Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
Bab 38 : Kemarahan Pattinson



Nafas yang terdengar sangat keras diiringi dengan suara langkah kaki yang cepat, Alberth berlari tanpa arah.


Hati dan pikirannya sangat membara dipenuhi oleh berbagai pertanyaan bahkan guyuran air hujan yang dingin tak mampu meredanya.


Matanya hanya lurus menatap ke depan tanpa tujuan yang pasti.


"Kenapa,apa yang aku lakukan, rasa apa ini, mengapa aku merasakan gairah ketika menyentuhnya? tidak...tidak...ini tidak boleh terjadi..." ucap Alberth dalam hatinya yang terus berteriak dengan tatapan mata tajamnya dengan alis yang mengernyit serta kedua tangannya yang terayun mengikuti sepasang kakinya yang berlari kencang melawan derasnya hujan.


"Aku tidak boleh merasakan ini pada Erlion manapun dia musuhku, aku tidak boleh aarghhhhh....(berteriak)..!"


Suara dalam hatinya yang terus bergetar dan seluruh organ tubuhnya yang sudah terasa lemas, akhirnya Alberth menghentikan sepasang kakinya yang berlari.


Butuh tenaga untuk menyeret kakinya melangkah,sebelah tangannya mencengkeram bagian depan baju yang dipakainya. Alberth berusaha mengatasi rasa gelisahnya.


"Aku..ingin melakukan dengannya, aku merasakan kenikmatan, detakan jantungnya bisa kudengar dan nafas dari bibirnya bisa kurasakan, tidak...itu tidak akan terjadi lagi...tidakkkkkk(berteriak)"


Alberth berjalan pelan dengan langkah lunglai yang sudah tidak bisa menumpu tubuhnya lagi.


Tangannya terjulur kedepan memegang kokohnya pohon yang bisa menyandarkan tubuhnya yang terkulai lemas.


"Bagaimanapun juga..aku harus mengingat kejadian ini, aku tidak akan melakukan lagi, tidak akan..!"


Jalanan sepi dengan langit yang sangat gelap, diiringi air hujan yang sangat deras dan angin yang bertiup kencang, berdirilah didepan Alberth sesosok laki-laki dengan sorotan mata yang tajam seakan-akan tidak ada lagi ampun untuknya.


"Alberth, apa yang kamu lakukan tadi sungguh menjijikkan..!" Pattinson


"Pattinson, apa yang kamu lakukan pergilah sebelum aku membunuhmu..!" Alberth menggunakan kekuatan telepatinya kepada Pattinson.


" Tunggu dlu, kenapa kau bisa berbicara padaku? Kenapa kau bisa memiliki kekuatan telepati seperti nona Erin. Setahuku hanya keluarga Erlion yang sanggup melakukannya" Pattinson


" Bukankan kau sudah melihatnya saat aku bertemu dengan Erin tadi" Alberth


" ya memang, tapi aku berpikir Nona Erin yang berkomunikasi dengan pikiranmu..haha...tapi ternyata kau juga mampu berkomunikasi dengan pikiran orang lain. Aku kira aku akan kesulitan berbicara denganmu...haha" Pattinson tertawa licik


" katakan apa maumu sebelum aku membunuhmu!"Alberth


"Membunuhku? aku yang akan memberimu pelajaran atas perbuatanmu yang sangat keterlaluan.." Pattinson


Pattinson mulai menggerakkan tangan kanannya dan jari jemarinya mengeluarkan pedang kabut hitam untuk mengancam Alberth.


"Dia sangat tulus mencintaimu Alberth, dia sangat baik jika kau menerimanya, tetapi jika kau sedikit saja menyakiti perasaannya aku akan memberimu pelajaran..!"


Alberth mulai menaikkan kepala dan menegakkan badannya, kakinya mulai melangkah kedepan menghampiri Pattinson.


"Kau mencintainya Pattinson, baiklah ambillah Erin aku tidak menginginkannya.."


"Dia bukan barang Alberth, jaga ucapanmu..!" Pattinson dengan tegap dan jari-jemarinya yang semakin kuat memegang sebilah pedang yang siap dia hunuskan ke Alberth tetap ditahannya karena janjinya kepada Erin untuk tidak menyakiti Alberth ataupun melukainya sedikitpun.


