Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
Bab 36 : Batu Segitiga Merah



Setelah cahaya biru pergi, Renata harus mempersiapkan diri menuju Sma Erlion besuk malam.


"Renata istirahatlah, besuk aku akan menemanimu pergi kesana! "Erick menarik Renata dan mengajaknya memasuki rumah.


"Tapi aku harus sendirian Erick..tenanglah jangan khawatirkan aku". Renata


" Disana terlalu berbahaya, sayang. Aku harus menemanimu" Erick


Saat mereka berdua menaiki tangga, mereka berpapasan dengan Thomas dan Alberth.


"Renata, apa yang terjadi kenapa tiba-tiba wajahmu menjadi muram seperti itu?" ucap Thomas saat menuruni tangga dan disusul Alberth dibelakangnya.


Alberth dengan wajah serius menatap Renata.


"Aku harus menuju SMA Erlion besuk dan aku harus sendiri" Renata


"Kenapa kami tidak bisa bersamamu, Renata? "Thomas


"Itu sudah takdirku dan tenanglah aku pasti bisa" Renata


"Istriku, kita akan melihatmu dari jauh oke dan tolong jangan membantahku" Erick


"Alberth, kau baru sembuh jangan keluar dulu dan Thomas jangan bandel! ayo, masuk kamar kalian! Kalian harus istirahat" Renata


"Lebih baik kalian menurutinya! istriku juga harus istirahat dan tentunya dengan suaminya" Erick melirik sinis Alberth yang dari tadi mengernyitkan dahinya karena sangat khawatir dengan Renata.


Sepanjang malam Erick membelai Renata yang tidur dipelukannya. Dan tidak dipungkiri Erick juga sangat khawatir kepada istrinya hingga membuatnya gelisah tetapi Erick berusaha tidak menunjukkannya kepada Renata.


"Istriku aku berharap kau baik-baik saja besuk" Erick semakin mengeratkan pelukannya dan mencium rambut istrinya.


Matahari mulai bersinar menyinari bumi dan membuat tubuh Erick terlihat sangat bersinar hingga membuat ketampanannya bertambah.


Erick teringat harus mencari baju untuk Renata. Perlahan Erick melepas pelukannya dan mencium kening istrinya, kemudian pergi dengan cepat.


Thomas dan Alberth ternyata juga tidak bisa tidur sepanjang malam memikirkan Renata.


"Kenapa harus dia sendirian, kak? tidakkah semuanya bisa diganti ? aku akan tetap menemaninya, jika sesuatu terjadi padanya aku tidak akan memaafkan diriku sendiri"


Thomas merasa gelisah dan Alberth menghampirinya dan memegang pundaknya agar tenang.


Renata terbangun dan melihat Erick tidak disampingnya. Lalu keluar kamar berniat mencari Erick tapi saat kamar Alberth terbuka Renata memutuskan untuk melihat keadaan Alberth kekamarnya terlebih dahulu.


"Alberth, bagaimanakah keadaanmu?" Renata menghampiri Alberth dan membuatnya tersenyum.


"Aku juga baik Renata, bagaimana tidurmu tadi malam apakah suamimu tidak mengganggumu?" Thomas merasa kesal karena Renata tidak menanyakan keadaannya.


Disaat Renata mau menjawab tiba-tiba Erick datang menghampiri mereka.


"Mengganggu apanya, bagaimana jika aku yang membuatnya tidur saaaangaat nyenyak tadi malam?" Erick menarik Renata dan memeluknya didepan Alberth, membuat Alberth keluar dari kamar dengan tatapan sinis.


"Vampir...vampirr...aku lupa kalau seorang vampir tidak pernah bisa merasakan kenikmatan tidur sepanjang hidupnya..."Thomas menggelengkan kepalanya sambil memandang Erick dengan kesal dan menyusul kakaknya.


"Thommmm...ahh...tenangkanlah hatimu Erickk" Erick menghela nafas panjang menahan emosi.


"Ahh kalian berdua seperti anak kecil saja menyebalkan.."Renata ikut keluar dari kamar sambil mengomel.


"Istriku apa salahku hah...?"Erick menyusul Renata.


Setelah sampai di kamar, Erick menarik Renata dan memberikannya baju yang dipesannya.


" Ini bajumu, cepatlah ganti!"


