
Namira sudah semakin besar. Nina mengajarinya berjalan dan Nina tertawa bahagia melihat pertumbuhan Namira. Sesekali, Nina mengajak Namira jalan-jalan ke mall atau taman ditemani oleh pengasuhnya. Sekadar melepas penat setelah bekerja.
"Udara disini bagus ya, Bu." ucap Nina duduk di sebuah taman bersama pengasuhnya.
"Iya, Mbak, bagus. Sesekali Namira diajak kesini pasti senang. Hari minggu pasti ramai." sahut pengasuhnya.
"Makasih ya, Bu, selama ini nggak pernah bertanya-tanya soal suami saya. Ibu pasti mengerti kalau saya juga nggak mau ngebahas itu." kata Nina menatap pohon-pohon tinggi yang ada di depannya.
Suasana taman kota yang begitu sejuk membuat pikirannya menjadi sedikit tenang.
"Saya sudah lelah, Bu, dengan sikap anak kecil suami saya. Yang selalu merasa dirinya bisa menebar pesona dimana-mana. Padahal menikah dengan dia pun saya juga mengorbankan orang tua dan keluarga saya." lanjut Nina. Pengasuhpun tidak banyak berkomentar karena merasa khawatir itu bukanlah jalurnya.
"Mbak sudah bagus kok. Fokus saja pada Namira. Jangan ikut lemah di depan Namira. Supaya Namira bisa merasa senang terus di dekat Mbak."
"Begitu ya? Itu juga yang saya pikirkan. Saya nggak mau menjadi lemah karena suami saya. Saya selama ini berusaha sekuat mungkin bisa menghidupi Namira dengan layak. Terus bantu saya jaga Namira ya, Bu." kata Nina meraih kedua tangan pengasuhnya.
"Iya, Mbak. Saya juga merasa senang kalau Mbak bisa percaya sama saya. Saya nggak perlu khawatir lagi. Awalnya saya khawatir Mbak nggak percaya sama kerja saya. Seiring berjalannya waktu, saya sangat bersyukur bisa mengenal wanita sebaik Mbak Nina ini."
Nina tersenyum mendengar apa yang pengasuhnya katakan. Jika orang lain bisa berpikir bahwa dirinya amat sangat baik, kenapa tidak dengan Doni? Kenapa Doni selalu saja punya cara untuk menyakiti dirinya. Pun sudah ada Namira, Doni tidak berpikir untuk menggendong anaknya sama sekali. Ia sibuk bermain dengan teman wanitanya.
"Sudah mulai siang, Mbak." kata pengasuh itu mengingatkan. Namira yang diletakkan di stroller dengan lahap memakan biskuit bayi yang diberikan oleh pengasuhnya.
"Yuk, Bu, kita pulang." kata Nina bersiap untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Nina melihat rumah Sinta sedikit gaduh di dalamnya. Nina sedikit penasaran, tapi mengingat siapa Sinta, Nina mencoba tidak peduli. Tapi terdengar bisik-bisik dari para tetangga kalau Sinta telah hamil di luar menikah.
"Sinta hamil sama siapa?" bisik salah seorang tetangga.
"Atuh nggak tahu. Ibunya tahunya Sinta itu kerja kok." jawab salah seorang tetangganya yang lain.
"Kok bisa sih begitu. Nggak kasihan apa sama keluarganya. Aduh Sinta, Sinta. Ada ada aja."
Walaupun mereka berbisik, tapi Nina masih mendengarnya. Nina melihat motor Doni yang terparkir di depan rumahnya. Nina masuk ke dalam segera menemui Doni.
"Mas! Mas!" panggil Nina.
Doni yang sedang terduduk di sofa ruang tamu melihat kedatangan Nina dan menatapnya dengan tatapan kosong.
"Ya, Nina?"
"Itu kamu kan? Itu kamu yang menghamili Sinta kan? Gosipnya sudah menyebar kemana-mana dan aku dengar sendiri." kata Nina dengan sedikit kesal.
Doni menatap Nina penuh dengan rasa bersalah. Ia tidak menyangka perbuatannya bisa sejauh ini menyakiti Nina.
"Aku harus bagaimana, Nina? Sinta dalam masalah sekarang. Tapi aku juga nggak bisa bantu. Aku merasa takut Nina." kata Doni. Nadanya sedikit gemetar. Ia tidak seperti biasanya.
"Takut? Kamu berani melakukan hal itu dengan Sinta. Kamu membela segala kebohonganmu dengan alasan lembur di kantor dan mengambil kerja sampingan. Tapi apa? Apa yang bisa kamu berikan untuk aku dan Namira? Semua hartamu habis buat wanita itu. Sekarang kamu malah jadi pengecut dan tidak bisa menghadapi resikonya. Kamu laki-laki bukan?" Nina berkata panjang lebar tidak habis pikir lagi dengan sikap Doni.
