Restless

Restless
It's Your Fault



Sesampainya di rumah, Nina meminta agar pengasuhnya mengajak Namira jalan-jalan sore. Setelah pengasuhnya keluar dari rumahnya, Nina melanjutkan apa yang tidak sempat ia ucapkan di tempat makan tadi.


"Kamu apa-apaan, Nina? Nggak perlu kamu bicara begitu di depan orang-orang! Bikin malu saja!" kata Doni membela dirinya.


"Aku? Bikin malu, Mas?" tanya Nina tidak percaya dengan apa yang Donu ucapkan.


"Iya, buat apa kamu marah-marah di tempat tadi?" sahut Doni.


"Justru kamu yang bikin malu! Nggak akan ada api kalau nggak ada asap! Dan kamu udah terlalu banyak alasan! Wajar kalau aku curiga!" kata Nina sedikit meninggikan suaranya. Pandangannya tidak lepas dari wajah Doni.


PLAAKKKK!!!


Tanpa sadar, Doni menampar pipi Nina. Ia terbawa emosi dengan apa yang terjadi hari ini. Nina membentaknya tiada henti seolah-olah Doni melakukan kesalahan yang sangat fatal.


Pipi Nina terasa panas. Air matanya mengalir dari matanya. Hatinya perih. Hatinya sakit.


"Kamu berani menuduhku ini dan itu! Lihat kamu, apakah kamu sudah benar menjadi istri!" kata Doni pada akhirnya. Ia tidak ingin mendebat lebih banyak. Doni pergi meninggalkan rumahnya.


Nina terduduk lemas di lantai. Air matanya mengalir semakin deras dari pipinya. Ia tidak sanggup lagi. Ia menangis tiada henti.


Pengasuh Namira akhirnya kembali dan melihat keadaan Nina yang menangis tersedu-sedu.


"Mbak, Mbak, Mbak nggak apa-apa?" tanya pengasuh itu dengan khawatir. Nina hanya menatapnya kemudian memeluknya. Nina kembali menangis di pelukannya. Nina tidak mengatakan apapun.


Doni mendatangi tempat yang seharusnya ia tidak datangi. Ia memencet bel dengan sangat cepat. Ia juga menggedor pintu rumah itu. Tidak lama, pemilik rumah keluar dengan kesal karena kegaduhan yang dibuat oleh orang yang ingin bertamu ke rumahnya.


"Doni?!" kata Meri sangat kaget melihat Doni berdiri di depan rumahnya.


"Ngapain kamu disini?" tanya Meri.


"Boleh aku masuk?" suara napas Doni terdengar tersengal-sengal. Ia sulit mengatur napasnya.


Meri mempersilakan masuk tanpa berkata. Doni masuk dan melepas sepatunya.


Doni mengambil tempat duduk yang biasa ia duduki di rumah Meri. Meri hanya tinggal sendiri. Ia pun dulu juga sudah terbiasa datang ke rumah Meri.


"Ada apa? Kenapa kamu kemari?" tanya Meri terdengar tidak acuh pada Doni.


"Aku minta air." kata Doni.


Dengan sedikit kesal, Meri mengambilkan segelas air untuk Doni. Setelah Doni meminum segelas air itu, Doni sudah bisa mengatur napasnya dengan baik.


Meri akhirnya ikut duduk di bangku yang bersebrangan dengan Doni.


"Ada apa, Doni? Kenapa kamu datang kemari dan menggedor-gedor pintu orang?" tanya Meri sudah mulau sedikit terganggu dengan kedatangan Doni.


"Aku cuma sedikit debat aja sama Nina." jawab Doni pendek.


Meri merasa heran. Nina yang selama ini tidak pernah komentar apapun tentang Meri ataupun Doni, kini berdebat dengannya. Apakah sesuatu terjadi? Tapi tidak. Meri tidak ingin ikut campur dengan masalah mereka berdua.


"Kalau kamu sudah tenang, silakan pulang. Aku nggak nyaman ada orang lain disini." kata Meri memalingkan wajahnya.


"Aku nggak bisa pulang. Aku akan menginap disini." sahut Doni cepat.


Meri mendelik kesal ke arah Doni. Kenapa seenaknya memutuskan sesuatu? Memang ini rumahnya atau apa?


"Aku sudah bilang aku nggak nyaman ada orang lain disini." kata Meri.


"Aku sudah pernah menginap disini dan kamu nggak kenapa-kenapa. Aku janji aku hanya tidur di ruang tamu." kata Doni.


"Doni, kenapa kamu memaksa? Memang ini rumahmu atau kamu yang membayar listrik di rumahku jadi kamu bisa seenaknya?" kata Meri dengan kesal.


"Meri, tolonglah. Sekali ini saja."


"Kenapa sih harus datang ke rumahku? Kalau kamu ada masalah sama Nina selesaikan baik-baik! Apa kamu anak kecil kalau ada masalah sedikit langsung kabur?" Meri mulai mengomelinya. Ia tidak suka jika melihat Doni bertingkah seperti anak kecil.


"Aku nggak bisa, Doni. Kamu sudah punya keluarga. Buat apa aku mengizinkan kamu tinggal disini malam ini?" kata Meri masig tetap menolak Doni.


