Restless

Restless
Divorce



Pulang dari kantor Nina, Sinta mengecek ponselnya dan mencari berita tentang Sujin Grup yang disebutkan Nina. Betapa terkejutnya Sinta setelah mengetahui siapa Nina sebenarnya. Pantas saja dia memberikan kompensasi pada Doni begitu banyak.


Nina adalah salah satu anak konglomerat di negeri ini. Yang rela menikah dengan Doni dan hidup susah. Setelah tahu bahwa Doni selingkuh, Nina tidak akan pernah khawatir akan kekurangan harta. Sinta merasa dirinya bodoh sekali sekarang. Dulu ia menyepelekan Nina karena Doni sering mengatakan hal yang buruk tentang Nina. Bahkan jarang sekali Doni melihat sisi baik dari Nina selama bersama dirinya.


Sinta menepuk bantal dan beristirahat. Ia merasa lelah sekali. Setelah menikah dengan Doni, ia baru merasakan betapa sulitnya hidup yang ia jalani. Ditambah, Doni ternyata tidak terlalu peduli dengan dirinya.


*****


Nina memandangi makan siangnya. Ia tidak terlalu lapar. Mengingat pertemuannya dengan Sinta tadi membuat Nina sedikit lega karena bisa melampiaskan sebagian kekesalan dirinya selama ini.


"Kenapa?" tanya Fabio yang melihat Nina melamun.


"Kamu tidak suka dengan makan siangnya?" tanya Fabio lagi sambil menyenggol Nina sedikit membuatnya tersadar.


"Iya, aku tidak terlalu lapar. Jadi aku akan makan mungkin tidak habis." kata Nina.


"Ada sesuatu yang kamu pikirkan?"


Nina tersenyum. Tidak pernah ia merasakan perhatian seperti ini. Ia juga menjaga dirinya agar tidak terjatuh dalam setiap perhatian yang Fabio berikan.


"Entahlah. Selama aku tersakiti, aku terus berpikir bagaimana harus membalas suamiku. Selama ini dia terus membuatku menderita dengan sikapnya. Berkali-kali aku memaki Doni dan selingkuhannya di dalam pikiranku. Tapi pada kenyataannya, aku tidak bisa melakukannya." jawab Nina.


"Pelan-pelan saja. Seiring berjalannya waktu, kamu pasti bisa melupakan rasa sakit itu dengan sendirinya." sahut Fabio tersenyum.


"Aku harap juga begitu. Mudah-mudahan saja sidang perceraian tidak berlangsung lama. Aku tidak tahan harus berurusan dengan dia." kata Nina tanpa memandangi Fabio seolah berbicara sendiri.


"Aku tidak tahu harus berkata apa. Karena aku pun tidak mengalaminya. Aku hanya bisa mendukungmu agar bisa melalui semua ini." kata Fabio.


"Aku berterima kasih. Kamu sudah mau mendengar ceritaku selama ini. Mungkin kamu sudah bosan dengan semuanya." Nina tersenyum pada Fabio.


"Hei. Tidak perlu begitu. Aku senang menjadi tempat ceritamu. Aku akan memberimu semangat supaya kamu punya sandaran ketika kamu sedih nanti."


Deg.


Apa ini? Mengapa Fabio mengatakan itu? Sandaran? Mungkinkah Fabio telah menyiapkan dirinya sebagai 'tempat sampah' jika Nina berada dalam kesulitan seperti ini?


"Lalu bagaimana dengan Namira? Sudah mulai belajar berjalan?" Fabio memgalihkan pembicaraannya. Ia tidak ingin membahas Doni lebih banyak lagi. Ia takut akan mengganggu privasi Nina.


Nina kembali tersenyum. Seolah tidak mengalami kejadian apapun. Walau di dalam hatinya ia merasakan sedikit berdebar.


"Namira sudah mulai berjalan. Sebentar lagi rumahku akan ramai dengan suara langkah kakinya dan teriakannya."


Fabio tertawa kecil mendengar cerita Nina tentang Namira. Ia bahagia ketika melihat Nina tersenyum tanpa beban.


*****


Hakim mengetuk palu sebanyak tiga kali. Sidangpun selesai. Kini Doni dan Nina telah resmi bercerai. Selama persidangan, Nina tidak pernah datang sama sekali. Hanya Doni yang datang dalam persidangan.


Setelah keluar dari ruang persidangan, pengacara Nina menyalami Doni dan berterima kasih atas kerjasamanya selama ini.