"Pattinson kau mencintainya, sedangkan aku tidak. Apa masalahmu sehingga membenciku? bukankah baik untukmu jika aku tidak menerima Erin?" Alberth


"Perasaan tidak bisa dipaksakan Alberth, aku hanya akan bahagia jika melihatnya bahagia..! tidak seperti dirimu..kurang ajar.."


Jari-jemari Pattinson sudah tidak bisa menahan pedang yang dipegangnya.


Dengan hati yang bergejolak penuh emosi Pattinson melangkahkan kakinya dengan cepat dan menghunuskan pedangnya kearah Alberth tanpa ampun.


Dengan sigap Alberth mengangkat kedua kakinya keudara dan mengayunkan tangan kanannya untuk mengeluarkan senjata kabut hitam yang bisa dengan mudah menangkis pedang Pattinson.


"Tang..tang..."


Keduanyapun saling menyerang dengan rasa marah yang sudah tidak bisa dibendung lagi.


"Pattinson hentikan ini apa yang ku lakukan, apa maksudmu?" Alberth mengindar dan terus menghindar dari serangan pedang Pattinson yang terus menghampiri tubuhnya.


Akhirnya Alberth melompat kebelakang Pattinson dan mengeluarkan kabut hitam dari telapak kanannya yang diarahkannya ke Pattinson.


Telapak Alberth yang mengarah padanya membuat Pattinson sulit untuk menghindar dan menyerap energinya.


Sementara Alberth dengan kemarahan yang meluap maka keluarlah pedang kabut hitam dahsyat kearah Pattinson yang tidak bisa terhindarkan lagi.


"Rasakan ini Pattinson..hahhh...."


Secepat kilat pedang kabut hitam Alberth ditangkis oleh sebuah pedang dan dengan cepat seseorang menarik Pattinson dan membawanya pergi dari tempat itu agar terhindar dari amukan Alberth.


"Tang....ayo Pattinson ini bukan saatnya.."


Sekejap mereka menghilang dan Alberth kembali memasukkan kekuatannya didalam tubuhnya dan terdiam dengan mata yang sangat marah.


" aku membiarkanmu lolos kali ini, Pattinson"


Alberth kembali melangkahkan kakinya dengan cepat dan segera berlalu.


Sementara dirumah, Renata berusaha menenangkan Erick yang tiba-tiba mengeluarkan sinar dari matanya dan menghancurkan semua taman.


"Tenanglah Erick, (membelai rambut)..!


Thomas dengan sinis berbicara dan kali ini Erick hanya terdiam tidak membalasnya.


"Erick, bukankah saat ini waktumu untuk mencari darah dan mengembalikan tenagamu? Kali ini aku akan menemanimu ok, dan Thomas sebentar lagi Alberth akan datang jagalah kakakmu! aku ada urusan sebentar.."


"Tapi Renata..?"


Thomas berdiri dan melangkahkan kaki kearah Renata tetapi mereka secepat kilat pergi meninggalkannya.


"Apa yang terjadi..ahh sialan kenapa aku selalu sendirian.."


Saat Thomas sendirian dirumah datanglah wanita dengan rambut pendeknya.


"Halo.. ada orang dirumah ini? hei Thomas apa kabarmu?"


"Hah Ana, kenapa kau tiba-tiba kesini? Bukankah itu ada pintu kenapa kau tidak mengetuknya? kau membuatku terkejut, dasar menyebalkan..!" Thomas memegang dadanya yang berdetak karena terkejut.


"Oh ternyata kau ingat padaku Thomas, dimana Renata ehhh nyonya Erick tepatnya aku ada pesan dari biksu suci dan harus kusampaikan.."Ana menuju kesofa dan melompat keatasnya.


"Huff masih saja seperti anak kecil.."Thomas menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Nyaman sekali sofa ini.., dimana Renata ups nyonya Erick..Thomas..?" Ana berdiri dan menarik tangan Thomas yang membelakangi dirinya sambil memandang sekitar.


