Restless

Restless
Let It Go



PLAAAKKK!!!!


Ayahnya memukul pipi Sinta. Ia tidak menyangka telah membesarkan seorang anak perempuan dan merebut suami orang lain.


"Dimana hati kamu, Sinta? Ayah malu punya anak seperti kamu! Kamu hamil dengan suami orang lain!" Ayah Sinta sangat murka. Wajahnya memerah. Dan Sinta hanya memegangi pipinya yang panas. Sinta menangis.


"Mbak Nina ini sudah memperingati kamu dan kamu mengabaikannya. Kamu...."


Ayah Sinta benar-benar sangat murka. Ia memandangi Doni pun dengan sangat marah. Tapi ia juga malu melihat Nina.


"Saya mohon maaf kepada Mbak Nina. Tapi saya juga sangat malu memintanya. Saya tahu bahwa Mbak Nina sudah menikah. Tapi saya juga tidak menyangka bahwa ternyata anak saya...." ucapan Ayah Sinta terpotong. Belum sempat menyelesaikan pembicaraannya, Nina tersenyum kembali.


"Tidak apa-apa, Pak. Jika memang benar suami saya menghamili anak Bapak, saya persilakan agar suami saya bertanggung jawab." kata Nina.


"Apakah itu mungkin, Mbak Nina? Kami takut itu akan menyakiti hati Mbak Nina sendiri." Ibu Sinta justru mengkhawatirkan Nina jika suaminya menikah lagi dengan anaknya sendiri.


"Mungkin saja, Bu. Karena saya akan bercerai dengan suami saya." jawab Nina.


Doni kembali menatap Nina. Ada masalah yang belum terselesaikan dengan Sinta. Begitu pula dengan Nina. Doni merasa terpojok dengan keadaan saat ini.


"Bercerai?" ulang Ibu Sinta tidak percaya. Ia merasa hatinya hancur karena ulah anaknya sendiri yang harus menghancurkan kehidupan rumah tangga orang lain.


"Iya. Awalnya saya pikir saya punya kesalahan dalam diri saya. Tapi setelah saya pikir lagi, kalau suami saya benar-benar peduli pada keluarganya, dia tidak akan mencari kebahagiaan lain. Karena dia sudah punya Namira. Anak kami. Sudah berulang kali saya berharap suami saya akan berubah. Tapi ternyata sama saja. Jadi lebih baik saya lepaskan." jawab Nina.


Sinta dengan wajah yang penuh dengan air mata menatap Nina. Ia tidak bisa mengucap sepatah katapun. Nina tersenyum melihat keadaan Sinta seperti ini.


"Saya boleh pamit dulu, Bu, Pak? Selanjutnya bisa dibicarakan dengan suami saya." kata Nina segera bangkit berdiri. Ia sudah tidak tahan duduk berlama-lama disana.


Selain keadaannya sudah membuat hatinya sesak, ia juga sudah tidak sanggup melihat wajah Sinta dan Doni yang saling bertatap.


Ayah dan Ibu Sinta mempersilakan Nina meninggalkan rumahnya. Doni pun mengikuti Nina yang keluar dari rumah Sinta.


Ia mengejar Nina masuk ke dalam rumahnya dan menarik tangan Nina.


"Kamu serius? Kamu benar-benar akan bercerai denganku, Nina?" tanya Doni sekali lagi. Ia merasakan putus asa di dalam hatinya.


"Menurutmu bagaimana? Aku harus rela di madu oleh pria seperti kamu?" tanya Nina dengan sinis.


"Apa?"


"Kamu lihat? Sinta tidak bisa berkata apapun. Mana Sinta yang banyak bicara kemarin itu? Dia cuma bisa menangis karena kamu hamili! Sebagai laki-laki, apa sikapmu yang lebih pantas?" tanya Nina lagi.


"Nina, Nina. Aku mohon. Kamu bisa mengerti aku. Aku sangat mencintai kamu, Nina. Tapi.. tapi aku juga mencintainya."


DENG!!!


Nina seperti pernah mendengar ucapan Doni ini. Dimana ia pernah mendengarnya? Atau kapan? Ucapan Doni ini terasa tidak asing baginya.


"Apa mungkin bagi seseorang mencintai dua wanita dalam satu tempat?" tanya Nina. Ia tertawa dengan apa yang Doni katakan. Ia tidak percaya akan benar-benar mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya.


"Aku tidak tahu bagaimana takdirku akan berjalan. Tapi aku harap aku bisa bersamamu. Aku ingin melewati semua ini bersamamu." kata Doni. Ia mulai bersimpuh di hadapan Nina. Ia memohon pada Nina agar tidak meninggalkannya.


"Aku tidak bisa, Doni. Aku bisa mencintai seseorang dengan waras dan akal sehatku. Biar kamu memohon seperti ini, itu tidak akan membuatku luluh." Nina bersikeras dengan pendiriannya. Ia sudah terlalu lelah dengan permintaan maaf dari Doni yang seperti ini. Entah masalah apa lagi yang akan ia hadapi jika ia mau menerima permintaan maaf Doni.


"Karena aku kasihan pada Namira yang punya Ayah seperti kamu, aku harus memotong racunnya agar tidak bertumbuh kembang hingga berbuah." jawab Nina.