"Terima kasih sayang.... tapi apa ini? Kenapa besar sekali bagaimana aku memakainya?..ayolah.."Renata sambil melebarkan baju yang sangat besar dan terpaksa harus dipakainya.


"Sudahlah sayang , ini juga demi mereka....tapi kamu tetap paling cantik bagiku..hehe.."Erick


"Aku tidak mengerti, demi mereka apa? " Renata


"Kau ini polos sekali, mereka itu laki-laki. Aku tau bagaimana pikiran laki-laki saat menatap tubuh wanita...ahhh sudahlah pokoknya kamu harus memakainya" Erick merajuk dan Renata hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Seharian Erick, Thomas dan Alberth tidak saling bicara mereka hanya memandang Renata dengan pandangan datar karena kekhawatirannya.


Sedangkan Renata sendiri terlihat santai dan sibuk menyiapkan buah-buahan dan sandwich untuk Albert, Thomas dan dirinya sendiri.


Dan tibalah tepat jam 12malam Renata harus segera menuju SMA Erlion.


Renata memakai baju tempur yang sudah Erick ambil dari kuil lembah hitam saat siang tadi. Erick membantu memasangkannya dengan berat hati.


Mata Renata sudah mulai bewarna merah saat memakai baju tempur dan membawa pedang pemberian biksu suci.


Setelah mempersiapkan semua, Renata berlari sangat cepat menuju SMA Erlion dan hanya Erick yang mampu menandingi kecepatan Renata.


Saat Renata berlari ada semacam cahaya yang menuntunnya menuju SMA Erlion yang penuh dengan ilusi.


Alberth dan Thomas mengendarai mobil mengikuti jejak Renata dengan kencang dan dan saat memasuki kabut hitam, mereka menggunakan gelang Thomas hingga hanya dengan jentikan jari Thomas, mereka bisa menembus SMA erlion.


Erlion sengaja menciptakan berbagai ilusi di SMA Erlion agar manusia tidak bisa menemukan jalan menuju kesana dan hanya dengan kekuatan tertentu manusia bisa menembusnya.


Karena itu biksu suci memberikan gelang rantai api kepada Thomas untuk menembus ilusi tersebut.


"Renata, aku sudah memastikan semua aman, sekarang ikutilah aku!" cahaya biru


"Renata, aku ingin ikut...cahaya biru kenapa harus dia sendiri ?" Erick menarik Renata ketika mau berjalan.


"Darahmu akan tercium keluargamu..biarkan Renata sendiri!" cahaya biru


"Bagaimana dengan kami.."Thomas dan Alberth yang akhirnya datang.


"Semua yang berhubungan dengan Rudolf akan tercium...dan hanya Renata yang tidak bisa mereka tembus.."cahaya biru menghilang diikuti Renata dibelakangnya.


Mata yang sudah memerah dan mulai keluar sengatan listrik menyelimuti seluruh tubuh Renata.


Saat sampai didepan gerbang SMA Erlion, Renata teringat pertama kali jatuh tersandung batu berbentuk segitiga.


"Cahaya biru..aku ingat aku tersandung batu itu disini..tapi kenapa tidak ada?" Renata


"Batu itu ditemukan oleh Edward tapi batu itu menolaknya hingga terlempar lagi..dan hanya aku yang tahu keberadaannya.."Cahaya biru


Gerbang SMA Erlion terbuka, Renata segera masuk kedalam dan ternyata sangat berbeda dengan yang pertama kali dilihatnya. Sekolah yang sangat gelap, penuh dengan tumbuhan rambat dengan suasana sekitar dan suara-suara yang sangat menyeramkan.


Para hantu-hantu bermunculan memandang Renata dengan wajah dingin yang sendu dan jari mereka menunjuk kesebuah arah.


" Renata...Renata...aahhhhhhhh (jeritan)" suara panggilan yang semula terdengar begitu dekat di telinga perlahan menjauh samar-samar berubah menjadi jeritan yang mengerikan.


Renata mengikuti petunjuh arah dan suara panggilan namanya dengan tenang dan akhirnya menemukan batu merah berbentuk segitiga berputar diudara dan bersinar di lorong bawah tanah tempat persembunyian para siswa dan guru serta hewan yang saat itu jiwa mereka tertarik oleh tuan besar erlion dan dihentikan oleh biksu Agung. Jiwa-jiwa itu akhirnya terjebak di SMA Erlion karena kutukan Tuan besar.


