Restless

Restless
CCTV



Meri melihat Doni yang datang ke kantor dengan absennya yang hampir saja telat. Doni terburu-buru menekan jarinya ke absen otomatis.


"Kamu telat lagi." kata Meri.


Doni dengan napas yang tersengal-sengal melihat Meri yang berdiri memperhatikannya.


"Ya. Sedikit macet di jalan." jawab Doni asal.


"Kamu sedang ada masalah di kantor. Jangan sampai telat. Nanti atasan bisa memarahimu lagi." kata Meri memperingatkan. Baru saja Meri akan melangkahkan kakinya ke dalam ruangan. Tapi Doni menahannya dengan suaranya.


"Bagaimana kalau dulu itu kamu?" tanya Doni.


Meri tidak mengerti dengan yang Doni maksud.


"Maksudmu?"


"Bagaimana kalau dulu itu kamu yang menjadi pacarku? Apakah aku akan kacau seperti ini?" tanya Doni. Entah apa yang merasuki Doni hari ini. Doni bertanya seperti itu pada Meri.


"Entahlah. Aku nggak bisa membayangkan hatiku terluka kedua kalinya olehmu." jawab Meri.


"Kenapa? Kamu pasti punya alasannya kan?"


"Bagai gelas yang sudah retak. Tidak akan bisa berfungsi dengan baik walau sudah di lem berkali-kali. Mungkin itu juga yang dialami oleh perasaanku. Walau aku sudah bicara seperti biasa padamu sekarang, hatiku tidak akan pernah bisa sama lagi." jelas Meri.


Doni terkesiap mendengar apa yang Meri katakan. Ada benarnya. Doni pun tidak dapat menyangkalnya. Meri meninggalkan Doni yang tertunduk lemas dan masuk ke ruang kantornya.


*****


Pintu ruangan Nina terketuk pelan oleh Pak Sam. Pak Sam memberikan USB kecil pada Nina.


"Sudah Bapak dapatkan?" tanya Nina.


"Sudah, Bu. Tidak ada yang dilakukan olehnya selain menunggu Ibu datang ke kantor." jawab Pak Sam.


"Baiklah. Saya akan lihat dulu. Tolong minggu ini buatkan proposal kita dengan kerja sama sebuah mall ya. Saya akan mengajukan proposal siang ini."


"Baik, Bu."


Nina menyambungkan USB yang diberikan oleh Pak Sam ke dalam laptop. Ia melihat rekaman CCTV gerbang depan, dimana Doni menunggunya mulai dari jam tujuh pagi.


"Buat apa Doni disana pagi-pagi begitu? Bukannya jam kantor dia jam sembilan?" tanya Nina dalam hati.


Ia mempercepat waktu yang berada di rekaman. Doni memang tidak melakukan apapun. Dan ketika melihat Nina datang ke kantor, Doni langsung pergi dari sana.


Apa yang Doni lakukan? Apakah Doni merasakan penyesalan sehingga ia masih saja mencari keberadaan dirinya?


Nina merasa bahwa Doni masih dalam batas yang wajar. Tapi jika nanti Doni mengganggunya, Nina tidak akan tinggal diam. Nino masuk ke dalam ruangan Nina tanpa mengetuknya. Nina terburu-buru menutup laptopnya.


"Nina, nanti siang kita jadi ya datang ke mall. Kita akan membuka toko disana dan..."


Pandangan Nino teralihkan ke laptop milik Nina yang baru saja ia tutup.


"Ada apa? Ada masalah?" tanya Nino.


"Nggak ada apa-apa. Aku cuma..." Nina tidak pandai menyembunyikan sesuatu dari kakaknya. Nino memutar laptop itu dan membuka layarnya. Sebuah rekaman CCTV yang menampilkan Doni disana.


"Ngapain dia di kantor kita?" tanya Nino tidak mengerti.


"Entahlah. Aku juga baru diberitahu kalau dia baru-baru ini menungguku datang ke kantor. Dan dari rekaman itu, setelah aku masuk ke dalam, dia langsung meninggalkan pintu gerbang." jawab Nina seadanya yang ia tahu.


"Apa mungkin dia masih nggak bisa move on dari kamu? Seharusnya dia bersikap lebih baik selama kamu menjadi istrinya. Alih-alih bersikap baik, dia malah berselingkuh." Nino sedikit kesal dengan apa yang Doni lakukan pada adiknya.


