
Nina sampai di pabrik yang ia datangi. Nino sudah berada disana menunggu Nina. Nina cukup terkejut melihat siapa yang sedang bersama Nino.
"Fabio?" tanya Nina.
Fabio tersenyum menyapa Nina.
"Hai, Nina. Lama nggak ketemu."
Nina yang bingung, melirik Nino meminta penjelasan.
"Fabio sudah lama bekerja dengan kita. Dia kemarin sempat cuti dari perusahaan kita dan tidak sengaja bertemu denganmu di perusahaan kamu yang kemarin itu." jelas Nino.
"Aku masih belum mengerti." jawab Nina tersenyum.
"Nanti kamu juga ngerti. Sekarang gimana kalau kita keliling pabrik dulu?" tanya Fabio mengalihkan kebingungan Nina.
"Baiklah." jawab Nina setuju.
Nino mempersilakan Nina berjalan duluan dan Nino mengikutinya dari belakang.
"Ini adalah pabrik produksi kaos dari kain yang tidak perlu diragukan lagi di kalangan masyarakat. Walaupun kita produksi kaos, tapi motif dan modelnya juga macam-macam. Harganya juga bervariasi mulai dari yang murah sampai yang mahal. Disini tempat produksi kaos yang mudah. Dan Kaos yang agak rumit menggunakan payet ada di sebelah sana." jelas Nino sambil mengelilingi mesin yang ada di dalam pabrik.
Nina memperhatikan sekeliling pabrik dan mengagumi betapa besarnya pabrik milik keluarganya. Ia tidak pernah diajak oleh Ayahnya datang ke pabrik. Katanya, wanita dulu tidak perlu mengenal hal-hal seperti ini.
Tapi Nino menentang keras apa yang Ayahnya katakan. Bahwa Nina sama dengan dirinya. Anak Ayah yang berhak mewarisi perusahaan dan pabriknya.
Mereka berkeliling dan Nino yang memimpin untuk menjelaskan isi pabrik. Memperkenalkan Nina kepada staff dan mengumumkan bahwa Nina akan datang setidaknya seminggu sekali ke pabrik.
Jujur saja, Nina cepat tanggap dengan apa yang dibicarakan Nino. Ia langsung mengerti dan Nino merasa bebannya terangkat sedikit demi sedikit sejak kedatangan Nina ke perusahaannya.
"Kita istirahat dulu. Pak Sam. Kita ke restoran dekat sini ya." kata Nino meminta Pak Sam agar ikut makan siang bersama.
"Baik, Pak."
*****
Doni melakukan kesalahan dalam pekerjaannya. Di dalam ruangan kepala bagian, ia mendapat teguran dari atasannya dan Doni hanya bisa meminta maaf.
"Bagaimana bisa kamu membuat laporan bonus hadiah kepada pelanggan tetapi tidak ada berita acara bahwa mereka telah menyewa gedung pernikahan?" tanya kepala bagian dengan sangat kesal. Masalahnya uang bonus hadiah yang biasanya diberikan kepada pelanggan sudah cair. Dan tidak ada cara lain selain Doni mengganti uang itu.
"Kamu tahu berapa nilai bonus itu? Dua juta. Dan kamu harus membuat pertanggung jawaban kepada keuangan. Uang itu dipakai sebagai bonus tapi tidak ada berita acaranya. Bagaimana kamu menanggapi hal seperti ini?"
"Maafkan saya, Pak." kata Doni hanya bisa menunduk.
"Kalau maaf kamu bisa memggantikan uang perusahaan, saya akan terima." kata kepala bagian tidak punya cara lain selain memotong gaji Doni.
Doni terdiam sesaat.
"Bagaimana? Kamu mau dipotong langsung dua juta atau dibagi ke dalam dua bulan?" tanya kepala bagian.
"Maaf, Pak. Kalau bulan ini saya langsung dipotong dua juta, saya tidak ada uang buat keperluan sehari-hari saya."
"Kalau begitu kamu harus setuju dalam sebulan gajimu akan dipotong satu juta."
Doni terdiam lagi. Kepala bagian sudah merasa kesal dengan pekerjaan Doni yang tidak teliti seperti ini.
"Bagaimana?"
Kepala bagian mengangguk mendengar jawaban Doni. Doni keluar dari ruangan atasannya dengan perasaan gelisah. Meri hanya bisa melihat wajah Doni yang semakin hari semakin kacau. Tidak biasanya Doni membuat salah seperti itu. Kalau Doni membuat salah seperti itu, pasti ada sesuatu yang Doni pikirkan.
