
Hari ini Fabio akan datang ke rumahnya seperti yang dikatakan kemarin. Nina merasa jantungnya berdegup dengan cepat. Ia merasa gelisah dan tidak tahu harus memakai baju apa yang pas jika Fabio datang nanti.
"Mama..." panggil suara lembut Namira.
"Iya, Sayang?"
"Mama mau pegi?" tanya Namira dengan bingung. Karena banyak atasan yang dikeluarkan tapi tidak satupun dipilihnya.
"Enggak, Sayang. Mama cuma bingung hari ini pakai baju apa ya?" tanya Nina pada Namira tersenyum.
"Ini aja." tunjuk Namira pada dress ungu dengan corak bunga yang terlihat sederhana.
Namira sudah pintar bicara. Ia bicara dengan sangat lancar dibantu dengan pengasuhnya yang rajin sekali mengajaknya mengobrol.
"Kenapa yang ini, Namira?"
"Mira suka warna ungu. Hehehe." jawab Namira dengan cengiran di wajah mungilnya.
Nina tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
"Oke deh. Mama pilih ini ya."
Wajah Namira tersenyum ceria melihat Nina memilih baju yang dipilihkannya.
Setelah mengenakan dress berwarna ungu, Nina mengajak Namira keluar dari kamar. Ia melihat Nini yang tengah membawa beberapa makanan kecil ke ruang tengah.
"Nina, kamu sudah tahu kan, kalau Fabio mau datang?" tanya Nino masih dengan kesibukkannya.
"Iya, tahu kok."
"Mungkin sebentar lagi sampai. Gelasnya tolong di tata ya." kata Nino.
"Kenapa sih, Kak. Kok sibuk banget. Kayak yang datang banyak aja. Kan cuma Fabio yang datang."
"Ya, nggak apa-apa dong. Kedatangan Fabio kesini kan juga bukan karena urusan kantor. Bersantai lebih lama juga gapapa." jawab Nino.
"Bersantai bagaimana?" Nina melihat adanya kue pandan dan kukis di atas meja. Ditambah lagi dengan air jeruk. Lalu ada bihun goreng.
"Yang ada kalian akan makan terus disini."
"Hahaha. Ya kan sama kamu dan Namira juga ngobrolnya. Biar seru ya sambil makan."
"Ini sih makanan kesukaan kamu semua." jawab Nina.
"Lho, kamu kan suka kukis juga."
"Nggak terlalu."
Tidak lama, Fabio datang dan mengucap salamnya. Ia tidak menyangka akan disambut meriah oleh sahabatnya sendiri.
"Wah, ramai sekali meja tamunya. Aku yakin disini pasti kenyang banget." ucap Fabio ceria.
"Kamu sudah datang, Fab." sambut Nino dengan pelukan di tubuh Fabio.
"Ya, aku sampai dengar kalian berdebat."
"Ayo, duduk!" ajak Nino.
Fabio langsung mengambil tempat yang nyaman untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Nina hanya tersenyum melihat kedatangan Fabio.
"Namira dimana?" tanya Fabio mencari bayangan kecil mungil yang cantik dengan rambut gelombangnya.
"Biasanya dia suka main di taman belakang.' jawab Nina.
"Ngomong-ngomong, ada apa nih kok tumben banget kamu ngabarin aku kalau mau main ke rumah?" tanya Nino penasaran.
"Ya nggak apa-apa dong. Kan aku juga mau main-main tanpa formalitas dan ngomongin kerjaan." jawab Fabio.
Fabio sedikit melihat ke arah Nina. Terlihat begitu cantik dan anggun tanpa setelan kemeja.
Nina akhirnya ikut makan bersama dengan mereka.
*****
"Kalau begitu aku pamit dulu." kata Fabio.
"Kapan mau main kamu bisa telpon saja. Atau beritahu Nina."
Nina hanya tersenyum mendengar apa yang Nino katakan.
"Gampang kok. Nanti aku bisa main lagi kalau waktuku sudah senggang lagi." Fabio tersenyum.
Setelah Fabio berbalik badan dan pergi, Nina dan Nino masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana menurutmu tentang Fabio?" tanya Nino pada Nina. Nina sedikit salah tingkah ketika ditanya mengenai Fabio.