"Bagaimana nggak ku bahas? Tiba-tiba dia ada di kantor kita. Maunya apa? Nggak puas menyakitimu kemarin?"


"Mungkin ada yang mau dia sampaikan padaku." tebak Nina.


"Menyampaikan apa? Bahwa dia menyesal dan ingin kembali padamu? Tidak akan kubiarkan itu terjadi." Nino terdengar sinis sekali ketika membicarakan Doni. Ya. Dan memang seharusnya begitu.


"Ada yang harus kukerjakan. Kalau dia macam-macam, kamu harus memberitahuku. Mengerti?" Nini sedikit memperingatkan Nina agar tidak diam saja jika Doni bertindak macam-macam.


"Iya, iya. Aku paham."


Nino meninggalkan ruangan Nina dan berpapasan dengan Pak Sam di meja kerjanya.


"Pak Sam, apa Bapak tahu sesuatu?" tanya Nino pada Pak Sam.


"Mengenai apa, Pak?" tanya Pak Sam kurang mengerti.


"Nina tadi melihat rekaman CCTV. Ada mantan suaminya disana."


"Iya, Pak. Saya yang memberikan rekaman CCTV itu." jawab Pak Sam.


"Tolong bantu pantau dia ya. Kalau terjadi apa-apa, hubungi saya segera." kata Nino.


"Baik, Pak."


*****


Sinta baru saja tiba di tempat kerjanya. Perutnya sudah mulai terlihat membesar. Ia merapikan sedikit demi sedikit barang yang berantakan. Ia juga merapikan kertas-kertas yang berserakan di mejanya.


Kriiinggg..


Telpon tokonya berbunyi.


"Iya, Ci? Apa yang harus saya beli? Oh.. oke Ci. Iya sebentar lagi saya kesana, Ci."


Sinta sekarang jarang mengeluh dengan pekerjaannya dan apapun yang ia lakukan. Ia selalu diingatkan oleh Ibunya, kalau sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu. Banyak yang harus ditanggung sebagai seorang ibu. Maka dari itu, Sinta mulai jarang mengeluh terutama dengan pekerjaannya.


Sinta diminta atasannya untuk pergi ke sebuah mall membeli suatu barang. Atasannya akan datang sore ke toko dan ia harus bergegas.


Sinta mengendarai motornya dengan perlahan dan menuju mall yang disebutkan oleh atasannya. Selama dalam perjalanan, ia terus menguatkan hatinya menghadapi cobaan yang selalu datang ke dalam hidupnya.


Setelah tiba di mall, ia mengambil parkir dan meletakkan helmnya di kaca spion motor.


Ia melewati baju yang terpajang di etalase kaca toko. Melihat dress yang cantik-cantik. Tapi Sinta hanya bisa memandanginya saja. Ia tidak bisa memasuki tokonya ataupun membelinya. Mengingat Doni masih punya hutang yang harus ia lunasi di kantornya.


Harapannya ingin mempunyai baju baru pupus sudah. Ia berjalan lagi menuju toko yang dimaksud oleh atasannya. Sinta mencari-cari dimana toko itu berada.


Selagi ia menyusuri toko, ia melihat Nina dengan anggunnya berjalan dengan setelan kerja yang cantik dan juga mengenakan sepatu hak tinggi. Rambut Nina yang panjang di kuncir kuda semakin terlihat betapa berkelasnya Nina dibanding Sinta.


Sinta semakin terpaku dengan kecantikan Nina hingga ia tersadar bahwa ia harus ke toko yang diminta atasannya.


"Sinta?"


Sinta terkejut dengan suara yang memanggilnya ketika ia akan masuk ke toko yang ia datangi. Nina memanggilnya. Semakin dilihat dari dekat, Nina semakin mengagumkan sebagai seorang wanita. Ya. Tidak heran jika Doni belum sepenuhnya bisa berpaling dari Nina.


"Iya, Kak." jawab Sinta tersenyum walau ia sedikit salah tingkah dan bingung harus bersikap seperti apa.


Nina tersenyum. Kepercayaan dirinya sekarang jauh lebih besar dibanding kemarin. Sungguh berbanding terbalik dengan Sinta yanh kini terasa tidak ada apa-apanya jika berhadapan dengan Nina.