanti juga Ibumu mengerti. Kalau Ibumu datang kemari, pasti aku akan melayaninya dengan baik." kata Sinta dengan senyum di wajahnya.


"Bagaimana bisa? Nina saja tidak tahan dengan ucapan Ibuku. Nina baru bisa menjawab ucapan Ibuku setelah bercerai. Aku mau tahu kalau Ibuku datang kamu akan berkata apa." kata Doni berharap tidak terlalu banyak pada orang tua Doni.


"Lho, itu kan Nina. Bukan aku."


Doni hanya diam mendengar jawaban Sinta. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi mengenai hal ini.