Restless

Restless
Happiness



Doni menunggu dengan cemas di dalam rumah. Nina mengingat perkataan Karina agar menutup mata dan telinganya drngan apa yang Doni lakukan. Setidaknya ia melakukannya untuk anaknya.


"Tumben kamu pulang cepat." kata Nina melepas sepatu dan menaruh tasnya.


"Iya. Aku langsung pulang." jawab Doni pelan.


Doni meraih tangan Nina. Ia menatap Nina dengan dalam. Mata Nina sedih dan terluka.


"Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan kalau kamu seperti ini terus." kata Doni. Nina ingin tersenyum dan mengatakan bahwa semua tidak apa-apa. Tapi entah kenapa, hatinya begitu sesak.


"Aku minta maaf." kata Doni. Sedikit perasaan Nina mengosong sudah. Hatinya terasa lega. Ia bisa mengulas senyumnya kembali.


Doni memeluk Nina. Dan air mata mengalir di pipi Nina.


"Entah kenapa aku bisa melakukan hal seperti itu."


Nina melepas pelukannya. Dan menatap Doni.


"Aku masih belum tahu pasti kamu akan mengulang perbuatan itu atau nggak. Tapi Entah apa yang akan aku lakukan kalau hal ini terulang lagi." kata Nina.


Doni mengangguk. Nina mengambil handuknya dan langsung masuk ke kamar mandi. Ia lelah seharian ini dengan pikiran yang ada di kepalanya. Dengan sikap Doni. Dan dari cerita Dian. Tapi paling tidak, bebannya sekarang sudah berkurang.


Nina sedikit senang karena Doni sudah meminta maaf pada dirinya. Ia bahagia dan berharap pernikahannya tidak ada lagi noda seperti ini. Walau rasanya masih kesal, Nina yakin, seiring berjalannya waktu, semua akan pulih kembali seperti sedia kala.


Esoknya, Nina menyiapkan sarapan seperti biasa. Biasanya, Nina hanya menyiapkan potongan buah dan juga roti isi telur. Tapi hari ini, Nina sudah membuat nasi goreng dengan isian ayam dan telur. Memang terlihat sederhana. Tapi Nina membuatnya agak banyak karena ia juga akan membawakan bekal untuk Doni.


"Hari ini kamu bawa bekal ya." kata Nina. Doni bersorak bahagia karena tidak setiap waktu Nina bisa membawakan bekal untuknya.


"Akhirnya. Terima kasih istriku. Kamu sudah hamil cukup besar apa nggak capek? Kalau kamu nggak bisa menyiapkan semua ini juga nggak apa-apa kok." kata Doni mengelus perut Nina.


"Selagi aku masih bisa, kenapa enggak?" Nina tersenyum memandangi wajah Doni yang bahagia karena Nina sudah bisa kembali ke dalam pelukannya.


*****


Hari ini Doni pulang lebih cepat. Ia berjanji dengan dirinya akan lebih memperhatikan kondisi Nina. Meri memanggil Doni agar berhenti dan menemuinya. Tapi Doni tidak menggubris apa yang Meri katakan.


Hari ini. Ya. Hari ini Doni mau menemani Nina ke dokter kandungan dan melihat bayi yang ada di dalam kandungan Nina.


Doni tersenyum ketika layar komputer kecil menunjukkan gambar yang bergerak di dalam perut Nina. Doni tidak berhenti mengucap syukur ketika melihat calon anaknya menggerakkan kaki dan tangannya.


"Kehamilan Ibu Nina sudah masuk bulan kelima. Semakin dijaga ya kandungannya. Tetap makan makanan bergizi dan istirahat yang cukup." kata dokter kandungan itu sambil menulis beberapa kata di buku kehamilan Nina dan mencetak hasil foto USGnya.


"Terima kasih, Dokter." kata Nina tersenyum berpamitan pada dokter wanita itu.


Setelah keluar dari ruang dokter kandungan, Nina mengaitkan tangannya ke lengan Doni.


"Makasih ya, kamu sudah mau temani aku." kata Nina tersenyum sambil melangkahkan kakinya.


"Iya. Sudah seharusnya. Mau makan sesuatu hari ini?" tanya Doni menatap Nina.


