
Doni terlambat datang. Ia tidak bisa pulang lebih cepat karena absennya yang harus diperbaiki. Walau sedikit kecewa pada Doni, Sinta tidak ingin membahasnya. Ia sangat lelah dan ingin sekali istirahat. Melahirkan ternyata membutuhkan tenaga yang sangat banyak. Sinta pun merasa takjub sendiri karena melahirkan bayi yang lucu dan menggemaskan.
"Maaf, aku terlambat datang." kata Doni.
"Aku sudah izin. Tapi absenku terlalu buruk. Jadi mau tidak mau, aku harus absen pulang tepat jam lima sore."
"Nggak apa-apa, Mas." jawab Sinta.
"Lalu bagaimana Nina bisa disini? Kamu bersamanya atau bagaimana?" tanya Doni penasaran. Karena Nina berada bersama Sinta.
"Kak Nina yang membantuku agar bisa melahirkan dengan baik disini."
"Oh." Doni mengangguk mengerti. Tapi tidak bicara lebih lanjut mengenai Nina. Tapi masih ada yang ingin Sinta katakan.
"Mas." panggil Sinta. Doni menengok ke arah Sinta dan memperhatikan wajahnya yang lelah.
"Lebih baik sekarang kamu mulai bisa menerima keadaan."
"Maksudmu?" Doni tidak begitu mengerti dengan apa yang Sinta ucapkan.
"Aku tahu selama ini kamu tidak bahagia hidup denganku. Kamu masih merasa menyesal dengan keputusanmu dulu bersamaku dan meninggalkan Nina. Mulai sekarang, relakan dia. Dia orang yang baik. Dia sepantasnya mendapat orang yang baik juga disisinya." kata Sinta.
Doni menyeringai tersenyum.
"Aku selalu coba. Tapi entah kenapa, aku masih belum bisa melupakan rasa penyesalanku kepadanya."
"Sekarang istrimu adalah aku. Kalau kamu berada disampingku dan hatimu berada jauh disana, bagaimana bisa kamu menjalani semua kewajibanmu dengan sepenuh hati?" tanya Sinta. Pertanyaan Sinta tepat. Apakah ia bisa tulus menjalani pernikahannya sekarang jika rasa penyesalan itu masih ada di dalam hatinya?
"Nina sudah hidup bahagia sebagaimana mestinya. Dengan jelas Nina sudah menolak kehadiranmu. Seharusnya kamu bisa fokus, Mas, kepada keluargamu."
Doni tertunduk. Apa yang Sinta katakan ada benarnya. Seharusnya ia fokus pada keluarganya sekarang. Karena Nina pasti sudah tidak akan mau menerima dirinya kembali.
"Aku minta maaf karena tidak bisa bersikap sepenuh hati padamu. Ya, benar. Aku masih merasakan penyesalan. Tapi itu juga tidak akan membuat Nina kembali. Aku hanya harus memperbaiki hidupku menjadi orang yang lebih baik." kata Doni.
Sinta tersenyum mendengar ucapan Doni.
"Aku ingin hidup bahagia sama kamu, Mas. Itu keingananku sejak dulu."
Doni menggenggam tangan Sinta dan tersenyum.
Baru kali ini Doni menatapnya hangat. Tidak seperti kemarin. Tatapannya selalu dingin dan tidak ada kehangatan.
*****
Hari ini jadwal Nina mendatangi pabrik. Entah mengapa rutinitas itu menjadi favorit Nina. Ia merasa senang dan bisa menghibur diri sendiri ketika berada di pabrik. Seringkali sekretarisnya membiarkan Nina berlama-lama disana. Rupanya sekretaris Nina sangat tahu apa yang Nina alami belakangan ini.
Selepas bekerja mengontrol kondisi pabrik, Nina wajahnya berubah ceria ketika sedang berbicara dengan Fabio.
"Jadi, istri dari mantan suamimu sudah melahirkan?" tanya Fabio.
"Iya. Aku merasa kasihan dengan hidupnya. Aku tahu dia anak yang cukup pintar. Tapi salah jalan sejak bertemu dengan Doni." kata Nina.
Fabio terdiam ketika Nina menyebut nama Doni. Entah mengapa Fabio merasa tidak terlalu nyaman jika Nina menyebut nama itu.