*****
Nino menyewa ruang VIP yang ada di restoran agar bisa makan siang dengan leluasa. Nino juga mengajak sekretaris dan supirnya makan bersama. Itulah kebiasaan Nino. Ia tidak suka makan sendiri, jadi ia selalu mengajak sekretaris dan supirnya makan bersama.
"Hari ini Ibu Nina telah mengunjungi pabrik Sujin. Dalam dalam seminggu sekali secara rutin, Nina akan mendatangi pabrik untuk mengontrol pekerjaan disana." kata Nino sebelum memulai makan siangnya.
"Mohon bantuannya. Saya akan lebih rajin bekerja." kata Nina.
"Mohon bantuannya, Pak Sam. Tolong bimbing Ibu Nina." kata Nino meminta pada Pak Sam.
"Tentu saja, dengan senang hati saya akan membantu Ibu Nina." jawab Pak Sam ramah.
"Baiklah, ayo makan semuanya."
Setelah acara makan siang, Nino pamit lebih dulu bersama supirnya. Sedangkan Fabio masih ada disana dengan Nina. Nina meminta supir dan Pak Sam menunggu di parkiran.
Nina menikmati suasana siang hari yang jarang ia nikmati belakangan ini sambil minum teh dengan Fabio.
"Dunia lucu." kata Nina.
"Apa yang lucu?" tanya Fabio tidak mengerti.
"Ternyata kamu sudah bekerja dengan Nino cukup lama. Tapi aku sama sekali tidak tahu kalau kamu pernah bekerja dengan kakakku. Di perusahaan telekomunikasi kemarin, aku juga tidak mengenalimu kalau bukan karena Nino yang datang ke ruang HRD hari itu." kata Nina.
Fabio hanya tersenyum mendengar Nina bicara.
"Aku juga tidak tahu kalau kamu adik sahabatku. Karena aku memang tidak pernah melihatmu. Hanya melihat fotomu terpajang di ruang keluarga. Tapi ternyata, aslinya jauh lebih cantik dari yang kulihat di pigura." kata Fabio menambahi apa yang Nina bicarakan.
"Benar kan? Tapi entah mengapa wanita cantik ini dicampakkan oleh suaminya sendiri. Entah bagaimana aku bisa melupakan rasa sakit hati itu."
"Jangan terlalu dipaksakan. Akan membuatmu terasa sakit. Biarkan saja. Nanti juga berlalu." Fabio mencoba menghibur Nina dengan sedikit ucapannya.
"Benarkah? Aku ingin sekali menghilangkan rasa sakit hatiku. Aku mencoba berbagai hal. Tapu semakin aku ingin melupakannya, aku semakin mengingatnya."
"Maka dari itu, mulai sekarang jangan terlalu memaksakan dirimu melupakannya." kata Fabio. Nina menatap Fabio yang juga menatapnya. Hatinya berdesir hangat. Ia tidak pernah mendapat perhatian sebaik ini dari seorang lelaki. Sekalipun itu adalah mantan suaminya.
"Kamu sendiri bagaimana? Kenapa kamu bisa datang ke pabrik?" tanya Nina mengalihkan topik pembicaraannya.
"Bagaimana ya? Awalnya aku di telpon Nino agar datang ke perusahaan. Tapi aku menolak karena aku masih di perusahaan telekomunikasi itu. Tapi akhirnya Nino benar-benar menggangguku. Ia menelponku setiap saat. Akhirnya aku menyerah dan setuju ke perusahaan ini lagi." jelas Fabio dengan santai. Ia menikmati udara siang itu.
"Apakah bekerja dengan Nino sebegitu menyebalkannya? Sehingga kamu sempat keluar dan bekerja di tempat lain?" tanya Nina merasa sedikit penasaran.
"Sebenarnya tidak. Hanya saja aku merasa jenuh. Nino menjadikan aku tangan kanannya. Jujur saja aku merasa keberatan."
"Nino pasti tidak salah percaya sama orang. Kalau dia percaya padamu, pasti kamu memang orang yang baik dan dapat diandalkan." kata Nina menyandarkan punggungnya yang terasa lelah di kursi.
"Kalau kamu?" tanya Fabio sedikit serius.
"Aku? Kenapa denganku?" Nina sedikit bingung dengan pertanyaan Fabio.
"Ya, bagaimana kalau kamu? Apa kamu percaya padaku?" tanya Fabio menatap Nina dengan serius membuat Nina menjadi salah tingkah.
Bagaimana ia harus menjawab Fabio? Sedangkan jantungnya saja sekarang berdetak sangat cepat.