Restless

Restless
I Want To Tell You Something



Nina baru saja menjemur Namira dibawah sinar matahari pagi.


Ia tersenyum dan memandang Namira dengan penuh kasih sayang. Tidak ia sangka bahwa tetangganya yang kemarin datang ke rumahnya dengan tidak sopan, menyapanya pagi ini.


“Hai, Kak.” sapa Sinta dengan ramah. Nina sedikit


kebingungan dengan sikap Sinta saat ini.


“Iya?” Nina bingung bagaimana harus menanggapi sapaan Sinta.


Karena memang baru kali pertama ini Sinta mencoba menegurnya dengan ramah.


“Aku mau minta maaf soal kemarin, Kak. Aku nggak seharusnya bersikap kasar kayak gitu.” Kata Sinta. Ia sedikit menunduk. Merasa tidak enak


hati dengan Nina.


Sejak pertama, Nina memang tidak terlalu suka dengan Sinta. Tapi entah mengapa, melihat Sinta menyapanya hari ini, membuat hatinya sedikit


lega. Ternyata Sinta mempunyai sedikit sopan santun terhadap dirinya.


“Nggak apa-apa. Bukan masalah besar buatku.” Jawab Nina dengan tersenyum.


“Sekali lagi, aku minta maaf ya, Kak.” ucap Sinta.


“Sudahlah, lupakan saja. Kalau gitu, aku masuk dulu ya. Aku mau mandiin anakku dulu.” Kata Nina.


“Cewek ya, Kak. Cantik ya. Siapa namanya?” tanya Sinta memandangi Namira dengan gemas.


“Namira.” jawab Nina sudah bisa membuka hatinya pada Sinta dan berbicara dengan nyaman padanya.


“Lucu banget. Nanti main ya sama aku.” kata Sinta berbicara dengan Namira. Namira hanya menguap menanggapi apa yang Sinta katakan.


“Kalau begitu, aku masuk dulu, ya, Sinta.” ucap Nina.


“Iya, Kak.” jawab Sinta pada Nina dengan melambaikan tangannya.


Setelah masuk ke dalam


kontrakannya, Nina mulai memandikan Namira dan mengajaknya berbicara sesekali.


Ia juga mengirimkan pesan singkat pada Doni agar tidak melewatkan makan


siangnya.


*****


Doni yang sedikit sibuk dengan pekerjaan kantornya, mendapat pesan singkat dari Meri melalui messenger chat yang berada di komputer kantornya.


Bisakah kita bicara? makan siang nanti.  kata Meri dalam chatnya.


Doni sedikit bingung bagaimana harus menanggapi Meri dan mengapa ia tidak merasa lelah dengan usahanya selama ini. Namun ia berpikir bahwa dengan bicara baik-baik, ia bisa menyelesaikan


urusan dengannya. Doni tidak ingin mempunyai urusan terlalu lama dengan Meri selain urusan pekerjaan.


Baiklah. Kita keluar kantor.  Doni membalas pesan chat pada Meri.


Doni memilih restoran siap saji untuk mereka makan siang. Ia bersikap seperti biasa bertemu dengan Meri. Ia menahan diri agar tidak menumpahkan kekesalannya selama ini. Setelah mereka


memesan makanan dan duduk dengan nyaman, Meri memulai berbicara dengan Doni.


“Kamu nggak apa-apa kan kalau aku


ngajak kamu makan siang begini?” tanya Meri.


“Ya, nggak apa-apa, kok. Tapi sebenarnya ada yang mau aku omongin juga, mumpung nggak ada orang kantor, kita bisa bicara disini.” kata Doni.


“Iya, memang itu tujuanku ngajak kamu ketemu disini.” ucap Meri.


“Baguslah kalau kamu paham. Aku


Meri mendengar ucapan Doni dengan


tenang. Ia mengendalikan dirinya agar tidak meledak saat itu juga.


“Kamu tahu? Aku pun nggak mau melakukan itu semua.” jawab Meri. Diluar dugaan Doni. Doni pikir, Meri akan tetap dengan pendiriannya bahwa ia akan tetap berusaha mendapatkan hatinya, walau sudah ada Nina disisinya.


“Maksudmu? Aku nggak ngerti.” kata Doni.


“Doni, kamu mengenalku dengan baik. Begitupula aku. Tapi sebagai orang yang pernah berharap denganmu, aku hanya menginginkan kepastian darimu. Saat itu, aku sangat terpukul melihatmu


harus menikah dengan orang lain. Seorang wanita yang nggak pernah kamu ceritakan. Seorang wanita yang tiba-tiba hadir dan membuatku kehilanganmu


secara tiba-tiba.” kata Meri.


