
Doni melangsungkan pernikahan keduanya bersama Sinta secara tertutup. Nina hanya mengetahui melalui pesan singkat yang Doni berikan. Nina tidak meresponnya. Karena ia sudah bertekad tidak mau berurusan apapun lagi dengan Doni.
Sebaliknya, Nina mengajukan surat pengunduran dirinya ke tempat ia bekerja. Ia memohon maaf kepada supervisornya karena harus mengundurkan diri.
Karena belum mendapat penggantinya, Nina diminta bekerja dua sampai tiga minggu lagi. Sejujurnya, Nina tidak keberatan. Mengingat keadaannya sudah lebih baik dari kemarin. Ia tidak perlu pusing memikirkan Namira yang akan merengek, karena ia tinggal bersama orang tuanya. Tidak mungkin Ayah dan Ibunya mengabaikan cucunya yang lucu dan menggemaskan seperti Namira.
"Kamu mengundurkan diri?" tanya Fabio suatu hari ketika makan siang. Nina mulai merasa dekat dengan Fabio dan Nina mengiyakan ajakan Fabio makan siang bersama setelah sekian lama Nina menolaknya.
Nina mengangguk.
"Aku berharap kamu menemukan tempat yang lebih baik setelah ini." kata Fabio sambil menyuap nasinya. Matanya terasa kosong dan senyumnya kecut. Nina merasa tidak enak karena telah mengabarinya seperti ini.
"Aku minta maaf. Aku tahu kita baru saja dekat. Tapi aku sudah memutuskan." kata Nina. Ia memandangi raut wajah Fabio yang terasa berbeda.
"Nggak apa-apa. Kamu pasti punya kehidupan. Dan itu juga pilihan kamu. Pasti ada alasan kenapa kamu melakukannya." jawab Fabio.
Nina tersenyum mendengar jawaban Fabio.
"Aku akan kembali ke keluargaku." kata Nina.
"Kenapa?" tanya Fabio. Tidak ada nada keingintahuan dari nadanya. Fabio sejak dulu memang tidak terlalu penasaran dengan kehidupan Nina. Tapi perhatian Fabio telah membuat dirinya merasa dihargai sebagai wanita.
Tapi Nina tidak mau berharap lebih pada Fabio. Ia pun tidak tahu apa maksud dari semua itu.
"Aku akan bercerai dengan suamiku."
Kali ini Fabio mengernyitkan dahinya. Rasa penasaran telah muncul dalam diri Fabio.
"Aku kira kamu baik-baik saja."
"Tidak ada pernikahan yang baik-baik saja. Aku hanya menyembunyikan masalah rumah tanggaku di depan banyak orang. Aku tidak ingin orang lain tahu kalau aku punya masalah." jelas Nina tersenyum.
"Pasti sulit untukmu ya?"
"Aku merasa bebanku terangkat. Selama ini dia tidak pernah menganggap keberadaanku. Tapi, aku senang, ternyata kehadiranku ditunggu oleh keluargaku." jawab Nina.
Fabio menatap mata Nina. Jelas sekali kesedihan nampak dari matanya. Nina hanya menutupinya. Ia tidak ingin orang lain tahu akan kesedihannya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Fabio.
Nina tersenyum. Ia mencoba kuat menghadapi semua ini.
"Iya, aku baik-baik saja, kok." jawab Nina. Tidak terasa air mata menetes dari matanya. Fabio menatap Nina yang menangis dan mengambil beberapa lembar tisu untuknya. Membuka jemari Nina dan memberikan tisu itu untuknya.
"Kalau kamu tidak baik-baik saja, sebaiknya katakan. Berkata baik-baik saja padahal sebenarnya tidak, itu akan menjadi kebiasaan buruk." kata Fabio. Nina hanya mendengar apa yang Fabio katakan.
Air mata terus mengalir jatuh ke pipi Nina. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya bahwa sebenarnya ia sangat terluka. Selama dua tahun lebih pernikahannya, sekalipun ia tidak pernah dihargai oleh Doni.
Fabio menemani Nina dengan diam. Membiarkan Nina menumpahkan segala rasa sakitnya yang dipendam selama ini.
*****
Doni telah sah menjadi suami Sinta. Kini Sinta memulai kehidupannya dengan Doni dan anak yang dikandungnya. Banyak sekali hujatan dari tetangga yang menghujani mereka. Doni hanya bisa menutup kupingnya dan berdiam diri di dalam rumah.