Doni menghela napas. Ia tidak bisa meyakinkan Nina lagi. Walau sebenarnya ia ingin sekali mengatakan bahwa ia menyesal telah berselingkuh dari Nina.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan sekarang? Benar-benar tidak ada jalan lagi agar aku kembali padamu, Nina?" tanya Doni dengan pasrah.


"Nikahilah Sinta."


Tidak lama mendengar jawaban dari Nina, sebuah mobil sedan hitam terparkir di depan rumah Nina. Doni sedikit melihat dari jendela siapa yang datang ke rumahnya.


Doni terkejut melihat Nino, kakak Nina datang ke rumahnya.


"Kamu memberitahu kakakmu?" tanya Doni tidak percaya. Wajah Doni semakin tegang. Keringatnya mulai mengucur dari peluhnya. Ia menyeka keringatnya.


Nina memperhatikan wajah Doni yang amat gemetar. Nina tahu persis, bahwa Doni takut dengan Nino. Nina tidak punya pilihan lain. Ia tidak mau terlibat dalam pernikahan yang tidak bahagia dengan Doni seperti ini.


Nino mulai masuk ke dalam rumah Nina yang tidak terlalu besar. Ia melihat Doni yang sedang bicara pada Nina. Ia tersenyum dan menyapa Doni yang terlihat lusuh.


"Dua lebih menikahi Nina, kamu tinggal di tempat seperti ini?" tanya Nino melihat-lihat sekeliling rumahnya yang tampak sederhana.


"Kak.." Doni berusaha tersenyum melihat kedatangan Nino yang tiba-tiba. Ia juga mengendalikan wajahnya yang tegang.


"Mbak, saya sudah rapikan baju Namira dan Mbak di tas ini. Hanya ini yang ada, Mbak." kata pengasuh Namira yang telah menyiapkan dua koper besar dan beberapa tas kecil berisi keperluan Nina dan Namira.


Doni semakin bingung dengan apa yang terjadi.


"Nina, ada apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba begini padaku?" tanya Doni sedikit panik.


"Nina tadi telpon saya. Nina minta saya buat menyelamatkan dia dan Namira. Karena kamu punya affair dengan tetangga disini. Saya langsung cepat datang kemari." kata Nino menjelaskan. Sedang Nina menyuruh pengasuhnya membawa tas itu ke depan rumah.


"Aku udah nggak bisa hidup sama kamu lagi, Doni. Dulu aku mau menikah denganmu, karena aku pikir kamu orang sederhana yang punya ambisi besar dengan mimpimu. Dan kamu juga pekerja keras. Tapi ternyata aku salah. Kamu hanya suka wanita-wanita yang datang padamu dan haus perhatian. Tapi ketika kamu menikah, seharusnya kamu tidak melakukan itu. Setia pada satu wanita yaitu istrimu dan berusaha membahagiakan anakmu. Terlepas aku sibuk mengurus anak setelah melahirkan, itu sudah kodratku menjadi ibu dan juga seorang wanita. Kamu tidak bisa memperlakukan wanita seperti itu, Doni." jelas Nina menatap Doni dengan tajam.


Kata-kata Nina telah menghujam jantung Doni. Sehingga ia sulit rasanya ingin bernapas. Merasakan detak jantungnya saja pun tidak bisa.


"Besok ada pengacara yang akan mengurus surat perceraian. Tentang harta gono gini, kamu tidak perlu khawatir. Aku datang kemari, kalau-kalau kamu lupa Nina berasal dari keluarga mana. Nina tidak akan mengambil uangmu sepeser pun." kata Nino.


"Nina..." panggil Doni. Hatinya sudah hancur lebur. Dan dirinya sendirilah yang membawa ke dalam kehancuran itu.


"Nina, Kakak tunggu di mobil sama Namira ya." kata Nino meninggalkan mereka berdua. Ia segera membantu pengasuhnya memasukkan tas koper ke dalam bagasi mobil.


Nina menatap Doni dengan rasa iba. Air matanya tidak dapat ia tampung lagi. Sudah sejak tadi Nina menahan sesak didadanya.


"Kamu mau minta maaf lagi?" tanya Nina lirih. Ia tidak sanggup berbicara pada Doni. Hatinya ingin berteriak. Ia ingin sekali memukul kepala Doni saat ini agar bisa berpikir lebih jernih.


"Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Tapi... Aku.. Aku menyesal Nina." Doni tidak kuasa menatap mata Nina. Nina pasti sudah terluka karena dirinya. Maka dari itu, sudah sepantasnya Nina menghubungi keluarganya. Selama ini sudah terlalu banyak sabar yang Nina berikan pada Doni.


"Bisa nggak, kamu kasih satu aja kebahagiaan buat aku dan Namira? Selama ini kamu selalu mengutamakan Sinta. Tapi kamu lupa, kalau aku ini ada sebagai istrimu." ucap Nina. Ia tidak mengharap jawaban Doni. Ia hanya berbicara sendiri.


Doni hanya terdiam mendengar apa yang Nina katakan. Setelah itu, Nina pergi meninggalkan Doni dan rumah yang pernah mereka tinggali bersama dengan air mata.


Aku menyerah. Aku tidak ingin tersakiti lagi. Sudah cukup aku merasakan kepahitan dalam pernikahanku. Aku juga mau merasakan kebahagiaan. Setidaknya, kebahagiaan yang bisa aku berikan untuk Namira.