"Aku ketahuan bermain dengan wanita lain oleh Nina." jawab Doni pada akhirnya. Ia terpaksa mengatakannya karena kalau tidak, ia bisa habis oleh Nina malam ini.


"Apa?" tanya Meri tidak percaya.


"Iya, aku ketahuan. Dan Nina marah besar." jawab Doni.


Diluar dugaan Doni. Ia pikir Meri akan menasihatinya panjang lebar. Tapi tidak. Meri tertawa dengan sangat bahagia diatas penderitaan Doni.


"Ahahahah... Ya ampun, Doni."


"Kenapa? Kok kamu ketawa?" tanya Doni tidak mengerti.


"Aku nggak tahu kamu sebodoh ini. Benar." kata Meri.


"Maksud kamu?"


"Maksud aku kenapa kamu bodoh jadi laki-laki? Tidak bersyukur menikah dengan Nina? Kalau aku jadi Nina kamu habis dan tidak akan bisa pulang ke rumah!" jelas Meri kesal sambil mengayunkan tangannya ke arah Doni.


"Kenapa? Kenapa kamu bicara begitu?"


"Kamu benar-benar bodoh ya, Doni? Berapa banyak laki-laki di luar sana yang mengantri buat bisa dekat sama Nina? Tapi Nina malah menikah dengan pria mata keranjang seperti dirimu. Lihat dirimu. Kamu itu bukan bos atau direktur. Harusnya tidak perlu banyak tingkah dan setia pada Nina!" omel Meri. Kali ini entah mengapa Meri sangat kesal melihat wajah asli Doni.


"Aku hanya berteman dengan dia..." Doni mencoba membela diri. Tapi ia salah. Ia tidak bisa membela diri di depan Meri.


"Teman? Bagaimana kamu bisa menyebut itu hanya teman? Antara satu orang laki-laki dan satu orang perempuan tidak pernah ada yang bisa disebut teman!" jelas Meri.


"Lalu bagaimana kita? Kita bisa berteman melalui hari demi hari selama ini."


"Kalau aku memang benar menganggapmu teman, bagaimana bisa aku terus menghubungimu dan mendatangi mejamu setiap hari?" tanya Meri meminta pendapat Doni. Tapi Doni sepertinya tidak mengerti dengan apa yang ia sebut cinta sejati. Ia hanya tertarik dengan wanita sesaat, kemudian meninggalkannya.


"Kalau suatu hari nanti Nina meninggalkan kamu, itu ada yang salah dengan diri kamu sendiri." lanjut Meri.


"Kenapa kamu bicara begitu? Seharusnya kamu bisa support aku dong, Meri. Bukan malah memojokkan aku seperti ini." Doni masih berusaha membela dirinya.


"Bagaimana aku bisa membelamu kalau kamu memang salah?" tanya Meri pedas. Doni tidak bisa menjawab apapun. Ia terdiam dengan semua kata-kata Meri.


"Kamu dulu mengejar dia kan? Sampai mau memberikan cincin. Sekarang kamu mau mencampakkan dia. Apa alasanmu?"


Meri terlihat sangat menakutkan dengan kutbahnya hari ini. Doni tidak bisa menjawab banyak apa yang Meri tanyakan.


"Ehm.. ya.. Semenjak dia melahirkan dia sudah mulai jarang memperhatikan aku." jawab Doni.


"Nah! Itulah bodohnya kamu, Doni." kata Meri dengan suara lantang. Doni kembali terdiam.


"Kamu merasa Nina tidak memperhatikan kamu? Kamu tahu nggak melahirkan dan ngurus anak itu sulit? Kamu tahu nggak dia itu ngurus anak siapa? Anakmu Doni!" Meri mulai gemas dengan Doni. Mengapa hal-hal seperti ini sama sekali tidak ia ketahui.


"Berarti kalau suatu hari nanti kamu di pecat dari perusahaan dan Nina meninggalkan kamu, ya kamu nggak masalah dong. Kan kamu sudah nggak berpenghasilan." kata Meri dengan santai.


"Lho, ya nggak bisa gitu dong!" Doni sedikit protes dengan apa yang Meri katakan.


"Kenapa nggak bisa? Sekarang aja kamu ada alasan kok buat selingkuh. Kenapa Nina nggak punya alasan buat ninggalin kamu?" Meri skakmat ucapan Doni. Doni tidak bisa membantahnya lagi.


"Menikah itu urusan komitmen dua orang. Dua keluarga. Kalau kamu nggak bisa, kamu nggak sanggup, tidak usah menikah. Buat apa menikah kalau cuma mau nyakitin satu sama lain? Buat apa ngejar-ngejar kalau akhirnya kamu jelek-jelekan dia?"


Meri benar. Meri berbicara realita dan Doni tidak bisa menyangkalnya. Jelas dalam hal ini Doni salah. Jelas dalam hal ini Doni tidak bisa mengelak atau membenarkan dirinya. Ia sudah kalah telak.


"Kalau kamu mau istirahat, istirahat disini. Besok pulang!" tegas Meri. Ia hanya menatap wajah Doni yang lusuh.


Meri mengelus dadanya. Dan membatin dalam hatinya.


Beruntung aku tidak menyatakan perasaanku dan mengejar dia lagi. Kalau iya, bisa kacau hidupku.