Restless

Restless
Come Back Home



Hampir tengah malam, Nina tidak bisa tertidur. Ia memikirkan dimana Doni sekarang atau paling tidak dimana Doni tidur. Ia memandangi Namira buah hatinya yang selama ini ia harapkan bisa menjadi cahaya dalam hidupnya. Hatinya terlalu sakit mengingat apa yang Doni lakukan hari ini.


Tidak lama kemudian, Nina mendapat telpon masuk. Dari Meri. Nina segera mengangkatnya.


"Halo. Nina?" sapa Meri dari seberang telpon.


Sebenarnya Nina sedikit malas mendapati telpon dari Meri. Tapi ia mencoba menerima keadaan. Seperti inikah takdir harus mempermainkannya sedemikian rupa?


"Iya, Meri. Ada apa?" tanya Nina lemas. Ia memang sedikit memelankan suaranya agar Namira tidak terbangun.


"Kamu baik-baik aja?" tanya Meri terdengar khawatir.


"Ya. Begitulah." jawab Nina.


"Doni di rumahku." kata Meri memberitahu. Baru saja Nina akan bertanya tapi Meri sudah berbicara menjawab semua pertanyaan Nina.


"Tenang. Aku nggak ngapain-ngapain kok. Dia juga udah tidur di ruang tamu." jelas Meri.


"Oh, begitu."


"Aku nggak tahu apa yang kalian berdua alami. Tapi tadi aku sempat nasihati dia."


Nina masih terdiam mendengarkan Meri berbicara.


"Kamu nggak usah khawatir apapun tentang aku. Aku udah menjauh dari Doni sekarang." kata Meri.


"Iya. Dan dia sekarang ada main sama tetanggaku disini." jawab Nina terdengar santai. Meri justru terkejut dengan apa yang Nina katakan.


"Apa? Benar begitu?"


"Iya. Dan aku kesal. Doni tidak bisa berubah. Dia selalu mengira aku bisa memaafkannya. Tapi hatiku juga sakit." jawab Nina.


"Ya. Dia memang tidak bisa merubah dirinya. Dimanapun dia berada, dia selalu membuat masalah." kata Meri.


"Bagaimana kalau aku sudah tidak bisa bertahan lagi?" tanya Nina. Sepintas Nina berfikir jika ia berpisah dengan Doni.


Meri tidak menjawab. Ia terdiam sesaat memikirkan jawaban.


"Aku meninggalkan keluargaku. Aku meninggalkan pekerjaanku dan pindah kerjaan. Aku mengubur mimpiku. Sampai berada di tahap ini cukup sulit bagiku. Tapi dengan tenangnya, Doni memperlakukan aku seperti itu dengan alasan sepele yang tidak masuk akal." Nina sedikit bercerita pada Meri. Nina menyandarkan kepalanya yang lelah ke dipan kasurnya.


Entahlah. Nina sepertinya sedikit melupakan jika Meri dulu adalah rivalnya. Tapi kenapa sekarang ia bercerita pada rivalnya ini?


"Aku tidak menyalahkanmu." jawab Meri.


"Kalau kamu sudah yakin, aku tidak bisa menghalangimu. Karena Doni memang begitu. Kamu hanya perlu memikirkan Namira." lanjut Meri.


Meri meluruskan kakinya yang lelah. Ia tidak tahu bahwa bicara dengan Nina bisa senyaman ini.


"Dari dulu aku berharap Doni berubah. Tapi kenapa semakin harapanku besar, semakin besar pula Doni menghancurkan hatiku." suara Nina bergetar. Ia tidak bisa menahan tangisnya.


"Menangislah, Nina. Karena saat ini kamu memang lelah. Nggak ada salahnya kamu menangis."


Nina kemudian menangis. Ia tidak menyangka bahwa Meri bisa semenyenangkan ini diajak bicara. Ia benar-benar telah salah menilai Meri selama ini.


"Terima kasih, Meri."


Meri mengangguk. Walau ia sadar, Nina tidak dapat melihatnya.