"Kita makan di rumah aja." jawab Nina mengalihkan pandangannya dari Doni.


"Enggak, enggak. Hari ini kita makan diluar aja. Mumpung si kecil belum lahir. Kita masih bisa makan apapun yang kita suka." kata Doni.


"Lho, memang kalau aku sudah lahiran, aku nggak bisa makan apapun yang aku suka?" Nina sedikit protes dengan apa yang Doni katakan.


"Oke. Oke. Kita mau makan apa?" Nina tersenyum dan mengakhiri perdebatannya. Nina cukup lapar untuk melanjutkan perdebatannya dengan Doni.


Nina tersenyum.


"Baiklah. Kali ini kita makan yang kamu suka aja, yuk. Besok-besok baru makanan kesukaanku."


"Lho, aku ajak kamu pergi buat nyenengin kamu. Kok ini sebaliknya?" Doni bertanya bingung.


"Ya, nggak apa-apa dong. Aku juga mau bikin kamu seneng sesekali. Yuk. Kita makan soto ayam disana." Nina menunjuk gerobak soto ayam yang tidak terlalu ramai.


Doni menghela napas. Ia berpikir, sebesar apapun ia mencoba ingin menyenangkan Nina, Nina selalu memikirkan dirinya. Kalau begitu, Doni akan memkirkan cara lain untuk membuat Nina bahagia.


Doni tersenyum, menggandeng tangan Nina dengan kasih. Ia hari ini benar-benar telah menjadi suami yang diimpikan semua orang. Bahkan kalau Meri melihat, siap-siap saja kebakaran jenggot.


Malamnya mereka masih mampir ke kedai kopi kesukaan Nina. Nina tersenyum bahagia dan menatap Doni.


"Kenapa kamu ngajak aku kesini?" tanya Nina.


"Aku nggak mau kamu cuma mikirin diri aku aja, Nina. Aku juga mau kamu mikirin diri kamu buat senang-senang. Seingatku kamu suka beli kopi disini. Kamu boleh beli dua, satu lagi buat kamu taruh kulkas di rumah." kata Doni. Mendengar Doni berbicara seperti ini, hatinya bergetar.


Sikap manis Doni membuatnya meleleh. Doni tidak pernah berkata seperti ini sebelumnya.


"Baiklah. Aku akan pesan dua. kamu siap-siap bayar ya!" kata Nina yang akhirnya mengiyakan perkataan Doni.


"Oke, Madam." jawab Doni meraih pinggang Nina. Sambil memesan kopi, Doni juga memilih salah satu minuman non kopi.


Malam itu merupakan malam yang bahagia. Setidaknya bagi Nina, Doni memembuatnya merasa istimewa. Doni memeluk pinggang Nina sambil berjalan sedikit di taman. Tawa Nina dan Doni terdengar renyah. Obrolan merekapun juga ringan.


"Aku akan menyicil kebutuhan bayi kita." kata Nina.


"Kira-kira, belanja dimana yang harganya terjangkau?" tanya Doni.


"Dipasar ada toko bayi. Disana harganya tidak seperti toko lain. Masih terbilang murah." jawab Nina.


"Oke. Kita kesana." jawab Doni bersemangat.


"Malam ini?" Nina sedikit terkejut.


"Bukan. Besok besok kalau libur. Nanti aku antar kamu buat beli peralatannya. Kamu list saja dulu apa yang harus dibeli." jawab Doni.


Nina tersenyum. Angin dingin mengelus rambut Nina. Hatinya benar-benar terharu. Ia memperhatikan dirinya dan calon bayinya. Mengingat selama ini Doni hampir tidak acuh padanya. Air mata Nina mengambang di pelupuk matanya.


"Lho, kamu kenapa?" tanya Doni mengelus pipi Nina yang berjatuhan air mata.


"Enggak. Aku cuma senang kamu bisa memperhatikan aku dan calon bayi ini. Mengingat kemarin-marin kamu terlihat nggak peduli sama aku."


Doni memeluknya. Membelai rambut Nina yang sebahu.


"Maaf ya. Tolong maafin aku."


Nina hanya memejamkan matanya agar air matanya tidak kembali tumpah. Dan berharap semua yang sudah terjadi bisa ia lupakan. Nina mengangguk.