Doni sudah melewati batasannya. Kesempatan yang Nina berikan agar Doni berubah menjadi lebih baik selama hampir satu tahun, tidak digunakan dengan baik.
"Aku minta maaf Nina. Selama ini aku sudah menyakiti kamu. Aku nggak berpikir kalau perbuatanku bisa seperti ini. Aku khilaf Nina." kata Doni.
Doni berpikir bahwa Nina akan memaafkannya dan membantunya menyelesaikan masalah dengan Sinta. Tapi Doni salah besar. Nina tidak sedikitpun mempunyai rasa kasihan pada Doni, setidaknya saat ini.
"Maaf? Maafku sudah kadaluarsa untukmu. Sekarang pergi ke rumah Sinta dan selesaikan masalahmu!" kata Nina tegas pada Doni. Nina menatap mata Doni dengan tajam. Ia sudah tidak takut lagi kehilangan Doni sekarang. Ia ingin menyudahi semua ini. Nina sudah terlalu lelah dengan Doni.
"Bagaimana aku bisa kesana? Aku ini suami kamu, Nina. Apa kata orang-orang nanti?" Doni masih berusaha meyakinkan Nina bahwa ia masih menjadi suami Nina.
"Sejak kapan kamu jadi suamiku lagi? Bahkan selama ini kamu sibuk bolak balik bercinta dengan Sinta dan sekarang kamu masih bilang kamu adalah suamiku? Oh, ya. Disaat kamu ada masalah kamu bilang kalau aku istrimu dan kamu adalah suamiku. Tapi disaat kamu nggak butuh aku, kamu pergi ke Sinta dan bersenang-senang. Kamu lupa sama Namira. Kamu lupa semua itu!" Nina tidak bisa menahan emosinya lagi menghadapi Doni.
"Kenapa kamu bicara begitu?"
"Itu kenyataan! Dan mulai detik ini aku minta kamu ceraikan aku."
Nina menatap Doni tajam. Tidak ada nada bercanda dari apa yang Nina ucapkan. Hati Doni bagai tersambar petir. Nina minta bercerai? Doni merasakan hidupnya hancur mulai dari detik ini juga. Ketika Nina minta cerai darinya. Ia tidak bisa membayangkan Nina akan berkata seperti itu.
"Cerai, Nina? Kamu bercanda kan?"
"Kamu lupa? Selama ini kamu telah menyia-nyiakan aku dan Namira. Kamu pergi ke Sinta! Dan aku pura-pura nggak tahu semua itu! Bagaimana aku bisa hidup seperti itu?" Nina mulai histeris. Ia tidak bisa membendung air matanya lagi.
"Tapi masih ada solusi buat kita Nina. Nggak harus bercerai. Aku nggak mau menalak kamu seperti itu." ucap Doni lagi.
"Lalu apa? Selama ini aku banting tulang sendirian memikirkan bagaimana cara menghidupi Namira. Dan sedikitpun kamu tidak pernah tersenyum pada Namira. Kamu selalu bilang capek dan sibuk bekerja."
Doni terdiam dengan ucapan Nina.
"Justru aku yang mau tanya sama kamu. Apa arti pernikahan kita selama ini kalau kamu sibuk kesana kemari mencari wanita lain demi memuaskan hasratmu?"
Doni tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Ia sudah kalah telak di tangan Nina. Ia tidak bisa menahan Nina lagi disisinya. Keputusan Nina sudah bulat. Doni diam mematung melihat air mata Nina yang mulai menetes di pipinya.
Nina benar, selama ini ia telah menyia-nyiakan Nina dan juga Namira demi bersenang-senang dengan Sinta.
Nina berlari masuk ke kamarnya. Ia mengunci pintu dan menangis dengan keras. Hatinya hancur melihat suaminya harus berbuat seperti itu. Untunglah pengasuh Namira belum pulang jadi ia bisa leluasa menumpahkan air matanya. Setelah puas berteriak dan menangis, ia mengambil ponselnya. Ia menelpon seseorang. Ia sudah tidak sanggup lagi menghadapi semua ini.
"Halo..." jawab seseorang di seberang telpon.
Nina mengusap air matanya yang tidak berhenti berjatuhan di pipinya. Ia merasa tidak sanggup mengatakannya.
"Kak..." kata Nina.
"Nina, ada apa? Tumben kamu menelpon? Kamu baik-baik saja?"
Pertahanan Nina rapuh. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan air mata dan tangisannya lagi. Nino mendengar adik satu-satunya menangis.
"Kak, tolong aku, Kak...."