
Sinta tidak menyangka dirinya bertemu dengan Nina di mall ini. Ia membeku sesaat melihat Nina yang terlihat cantik dengan pakaian kerjanya yang sederhana. Kepercayaan diri Sinta kembali memudar setelah Nina menghampirinya.
"Apa kabar?" tanya Nina tersenyum melihat Sinta.
"Siapa, Nin?" tanya Nino menghampiri Nina.
"Temanku. Kak, boleh aku bicara dulu dengan temanku?" Nina meminta izin pada kakaknya.
Nino mengangguk.
"Baiklah. Aku akan melihat tempat yang menjadi toko kita." kata Nino tersenyum pada Sinta.
Sinta hanya bisa menatapnya dengan kagum Nina yang sekarang.
"Kita kesana yuk, sambil makan kue." kata Nina mengajak ke sebuah kafe.
"Tapi, Kak, aku nggak bawa uang banyak." kata Sinta sedikit menolak ajakan Nina.
"Nggak perlu mikirin uang. Pesan aja kamu mau apa disana. Yuk."
Setelah memesan minuman dan dua potong kue, Nina dan Sinta duduk dengan nyaman di salah satu sudut.
"Bagaimana kabarmu, Sinta?" tanya Nina yang melihat perut Sinta semakin membesar.
"Baik, Kak." jawab Sinta sedikit malu dengan keadaan dirinya.
"Aku harap Doni memperlakukanmu dengan baik." kata Nina menyilangkan kakinya.
"Kakak nggak terganggu kalau bertemu denganku seperti ini?" tanya Sinta.
"Buat apa? Kamu kan temanku. Istrinya Doni juga."
"Bukan. Maksudku, apa Kakak nggak membenciku setelah apa yang aku lakukan pada Kakak dan juga Mas Doni?" tanya Sinta dengan hati-hati.
"Hubunganku dengan Doni sudah selesai. Tidak ada yang perlu diributkan lagi dari kami berdua. Sekarang, Doni adalah suamimu. Dan untuk apa aku menghabiskan energiku membenci kalian berdua? Aku hanya bersyukur sekarang hidup lebih bahagia tanpa adanya beban dihatiku." jawab Nina.
Sinta menundukkan kepalanya. Ia merasa malu dengan dirinya sendiri. Ia tahu, ia akan selalu kalah di hadapan Nina.
"Aku hanya merasa kasihan dengan keadaanmu. Kamu tidak beruntung. Kalau saja kamu menjauhi Doni, mungkin kamu tidak akan menderita seperti ini." kata Nina.
"Iya, Kak. Aku salah. Pada saat itu aku nggak bisa berpikir jernih..."
"Aku nggak nyalahin kamu. Wajar. Namanya anak muda dan masih labil seperti kamu akan menjadi gila ketika jatuh cinta. Tapi ingat, semua itu ada batasannya." kata Nina.
"Aku ingin bisa hidup dan merasa bahagia, Kak. Tapi aku tidak pernah bisa merasakannya."
"Tidak akan pernah bisa, Sinta. Karena kamu hidup dari hasil merebut milik orang lain." sahut Nina.
Sinta terkejut dengan apa yang Nina katakan baru saja.
Nina mengeluarkan dompet dari dalam tasnya. Dompet dari kulit yang Sinta lihat membuat Sinta menelan ludahnya. Karena dompet itu terlihat mengilat.
"Kalau suatu waktu Doni kurang memberimu uang, hubungi aku. Atau kalau kamu mau bekerja ditempatku, hubungi aku." kata Nina.
"Kak, aku nggak bisa menerima kebaikan Kakak seperti ini."
"Ambil saja. Kamu akan butuh suatu hari nanti. Bertemu denganku hampir mustahil. Karena aku akan sangat sibuk." jawab Nina menyodorkan kartu namanya.
Sinta mengambil kartu nama itu dan melihat nama Nina tertera disana.
"Oh, ya. Apa yang akan kamu lakukan kalau Doni nggak bisa melupakan aku?" tanya Nina dengan tiba-tiba.
"Maksud Kakak?" Sinta tidak begitu mengerti dengan apa yang Nina bicarakan.
"Aku tidak tahu, Kak. Aku sudah merebut kehidupan kalian. Rasanya tidak pantas aku meminta Mas Doni melupakan Kakak begitu saja." sahut Sinta.
"Bagaimanapun, Doni adalah suamimu. Aku nggak akan pernah kembali padanya. Karena aku tidak akan menghancurkan rumah tangga kalian berdua." sindir Nina dengan pedas. Hati Sinta terasa sesak mendengar apa yang Nina katakan.
