
" Alberth, Renata adalah milikku, hanya milikku, kau tidak akan aku ijinkan aku untuk mendekatinya." Erick melakukan telepati kepada Alberth dan membuatnya semakin marah.
" Aku akan membunuhmu jika kamu mendekati Renata, sekarang pergilah aku akan membunuhmu nanti. " Alberth membalas telepati Erick.
"Kenapa kau tidak membunuhku saat ini? " Tanya Erick sambil berteriak kencang.
" Kau tau alasannya Erick...pergilah sebelum aku berubah pikiran." jawab Alberth sambil berteriak dan marah.
Erickpun secepat kilat pergi dari hadapan Alberth dengan tubuh yang dipenuhi darah akibat senjata Alberth pedang kabut hitam yang merupakan kelemahan Erick.
"Aku tidak mungkin melawannya dalam keadaan lemah, aku harus memulihkan diri dulu." sambil berlari Erick segera mencari tempat yang aman untuk memulihkan dirinya.
Kemudian Alberth mendekati Thomas dan menenangkannya agar tidak emosi, dan meminta Thomas memasukkan kembali rantai apinya kedalam sepasang gelang yang dia pakai.
"Thomas, tenanglah, hentikan kekuatanmu...dia sudah pergi. "
Alberth kemudian mengulurkan tangannya, dan mengeluarkan kabut hitam dari telapak tangannya. Kabut hitam itu memadamkan api yang membakar sekeliling hutan yang berada di sekitar Thomas.
"Kakak Alberth, kenapa kau tidak membunuhnya?, bunuhlah Erick, aku sangat mencintai Renata, aku tidak bisa hidup tanpa Renata kakak." ucap Thomas kepada kakaknya dengan dipenuhi dendam kepada Erick. Lalu Alberthpun menganggukkan kepalanya sehingga membuat Thomas meredam emosinya dan memeluk kakaknya. Mereka akhirnya kembali menuju kerumah Renata.
Ketika Alberth berjalan dibelakang Thomas, Alberth mengeluarkan air mata dan muram karena dia harus mengalah kepada adiknya Thomas.
"Tidakkah kau tau bahwa aku pun begitu mencintainya bahkan sejak kecil." batin Albert
Demi kebahagiaan adiknya, Albertpun melepas Renata, karena tidak ada yang mengetahui perasaan Alberth jika dia juga sangat mencintai Renata sejak dulu.
Dipenglihatannya Renata melihat Felishia dan beberapa pengawal Erin yang berada dihutan sekeliling rumahnya. Ternyata merekalah yang melakukan serangan itu dan ingin membunuhnya dan Thomas saat berada ditaman dirumahnya. Mereka menyerang dan tidak menunjukkan wujud mereka, dengan tujuan untuk memfitnah Erick agar semua menjadi membenci Erick. Melihat hal itu Renata menjadi marah dan membuat kekuatannya muncul.
"Kak Alberth, lihatlah dijendela kamar itu! Renata matanya bercahaya dan merah, gawat!!!! " ucap Thomas.
Dari kejauhan Thomas dan Alberth berlari mengetahui hal itu menuju kamar Renata. Mereka sangat takut terjadi sesuatu kepadanya.
Sesampai dikamar Renata, Alberth dan Thomas terkejut melihat Renata seakan -akan tidak terjadi apa-apa.
" Renata, apa kau baik-baik saja, tanya Thomas
" Aku baik-baik saja, kenapa kalian berlari seperti itu? Jawab Renata duduk di sofa kamarnya sambil menyilangkan kedua kakinya dengan pandangan yang sangat dingin dan serius menunggu kedatangan mereka.
" Thomas, aku mau menemui biksu suci kuil lembah hitam, kamu harus mengantarkanku, nanti aku akan memberitahumu jika waktunya berangkat. " Renata dengan pandangan dingin tanpa menoleh ke Alberth dan membuat Alberth sedih.
Renata yang kemudian berdiri dari kursi sofa lalu kembali menatap jendela. Hal ini membuat Alberth bertambah sedih karena Renata seolah-olah tidak melihatnya ada didepannya. Setiap kali kekuatan Renata muncul, hal itu membuat Renata menjadi wanita yang dingin karena terbawa oleh kekuatannya. Alberth ingin menghampiri Renata dan akan memegang pundaknya, tiba-tiba Alberth terhenti, kakinya tidak bisa bergerak seakan - akan ada kekuatan yang menahannya. Itulah kekuatan dasyat Renata yang lain saat dirinya tidak ingin didekati oleh siapapun maka tidak ada yang bisa mendekatinya dalam jarak beberapa meter.
" Apakah aku sudah tidak ada artinya lagi bagimu Renata, hingga kau tidak ingin aku dekati?, aku hanya ingin menenangkanmu seperti dlu.Tidakkah kau ingat?" batin Alberth sambil memejamkan matanya.
" Thomas, bilang bibi Aelin agar tidak memperbolehkan siapapun masuk kekamarku walaupun itu ayah dan ibuku, aku ingin sendirian. " ucap Renata kepada Thomas yang semakin membuat Alberth sangat sedih.
Mendengar apa yang diucapkan Renata membuat Alberth meneteskan air mata dan mengepalkan kedua tangannya. Alberthpun segera pergi dari kamar Renata disusul Thomas dibelakangnya.