
Sinta tergesa-gesa menuju ruangan yang Nina maksud. Ia merasa takut. Ia tidak bisa menahan air matanya lagi. Suara tangisnya pecah ketika melihat Nina yang berdiri tepat di depan kamar jenazah itu.
Nina hanya bisa melihat kesedihan hati Sinta yang ditinggal oleh Doni.
Kesedihan yang selama ini tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sinta dulu memang pernah merebut Doni darinya. Seiring berjalannya waktu, Sinta berubah dari gadis yang tidak tahu sopan santun menjadi wanita berhati baik.
Ya. Walau membenci Sinta karena kejadian masa lalu, Sinta tetaplah wanita yang rapuh ketika sesuatu terjadi menimpa Doni.
Terlebih lagi, Doni sekarang sudah tiada. Sinta tidak bisa menemuinya lagi. Hanya wajah dengan mata Doni yang tertutup yang bisa ia pandangi sekarang.
Perasaan benci Nina pada Sinta pun sudah tiada. Nina bisa sepenuhnya menerima Sinta.
Nina menghampiri Sinta. Diraihnya bahu Sinta yang bergetar. Menyentuhnya dan memeluk Sinta dengan erat. Nina membiarkan Sinta menangis sepuasnya. Nina hanya bisa mendampingi dan menepuk punggung Sinta dengan perlahan.
*****
Tidak lama setelah mengabari keluarga Doni, Nina memberitahu Sinta bahwa keluarga Doni menginginkan Doni dimakamkan di kota kelahirannya.
"Aku sudah telpon keluarga Doni. Mereka meminta agar Doni dipulangkan ke Kediri." kata Nina. Sinta menoleh pelan ke arah Nina. Dengan mata sembabnya, Sinta mengangguk perlahan.
"Lagipula, Mas Doni tidak punya keluarga disini, Kak. Akan lebih baik dia dimakamkan di dekat keluarganya saja." kata Sinta bijak.
"Doni akan dibawa oleh mobil. Aku akan menyediakan fasilitas itu. Kamu ikutlah ke Kediri." saran Nina.
"Aku.. Apa aku pantas datang ke keluarga Mas Doni, Kak?" tanya Sinta merasa khawatir.
"Kenapa tanya begitu? Kamu istrinya."
"Tapi Ibu tidak pernah menyukaiku." jawab Sinta merasa pesimis.
"Jangan berpikiran yang macam-macam. Sekarang bagaimana caranya Doni bisa sampai di Kediri dan kamu pun juga ikut kesana."
"Bagaimana sama Kak Nina?" tanya Sinta.
"Aku nggak bisa ikut. Tapi nanti aku akan telpon Ibu. Nanti aku sewakan supir dan mobil untuk kamu dan keluargamu."
Sinta menunduk dan menitikkan air mata lagi.
"Aku tidak pernah tahu kalau Kak Nina sebaik ini. Aku jadi merepotkan Kakak terus. Apalagi ini hari pertama aku masuk kerja.. "
"Tidak ada yang tahu dengan apa yang terjadi pada Doni. Kita pun tidak menginginkannya." ujar Nina.
Sinta kembali memeluk Nina. Entah bagaimana ia harus mengucap terima kasih atas bantuan Nina selama ini.
"Aku sangat berterima kasih, Kak. Kakak sudah membantuku selama ini. Merelakan semua masa lalu yang terjadi. Aku sangat berterima kasih, Kak." Kata Sinta.
Nina tersenyum dan kembali menepuk punggung Sinta.
*****
Nina pulang ke rumah dengan rasa lelah. Doni akan dibawa jenazahnya ke kampung halamannya. Dan Sinta akan mengurus itu semua. Nina tidak boleh merasa gelisah lagi apakah Sinta akan mengurusnya demgan baik atau tidak. Pastilah Sinta akan mengurusnya. Karena Doni adalah suaminya.
"Kamu baru pulang, ya?" tanya seseorang yang suaranya sangat dikenali oleh Nina.
"Fabio? Kamu ada disini?" tanya Nina bingung. Ia melihat jam dinding yang ada di ruang tamu. Jam setengah sebelas malam.
Fabio tersenyum dan mengambil tempat duduk bersebrangan dengan Nina.
"Aku kemari karena khawatir. Kata Pak Kim, kamu cepat-cepat pergi dari kantor." kata Fabio.
"Ada apa kamu ke kantor?"