Nina menyodorkan ponselnya dengan beberapa gambar disana. Potongan rekaman CCTV yang memperlihatkan Doni berada di depan gedung kantor Nina.
"Aku rasa kamu perlu tahu ini. Suamimu, datang ke kantorku sudah dua hari ini. Ini rekaman CCTV yang berada di kantorku."
Sinta melihat Doni yang berdiri di depan gedung kantor.
"Apa yang Mas Doni lakukan disana?" tanya Sinta tidak percaya Doni akan datang ke kantor Nina.
"Entahlah. Aku juga ingin tahu. Aku ingin lihat permainan apa yang Doni lakukan."
Sinta terdiam sesaat mendengar perkataan Nina. Sebenarnya ada sedikit keraguan Sinta pada Nina. Ia sudah menahan pertanyaan ini cukup lama. Dan ia tidak ingin menyimpannya lagi untuk waktu yang lebih lama.
"Apa Kakak serius dengan ucapan Kakak?" tanya Sinta.
"Maksudmu?"
"Iya, apa Kakak serius dengan yang Kakak bilang, kalau Doni adalah suamiku dan Kakak nggak akan kembali kepadanya?" tanya Sinta.
"Ya. Kenapa? Kamu takut aku merebut kembali Doni dan mengklaim dia sebagai ayahnya Namira?" tanya Nina.
"Aku hanya ingin menanyakannya..."
"Sinta, sudah lama hatiku mati pada Doni. Aku tidak pernah merasakan cinta bahkan ketika aku bersamanya." kata Nina menjelaskan.
"Itu karena ada kamu yang telah masuk ke dalam kehidupan kami." lanjut Nina menatap Sinta dengan lekat. Memperhatikan raut wajah Sinta dari detik ke detik.
"Tapi aku sadar, seperti apa Doni. Ia adalah laki-laki yang tetap menyukai perempuan. Bahkan pernikahan tidak bisa menutupi kebiasaan Doni yang begitu. Jadi, menurutmu apa aku punya alasan kembali pada orang seperti Doni?"
Sinta terdiam. Apa yang Nina katakan benar. Setelah apa yang terjadi pada dirinya, ia merasa yakin bahwa Doni tidak sepenuhnya menaruh hati padanya. Sehingga Sinta harus melewati banyak waktu dengan kesendiriannya.
"Aku malu dengan diriku sendiri, Kak..." Sinta mulai menitikkan air matanya.
"Dulu aku merasa bangga dengan diriku. Menatap Kakak dengan sebelah mataku, membuat aku bahagia. Mas Doni tidak selalu berada di samping Kakak. Ketika malam, Mas Doni selalu datang ke kamar kos-kosan yang biasa aku tempati." cerita Sinta mengingat masa lalu yang menyakiti hati Nina.
"Baguslah. Kamu merasa malu dengan dirimu. Setidaknya kamu sudah mulai menebus kesalahanmu sendiri."
"Tapi, kenapa, Kak? Kenapa Kakak nggal pernah menanyakan kenapa Mas Doni pulang telat atau pulang malam?" tanya Sinta.
"Buat apa? Aku tahu dia bersamamu. Lagipula kalau aku tanya dia nggak akan jawab jujur. Daripada membuat hatiku jadi semakin lelah, aku mengabaikannya. Ketika seseorang mengabaikannya seharusnya sadar tempat dimana ia salah." jawab Nina.
Sinta kembali terdiam dengan apa yang Nina bicarakan.
"Lagipula, kamu masih muda dan terlalu percaya pada cinta. Apa aku harus menghalangi orang yang jatuh cinta?" tanya Nina.
"Seharusnya iya, seharusnya Kakak mendatangiku dan melabrakku demi keutuhan rumah tangga Kakak." sahut Sinta dengan cepat.
"Aku harap kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan."
"Aku sadar, Kak."
"Sekarang aku tanya. Kalau pada saat itu aku menghalangimu, kamu akan berhenti bertemu Doni atau tetap menemuinya diam-diam?"
Sinta hanya bisa terdiam mendengar yang Nina katakan.
"Aku membiarkan kalian. Aku merasa tidak ada alasan lagi aku menghalangi. Aku pergi, karena aku sadar mana yang bisa membuatku lebih bahagia." ucap Nina.
Sinta hanya bisa terdiam mendengar Nina melampiaskan kekesalannya yang selama ini ia pendam. Sinta mencoba mengerti dengan keadaan Nina. Sinta tidak banyak bicara lagi. Pertemuan mereka usai dan Sinta kembali mencari produk yang diminta oleh atasannya.