Perlakuan manis Doni pun tidak lagi Sinta rasakan. Walau Sinta sudah berusaha, terkadang Doni mengabaikannya.
"Kak Nina sudah tahu pernikahan kita?" tanya Sinta setelah melalui beberapa hari pernikahannya.
"Sudah. Tapi tidak ada respon." jawab Doni datar. Suasana menjadi tidak enak karena Sinta membahas Doni.
"Aku harus menghadiri sidang perceraianku besok." kata Doni.
"Baiklah. Akan kutemani." kata Sinta.
"Tidak. Kamu tidak perlu kemana-mana. Aku bisa mengurusnya sendiri." jawab Doni.
"Apa kamu malu kalau aku ikut denganmu?" tanya Sinta. Beberapa hari ini Doni melarangnya kemana-mana. Sinta hanya tetap diminta bekerja seperti biasa oleh Doni.
"Kamu paham situasinya, Sinta?" tanya Doni menatap Sinta. Keegoisan Sinta yang ingin diakui oleh Doni sebagai istrinya membuatnya sedikit risih.
"Situasi apa maksudnya?" tanya Sinta tidak mengerti.
"Aku tahu kamu pasti tidak paham. Baik. Akan kujelaskan. Aku bercerai dengan Nina karena kamu. Karena aku akan menikahimu. Dan itu membuat keluarga Nina marah padaku. Apa kata pengacaranya nanti kalau dia lihat aku datang bersamamu?" Doni gemas sekali dengan Sinta yang hanya tahu memamerkan dirinya. Beda dengan Nina yang bisa mengendalikan perasaannya.
"Tapi aku istri sahmu sekarang. Apa salahnya menemanimu?" Sinta masih saja bersikeras.
"Kamu lihat baju satu dus disana dengan uang yang kemarin di amplopkan untukku?" tanya Doni menunjuk dus bertuliskan Amybrandstore. Sinta menggeleng tidak tahu apa maksudnya itu semua.
"Kaosmu dan kaosku, yang membuat baju-baju ini adalah perusahaan milik keluarga Nina. Dan amplop yang diberikan kemarin adalah uang kompensasi karena Nina telah meninggalkanku secara sepihak. Kamu tahu apa maksudnya itu semua, Sinta?" tanya Doni lagi. Sinta memiliki jawaban yang sama. Ia menggeleng atas semua pertanyaan Doni.
"Nina telah membalas semua perbuatanku selama ini padanya. Ia menunjukkan padaku bahwa ada yang bisa ia lakukan tanpaku. Aku bukan hidupnya Nina karena aku telah mencampakkannya. Dan jika kamu ikut ke sidang perceraian denganku, Nina akan semakin menghinaku, Sinta. Kamu paham itu?"
Kini Sinta mengerti siapa Nina sebenarnya. Nina bukanlah wanita sembarangan yang bisa ia sepelekan kapanpun. Justru, Nina adalah wanita yang seharusnya Sinta tidak dekati. Dan tidak seharusnya pula Doni membuat masalah dengan Nina seperti itu.
"Pantas saja selama ini kamu gelisah dengan masalah perceraian. Karena kamu tahu kalau membuat masalah dengannya apalagi sampai keluarganya tahu, kamu akan dapat masalah besar. Aku tidak menyangka, Nina wanita seperti itu." kata Sinta tersenyum.
"Aku tahu aku salah. Dan aku juga menyesal yelah menyakiti Nina seperti itu. Tidak seharusnya aku membuat Nina sakit hati. Karena konsekuensinya dia akan meninggalkanku kapanpun." kata Doni. Ia menatap ke depan dan mengabaikan pandangan Sinta yang kini terlihat kesal.
"Kalau kamu sudah tahu, seharusnya kamu tidak membuat masalah kan? Seharusnya kamu lebih berhati-hati dengan perselingkuhanmu. Untung saja Nina tidak menuntut uang ataupun harta darimu." kata Sinta.
"Kalau iya, bukankah sudah sewajarnya?" tanya Doni.
"Aku rasa tidak. Karena Nina selama ini mencari uang sendiri. Ia bisa hidup bahkan tanpa uang darimu. Dan gajimu, kamu berikan padaku semua." jawab Sinta dengan senyum kemenangannya. Tapi tidak dengan Doni. Doni tidak bisa tersenyum sama sekali. Karena ia baru menyadari pahitnya kehilangan Nina setelah ia menikahi Sinta.