Dengan mata merah bersinar dan sengatan listrik yang sangat besar diseluruh tubuh, Renata mengarahkan pedang di tangannya dan dengan cepat batu itu ditangkap olehnya.


"Cepat pergilah Renata, jaga baik-baik batu itu! nanti saatnya tiba kamu harus membuka 3lorong dengan batu itu dan ambillah berlian merah" cahaya biru


"Baiklah...akan aku ingat semuanya.."


Renata segera berlari keluar dari gerbang Erlion dan terkejut melihat Pasukan kabut telah bertarung dengan Thomas dan Alberth sedangkan Erick terduduk menggeliat menahan kesakitan akibat dari kekuatan tatapan Delichia yang bisa menciptakan rasa sakit yang luar biasa hanya dengan menatap lawannya.


Renata mengarahkan pedangnya dan melompat ditengah-tengah pertempuran Alberth dan Thomas, kemudian berputar dengan menebas pedangnya.


Hanya dengan sekali tebas dengan pedang yang dipenuhi sengatan listrik, pasukan kabut hitam lenyap seketika menjadi abu.


Setelah itu Renata melompat didepan Delichia dan menghalanginya menyerang Erick.


"Apa kabar mertuaku...apa kau tidak ingin menyapa menantumu? " Renata


"Kurang ajar, aku tidak pernah menganggapmu sebagai menantuku!"Delichia


"Oh...tapi kenyataannya begitu..apa aku harus melukai wajahmu yang sangat cantik itu atau kau hentikan menyakiti Erick?...emmm baiklah klo itu maumu"Renata


Renata mengarahkan satu jemari tangannya yang mengeluarkan sengatan listrik dan sekali hentakan dari jarinya membuat sengatan listrik mengarah dan mengenai leher Delichia sehingga darahnya keluar dengan sangat deras.


"Renata hentikan...!"Delichia melepaskan tatapannya kepada


Erick dan merintih kesakitan.


"Hentikan pertempuran ini..segera minta suamimu untuk menghisap darahmu sebelum kau menjadi abu!.."Renata sangat marah dan cahaya merahpun menjadi sangat besar.


"Renata hentikan...ibu ayo kita pergi.."Erin


Erin tiba-tiba datang dan menghalangi Renata menyerang ibunya.


Edward ditemani puluhan pasukan kabut hitam yang baru tiba langsung menyerang Renata.


Tubuh Renata semakin bersinar merah, aliran listrik bagai petir yang saling menyambar memenuhi tubuhnya.


Renata melompat sangat tinggi dan berputar diudara dengan sangat cepat sehingga menciptakan angin topan yang penuh cahaya merah dengan sengatan listrik dan menghempaskan seluruh pasukan vampir.


Albert dan Thomas yang saat itu berada didekat kejadian tidak kuasa menahan kekuatan Renata.


Tubuh mereka hampir terhempas dan terbakar, namun Erick dengan cepat berdiri didepan mereka menghalangi kekuatan Renata dengan kekuatan pedang cahayanya sebagai pelindung tubuh mereka.


Hanya Erick yang bisa menahan kekuatan Renata karena mereka memang sudah ditakdirkan bersama.


"Ayah pulanglah..sebelum Renata membunuh kalian..cepat!..dan ibu jangan pernah menyuruh siapapun untuk membujukku kembali atau menyakiti istriku lagi. Ibu pasti tau kan apa yang terjadi dengan wanita suruhanmu itu? Aku akan membunuh mereka semua"Erick


"Hentikan ucapanmu Erick!....kalian tetap tidak akan lolos dariku.."Edward


Edward menggendong istrinya dan semua pasukan kabut hitam yang tersisa menghilang dengan cepat bersamanya.


Kecuali Erin yang masih terdiam menatap Alberth dan Alberth pun membalas tatapan Erin.


"Alberth..."Erin


Renata memasukkan kembali kekuatannya dan dengan pelan tubuhnya kembali menginjak tanah. Kemudian Renata berjalan menemui Alberth.


"Alberth, bicaralah dengan Erin..beri dia kesempatan!"


Lalu Renata menghampiri Erick dan Thomas. Merekapun pergi dari SMA Erlion dan meninggalkan Alberth dengan Erin.


"Erin..apa maumu.." telepati Alberth kepada Erin.