"Terima kasih, Pak Doni. Persidangan ini selesai lebih cepat dari waktu yang saya perkirakan." kata Pengacara itu.


"Nina tidak datang sama sekali." kata Doni tidak terlalu mendengar apa yang pengacara itu katakan.


"Oh, ya. Nona Nina sibuk dengan beberapa pekerjaannya. Lagipula sudah ada saya yang mewakilinya." kata Pengacara itu.


"Iya, Pak. Nona Nina baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak." Pengacara itu akhirnya berpamitan dengan Doni.


Sedangkan Doni duduk dengan lemas di kursi tunggu depan ruang pengadilan. Menatap beberapa lembar kertas yang ia pegang.


Pernikahannya dengan Nina sudah berakhir. Ia sudah bukan lagi suami Nina. Perasaannya terasa kosong. Ia tidak pernah berpikir bahwa akan berakhir menyedihkan seperti ini.


Ingin sekali Doni menemuinya dan memeluk Nina seperti yang biasa ia lakukan dulu. Tapi tidak bisa. Nina sudah menjadi masa lalu Doni. Tidak mungkin Nina akan kembali padanya walau hanya sehari.


Doni pulang dengan lemas. Ia masih mengambil cuti dari pekerjaannya. Karena sidang perceraiannya telah menyita banyak waktunya.


"Kamu sudah pulang? Bagaimana persidangannya?" tanya Sinta begitu melihat Doni sampai di rumah.


Doni meletakkan map coklat berisi berkas perceraiannya.


"Pengacara Nina meminta agar aku tidak berbelit dalam persidangan. Jadi persidangan selesai lebih cepat." jawab Doni menghela napasnya dan mengganti bajunya.


"Jadi?"


"Aku telah resmi bercerai dengan Nina. Tidak perlu khawatir." jawab Doni. Sinta tersenyum mendengar jawaban Doni.


"Aku juga mau berangkat kerja nanti. Kamu di rumah terus atau mau pergi?" tanya Sinta.


"Aku capek. Aku mau tidur saja. Besok aku kembali kerja." Doni mengambil posisi yang nyaman diatas tempat tidurnya.


Sejujurnya, hati Doni sangat terluka ketika harus mendengar ketukan palu hakim di ruang sidang. Kini, sudah tidak ada kesempatan bagi dirinya bersama Nina lagi. Salah satu jembatan bagi dirinya dan Nina hanyalah Namira.


Tapi bagaimana ia bisa melihat Namira? Bahkan menggendongnya saja Doni hampir tidak pernah melakukannya. Ia tidak yakin apa masih bisa dipertemukan dengan Nina atau tidak.


"Baiklah. Nanti akan kusiapkan makanan." kata Sinta keluar dari kamar.


Doni memejamkan matanya. Mengingat kembali wajah Nina yang selama ini menghiasi hidupnya. Betapa bahagianya ketika mereka pertama kali bertemu. Nina sangat cantik dan wajahnya selalu tersenyum.


*****


"Coba lihat. Kamu suka yang mana?" tanya Nina pada Doni. Ia memberikan beberapa baju dengan desain edisi terbatas pada Doni. Desain gambar motor adalah kesukaan Doni.


"Aku suka ini. Memang kamu dapat darimana baju ini?" tanya Doni.


"Aku punya banyak stok. Dan ini desain terbaru." jawab Nina tanpa memperhatikan Doni yang kebingungan.


"Maksud kamu?" Doni masih belum mengerti dengan apa yang Nina katakan.


"Keluargaku punya pabrik konveksi. Dan ini beberapa desain terbaru dari perusahaan keluargaku." jawab Nina.


"Jadi maksud kamu, kamu menjual baju-baju ini dengan bikinan sendiri?" tanya Doni tidak percaya.


"Iya. Kenapa?"


Doni tersenyum menggelengkan kepalanya. Ia merasa percaya dirinya menurun. Sejak mendengar itu, Doni selalu merasa rendah dimata Nina. Bagaimana bisa ia menikah dengan orang seperti Nina? Nina bukan berasal dari keluarga biasa. Bahkan jika dirinya tidak bekerja, Nina akan tetap mendapat uang.


Doni mencari cara bagaimana jika ia menikahi Nina dan tidak terpengaruh oleh keluarganya. Doni tidak ingin dipandang rendah oleh keluarga Nina sebagai seorang laki-laki.