
Nina hari ini sudah mulai masuk kerja. Ia pun juga sudah mendapat pengasuh. Nina memberi tahu semua apa yang harus dikerjakan dan Nina juga memperhatikan bagaimana pengasuh itu bekerja seminggu kemarin.
"Bu, saya tinggal ya." kata Nina. Nina kemudian mengecup Namira dan mengucapkan salam.
"Iya, Mbak, hati-hati ya, Mbak." kata pengasuh yang dipanggil 'Ibu' oleh Nina. Nina tersenyum dan mulai meninggalkan Namira.
Ada sedikit kegelisahan di hati Nina. Tapi ia mencoba mengikhlaskan. Ia berusaha percaya pada pengasuhnya dan menyerahkan Namira agar diurusi. Nina juga sesekali.
Setelah sampai di kantor, Nina menyapa beberapa teman kerjanya. Dan ia juga bertemu Fabio ketika berada di pantry.
"Sudah mulai masuk lagi ya?" tanya Fabio menyeduh tehnya.
"Iya. Udah cuti tiga bulan, rasanya udah lumayan bosen di rumah." jawab Nina yang juga mengulas senyum di wajahnya.
"Gimana anakmu? Sehat kan?" tanya Fabio menatap wajah Nina yang terlihat cantik dengan make up tipisnya.
"Iya sehat. Sebenarnya sedikit was-was juga ninggalin Namira sama pengasuhnya. Tapi aku coba yakin kalau pengasuhnya baik." kata Nina.
"Kalau suatu saat kamu mau cari pengasuh lagi, aku ada saudara dari kampung yang bisa bantu." kata Fabio tersenyum.
Entah mengapa sejak bertemu dengan Fabio, ia merasa hatinya tulus padanya. Nina juga tidak tahu punya alasan apa Fabio bisa bersikap sebaik ini padanya.
"Makasih ya, kamu sudah repot mau bantu aku."
"Asal kamu sehat dan baik-baik aja sama anakmu, itu nggak masalah." kata Fabio lagi.
"Sebenarnya sedikit aneh buatku. Karena kamu bersikap sangat baik padaku. Padahal kita baru kenal di tempat kerja ini kan?" Nina memastikan dirinya bahwa tidak ada sesuatu yang aneh pada Fabio.
"Nggak perlu alasan untuk berbuat baik kan?" ucap Fabio sedikit bercanda. Kemudian meninggalkan pantry. Nina sedikit tersenyum melihat teman kerjanya begitu perhatian pada dirinya.
*****
"Mas, ngapain kesini lagi?" tanya Sinta. Ia mulai sedikit khawatir karena semakin hari semakin sering Doni main ke tempat kerjanya.
"Memang kenapa kalau aku mampir?" tanya Doni dengan santai.
"Kalau suatu waktu ada orang komplek kesini dan lihat Mas Doni disini, nanti bisa jadi bahan omongan bagaimana?" tanya Sinta khawatir.
"Ya tinggal bilang aja kalau aku nemu tempat makan mi ayam disini yang enak. Gampang kan?" ucap Doni benar-benar mudah. Tapi tidak bagi Sinta.
"Mereka bisa bergosip aku sama Mas Doni ada apa-apa lho."
"Nggak akan."
"Kalau Kak Nina tiba-tiba kesini?" tanya Sinta. Doni menoleh ke arah Sinta dan menatap wajahnya yang terlihat khawatir.
"Kenapa kamu khawatir sekali?" tanya Doni.
"Enggak, aku cuma nggak enak aja. Mas Doni kan sudah berumah tangga." jawab Sinta.
"Sinta, tenang aja, nggak bakal ketahuan." kata Doni tersenyum.
Walaupun Doni berbicara begitu, tetap saja, hatinya merasa khawatir. Tapi ketika Doni mengatakan hal itu pada Sinta, Sinta pun ikut tersenyum dan mengangguk.
Sinta berdebat antara hati dan logikanya. Apakah ini benar? Apakah boleh aku berbuat seperti ini? Sinta tidak bisa me jawabnya sekarang. Ia hanya tersenyu melihat punggung Doni yang bidang dan wajah manisnya selalu membayangi pikiran Sinta.
*****
Nina hendak pulang usai jam kerjanya. Ia memesan ojek online dan menunggunya di lobby. Fabio yang juga baru keluar dari lift melihat Nina yang sedang duduk di bangku lobby.
"Belum pulang, Nina?" tanya Fabio begitu melihat Nina sedang mengotak atik ponselnya.
"Belum, aku lagi pesan ojek online." jawab Nina menunjukkan ponselnya.
"Begitu?"
Fabio langsung duduk di dekat Nina denga. sedikit jarak. Ia harus bisa memposisikan dirinya dengan benar. Karena Nina sudah mempunyai suami.
"Aku lihat kamu mandiri banget, Nina. Kamu juga jarang di jemput suami." kata Fabio yang membuat Nina sedikit bingung.
"Kenapa kamu bicara begitu?"
"Aku pernah melihatmu menangis. Tapi kamu tetap berusaha kuat. Kamu tidak merengek ataupun mencari perhatian orang lain." jawab Fabio dengan jujur. Sebenarnya memang betul. Belum pernah ia melihat wanita setegar Nina.
"Aku pernah punya sahabat. Dia diselingkuhi oleh pacarnya. Kamu tahu apa yang dia lakukan?" Fabio menoleh ke arah Nina, berharap Nina sedikit menebaknya.
Nina menggelengkan kepalanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Nina sedikit penasaran.
"Dia menceritakan perselingkuhan pacarnya ke orang tua pacarnya dan itu membuat hubungan mereka semakin sulit. Jujur saja, sahabatku itu kekanak-kanakan. Dan membuat orang yang pacaran dengannya tidak merasa betah." jawab Fabio tertawa kecil.
Nina juga jadi tersenyum mendengar cerita Fabio.
"Jujur saja, pada waktu itu kondisiku juga sedang lemah. Aku berusaha sekuat mungkin bukan hanya untuk diriku sendiri. Tapi untuk anakku juga." jawab Nina. Tidak lama kemudian ponsel Nina bunyi. Ada telpon masuk.
"Iya, Pak? Iya saya di lobby, saya keluar ya, Pak."
Nina memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berpamitan pada Fabio.
"Aku pulang dulu ya. Besok kita bisa ngobrol lagi." kata Nina. Fabio mengangguk.
"Hati-hati di jalan, Nina."
Nina berjalan terburu-buru keluar dari gedung perkantoran. Driver ojek online sudah menunggunya di depan gedung. Fabio hanya bisa menatap Nina dari kejauhan.
Sesampainya di rumah, Nina melihat Namira yang sedang digendong oleh pengasuhnya. Nina langsung menghampiri dan menyapa Namira.
"Hai, putri kecil. Sudah minum susunya, Bu?" tanya Nina yang langsung mengajak pengasuhnya dan Namira masuk ke dalam rumah.
"Sudah, Mbak. ASInya yang tinggal diangetin aja kan sesuai kata Mbak. Saya ikutin itu aja kok, Mbak." jawab Ibu pengasuh. Pengasuh yang dipekerjakan oleh Nina terlihat baik dan juga jujur.
"Makasih ya, Bu. Buat hari ini. Saya mandi dulu setelah itu Ibu bisa pulang." kata Nina.
"Baik, Mbak. Saya tunggu disini aja ya." kata Ibu pengasuh duduk di pinggir kasur sedangkan Namira diletakkan diatas kasur.