"Aku belum sempat memberikan laporan bulanan. Yang bertanggung jawab di pabrik kan aku. Jadi aku yang seharusnya memberikan laporan bukan?" kata Fabio tersenyum.
"Padahal kamu tidak perlu repot. Cukup kirim pakai ekspedisi saja."
"Ya beda dong. Kalau pakai ekspedisi aku tidak bisa datang kesini."
Nina hanya tersenyum mendengar ucapan Fabio.
"Lalu ada apa ke rumah?"
"Nino memintaku menginap. Katanya daripada aku tidur di hotel. Sayang uang."
"Aku tadi dapat telpon. Doni kecelakaan dan dia meninggal."
"Jadi pada saat kamu pergi, kamu ke..."
"Aku ke rumah sakit Polri." jawab Nina.
Fabio terlihat sedikit bingung.
"Polisi menelponku katanya nomorku nomor terakhir yang ada di panggilan keluar." jelas Nina.
Fabio mengangguk.
"Selebihnya yang mengurus Sinta. Padahal Sinta baru masuk setengah hari kerja. Dan dia sudah ijin seminggu." jawab Nina menyeringai.
"Kamu merasa bersalah dengan kematian Doni?"
Nina terkejut dengan pertanyaan Fabio yang seperti itu.
"Untuk apa aku merasa bersalah?"
"Wajahmu mengatakan begitu."
"Aku hanya tidak percaya kalau dia dipanggil secepat itu."
"Baiklah. Sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat. Besok siang kita ketemu makan siang ya. Setelah itu aku akan kembali ke pabrik." Fabio tidak ingin terlalu lama membicarakan Doni. Terlebih, Doni sudah tiada. Ia tidak ingin mendengar apapun tentang Doni.
Nina hanya mengangguk. Menatap punggung Fabio dengan rasa rindu yang membuncah.
Nina hanya tidak tahu bagaimana harus bersikap menghadapi Fabio. Semenjak disakiti Doni, Nina belum siap membuka hatinya untuk orang lain.
Tapi berbeda dengan Fabio. Walau terkesan tidak ingin mendengar semua yang dikatakan Nina tentang Fabio, Fabio tidak melontarkan kata-kata yang menyakiti hati Nina.
Bukan. Bukan ingin membicarakan Doni malam ini. Tapi Nina hanya bingung bagaimana ia seharusnya menghadapi Fabio.
*****
Setelah mendekati jam makan siang, Nina mulai merapikan kertas dokumennya. Ia ingat punya janji makan siang dengan Fabio di restoran seberang kantor. Ia mengatakan pada Pak Kim bahwa ia akan keluar makan siang.
"Kamu udah nunggu lama?" tanya Nina mulai duduk berhadapan dengan Fabio.
"Aku juga baru datang. Baru habis secangkir kopi." jawab Fabio terdengar santai.
"Itu namanya sudah daritadi." jawab Nina tersenyum.
"Mau pesan apa? Aku baru saja pesan steak dengan mashed potato."
Nina melihat menu yang ada di meja. Dan melambaikan tangan memanggil waitress.
Nina memesan steak dan salad.
"Aku tidak melihat Nino pagi ini." kata Nina.
"Iya, dia langsung ke kantor. Katanya ada meeting. Kalau aku baru saja keluar dari rumahmu."
"Aku juga tidak melihatmu di meja makan pagi ini."
"Tapi kamu melihatku disini sekarang duduk berhadapan denganmu kan?" kata Fabio membuat Nina tidak tahu harus berkata apa lagi.
Setelah beberapa saat, pesanan mereka datang. Nina yang sudah merasa lapar, terlihat bingung dengan nampang yang berisi steak, salad dan juga sebuah kotak kecil dengan desain elegan.
"Apa ini? Aku tidak pesan ini."
"Oh ya? Kalau begitu, berarti aku yang memesannya." Fabio terdengar santai. Seolah dia sudah tahu apa yang ia rencanakan hari ini.
Nina membuka kotak kecil itu yang ternyata berisi cincin berkilauan. Cantik sekali. Dengan batu safir yang melekat dengan indah disana.
"Fabio, ini maksudnya...."
Fabio tersenyum. Memandang Nina dengan penuh kasih. Sedangkan Nina masih tidak tahu harus bahagia seperti apa yang ia ekspresikan ketika melihat cincin dengan permata indah disana.