
Sinta merasakan perutnya mengalami keram tiba-tiba. Memang, sudah sejak kemarin ia merasakan perutnya kontraksi. Tapi tidak sekencang ini. Ia merasakan keringat dingin keluar dari pelipisnya.
"Aduh, Kak..."
"Sinta, Sinta. Kamu kenapa Sinta?" tanya Nina khawatir dengan keadaan Sinta yang sudah mulai merintih kesakitan di perutnya.
"Aku dari kemarin udah kontraksi, Kak. Tapi Nggak sekencang dan sekuat ini rasanya."
Nina mulai terlihat panik. Ia segera memanggil pengasuhnya dan juga Namira agar segera pulang dan menuju mobil.
"Aku antar kamu ke rumah sakit!" kata Nina sambil membantu Sinta berjalan.
Sinta merasa susah untuk berjalan. Ia menahan napas sesekali karena perutnya terasa sakit sekali. Nina sekuat mungkin memapah Sinta untuk sampai di mobilnya.
Nina melajukan mobilnua dengan sedikit agak cepat namun tetap hati-hati.
"Sabar, Sinta. Setelah sampai di rumah sakit, aku akan telpon Doni!" kata Nina.
"Nggak apa-apa, Kak. Hmmmppphh.." Sinta sebisa mungkin menahan sakit yang ada di perutnya.
"Kak.. Rasanya aku mau buang air kecil..." kata Sinta lemas.
"Tahan dulu, Sin! Kita nggak tahu itu air ketuban atau apa. Kamu tarik napas, buang napas, Sin."
Namira sedikit bingung melihat Nina yang panik seperti itu. Tidak pernah sebelumnya ia melihat Nina berteriak panik seperti ini.
"Mama appa?" tanya Namira tidam jelas namun masih dapat dimengerti.
"Nggak, Sayang. Itu Tante Sinta mau melahirkan. Jadi Mama harus buru-buru ke rumah sakit." jawab Nina seadanya.
****
Tulilit... Tuliilliiittt....
Ponsel Doni berdering tiada henti sejak tadi. Nina menelponnya. Ada apa? Tumben sekali?
Doni segera mengangkat telpon dari Nina.
"Halo, Nina?"
"Kamu ke rumah sakit sekarang! Sinta mau melahirkan! Alamatnya nanti aku kirim lokasi ke kamu!" kata Nina diujung telpon dengan suara panik.
Sinta mau melahirkan? Dengan cepat Doni membereskan pekerjaannya dan meminta ijin pulang lebih awal. Tapi kenapa Sinta bisa bersama dengan Nina?
"Meri, apa aku bisa ijin setengah hari? Sinta mau melahirkan. Aku sepertinya harus cepat kesana." tanya Doni.
"Bisa sih. Tapi absenmu akhir-akhir ini kurang bagus. Apa nggak sayang kalau performa kamu turun bulan ini?" tanya Meri meyakinkan sebelum Doni benar-benar ijin pulang. Sebenarnya ini sudah jam empat sore. Satu jam lagi dia sebenarnya sudah bisa pulang.
"Aku juga ragu sih."
Doni terlihat berpikir sebentar.
"Istrimu sama siapa?"
"Sama Nina."
"Lho, kenapa mereka bisa bertemu?" tanya Meri. Ingin sekali rasanya ia tertawa. Tapi mau bagaimana. Keadaan seperti ini mana bisa ia tertawa.
"Aku tidak tahu. Baiklah aku tunggu satu jam lagi saja
Semoga Sinta nggak kenapa-kenapa."
Doni akhirnya kembali ke meja kerjanya. Ia merasa khawatir dengan Sinta yang sebentar lagi akan melahirkan itu.
Nina bolak balik melihat layar ponselnya. Doni masih belum juga muncul. Sedangkan Sinta dengan kuat menahan sakit yang dialaminya. Dahinya sudah bercucuran air keringat yang tiada hentinya.
"Mas Doni belum datang, Kak?" tanya Sinta. Sudah mau jam lima sore. Sudah satu jam lebih Sinta mengalami kontraksi dan belum ada tanda-tanda ia akan melahirkan.
"Aku sudah telpon dia. Tapi dia belum juga datang."
jawab Nina.
"Nggak apa-apa, Kak. Mungkin Mas Doni masih sibuk." jawab Sinta.
"Ya nggak bisa begitu dong. Kamu kan mau melahirkan. Seharusnya dia ada disini nemenin kamu!" protes Nina.