"Bagaimana apanya, Kak?" Nina merasa bingung harus jawab seperti apa.
"Ya bagaimana menurut kamu? Karena Kakak lihat dia baik, jujur dan juga bisa jadi pendamping kamu." ujar Nino.
"Maksudnya, Kakak mau jodohin aku sama Fabio begitu?"
"Ya, nggak jodohin juga. Cuma mau kasih tahu kalau Fabio itu seseorang yang cocok buat kamu."
Nina tersenyum.
"Nanti kupikirkan." jawab Nina.
"Serius? Kamu mau memikirkannya?" tanya Nini dengan ceria.
"Apa sih, Kak!"
"Kalau kamu benar serius, Kakak pasti dukung dan Kakak pasti akan bersikap lebih baik sama Fabio."
Nina tersenyum.
"Kakak sempat ragu kamu tidak akan membuka hati kamu lagi buat orang lain. Kamu selalu bekerja dengan keras tanpa peduli apapun disekitar kamu kecuali Namira."
"Kalau yang Kakak katakan Fabio memang baik, aku harus percaya. Karena aku nggak mau salah pilih lagi untuk kedepannya, Kak." jawab Namira.
"Aku senang sekarang kamu bisa lebih bijak memilih pasangan kamu."
"Aku hanya tidakbingin kecewa kedua kalinya, Kak." Nina tersenyum
Nino mengangguk setuju dengan Nina.
"Baiklah. Kapan-kapan, kita ajak dia makan malam bersama."
Nina tidak menjawab. Tapi keceriaan diwajah Nino jelas membuat Nina merasa bahwa hidupnya kini mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Ia tidak ingin salah pilih lagi. Ia tidak ingin merasa kecewa lagi. Sejujurnya, ia pun ingin merasa dibahagiakan juga oleh orang lain.
*****
Seiring berjalannya waktu, Sinta menerima tawaran Nina untuk bekerja di perusahaannya. Nina senang sekali mendengar kabar baik dari Sinta. Luka yang dulu Nina dapat kini terhapus sudah. Nina sudah menata hidup dan hatinya kembali. Tidak sedikitpun dendam yang tersisa di dalam hatinya. Sekarang hati Nina sudah benar-benar sembuh dari luka yang ia dapatkan di masa lalu. Terlebih lagi, hatinya kini sudah mulai ia buka kembali dengan cinta yang lain.
"Saya senang sekali akhirnya kamu bisa bergabung dengan perusahaan saya disini, Sinta." kata Nina dengan nada bicara formal.
"Saya yang berterima kasih telah diberikan kesempatan bisa bekerja disini." jawab Sinta sambil tersenyum.
"Kamu harus memulai tahapan dari staff biasa. Kalau skill kamu mencukupi untuk naik level, kamu pasti bisa naik level." kata Nina.
Sinta mengangguk.
"Nanti kamu akan di bagian produksi saja. Saya panggil supervisor di bagian ini."
Nina menekan tombol memanggil seseorang dan tidak lama kemudian, masuklah seorang wanita muda dengan pakaian modis dan sangat rapi.
"Ibu memanggil saya?" tanya wanita modis, supervisor di bagian produksi.
"Jeannie, ini anggota staff baru di divisi kamu. Kamu bisa ajarkan pelan-pelan. Perhatikan skillnya setiap bulan ya. Setiap bulan harus ada kemajuan dan berikan laporan pada saya tiap akhir bulan melalui e-mail." kata Nina.
"Baik, Bu."
"Sinta, nanti komunikasi antar staff itu melalui chat di email. Pastikan kamu paham dengan hal itu ya." lanjut Nina.
"Biak, Bu."
"Kalau begitu kalian bisa langsung ke divisi kalian." Nina tersenyum pada Sinta dan juga wanita modis yang dipanggil Jeannie itu.
Sinta dan Jeannie keluar dari ruangan Nina dengan perlahan.
Nina menatap bayangan Sinta yang kini menjadi rekan kerjanya. Waktu terus berlalu. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi. Bisa jadi kemarin Nina sangat membenci Sinta, tapi sekarang, Nina telah membuma hatinya untuk bisa memaafkan Sinta sepenuh hatinya.