Doni terdiam dengan apa yang Meri ucapkan. Meri benar, selama ini Doni hanya menganggap Meri sebagai sahabatnya saja. Tidak sekalipun ia berpikir bahwa suatu saat Meri menyukai dirinya.


“Aku bertanya pada diriku sendiri. Apa ada yang kurang? Ataukah aku pernah menyakiti hatimu sehingga kamu memutuskan menjauh dariku dan tiba-tiba aku mendengar kamu sudah menikah.”


lanjut Meri.


“Aku tidak berpikir sejauh itu kamu menyukaiku. Aku tidak tahu hal itu.” jawab Doni. Ia mencoba mencari alasan agar tidak terlalu menyakiti hati Meri.


“Aku mencoba mencari perhatian darimu. Karena walau begitu, aku merasa pernah dekat denganmu. Tapi aku tidak menyangka, kamu menolakku mentah-mentah, bahkan sempat meninggikan suaramu di depan karyawan lain.” Meri menatap Doni yang kini hanya terdiam. Tidak sedikitpun Doni memakan makanan yang sudah ada di depan matanya.


“Tapi. tidak apa-apa. Aku hanya perlu waktu lagi agar perasaanku bisa seperti dulu lagi.” kata Meri. Kini Doni melihat kesedihan dimatanya. Ia tidak pernah melihat Meri dengan wajah seperti itu.


“Aku tidak tahu kalau aku sudah menyakitimu seperti ini, Meri.” kata Doni dengan tatapan bersalah. Ototnya


menjadi lemas.


Meri tersenyum. Ia menyembunyikan air matanya agar tidak jatuh ke pipinya.


“Meskipun terlambat, aku ingin mengucapkan selamat atas kelahiran anakmu. Maaf, selama ini aku sudah mengganggumu. Aku pastikan itu nggak akan terjadi lagi.” ucap Meri.


Doni memandangi Meri. Ia tidak


bisa berkata banyak. Ia ingin sekali mengucapkan maaf. Tapi entah mengapa, lidahnya sangat kelu untuk mengucapkannya.


“Kalau begitu, aku duluan.” kata Meri bangkit dari duduknya dengan membawa makanan siap saji yang ia pesan dan meninggalkan Doni di restoran siap saji itu.


Setelah keluar dari restoran itu, Meri sudah tidak sanggup membendung air matanya. Akhirnya ia menjatuhkan air matanya di pipinya. Sambil berjalan menuju gedung kantornya yang tidak jauh dari restoran siap saji, ia mengusap air matanya.


Ia berharap, suatu saat nanti tidak akan menemukan lelaki seperti Doni dan ia bisa melanjutkan kehidupan


tanpa ada bayang-bayang Doni di pikirannya.


Doni memakan perlahan makan siangnya. Walau tidak terlalu berselera, ia tetap memakannya sambil


menjernihkan pikirannya.


Doni salah. Ia salah bahwa Meri selama ini mengejarnya untuk mendapatkannya. Kenyataan mereka pernah dekat tapi Doni tidak sedikitpun menyadari bahwa Meri menyukainya, membuat hati Doni terluka. Ia tidak menyangka bahwa Meri mempunyai perasaan yang tulus. Doni ingat sekali bagaimana ia mengatakan pada Meri bahwa ia akan menikahi seorang gadis yang selama ini menyukainya.


*****


“Bagaimana? Apa bunga ini cantik?” tanya Doni pada Meri ketika ia membeli sebuah buket bunga. Meri merasa hatinya berdebar dan tersenyum.


“Wah, tumben banget kamu beli bunga. Ada acara spesial? tanya Meri yang menyadari betapa bahagianya Doni saat ini.


“Bagaimana aku mengatakannya? Aku mau melamar seorang wanita.” ucap Doni tersenyum bahagia memandangi buket bunga mawar yang segar dan warna merah yang cantik.


Hati Meri seperti dihantam batu yang besar. Ia merasa sesak didadanya.


Ia juga tidak tahu apa yang harus ia katakana. Ucapan selamat? Tidak. Meri tidak sanggup. Bibirnya tidak bisa membohongi hatinya yang sakit mendengar apa yang Doni katakan. Tapi, jika ia tidak mengatakannya, Doni pasti berpikir orang


yang dekat dengannya tidak mendukungnya. Meri tertunduk lemas ketika Doni asyik menghitung ada berapa banyak bunga mawar di dalam bunga. Hanya bisa melihat senyum bahagia Doni, ternyata tidak pernah ada untuk dirinya.