"Kemarin Mas Doni melakukan kesalahan di kantor. Dia harus membayar hutang kantor. Dan aku memaklumi kalau dia kerja lembur. Dia juga hampir dipecat. Jadi aku nggak mau terlalu memaksa dia buat nemenin aku. Aku nggak apa-apa, Kak."
Hari ini, detik ini juga, Nina melihat sisi lain dari Sinta. Selama ini Sinta sudah menebus semua rasa bersalahnya pada Nina. Ia juga menjadi pribadi yang lebih baik. Tutur katanya juga tidak sekasar dulu. Ternyata memang benar apa yang orang lain bilang. Kalau pengalaman yang dialami seseorang, bisa mengubah orang kapan saja. Dan itu terjadi pada Sinta.
Nina menguatkan Sinta. Ia menggenggam tangan Sinta.
"Kamu kuat ya, Sinta. Aku yakin kamu pasti bisa melahirkan anak kamu. Kamu juga sehat dan selamat."
Sinta tidak kuasa menahan air matanya. Hatinya begitu pedih. Dengan segala kebaikan Nina selama ini. Sinta tidak bisa membalas kebaikan Nina yang sudah diberikan.
"Aku minta maaf, Kak. Entah berapa kali aku akan minta maaf sama Kak Nina. Yang pasti kali ini aku benar-benar minta maaf. Aku juga berterima kasih. Aku nggak bisa membalas semua kebaikan Kak Nina. Tapi apapun yang Kak Nina minta, aku akan menurutinya. Aku benar-benar punya banyak hutang budi sama Kak Nina." kata Sinta terisak.
Hati Nina tersentuh. Nina berharap kali ini Sinta benar-benar berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
"Aku sudah memaafkan kamu, Sinta, sejak aku bisa berdamai dengan perasaan hatiku. Sekarang kamu kumpulkan tenaga agar bisa melahirkan anak yang sehat ya." kata Nina.
Sinta mengejan semakin keras.
"Aku nggak kuat, Kak. Aku benar-benar mulas. Tolong panggilkan suster!" kata Sinta.
Nina langsung beranjak dari tempat duduknya dan berteriak memanggil suster.
Sinta merasa ada cairan yang keluar dari vaginanya. Sustet yang datang melihat sudah ada darah di tempat tidur Sinta dan juga kaki Sinta.
"Sudah pembukaan sembilan, Bu! Ayo kita bawa ke ruang bersalin!"
Sinta mengejan lebih kencang, ia tidak sanggup menahan mulasnya kontraksi. Ternyata begini. Ternyata seperti ini rasanya melahirkan. Sakit. Lemas. Harus berjuang sepenuh tenaga.
Bagaimana bisa dulu Sinta meremehkan badan orang yang sudah punya anak? Bagaimana bisa dulu Sinta memandang sebelah mata Nina? Kalau pada akhirnya, ia sendiri merasakan pedih dan sakitnya melahirkan.
Sinta mengejan sekuat tenaga. Ia ingin melahirkan dengan selamat dengan bayi yang sehat. Ia tidak berpikir apakah Doni mau datang atau tidak. Itu sudah terserah saja. Sejak mengalami kontraksi, tidak terbersit sedikitpun kalau Doni akan datang. Ia hanya memikirkan bagaimana bisa melahirkan anaknya dengan selamat.
Setelah proses persalinan berakhir, Sinta merasa lemas sekali. Ia mendapat tujuh jahitan di vaginanya yang robek karena melahirkan. Sinta melahirkan bayi perempuan. Sangat cantik dan mirip dengannya.
Setelah bayi dibersihkan, bayi diperbolehkan tidur bersama ibunya untuk mendapat disusui. Tapi apa daya, tenaga yang Sinta keluarkan terlalu banyak. Ia merasa lemas. Bahkan untuk membuka matanyapun ia tidak sanggup.
"Kamu masih lemas?" tanya Nina.
"Iya, Kak."
"Doni sudah datang. Aku berikan bayi ini pada suster di ruang bayi supaya kamu bisa istirahat. Nanti Doni bisa melihatnya di ruang bayi." kata Nina
"Aku berterima kasih, Kak..." kata Sinta lemah.
"Kalau kamu ingin berterima kasih, bekerjalah di kantorku." jawab Nina.
Sinta mengangguk. Tersenyum. Betapa beruntungnya ia dipertemukan oleh orang sebaik Nina.