"Biksu suci?..apakah ada sesuatu yang membahayakan Ana? jangan membuatku penasaran!" Thomas membalikkan badannya dan berada didepan Ana lalu memegang pundaknya.


"Heii tenanglah..tapi hanya Renata yang boleh mengetahuinya Thomas, dan kau tidak boleh tahu.."


Ana menampis tangan Thomas dan kembali menuju sofa.


"Ahh semua membuatku penasaran menyebalkan sekali"Thomas menuju sofa dan merebahkan badannya.


"Ok mana nyonya Erick.."


Ana menoleh kearah Thomas dan mengernyitkan dahinya.


"Renata tidak ada pergi dengan vampir, ah memuakkan semuanya.." Thomas


"Apa..gawat kemana dia? baiklah aku akan menunggu..dan pinjam kamarmu aku mengantuk jika tuan rumah datang bangunkan aku..jangan lupakan itu Thomas ini sangat penting.." Ana segera naik kelantai atas sambil menunjuk jarinya telunjuknya kearah Thomas dan membuat Thomas terheran.


"Beraninya kau menunjuk jarimu ke padaku , hei anak kecil (Berteriak).." Thomas


"Jangan berisik aku terganggu..(brak).." Ana membanting pintu kamar dan membuat Thomas semakin marah.


"Ah kenapa hari ini aku sangat sial..!"


Renata dan Erick berlari secepat kilat menuju mercusuar yang mereka datangi waktu Erick melamarnya.


Renata berusaha menenangkan Erick yang terdiam dari tadi.


"Suamiku ayolah jangan seperti ini..aku tahu kau menyayangi adikmu..dan yang kau lakukan sangat tepat.." Renata memeluk Erick yang sangat tinggi dan membuatnya berjinjit.


"Ohh..jadi kau selalu memata-mataiku.." Sambil membungkuk Erick menatap Renata.


"Aku tidak perlu meminta ijin jika ingin bertelepati..dengan siapapun terlebih suamiku sendiri.." Renata melompat dan melingkarkan kakinya kepinggang Erick.


"Tapi aku membencinya..dia selalu menginginkan aku jauh darimu.." Erick menatap Renata dan membelai rambutnya.


"Kan jika ada Alberth, tapi sekarang aku rasa tidak ada Alberth disini dan aturan itu tidak berlakukan apakah kau akan menyia-nyiakan kesempatan ini.." Renata lebih mengeratkan kakinya yang melingkar dipinggang Erick. Tentu saja Erick tidak menyiakan kesempatan ini.


Mata Erick mulai bersinar. Bibirnya tidak mampu menahan hasrat lagi. Erick mulai melahap bibir Renata dan tubuhnya. Merekapun melakukannya dan melampiaskan hasratnya yang sempat tertahan selama ini.


Saat Alberth berlari, tanpa sengaja dia mendengar suara Pattinson di sebuah gedung tua yang dilewatinya.


Karena tubuh Pattinson yang melemah terkena kabut hitam milik Alberth, maka Felishia mengistirahatkan Pattinson sejenak sampai tenaganya kembali.


"Felishia apa yang kau lakukan kau bisa terbunuh.."Pattinson memegang pundak Felishia dengan sangat marah.


"Jangan sekarang, tuan Edwind menunggumu, tuan besar akan bangkit hari ini dan kau harus berada disana.." Felishia


"Baiklah ayo kita segera menuju kekastil.." Pattinson menarik Felishia dan menghilang.


Disela-sela lubang kecil yang dikelilingi batu bata, mata Alberth terbelalak mendengar itu semua.


"Apa..gawat..Renata harus tahu.." Alberth membalikkan badannya dan berlari cepat kembali kerumah Renata.


Saat itu Renata dan Erick saling berpelukan setelah terpuaskan hasrat mereka berdua.


Renata yang semula berbaring diatas dada Erick yang kekar dan mendapat belaiannya, tiba-tiba berdiri dan matanya mulai bersinar merah.


"Renata apa yang terjadi..." Erick segera berdiri dan mendekapnya.


"Erick kita harus kembali..tuan besar akan bangkit hari ini.." Renata dengan cepat menggunakan pakaiannya.


"Apaa...gawat.."Erick