"Lalu bagaimana dengan Namira sekarang?" Fabio tahu. Ia tidak berhak memiliki cemburu apapun pada Nina. Maka, mengalihkan pembicaraan adalah hal yang terbaik.
"Namira anak yang pintar. Setiap aku lelah pulang kerja dia selalu menemaniku dan mengelus wajahku. Ah, aku terkadang merasa bersalah harus meninggalkannya bekerja. Ternyata selama ini ia selalu ingin menghapus lelahku dengan berada disampingku." cerita Nina tersenyum. Ada gurat bahagia di wajah Nina ketika bercerita tentang Namira.
"Kalau bisa, aku juga ingin." kata Fabio. Nina merasa bingung dengan yang Fabio katakan. Sepertinya, kalimat itu belum selesai di ucapkan.
"Ingin? Ingin apa?" tanya Nina.
"Menghapus lelahmu." lanjut Fabio.
Nina merasa jantungnya akan meledak. Kenapa jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya?
"Hari Minggu besok aku akan datang ke Jakarta. Aku akan mampir ke rumahmu." kata Fabio mengulas senyum manis diwajahnya.
Fabio merogoh sakunya. Ia mencari sesuatu yang ada di dalam kantong celananya dan memberikan sebuah plastik kecil dengan kotak berwarna biru gelap pada Nina.
"Kemarin aku jalan-jalan sebentar. Dan aku ingin memberikanmu ini."
Nina melihat plastik kecil dengan kotak berwarna biru gelap di dalamnya.
"Apa ini?" tanya Nina.
"Bukalah. Aku membelinya untukmu."
Nina membuka kotak berwarna biru gelap itu. Didapatinya sebuah gelang cantik dengan hiasan batu permata yang indah. Terukir inisial huruf N disana, yang berarti itu adalah 'Nina'.
"Bagus banget!" ujar Nina tersenyum lebar.
"Untuk saat ini aku memberimu ini dulu ya." ucap Fabio.
"Saat ini? Berarti besok-besok...."
"Iya. Aku akan memberimu sesuatu yang lain. Aku harap kamu nggak akan masalah dengan hal itu."
"Iya... Aku nggak masalah.. Tapi, kenapa?"
"Karena aku suka membelikan sesuatu untuk seseorang yang aku sukai."
DEG!
Nina merasa tangannya kaku. Apa ini? Apakah ini sebuah pernyataan atau apa?
"Maksud kamu?"
Ups.. Nina. Apa yang kamu tanyakan? Sudah jelas kan kalau Fabio bicara begitu, tandanya dia menaruh perasaan padamu, Nina mencaci diri sendiri yang pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Maksudku, ke depannya kita akan sering bertemu. Kemarinpun juga begitu. Aku ingin menjaga dan melindungimu, Nina. Sebagai laki-laki."
Jantung Nina tiada hentinya berdegup dengan cepat. Ia hanya bisa memandangi Fabio tanpa sepatah kata.
"Kamu..."
Fabio tersenyum melihat wajah Nina yang menjadi kaku.
"Iya, Nina. Aku suka sama kamu. Maaf selama ini aku coba memendam perasaan aku. Tapi, ternyata tidak selamanya aku bisa memendam perasaanku." jawab Fabio.
Nina mengarahkan bola matanya ke arah lain. Ia tidak tahu harus bicara apa ketika Fabio mengungkapkan perasaannya seperti ini.
"Santai saja." Fabio tersenyum melihat wajah Nina yang semakin kaku.
"Aku tidak meminta jawaban saat ini juga. Aku yakin kamu pasti bingung."
Hari sudah semakin sore. Fabio melihat jam tangannya dan meminta Nina untuk pulang ke Jakarta.
"Pulanglah. Sudah sore."
Nina melihat jam tangannya. Sudah setengah lima.
"Oke. Aku pulang."
Nina bangun dari duduknya. Dan seperti biasa. Fabio mengantar Nina sampai di mobilnya.
"Aku pulang."
Fabio mengangguk.
Nina tersenyum melihat Fabio saat ini. Entah karena baru saja Fabio menyatakan rasa sukanya atau Nina merasa bahwa akhir-akhir ini Fabio terlihat menyenangkan dimata Nina.
Nina membuka pintu mobilnya dan melambaikan tangan ke arah Fabio. Dengan perlahan supir membawa mobil keluar dari kawasan pabrik.