*****


Esoknya, Doni pulang ke rumahnya. Ia tidak menyapa Nina, begitu pula sebaliknya. Nina tidak menyapa Doni. Nina hanya sibuk mengurus Namira dan bicara dengan pengasuhnya.


Setelah sudah jam pulangnya pengasuh Namira, Nina pun hanya tetap fokus mengurus Namira. Ia tidak mempedulikan kedatangan Doni.


"Sudah pulang? Biasanya pulang malam." potong Nina. Ia tetap fokus pada Namira dan tidak menoleh ke arah Doni sedikitpun.


"Aku mau menjelaskan kalau aku nggak ada apa-apa sama Sinta." lanjut Doni. Tapi Nina benar-benar tidak menggubris Doni. Ia beraktivitas seolah-olah tidak ada Doni disana.


"Kalau sudah, silakan mandi. Makan malam sebentar lagi mau ku siapkan." kata Nina tidak acuh.


Doni pun tidak berusaha menjelaskan apa-apa lagi. Ia kemudian mengambil handuknya dan masuk ke kamar mandi.


Suasana di rumah terasa dingin. Doni tidak bicara sepatah katapun. Begitu pula Nina. Doni berusaha mencari topik pembicaraan. Apa yang kira-kira mau ia tanyakan pada Nina?


"Kamu ke kantor hari ini?" tanya Doni membuka percakapan.


"Ya." jawab Nina singkat.


"Naik ojek?"


"Ya."


"Nggak telat kan?"


"Nggak."


Menyadari betapa dinginnya Nina, Doni mulai bicara lembut padanya.


"Kamu masih marah, Nina?"


"Kalau kamu sudah selesai, taruh piringnya di belakang." kata Nina tidak menjawab pertanyaan Doni.


Nina hendak bangkit dari duduknya. Tapi Doni menahan tangannya.


"Kita bicara sebentar." kata Doni. Nina kembali duduk dan melipat tangan di dadanya dan kakinya. Dulu, ketika Ibunya mengajari sikap Nina yang seperti ini, bahwa itu adalah isyarat penolakan. Iya. Nina sama sekali tidak ingin bicara apapun pada Doni.


"Aku minta tolong, kalau kamu tidak marah, kamu bisa bersikap seperti biasa padaku."


Nina tidak menjawab. Tapi ia membatin dengan kesal di dalam hati.


"Aku hanya berteman dengan Sinta."


Nina masih terdiam.


"Aku mohon, lupakan kejadian kemarin."


Nina kembali merasa kesal dengan apa yang Doni katakan. Melupakan? Semudah itu?


"Doni, kalau kamu punya hati nurani, seharusnya kamu tidak bicara begitu." kata Nina.


"Lalu bagaimana? Apa yang harus aku lakukan supaya kamu bisa memaafkanku?"


Nina terdiam sesaat. Memikirkan apa yang harus ia katakan.


"Tidak perlu." jawab Nina sedikit sinis.


"Aku rasanya bosan sendiri kalau kamu terus bersikap seperti ini." kata Doni.


"Lalu menurutmu aku harus bicara apa? 'Hai, Mas Doni, wah kamu sudah pulang? Kamu dari mana saja?' atau 'Ya ampun, Mas Doni, nggak usah dipikirin itu kan sudah berlalu..,' begitu?" tanya Nina sedikit menyindir Doni.


"Mas, orang sakit kalau mau sembuh butuh waktu. Nggak bisa satu atau dua hari sembuh. Nah, kemarin kamu baru saja membela Sinta di depan mataku dan lebih parahnya kamu menampar aku. Adakah permintaan maaf darimu, Mas?" tanya Nina sedikit tegas dari intonasi suaranya. Doni tidak dapat berkata-kata.


"Aku salah. Tapi kamu tidak perlu begini, kan, Nina?"


Nina hanya diam memandangi suaminya. Entah dimana pikirannya. Dia yang berbuat salah, dia juga ingin dimaafkan begitu cepat oleh Nina.